"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXIV. Kemelut



Keesokan paginya Rudi yang telah siap mengantarkan Zuridah kembali kekampungnya telah bersiap-siap.


"Bagaimana? apa kamu sudah siap?" kata Rudi sambil melihat jam tangannya.


"Aku sudah siap," kata Zuridah sambil membuang pandangannya ke arah Sherly.


Sherly sendiri tampak merasa sedih, dia mengeluarkan air mata saat melihat Zuridah, demikian juga dengan Zuridah yang menitiskan air matanya.


Sherly kemudian memeluk Zuridah, "semoga kamu selamat sampai ditempat tujuan," ucap Sherly.


"Aku pasti akan selalu merinduimu?" kata Sherly kembali sambil menahan tangisnya.


Selanjutnya Zuridah berjalan menuju Rudi yang telah siap membawanya kembali kekampung halaman Zuridah di Argandhab.


Sebuah taksi telah menunggu mereka, kemudia Rudi dan Zuridah masuk kedalam taksi tersebut dan kemudian segera berlalu.


Didalam perjalanan Zuridah yang duduk dibangku belakang terlihat sangat sedih, entah apa yang dia fikirkan.


Sementara Rudi yang duduk dibangku depan terus menatap ke arah depan perjalanan mereka.


Saat mereka sampai diwilayah perbatasan, taksi itu dihentikan oleh pasukan Militer pengamanan, merekapun diperiksa oleh pasukan tersebut.


"Hei, mau kemana anda?" tanya seorang Militer yang berpakaian sipil tersebut.


"Saya ingin ke Argandhab," jawab Rudi.


"Ada perlu apa anda kesana?" tanya Militer itu kembali.


"Saya ingin mengantar gadis ini pulang kekampungnya,"jawab Rudi sambil menunjukkan Zuridah yang sedang duduk didalam taksi.


"Siapa dia?" tanya Militer itu lagi, "dia teman saya," jawab Rudi kemudian.


"Sepertinya anda bukan orang disini, bisakah saya melihat surat-surat anda?" kata tentara itu lagi.


Kemudian Rudi menunjukkan dokumen-dikumen miliknya dan juga surat tugas peliputan berita.


"Oh rupanya tuan seorang wartawan," kata tentara itu.


"Tuan di Argandhab merupakan basis pengacau, sangat berbahaya jika tuan kesana," kata tentara itu.


"Lebih baik tuan kembali saja ke kota, kami tidak mengizinkan tuan pergi kesana!" kata tentara itu lagi.


Mendapat penjelasan seperti itu akhirnya Rudi membawa Zuridah kembali ke kota Kandahar.


Rudi segera menghubungi Sherly dan Rio untuk mengabarkan bahwa dia tidak daoat ijin ke Argandhab sebab disana basis pengacau.


......................


Setiba di Motel Sherly langsung memeluk Zuridah dan Rudi masuk kekamarnya.


Hari ini sungguh lelah, "aku telah gagal mengembalikan Zuridah ke kampungnya," ucap Rudi dalam hati.


Tak lama kemudian suara ponselku berdering.


Kriinggg ... kringgg ... kriiinggg ...


Ternyata yang menelpon adalah istri Rudi Ismiati, dengan segera Rudi mengangkat teleponnya.


"Halo..." kata Rudi.


"Bagaimana kabar kamu mas?" tanya Ismiati


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja," jawab Rudi. "Kamu dan anak-anak disana bagaimana?" tanya Rudi kembali.


"Kami baik-baik saja, kapan kamu akan kembali mas?" tanya Ismiati.


"Belum tau, belum ada kabar dari kantor," jawab Rudi.


"Oh ya, bagaimana dengan gajiku? Apa kamu sudah menerimanya?" tanya Rudi pada Ismiati


"Untuk bulan ini sudah, ada tambahan sedikit mas dari kantor, katanya uang lauk pauk," jawab Ismiati.


"Oh ya, Sukurlah," jawab Rudi kembali.


"Cuma Ilham sering manggil-manggil kamu mas, mungkin dia kangen juga ama kamu?" kata Ismiati.


"ia aku juga selalu teringat Ilham, oh ya sekarang dimana dia?" tanya Rudi.


Merekapun melakukan panggilan videocall


Terlihat Ilham Jayadi sedang bermain di pangkuan ibunya Ismiati, setelah melihat tayangan video ayahnya Ilham melambai-lambaikan tangannya.


