"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XL. Kehangatan seorang sahabat



Usai makan Sherly dan Rio duduk santai di warung itu dengan penuh keakraban.


Sangat jarang sekali mereka bisa seperti ini.


Ya, sejak mereka kenal baru kali inilah mereka pergi berdua, jika selama ini Rio adalah teman yang selalu jalan bersama Rudi.


"Sudah berapa lama anda di Negri ini?" tanya Sherly, membuka percakapan diantara mereka berdua.


"Sudah lebih delapan bulan" Jawab Rudi "tapi bisa saja hampir setahun" lanjut Rudi sambil menggerutkan dahinya dan mengangkat pundaknya.


"Yang jelas aku lupa tentang hal itu" kata Rudi sambil tersenyum.


"Hebat anda melupakan hal itu" ucap Sherly.


"Hmmm..." Rudi hanya bergumam.


"Apakah kamu memiliki jalinan khusus pada Rio?" tanya Rudi sedikit ingin tahu.


"Maaf kalau pertanyaanku terlalu menyalah!" ujar Rudi.


Sherly hanya tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang putih bersih itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu cukup aneh" kata Sherly sambil tertawa kecil.


"Tidak ada masalah" lanjut Sherly, "Tetapi kami hanya teman kerja dan tidak ada lebih dari itu!" lanjut Sherly.


Rudi tersenyum tipis.


"Maaf! Tetapi aku pernah melihat kalian bermesraan saat kita menghadiri pesta pejabat negri ini" kata Rudi.


"Apa kau mengingatnya?" tanya Rudi.


Sherly sedikit berfikir sambil tersenyum.


"Hahahaha..." terlihat Sherly tertawa.


Rudi hanya menggerutkan dahinya saja sambil menatap ke arah Sherly.


"Oh, iya" kata Sherly "Aku mengingatnya" sambungnya.


Sherly menarik nafas dalam dan panjang.


"Jika itu yang kamu maksud, adalah benar" ucap Sherly.


"Aku dan Rio sering berhubungan badan" sambung Sherly


"Kami melakukannya hanya sekedar "Have Fun" Saja" lamjut Sherly, "Dan itu hal wajar, karena kita sebagai irang dewasa" lanjut Sherly.


"Kita pasti membutuhkan hubungan itu sebagai orang normal" ujar Sherly kembali sambil tersenyum.


Rudi hanya menganggukkan kepalanya saja, seolah dua memahami


Memang hubungan bebas hal yang wajar bagi orang-orang barat, tetapi bagi Rudi orang Asia itu sangat tidak wajar dan bertentangan dengan sosial budaya Indonesia serta agama, fikir Rudi demikian.


Suasana hening sesaat.


"Tetapi diantara kami tidak ada ikatan cinta" sambung Sherly.


"Okey, aku mengerti" jawab Rudi


Sherly kembali tertawa kecil dan sangat manis.


Rudi memperhatikan Sherly terus, mulai dari rambut dan kakinya.


Sherly memang mempunyai wajah yang lumayan cantik dan tubuh yang bagus, ditambah lagi dua gunung kembarnya yang cukup besar.


Rudi menarik nafas panjang.


Waktu kini telah mulai gelap, sudah lewat ambang sore.


"Bagaimana kalau kita jalan?" ajak Sherly.


"Baiklah" kata Rudi, "Lagian waktu sudah mulai gelap" kata Rudi kembali.


Pelayan!


Rudi memanggil seorang pelayan dan membayarkan makan dan dan minum tersebut.


Selanjutnya merekapun berjalan meninggalkan warung itu.


Sherly mengajak Rudi melihat bangunan yang bekas reruntuhan.


"Hey, coba lihat bangunan itu" kata Sherly sambil menunjuk sebuah bangunan yang sudah separuh roboh yang berada diatas bukit.


"Iya, kenapa dengan bangunan itu?" kata Rudi.


"Bangunan itu terlihat indah" kata sherly, "Berada diatas ketinggian, dan cukup bagus jika kita dapat melihat kota dari atas sana" kata Sherly.


"Mari kita kesana" ajak Sherly "siapa tau kita bisa mendapatkan gambar-gambar bagus dari sana!"


Rudi hanya tersenyum dan mengikuti ajakan gadis itu.


Lalu mereka berdua memasuki bangunan itu dan melihat-lihat isi dari bangunan yang sebagian telahmenjadi puing akibat serangan nuklir.


