"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XLV Persahabatan



Hari itu Rudi dan Mayor Sugeng melakukan pembicaraan yang begitu serius di ruang kerja sang Mayor.


Selain itu juga pertemuan mereka sebagai reuni masa sekolah yang sudah lama tidak berjumpa.


Kini Rudi yang menjalankan profesinya sebagai wartawan yang boleh dibilang sudah senior lantaran ia telah mampu mengambil berita dari luar negri dimana saat ini dia ditugaskan di negara konflik sekelas Afganistan.


Begitu pula dengan Mayor Sugeng yang telah menjalankan tugas toritorial baik dalam maupun luar negri telah mengjantarkannya sebagai salah satu perwira menengah yang sudah senior.


Waktupun berlalu hari telah menunjukkan sekitar pukul 13.14 siang.


Usai makan siang, Rudipun berpamitan dengan Mayor teman sekolahnya itu.


"Baikalah, jika begitu aku pamit dulu" ujar Rudi, "mungkin kau masih ada pekerjaan lagi, begitu juga denganku" sambung Rudi kembali sambil berdiri dan dari tempat duduknya.


"Baiklah, semoga kiya selalu dapat menjadi sahabat yang baik dan selalu dapat bekerja sama yang baik untuk Indonesia!" ujar sang Mayor sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Dengan senyum bahagia antara keduanya, akhirnya keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan kembali pekerjaannya hari itu.


...****************...


...****************...


Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 sore di arloji milik nya.


Kringgg...kringggg...kriiinggg.....


Dering suara ponsel milik Rudi berbunyi.


"Hallo..." kata Rudi mengangkat panggilan ponsel itu.


"Hello..., bagaimana dengan harimu sayang" ujar si penelpon yang tak lain adalah Hellen si gadis bule yang tergila-gila pada Rudi.


"Aku baik saja," sambung Rudi, "Oh ya, bagaimana juga dengan dirimu?" ucap Rudi kembali bertanya kepada gadia itu.


"Aku baik juga," sambung gadis itu, "hemmm..bagaimana, apa hari ini kita bisa bertemu?" ucap gadis itu kembali.


"Hmm..maaf sayang, sepertinya hari ini aku tidak bisa bisa bertemu denganmu" kata Rudi.


"Hari ini aku banyak pekerjaaan,"sambung Rudi krmbali, "bagaimana jika besok sore saja, itu juga jika kamu ada waktu?" ujar Rudi.


"Baiklah, besok aku akan kabari kembali!" kilah sang gadis.


"Okey..., saat ini aku lagi ada dijalan, mungkin nanti kita bisa sambung krmbali" ujar Rudi yang sedang didalam sebuah taksi.


"Okey!" jawab sang gadis "Kamu hati-hati dijalan ya?" ucap gadis itu kembali "semoga Tuhan menjaga mu" "Bye..." gadis itu kemudian mematiak telponnya.


Rudi terlihat tersenyum mendengar ucapan gadis itu tadi.


Hmmmmm...., sedikit menarik napas panjang, Rudi melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat penginapannya.


Taksi yang membawa Rudi akhirnya tiba dipenginapannya, taksi itu langsung masuk ke arah halaman penginapan tersebut.


Rudi segera turun dan membayar ongkos taksi itu.


Dia berjalan menuju lantai dua tempat penginapan itu, dimana tempat kamar tidurnya bersama Rio sang wartawan Belanda.


Di lobi lantai dua tersebut terlihat Sherly dan Zuridah tengah duduk bersama.


"Hai Rudi...." panggil Sherly dengan suara sedikit berteriak.


Wartawati Belanda itu melambaikan tangannya memanggil Rudi.


Rudi segera menoleh ke arah mereka dan berjalan menuju ke tempat itu.


"Hello.., sepertinya kamu banyak lekerjaan hari ini" tanya Sherly.


"Benar, aku baru dari camp Militer perdamaian Tentara Indonesia" jawab Rudi.


"Apa kamu mau minum?" ujar Sherly.


"Baiklah," jawab Rudi.


Pelayan..!!


Sherly memanggil seorang pelayan.


"Tolong siapkan kopi hitam untuk tuan ini" kata Sherly kepada seorang pelayan pria.


"Kamu memesankan aku kopi?" kata Rudi.


"Iya, aku tau, karena kau senang dengan kopi!" ucap Sherly sambil tersenyum.


