
Sore itu Rudi terus membimbing Hellen kepada jalan Agama, dia sangat menginginkan gadis itu menjadi Muslimah
"Lalu kapan kau akan menuntun ku untuk mengucapkan kalimat itu?" tanya Hellen.
"Kita akan ke kantor kedutaan besar Indonesia yang ada Kabul, aku punya teman disana yang mengurusi bidang ke agamaan," kata Rudi, "nanti kita akan temui dia!" lanjut Rudi kembali.
Hellen hanya tampak diam.
Setelah aku menjadi seorang Muslim, apakah kau akan menikahi ku?" tanya Hellen.
"Ia, aku akan menikahi mu sayang!" jawab Rudi dengan tegas.
"Bagaimana dengan istri kamu?" lagi-lagi Hellen mempertanyakan hal itu.
Rudi hanya diam dan menarik nafas panjang.
"Kita akan simpan semuanya, dan kita tidak perlu banyak bicara tentang pernikahan kita nanti," ujar Rudi
Hellen pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
Kemudian Rudi memegang lembut kedua tangan gadis itu.
"Percayalah, cinta yang kita bangun diatas agama pasti jauh lebih indah, meski pun cobaan dan lika-liku nya akan teramat berat!" kata Rudi kepada Hellen.
Aku percaya itu!
Rudi tersenyum sambil memeluk tubuh gadis itu.
"Jika kau ada waktu, minggu depan kita akan ke Kabul," ucap Rudi.
Hellen kemudian menganggukkan kepalanya.
Hingga menjelang malam mereka masih terus bersama, dimana Hellen masih terus belajar tentang Islam kepada Rudi.
"Hari sudah malam, lebih baik kamu kembali!" kata Rudi pada Hellen.
Hellen pun menuruti saran Rudi, dia segera kembali ke barak nya untuk melanjutkan pekerjaannya, kebetulan malam itu Hellen masuk malam jadwal kerjanya.
Dengan mengendarai sebuah taksi, Rudi mengantar Hellen ke tempat dia bekerja.
Sebelum berpisah Rudi sempat memberikan ciuman di dahi Hellen, kemudian dengan melambaikan tangan Rudi pun berlalu dari hadapan Hellen.
...****************...
Suasana pagi sangat cerah dengan sinaran matahari yang sangat panas membiat Rudi harus banyak-banyak meminum air putih.
Di warung tempat biasa dia nongkrong Rudi memesan minuman dan juga Nasi beserta lauknya untuk mengisi perut yang masih kosong.
Tidak berapa lama Rio pun datang menghampiri.
"Good morning sir," ucap Rio kepada Rudi yang sedang makan pagi itu.
Rudi hanya menganggukkan kepalanya saja dan dia terus menikmati makanan yang dia pesan.
Rio pun ikut memesan makanan serupa seperti Rudi.
Mereka pun bersama-sama menikmati hidangan sarapan pagi.
Selepas makan Rudi mengambil rokok yang terselip dibalik kantung baju kemejanya, dia segera menyalakan rokok itu untuk dinikmati.
Tampak Sherly dan Zuridah datang menyusul dan mereka langsung mengambil posisi duduk di dekat Rudi dan Rio.
Mereka tak banyak bicara hari itu,Sherly dan Zuridah pun segera memesan saraoan pagi bagi mereka.
Dengan tarikan sebatang rokok nya Rudi menikmati suasana di hari itu.
"Minggu depan aku akan ke Kabul," kata Rudi.
"Hei ... Mengapa demikian?" tanya Rio.
"Aku ada sedikit urusan di kantor Kedutaan ku," jawab Rudi.
"Lalu bagaimana dengan Zuridah?" tanya sherly.
Rudi hanya terdiam saja, kemudian dia mengambil air putih dan langsung meneguknya.
Pelayan!
Sherly, Rio dan Zuridah hanya memperhatikan saja sikap Rudi yang tidak menjawab pertannyaan Sherly.
"Aku hanya sebentar disana," kata Rudi, "aku akan segera kembali kemari lagi setelah urusanku selesai," sambung Rudi.