Mereka menuju lantai dua dari bangunan itu, dan memasuki salah satu kamar yang seoaruh dari temboknya telah rubuh.


Hanya terdapat sebuah kasur diatas ranjang dan sebuah almari yang sedikit rusak bekas terbakar.


Dari kamar itu mereka melihat keindahan kota Kandahar, cahaya lampu dan bulan sedikit masuk ke dalam ruangan itu sehingga membuat ruangan menjadi sedikit remang.


"Lihat, betapa indahnha kota ini"kata sherly.


Dia mengambil kameranya dan mengabadikan suasana dari atas rumah tersebut.


Setengah jam mereka melihat situasi disana sambil mengambil gambar-gambar yang ada.


Sherly menuju kasur yang ada di tempat itu, kemudian dia segera merebahkan tubuhnya.


"Oh Tuhan, ini begitu tenang sekali" kata Sherly.


Angin yang perlahan-lahan memasuki kamar itu membuat suasana menjadi sedikit dingin.


Rudi yang melihat Sherly tertidur di kasur itu mulai mendekatinya.


"Sangat indah hari ini" kata Sherly.


Rudi hanya tersenyum.


Sesaat kemudian, entah bagaimana Sherly menarik lengan Rudi yang duduk disampingnya.


Sontak Rudi pun kaget menerima hal itu.


Tubuhnya tertarik hingga menimpa tubuh Sherly.


Terasa dua gunung kembar milik Sherly merapat di dada Rudi.


Mereka saling bertatapan.


Tanpa dikomandoi Sherli segera malahap bibir Rudi.


Melihat perlakuan seperti itu, Rudi pun segera membalas ciuman itu.


Jiwa laki-laki dewasanya mulai bangkit.


Rudi segera membalas ******* bibir Sherly dan dia meremas rambut kuning dari Sherly.


Kehangatan tubuh Sherly benar-benar terasa, kulit tubuh wanita Belanda itu memang sedikit kasar dan keras.


Rudi *******-***** dua bukit indah milik Sherly.


Sherly mulai membukakan baju Rudi dan menciumi dadanya yang bidang.


Kemudian gadis itu membuka celana Rudi dan mengeluarkan rudal yang sudah mulai keras milik Rudi.


Sherly memang begitu piawai dalam permainan, dia segera menelan rudal milik Rudi kedalam mulutnya dan memainkannya didalam mulut dan lidahnya.


Mendapat perlakuan seperti itu Rudi hanya memejamkan matanya menikmati suasa itu.


Rudipun perlahan membuka kaos milik Sherly dan segera melepas penutup dada milik gadis Belanda itu.


Terlihatlah dua gunung kembar yang lumayan besar dan keras itu.


Cukup indah bukit itu dengang ujung ****** yang kecil berwarna coklat.


Sementara Shelry terus memainkan Rudal milik Rudi, dan rudi pun *******-***** dan memainkan gundukan kembar milik Sherly.


Malam itu mereka mengapai asah memacu kehangatan malam hingga peluh mengucur dari tubuh mereka.


Baru kali ini Rudi merasakan keganasan serangan wanita eropa, berbeda dengan Hellen kekasihnya yang tidak begitu hangat seperti Sherly.


Hellen memang masih virginitas waktu itu, berbeda dengan Sherly yang lebih dewasa dan sudah tidak virgin lagi.


Entah berapa kali oli pelumas Rudi yang keluar dari ujung rudalnya menyembur.


Sherly memang tidak ingin menerima pelumas Rudi di mangkuk kulitnya, dia hanya ingin menelan dan mnikmati oli milik Rudi di mukutnya saja.


Setiap kali pelumas itu akan muncrat, Rudi segera manarik Rudalnya dari mangkuk Sherly dan segera menyemburkannya di wajah dan mulut gadis itu.


Entah berapa kali permainan itu berlangsung.


Yang jelas sudah empat kali pelumas rudal milik Rudi menyembur yang akhirnya mereka sama-sama lemas dan tertidur pulas.


Malam yang dingin dan panjang membuat suasana dibangunan tua itu begitu hangat.


Mendapatkan sebuah kehangatan dari gadis Belanda yang begitu luar biasa.


Hingga merekapun tertidur saling berpelukan tanpa sehelai benang menutupi tubuh mereka.


Sungguh malam yang sangat penuh keindahan bagi mereka berdua.