
Hari ini merupakan pertemuan yang membanggakan bagi mereka berdua, sebab sudah beberapa lama mereka sudah tidak lagi bertemu bahkan berkomunikasipun tidak, padahal mereka dahulu sering bersama-sama dalam meliput berita, bahkan tidur se kamar.
Ditengah asyik mereka bercerita, seorang pria bertubuh tinggi besar dengan perawakan ke arab-arab an datang menghampiri mereka.
"Hallo, selamat malam tuan-tuan?" sapa pria itu, yang ternyata adalah seorang petinggi di kota Kabul yang saat ini menjabat sebagai kepala politik dan keamanan yang bernama Mrs. Al Akshoma.
"Hallo tuan Shoma" kata Rudi menjawab salam Akshoma, "kabar saya baik-baik saja" lanjut Rudi sambil menjabat tangan pria Afganistan itu.
Begitu juga dengan Rio yang tertawa lepas dan menjabat tangan Akshoma setelah Rudi melepas jabatan tangannya.
"Oh ada tuan Rio juga disini rupanya" sebut Akshoma dengan sangat senang melihat kehadiran Rio, "apakabar tuan? Lama tak berjumpa" tanya Akshoma.
"Saya baik-baik saja tuan, semua atas doa yang tuan tuju kesaya" jawab Rio wartawan si tubuh tambun tersebut.
"Senang melihat kehadiran tuan-tuan disini, suatu kehormatan bagi kami atas kedatangan para jurnalis asing disini" sebut Akshoma dengan tawa khasnya.
"Apa tuan-tuan sudah makan? Jika belum, mari kita makan bersama?" ajak Akshoma kepada Rio dan Rudi.
"Oh ya, kebetulanbkami belum makan, bukan begitu tuan Rio!" kata Rudi sembari matanya melihat wajah Rio.
"Oh ya, belum, benar sekali, saya belum makam" sebut Rio dengan sedikit tergagap.
"Baik, baik jika begitu mari kita makan bersama" ajak Akshoma sembari menuntun mereka ke arah meja makan bulat yang lumayan besar.
Sepertinya meja itu diperuntukkan oleh para undangan terhormat, namun kami dipersilahkan oleh tuan Akshoma untuk duduk di tempat tersebut bersamanya.
Seorang pelayan lelaki datang menghampiri meja mereka unguk menerima pesanan makan dari mereka bertiga.
Setelah menerima pesanan, pelayan itu segera berlalu untuk mengambil pesanan mereka.
"Bagaimana dengan Kota ini tuan?" tanya Rudi kepada Akshoma.
Akshoma diam sesaat meaki wajahnya masih terlihat tersenyum, didalam hati oria Afganistan itu sebenarnya malas menjawab pertanyaan tersebut, dia sangat tidak menyukai jika ada yang menyinggung tentang peperangan.
"Ah, biasa...., tuan Rudi kan bisa dapat melihatnya dengan senderi!" kata Akshoma mwnjawab peetannyaan Rudi.
Rudi dengan insting seorang jurnalisnya, sebernarnya mengetahui apa yang disampaikan oleh Akshoma.
Akshoma sangat tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti itu disini, dengan ucapan yang disampaikannya dan bahasa tubuh yang dilontarkan oleh peringgi kota itu.
Namun, bukan Rudi namanya jika dia tidak dapat bertanya tentang keamanan di kota tersebut.
Naluri Jurnalisnya membaca semua keadaan yang ada, namun untuk memastikannya dia bertanya kepada Akshoma secara langsung.
Dia tidak memperdulikan Akshoma suka atau tidak, yang jelas dia siap kapan saja untuk mengorek keterangan.
"Maaf tuan, sebelumnya saya mohon maaf jika dihati tuan kurang berkenan" ucap Rudi.
Rio yang mengetahui maksud Rudi ikut nimbrung dalam percakapan mereka, yang sebelumnya dia hanya bercerita dengan kekasihnya aja.
