
Ismiati pagi itu yang sedang berada dikantornya masih sangat sibuk mengurusi kantornya itu dengan mempersiapkan segala pesanan untuk dikirimkan saat itu.
Dia membangun usahanya tersebut yang dimulai dari nol hingga saat ini yang sudah terlihat hasilnya.
"Bu pengepakan sudah siap" ucap seorang karyawannya yang datang menemui dirinya. "Oh ya, kamu suruh Rini ya agar segera mengirimnya ke jasa pengangkutan" ucap Ismiati kepada seorang karyawatinya.
"Iya bu" jawab karyawati itu sambil berlalu dari ruangan Ismiati.
Meski Ismiati hanya seorang wanita yang berpendidikan tidak tinggi hanya mengecap bangku sekolah hingga SMA saja, namun dia sangat pintar dan begitu cerdas dalam menjalankan usahanya.
Sambil terus mengitak-atik komputer dia terus serius menjalankan usahanya dihari itu.
Dua buah mobil box telah dia miliki guna memudahkan pengiriman hasil produksinya ke konsumen yang memesan kepadanya.
Dua buah mobil box tersebut kini terparkir di halaman depan rumahnya itu, beberapa karyawan lelakinya mondar-mandir mengangkut barang dari dalam gudang untuk disusun kedalam mobil pengangkutan.
Ismiati saat ini tidak bekerja sendiri dia juga memiliki beberapa orang karyawan tenaga Administrasi selain dari karyawan produksi.
Rini Soesilawati yang ditugaskannya sebagai Kepala Administrasi dan juga Sekretarisnya yang memiliki pendidikan S1 Ekonomi bidang Kesekretarisan itu sangat dipercayainya dalam mengelola Administrasi usahanya, begitu juga di bagian Keuangan dia mempercaya seorang wanita bernama Duma Nainggolan yang juga lulusan S1 Ekonomi managemen dipercayanya untuk mengelola keuangan dan seorang lagi bernama Afridayani yang bertugas sebagai kepala produksi.
Semua karyawannya sangat patuh dan taat akan perintah Ismiati dalam mengelola segala urusan usahanya tersebut.
Hari demi hari dia lalui dalam kesibukan mengurus segala usahanya tersebut. Namun dia juga tidak lupa menjadi seorang ibu yang mengantar serta menjemput Putrinya dari sekolahnya.
......................
......................
......................
Kota Kandahar masih saja terdengar beberapa suara-suara tembakan dan ledakan, itu bertanta pasukan pemberontak masih menunjukkan eksisnya dengan sesekali membuat serangan maupun teror-teror bom bunuh diri.
Sedang Rudi pagi itu yang mendengar suara ledakan sangat mengkhawatirkan istrinya yang baru saja berangkat kerja beberapa menit yang lalu.
Dia segera mengambil Arzetta yang tengah bermain lalu menggendongnya.
"Apa suasana perang masih terjadi disini?" tanya Rudi kepada Zuridah yang sedang memasak di dapur, Rudi mendekati wanita Afganistan itu yang tampak tenang dan biasa saja. Sedangkan Rudi merasa sangat khawatir akan suara-suara rentetan senjata itu sehingga dia menggendong putri kecilnya itu.
"Mengapa kau terlihat tenang?" kata Rudi terhadap Zuridah, wanita Afganistan itupun membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Rudi yang menggambarkan mimik wajah yang sangat tegang.
"Itu hal biasa terjadi disini, mesti tidaklah sehebat waktu tuan masih menjadi jurnalis kemarin" kata Zuridah sambil tersenyum lebar.
"Tuan tidak perlu khawatir" ujar Zuridah meyakini.
"Aku sudah sering melihat perang didepan mata kepalaku sendiri" jawab Rudi dengan membulatkan kedua bola matanya sehingga dua buah bola mata itu tampak membulat sempurna.
"Kejadian itu sangat mengerihkan sekali" kata Rudi kepada Rudi. "Aku tidak ingin keluargaku menjadi korban disini" sambung Rudi.
"Tapi hal itu tidak lagi terjadi disini tuan, ini sudah menjadi keputusan bersama pemerintah" ujar Zuridah meyakini Rudi yang tengah bingung itu.
