
Sore hari langit tampak indah, dimana warna jingga terhampar di kota Kandahar, Rio yang baru saja kembali dari berburu berita menghampiriku yang sedang sibuk dengan laptopku.
"Malam ini akan ada pesta di rumah Bapak Walikota, kamu mau ikut?" kata Rio mengajakku untuk menghadiri sebuah pesta.
"Pasta apa? Dan apa kita diundang?" kataku memastikan, sambil aku tetap menatap laptopku dan sibuk mengetik naskah berita.
"Walikota anak gadisnya sedang hajatan pernikahan, dia mengundang kita untuk hadir," ucap Rio sambil menunjukkan sebuah undangan yang disitu tertulis "Kepada Yang Terhormat Jurnalis Indonesia".
Aku sedikit melirik undangan itu dengan ujung mataku, tanpa sedikit memperdulikan, "Pukul berapa acaranya?" tanyaku kepadanya, dan aku tetap asyik dengan laptopku.
"Setengah delapan malam," ucap Rio, "ajaklah Zuridah, kasihan gadis itu yang selalu berada dikamar setiap saat," ujar Rio kepadaku.
Aku melirik pandangan ke Rio, kemudian aku menghentikan aktifitasku, "Seius! Bagaimana dengan keamanan dirinya?" kataku sambil membalikkan tubuhku kepada Rio, aku khawatir bilamana Zuridah keluar, mungkin orang-orang mucikari akan mencarinya.
"Aku serius! Ah... Sudahlah jangan dikhawatirkan, pastikan dia aman bersama kita," kata Rio. Kemudian suasana tampak tenang, kami hanya saling berpandang mata.
"Baiklah," ucapku sambil membalikkan tubuhku kembali menghadap Laptopku.
"Bagus, aku sudah kabarkan kepada Sherly, dia juga akan ikut," ucap Rio sambil berlalu menuju kamar mandi.
Aku masih sibuk dengan laptopku, memang hari ini banyak bahan berita yang akan aku kirim ke meja Redaksi.
Tidak berapa lama, Sherly dan Zuridah masuk kedalam kamar, "hai tuan Rudi, apa nanti malam tuan akan ikut kepesta?" tanya Sherly sambil sedikit bercanda.
"Ia, aku ikut," kataku dengan masih sibuk dengan laptopku, "Zuridah..?" Sherly menyebut nama gadis itu, aku tau maksudnya lantas aku langsung menjawab tanpa dia meneruskannya, "Aku mengkhawatirkannya bila dia pergi malam ini!" jawabku dengan tegas tanpa melihat kepada mereka.
"Mengapa? Dia pasti aman bersama kita," kata Sherly.
"Apa kamu yakin?" jawabku, tanpa menoleh sedikitpun.
"Sangat yakin!" ucap Sherly, "tuan gandeng tangannya, seolah-olah dia kekasih tuan," sambungnya lagi.
Semua tampak terdiam dan suasana menjadi tenang, perlahan aku membalikkan tubuhku dan menatap dengan tajam kepada Sherly dan Zuridah, keduanya juga menatapku dengan hal yang sama.
"Bagaimana mungkin?" ucapku, "mungkin! Kita coba nanti," kata Sherly kemudian.
Kreeeeekk....! Suara pintu kamar mandi terbuka, Rio tampak keluar dari kamar mandi itu, kemudian mendekat kepada kami.
"Jangan risau, kita jaga bersama!" ujar Rio sambil menepuk pundakku dari belakang, "kasihan gadis itu jika ditinggal sendiri terus di kamar," katanya kembali.
"Baiklah, aku setuju," ucapku sambil kembali membalikkan tubuhku untuk melanjutkan pekerjaanku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam telah datang, seusai sholat Isya' kira-kira pukul setengah delapan malam aku telah bersiap-siap untuk berangkat memenuhi undangan Bapak Walikot, dengan pakaian yang rapi, baju kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana jens serta tak lupa parfum yang akan memberikan aroma bagi tubuhku.
"Bagaimana?" apa anda sudah siap!" Tanya Rio kepadaku, "ok, aku sudah siap," kataku sambil melihat Rio yang sudah berdiri di depan pintu.
"Kalau begitu mari kita berangkat," ujar Rio kepadaku sambil berjalan keuar kamar, akupun mengikutinya dan kemudian mengunci pintu kamar itu.
Tidak berapa lama pintu pun terbuka, terlihat Sherly keluar dari kamar yang diikuti dengan Zuridah dari belakang.