"Sementara Zuridah bisa tinggal disini saja dulu, sampai aku kembali dan sampai situasi aman aku akan menghantarkannya kembali ke kampung," ujar Rudi.
Sherly tak banyak bicara, demikian juga dengan Rio, mereka hanya diam mendengar jawaban Rudi itu.
"Beberapa hari ini kamu terlihat sibuk!" tanya Rio.
"Benar, ada sesuatu hal yang aku kerjakan," jawab Rudi sambil melemparkan pandangan ke jaan raya.
"Kemarin aku melihat mu di taman kota, sepertinya kamu menunggu seseorang?" tanya Rio serius.
"Oh ya? Kamu melihat aku?" tanya Rudi, dan Rio pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Ia, aku sedang menunggu seseorang!" jawab Rudi kembali.
Kembali suasana tampak tenang, mereka tidak saling bicara dan Sherly bersama Zuridah hanha menikmati makanan nya
"Aku dan Sherly pagi ini akan ke kantor pertahanan Afganistan!" kata Rio, "apakah kamu mau ikut? Siapa tau ada bahan berita disana buat anda," sambung Rio kembali.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut, eemmm .... Ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan!" kata Rudi.
"Baik lah jika begitu, setelah ini kami akan segera berangkat!" ujar Rio.
Rudi kembali hanya menganggukkan kepalanya saja.
Selesai makan akhirnya Rio dan Sherly berangkat untuk melaksanakan tugas nya sebagai seorang Koresponden.
Kini hanya tinggal Rudi dan Zuridah yang ada disana, mereka masih melanjutkan makan dan minum di pagi itu.
Rudi sendiri menikmati kopi yang dia pesan sedangkan Zuridah hanya duduk sambil melihat-lihat situasi sekeliling warung itu saja.
"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar dari desa kamu?" tanya Rudi membuka pembicaraan diantara mereka.
"Belum, belum ada!" kata Zuridah membalas pertanyaan Rudi.
"Memang di kampungku itu adalah tempat sarangnya para pemberontak, aku tau sangat sulit untuk masuk kesana!" ungkap Zuridah.
Rio hanya diam dan menatap wajah Zuridah dengan tenang.
"Kamu harus sabar, kamu pasti akan bisa kembali kesana!" ucap Rudi sambil menepuk bahu gadis itu.
Zuridah tampak sedikit meneteskan air matanya, sebenarnya Rudi merasa sangan kasihan kepadanya.
Rudi pun menghapus air mata yang ada di pipi Zuridah dengan lembut.
Gadis itu pun sedikit kaget melihat perlakuan Rudi kepadanya, dengan sigap dia pun memegang pergelangan tangan Rudi.
Zuridah menatap dalam-dalam wajah Rudi, sebenarnya dia sangat tertarik pada Rudi yang begitu dewasa dan tampan serta bertanggung jawab.
Dari sejak awal mereka berjumpa sampai detik ini Zuridah masih sangat berharap agar Rudi tau isi hati nya.
Zuridah juga masih mengingat-ingat saat dia dan Rudi sempat bercumbu dan melakukan hubungan suami istri beberapa hari lalu.
Dia merasa Rudi begitu perkasa diatas ranjang, lebih pengertian dan lebih sabar menuntunnya.
Sesaat Zuridah memejamkan matanya dan berharap ada kecupan lembut di bibirnya dari Rudi.
Namun Rudi tidak melakukan itu, dia hanya membelai rambut gadis itu.
Rudi pun sebenarnya sedikit jatuh hati kepadanya, Zuridah memang gadis asli Afganistan dan kecantikannya sungguh sangat mengimbangi Hellen.
Namun Rudi tidak berani bermain hati kembali, karena kini dia sudah memiliki dua wanita di hatinya.
Tidak mungkin lagi dia menambahkan sesak di dadanya, meski dia tau bahwa di hatinya punya ketertarikan pada Zuridah.
Sesaat Rudi menarik tubuh Zuridah dan memeluk erat gadis itu.
Zuridah yang diperlakukan seperti itu tampak merasa senang dan tenang.
Hatinya tenang disamping Rudi, dan jantungnya pun berdetak kencang pada saat itu, seperti mana saat-saat dia akan melakukan hubungan dengan Rudi.