Rudi hanya tersenyum tipis sambil meletakkan tubuhnya bersandar di kursi.


"Kemana Rio?" kata Rudi, "Aku tidak melihatnya" sambungnya kembali.


"Dia sedang keluar" jawab Sherly.


Sesaat suasana hening dan sepi.


"Minumlah dulu dan kamu juga bisa makan," ujar Sherly. "Aku melihat wajahmu begitu letih hari ini". Sambung Sherly dengan senyum manisnya.


Rudi menganggukkan kepalanya, dan kemudian melahap Chaloo tersebut.


Sherly tersenyum melihat Rudi sambil menarik sebatang rokok dan mengeluarkan asapnya dari sudut bibirnya.


Sementara Zuridah hanya tersenyum tidak banyak bicara.


Selesai makan Rudi pun mengambil sebatang rokok milik Sherly dan kemudian menyalakannya.


"Bagaimana denganmu hari ini?" tanya Rudi.


"Aku baik saja," jawab Sherly, "aku baru menyelesaikan tugasku hari ini bersama Zuridah" sambungnya.


"Oh ya?" sambung Rudi.


"Zuridah membantuku siaran hari ini, agar dia tidak selalu berada dikamar saja" lanjut Sherly.


"Apakah kamu tidak takut keluar?" tanya Rudi dengan Zuridah, "Bagaimana jika kamu bertemu dengan para penjahat yang melukaimu kemarin?" ucap Rudi kembali.


"Tenang saja, dia baik-baik saja!" sambar Sherly


Zuridah hanya tersenyum


"Maksud kamu?"tanya Rudi.


"Iya, mereka tidak akan lagi mencari Zuridah", "karena tempat yang mempekerjakannya kemarin telah ditutup oleh pihak kepolisian" ungkap Sherly.


Hmmm... Rudi mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi saat ini, dia akan ikut bersamaku untuk hal pekerjaan" ucap Sherly kembali.


"Jika memang begitu, baguslah!" jawab Rudi.


Suasana kembali tenang.


Rudi menyeruput kopi hitamnya yang ada diatas meja tersebut.


"Lalu apa yang akan kamu kerjakan selanjutnya?" tanya Rudi.


"Hmmm..seperti biasa, mengirim berita ke redaksi!" ujarnya sambil tersenyum.


"Baiklah, aku tinggal dulu" ucap Rudi, "Aku mau membersihkan tubuhku...dan, terima kasih atas teraraktirnya!" sambungnya sambil tesenyum.


Kemudian Rudi segera berlalu meninggalkan mereka


"Okey..." jawab Sherly dengan tersenyum.


...****************...


...****************...


Keesokan harinya sekitar pukul 9.16 pagi, tiba-tiba terdengar suara ledakan di bagian Timur kota tersebut.


Rudi dan para teman-teman persnya asal Belanda itu segera menuju ke lokasi tersebut untuk mendapatkan informasi berita.


Oh ternya ini adalah teror bom bunuh diri yang terjadi, ungkap Rio.


Ia benar, itu adalah serangan teror bom bunuh diri yang dilancarkan oleh pihak pemberontak.


Seseorang telah meledakkan dirinya dengan menggunakan sebuah mobil jenis sedan di dekat pos penjagaan polisi.


Belum diketahui berapa jumlah korban jiwanya, sebab tempat itu masih dipasangi garis kuning "Police line".


Terlihat Rudi dan teman-teman jurnalis tengah sibuk untuk mendapatkan informasi itu.


Suara ambulan silih berganti berdatangan untuk mengangkat korban.


Rudi masih terus mencari informasi diseputaran tempat itu.


Sementara itu Sherly dan Rio sedang melakukan siaran langsung untuk meliput peristiwa itu.


Begitu juga Zuridah yang ikut bersama mereka sibuk membantu untuk mendapatkan informasi dan siaran langsung itu ke tv di Belanda.


Suasana masih mencekam, tentara masih sibuk kesana kemari mengamankan daerah itu.


Asap hitam masih membumbung tinggi ke udara.


Masih terlihat pula sebuah mobil yang terbakar di tempat itu.


Mungkin dari mobil itulah sumber ledakan terjadi, fikir Rudi di dalam hatinya.


Ini merupakan teror bom yang sudah kesekian kalinya terjadi di kota ini.


Mungkin kali ini sasaran mereka adalah pos penjagaan Kepolisian, sebab didekat pos tersebutlah mobil yang diduga membawa bom tersebut meledak.