Pengalaman Rudi tentang perang yang pernah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuat rasa trauma yang mendalam. Dimana saat itu dia juga melihat bayi-bayi yang tek berdosa menjadi korban bersama ayah ataupun ibunya.
Bayangan itu masih mengantui Rudi. "Tenanglah tuan, kita banyak berdoa saja" kata Zuridah mecoba menenangkan Rudi dengan memegang lembut tangan Rudi.
Rudi memeluk erat tubuh putri kecilnya itu dengan sangat kuat, sepertimana pada umumnya seorang ayah melindungi anak-anaknya.
Zuridah hanya menatap Rudi yang berlalu dari hadapannya sampai benar-benar hilang dari pandangannya tanpa harus menahannya. Zuridah selanjutnya kembali bekerja seperti biaamsanya.
Suara-suara rentetan senjata sayup-sayup terdengar menembus dinding apartemennya.
Tuuuutttt.....tuuuttttt...., suara dering telepon
"Hallo...." terdengar suara wanita dibalik loudspeker telepon itu, "Iya, Assalammu'alaikum" kata Rudi yang ternyata dia sedang menelpon istrinya tersebut.
"Ma, apa kau mendengar suara gencatan senjata?" tanya Rudi dengan suara sedikit gemetar, dia begitu megkhawatirkan istrinya.
"Iya aku mendengarnya, dan akubaru saja sampai di kantorku pa" jawab Hellen dari seberang telepon.
"Hei, mengapa kau begitu gemetar" tanya Hellen kepada Rudi yang sedang menelponnya.
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu dan anak kita" kata Rudi dari dalam telepon, "aku masih sangat trauma akan peristiwa peperangan kemarin" Rudi memneritaukam akan Kekhawatirannya sambil masih memegang erat Arzetta yang berada di gendongannya.
"Iya aku tau sayang, sudahlah, semoga saja tidak terjadi apa-apa" kata Helln sambil tersenyum. "Yang jelas kamu tidak usah keluar rumah sampai sudah dinyatakan aman" sebut Hellen lagi dengan suara yang lembut.
Rudipun menganggukkan kepalanya seakan dia memahami apa yang dikatakan oleh Hellen kepadanya.
Suara gemerising peluru-peluru masih terdengar, bahkan sesekali disusul dengan suara ledakan yang kuat.
"Ya sudah nanti akau akan menghubungi kamu kembali, atau kau yang menghubungiku jika ada apa-apa" sebut Hellen "Aku mau bekerja dulu, sampai nanti, Assalammu'alaikum" suara Hellen menggema dari balik telpon
"Baiklah, kamu juga harus hati-hati disana" kata Rudi menjawab telpon itu, "Wa'alikumsalam" hubungan telpin pun terputus.
Rudi meletakkan ponselnya diatas meja dan kemudia dia membawa Azretta masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan diluar masih saja terdengar suara-suara raungan Ambulance yang membawa para pasien korban perang tersebut.
Suasana saat itu masih mencekam dan tidak ada satupun suara yang berbunyi selain suara gencatan senjata.
"Tuan, ini ada telpon" tiba-tiba Zuridah masuk kedalam kamar Rudi sambil membawakan ponsel Rudi yang berdering.
"Hallo..." jawab Rudi.
"Ya pak, bagaimana kondisi bapak?" tanya seirang pria dibalik telpon tersebut yang merupakan seorang Redaktur di kantor perwakilannya yang baru.
"Saya baik-baik saja" jawab Rudi, "apa ada wartawan kita yang hari ini tengah meliput di wilayah Kandahar?" tanya Rudi kepada Redakturnya.
"Ada pak! Korlip kita sudah memerintahkan seorang wartawan kesana" jawab si penelpon itu.
"Baguslah jika begitu, kita harus mendapatkan beeita tentang oeristiwa oerang disini hari ini, sebagai hedline kita ke Indonesia" ujar Rudi kepada Redakturnya.
"Siap pak! Kita laksanakan dengan baik" sebut redakturnya itu.
"Ok, nanti kita lanjut kembali, selamat bekerja" kata Rudi, kemudian telponpun dimatikan.
Rudi memberikan ponsel tersebut kepada Zuridah yang sedari tadi menunggui Rudi yang sedang menelpon itu.
Zuridah pun segera keluar untuk membawa ponsel milik Rudi tersebut dan meletakkannya diatas meja.