"Benar tuan, kami adalah seorang jurnalis, jadi dimanapun kami berada, semua akan terupdate dibenak kami, apalagi saat ini tuan sebagai pejabat penting daereh ini" ucap Rio
Akshoma hanya tertawa sedikit mendengar ucapan dari kedua wartawan asing itu.
"Dasar...! Kulitinta, tidak mengenal tempat" kata Akshoma didalam hatinya.
"Oh iya..., saya faham, saya faham tuan-tuan ucapkan" kata Ashoma dengan tetap mempertahankan senyumannya.
"Silahkan tuan!" kata Pelayan itu sembari meninggalkan" kata si pelayan.
"Terimakasih" jawab Rudi dengan senyuman yang juga diikuti olah Rio seeta Akshoma.
Pelayan itu segera berlalu dari tempat duduk mereka.
"Mari silahkan tuan, kita makan dulu!" ajak Akshoma kepada kedua tamunya yang seorang Wartawan asing.
Rudi dan Rio tersenyum, mereka segera menyantab hidangan yang sudah tersaji.
Rudi sangat menikmati hidangan tersebut, iya, hampir tiga bulan sejak dia kembali ke Indonesia, Rudi belum pernah lagi menikmati masakan Afganistan itu.
Begitu juga Rio, si wartawan bertubuh tambun itu, dia begitu sangat menikmati makanan yang ada, Rio juga sama seperti Rudi, setelah setahun lebih dia meninggalkan Afganistan karena kembali ke negaranya, baru kali ini pula sejak setahun lebih itu dia bisa dapat merasakan masakan Afganistan tersebut.
Malam semangkin larut, namun pesta masih tetap berlangsung dengan gingar bingarnya.
Usai menyantab hidangan malam, dan seluruh undangan juga sudah tiba di lokasi, termasuk sang Walikota yang udah tiba di tempat acara, barulah acara itu dimulai.
Diawali dengan pidato kata sambutan dari ketua panitia yang ketika itu adalah Akshoma yang menjadi ketua panitianya.
Akshoma lantas melangkah maju menaiki panggung untuk segera berpodato memberikan kata sambutannya.
Rudi dan Rio menyimak segala apa yang disampaikan oleh Akshoma dengan penuh keseriusan.
Setelah selesai menyampaikan pidato sambutan ketua panitia Mrs Akshoma kembali duduk bersama Rudi dan Rio, saat sampai Rudi dan Rio segera berdiri dan memberikan salam kepadanya.
"Tidak disangka, ternyata tuan Akshomabyang menjadi ketua Panitianya" kata Rio sambil memandang dengan senyumannya.
"Bagus pidatonya, penuh semangat juang dan persahabatan" Rudi menyambung ucapan Rio.
"Ah, tuan-tuan terlalu banyak memuji" sebut Akshoma sambil tersipu malu.
"Sebagai insan Pers, saya berkata jujur" ucap Rudi kembali.
"Itu pidato terbaik tuan" sambar Rio.
Akshoma begitu tersipu dan tidak bisa berbicara apapun ketika Rudi dan Rio sebagai wartawan Internasional senior itu memujinya.
Tak lama kemudian, giliran sang Walikota yang naik panggung untuk memberikan pidatonya dalam acara tersebut.
Pidato ini yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua insan pers yang hadir pada saat uni.
Rudi dan Rio tampaknya tengah memoersiapkan telinganya sejernih mungkin, mata keduanya tamlak serius memandangi apa yang disampaikan oleh sang Walikota itu.
Dengan perlahan Walikota itu memberikan arahan dan pidatonya, lama-kelamaan pidato twrsebut menggema dan menggelora.
Tepuk tangan riuh bergema dari ratusan pasang tangan jurnalis dalam dan luar negri yang saat hadir di tempat tersebut.
Para Pemimpin Redaksi, Redaktur hingga wartawan malam ini penuh semangat mendengatkan arahan dan laporan dari Walikota itu.
Usai berpidato, Walikota Kabul segera kembali ke tempat duduknya, masih terdengar tepukriuh dari para undangan.
Acara jamuan makan malam itu berakhir hingga pukul dua belas malam.