Sherly malam ini menggunakan pakaian terusan yang tak berlengan, dengan belahan dada yang sedikit terbuka, gaun yang indah dan membuat Sherly malam ini tampak begitu cantik dan seksi.
Woooow! Tetapi berdeda dengan Zuridah, gadis itu sungguh sangat cantik, dia memakai baju kemeja tanpa lengan, dengan celana lejing yang ketat membuat lekuk tubuhnya begitu menggoda, bibirnya yang dia beri gincu kemerah-merahan dan sedo di bagian matanya yang tampak indah, aku sedikit terkejut melihatnya.
"Hei... bagaimana?" tanya Sherly kepadaku sambil memukul lengan kanan ku, lantas aku sontak kaget karena aku masih memandangi gadia itu dengan penuh pesona.
"Oh iya, mari kita jalan," ajakku kepada mereka, "nanti dulu..." Cegah Sherly, "kamu harus berpegangan tangan dengannya," sambil menunjuk Zuridah, "agar kalian seperti sepasang kekasih," ucapnya.
Kemudian Zuridah memegang lenganku, "iya begitu!" kata Sherly sambil tersenyum, dan kemudian Sherly juga memegang mesra tangan Rio.
Kami berjalan beriringan menuju keluar motel tersebut, terlihat dua mobil taxi telah menunggu kami, taxi itu telah dipesan oleh Rio sejak sore tadi.
......................
Sesampainya dirumah dinas Walikota terlihat suasana begitu ramai sekali, para tamu undangan yang datang adalah orang-orang penting, mulai dari pejabat Pemerintahan hingga Militer dan Kepolisian.
Seorang pelayan didepan pintu membuka pintu mobil kami, dan kami pun turun serta langsung menuju ke ruang utama, Zuridah masih merangkul tanganku, meski hatiku sedikit kahawatir.
Banyak hal yang aku fikirkan, bila mana ada orang-orang suruhan mucikari melihat Zuridah dan mengancam keselamatan jiwanya, disisilain aku juga bingung dan takut apabila ditempat ini pula Hellen juga berada disini.
Wajahku terlihat tegang, seorang pelayan membawakan kami segelas air sirup dingin didalam gelas, akupun meminum sirup itu perlahan untuk membasahi kerongkonganku yang telah kering akibat rasa khawatir.
"Bagaimana? Apa kalian sudah lapar?" tanya Rio kepada kami
Kami hanya diam dan saling berpandangan, "jika demikian, mari kita mengambil makan malam itu," ucap Rio sambil menarik tangan Sherly, "aku sudah lapar!" kata Rio.
Akhirnya aku dan Zuridah juga mengambil makan dan mencari tempat duduk bersama untuk menikmati makan malam tersebut.
Rumah Bapak Walikota ini sangat besar, dihiasi dengan ornamen-ornamen bergaya timur tengah, dengan barang-barang berharga memenuhi isi setiap ruangan, terlihat mewah dan sangat bangsawan.
Kulihat Zuridah begitu semangat menyantap hidangan makan malam itu, tetapi aku hanya memakan sidikit saja, aku tidak begitu semangat malam ini.
Hingga akhirnya kamipun kembali ke Motel setelah menghadiri makan malam undangan pernikahan itu.
Aku langsung merebahkan tubuhku saat tiba dikamar, "oh telah berakhir kecemasanku," kataku dalam hati.
"hei, kenapa? Sedari tadi kamu tampak cemas?" kata Rio, aku menarik nafas perlahan-lahan tanpa menjawab pertanyaan Rio.
Rio hanya menggerutkan wajahnya sambil mencibirkan bibirnya seolah-olah dia jengkel dengan perlakuanku, namun dia juga mungkin tau apa yang aku fikirkan
Rio langsung menarik selimutnya dan dia segera tidur, sementara aku masih mengatur nafas, aku seperti baru berperang dengan perasaanku, berburu dengan waktu dalam keadaan tersebut.
Hanya satu yang aku cemaskan sedari tadi, bila mana Hellen berada disana, ah... Aku tidak ingin menyakiti perasaannya, meski aku juga sangat tertarik pada Zuridah tanpa memunafikkan ku sebagai seorang lelaki.
Namun sebagai lelaki dewasa, aku harus menjaga perasaan, kini dua wanita ada dalam satu hatiku, Ismiati istri sah ku dan Hellen kekasih baru ku.