Suasana tampak haru, mereka saling sapa rindu.


Memang sudah hampir enam bulan Rudi berada di Afganistan, jauh dari istri dan anak-anaknya, wajar saja bilamana kerinduan itu memuncak.


"papa ... papa ... pa," ucap Ilham ketika melihat ayahnya.


Ismiati tak tahan menahan haru, air matanyapun menetes, begitu juga dengan Rudi yang terlihat matanya berkaca-kaca.


"Sabar ya nak? nanti papa pulang kita main seperti dulu lagi," kata Rudi.


Dia hanya melihat tingkah anaknya yang sedang aktif-aktifnya bermain.


Hampir satu jam mereka berkomunikasi karena hari sudah malam Rudi segera mengakhiri pembicaraan lewat videocall tersebut.


"Sudah dulu ya sayang, disini hari sudah malam, besok kita sambung lagi," kata Rudi pada istrinya.


"Ia, jaga diri ya mas? aku selalu merinduimu, salam sayang dan kangen dari aku," kata Ismiati.


Selanjutnya telepon pun ditutup dan suasana menjadi sepi.


Rudi masih tampak melamun entah apa yang dia fikirkan.


Selanjutnya Rudi segera merebahkan tubuhnya ke kasur dan beristirahat.


......................


Pagi yang menyelimuti kota Kandahar cukup cerah, kicauan burung-burung bernyanyi merdu.


Usai mandi aku segera ke warung dekat Motel untuk mengisi perut dan meminum kopi.


Aku melihat Sherly dan Zuridah sudah berada disana, aku segera menghampiri mereka untuk bergabung.


"Bagaimana tidurmu?" tanya Sherly


"Ia baik saja," kata Rudi sambi menarik sebuah kursi untuk duduk bersama mereka.


"Pelayan! aku pesan kopi dan Naan," kataku pada pelayan warung.


"Kemana Rio, kok tidak hadir bersamamu?" tanya Sherly.


"Dia lagi tidur, mungkin hari ini dia ingin istirahat," jawabku.


Kemudian pesananku datang, segelas kopi dan Naan.


"Ok, terima kasih," ucapku kepada pelayan itu.


"Apa kalian sudah makan?" tanyaku.


"kami baru saja selesai makan," jawab Sherly.


Zuridah yang hari ini tampak diam saja dan hanya senyum-senyum bila ada pertanyaan dariku.


"Kalau begitu, aku makan dulu ya?" kataku sambil melahap Naan yang aku pesan sebagai pengganjal perutku.


Suasana hari itu tampak santai dan tenang.


Aku masih menikmati Naan, makanan timur tengah yang satu ini memang telah menjadi menu favorit terbaru ku


Selepas makan aku masih duduk santai bersama mereka sambil menikmati suasana hari.


Aku melihat Sherly dan Zuridah tampak ngobrol dengan asyiknya, entah apa yang mereka bahas hari ini.


Tidak lama kemudian Rio datang dan bergabung bersama kami.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Rio pada kami.


"ya, kami sudah makan," jawab sherly sambil menatap Rio


"Kalau begitu aku mau pesan makan dulu, aku sudah lapar," katanya.


Pelayan! Pelayan! suara Rio memanggil seorang pelayan.


Setelah makanan yang dipesan oleh Rio datang, dia lantas memakan makanan yang dia pesan tadi


Sementara aku hanya melihati saja apa yang dia lakukan dihadapanku.


Selesai makan dia hanya diam sambil sambil mengelus-elus perutnya dan bersandar di sandaran kursi.


"Kita ada undangan malam minggu nanti," kata Rio.


"Undangan apa?" sahut Sherly.


"Party Dance di rumah Kepala Dinas Kesehatan," ucap Rio.


"Woowww party? Sudah lama kita tidak party," ucap Sherly.


"Bagaimana kita akan berangkat bersama?" tanya Rio.


Suasana hening dan diam.


"Ayolah Rudi kita pergi...." ajak Sehrly padaku.


Aku hanya diam sesaat, aku sedikit berfikir.


"Baiklah..." jawabku kemudian.


Yeeeee .... Yeeee! Tampak Sherly kegirangan dengan jawabanku ini.


"Dan Zuridah akan ikut pastinya!" kata Sherly.


Rio hanya tersenyum kecil sambil memanggut-manggutkan kepalanya.


Kami telah menjadi teman yang serasih, hari itu kami berbicara lepas bersama.