
Setelah mendengarkan penjelasan maksud dan tujuan dari Ismiati, si pengacara tersebut meminta segala dokumen keperluan untuk pengurusan izin usaha itu.
"Kalau boleh saya bowa dokemen-dokumen ini buat pengurusan selanjutnya" kata si Pengacara sambil melontarkan senyum kepada Ismiati.
"Oh ya, silahkan" jawab Ismiati, "Kalau boleh tau, berapa semua biaya pengurusan ini?" tanya Ismiati.
"Oh, itu nanti saja, kalau buat Ibu sebagai Klain baru saya, ada harga special nantinya!" ujar si pengacara dengan sedikit membeeikan sennyuman menggoda kepada Ismiati.
Ismiati tersenyum kecil, "bukan begitu pak, maksud saya, jika saya sudah tau berapa badgetnya jadi saya bisa segera mempersiapkannya" sambung Ismiati dengan tegas.
David tersenyum, memang dihati si Pengacara ini memiliki rasa ketika pertama sekali melihat Ismiati, berbagai alasan dia untuk tidak menyebutkan nominal angka dari biaya pembuatan akta pendirian dan izin usaha itu.
Tetapi Ismiati terus mendesaknya sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sambil menarik nafas panjang dan berhenti sesaat, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya "Siapkan saja sekitar lima atau enam jutaan" kata David sambil menundukkan wajahnya dengan membolak-balikkan lembaran dokumen yang telah dipersiapkan oleh Ismiati.
"Baik, saya akan siapkan, dan kapan bisa selesai?" tanya Ismiati kembali sembari menyandarkan tubuhnya dikursi direktur miliknya.
"Paling cepat dua atau tiga hari, tapi itupun bisa lewat juga, tergantung penyelesaiannya dikantor" jawab David dengan mencibirkan bibirnya.
Sambil manggut-manggut Ismiati memahami apa yang dimaksud oleh pengacara itu.
"Ya sudah! Pokoknya saya tunggu ya secepatnya?" ujar Ismiati sembari berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya.
David juga berdiri melihat Ismiati yang sudah mengulurkan tangannya, "Oh ya, baik, saya akan kerjakan secepatnya" kata David dengan meneeima uluran tangan dari Ismiati.
"Kalau perlu uang muka, silahkan hubungi Sekretaris saya" kata Ismiati.
"Baik, kalau begitu saya izin meninggalkan tempat ini" ujar David dengan senyum yang mengambang.
Ismiati hanya menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman.
Pengacara itupun segera berlalu keluar dari ruangan Ismiati dan segera meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di Afganistan, Rudi yang tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat undangan dari pejabat Kota Kabul.
Dia berjalan keluar dari kantornya menunggu sebuah taksi yang lewat.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, sebagaimana dalam undangan itu acara akan dimulai pada pukul sembilan malam.
Sebuah taksi melaju dari arah barat dengan kecepatan sedang, sambil melambaikan tangannya Rudi segera memanggil taksi tersebut.
Taksi.....!
sebuah taksi berhenti dihadapannya, Rudi segera masuk kedalam taksi yang sesaat kemudian menggelinding membawanya menujun tempat tujuan.
Tidak butuh waktu lama dalam perjalanan. Akhirnya Rudi tiba di lokasi acara, dia segera turun dari taksi tersebut setelah membayar ongkos taksi.
Dengan setelan jas biru dongker miliknya, dia segera melangkah masuk menuju lolasi acara, namun di depan pintu ada beberapa petugas keamanan yang terdiri dari personil Polisi dan Militer, "maklum saja acara ini dijaga dengan ketat, ini adalah acara yang diselenggarakan oleh Walikota" gumam Rudi dalam hati.
Didepan pintu tersebut Polisi penjaga meminta Rudi menunjukkan undangan dan idientitas diri, setelah semua diperiksa, barulah Rudi diperkenankan untuk masuk mengikuti acara.
Suasana hingar-bingar sudah mulai terasa, alunan musik pengiring terdengar begitu berisik.
Seorang pelayan wanita menghampirinya dengan membawa beberapa gelas minuman di nampan, "silahkan tuan" kata si pelayan sambil menyodorkan beberapa minuman kepada Rudi dengan senyum yang manis.
Dengan minikmati seteguk anggur itu, Rudi berjalan kearah depan mendekati panggung yang menyediakan hiburan musik itu.
Dengan gelas ditangannya dia menikmati sekitaran ruangan yang mulai ramai itu, namun tiba-tiba dia sikejutkan dengan suara lelaki yang menyapanya sambil memegang pundaknya itu.
"Hei tuan Rudi!" sapa lelaki tersebut dengan tersenyum.
Rudi segera membalikkan tubuhnya untuk segera melihat lelaki tersebut, "Hello how are you" kata Rudi setelah mengetahui bahwa lelaki tersebut adalah Rio, sang jurnalis asal Belanda yang pernah berjuang bersama dalam peliputan berita.
Mereka saling berjabatan tangan dan berpelukan melepas kerinduan diantara mereka yang sudah lama tidak berjumpa.
"I'm fine..., yes..., i'm fine" jawab Rio kepada Rudi dengan tersenyum bahagia.
"Akhirnya kita dapat bertemu kembali disini" kata Rio, "Bagaimana dengan istri anda nyonya Hellen?" tanya Rio.
"Iya, dia baik-baik saja, dan seorang putri kecil begitu menawan" jawab Rudi dengan senyum tipisnya.
"Woow! Luar biasa, pasti putri kecil anda sangat cantik" kata Rio, yang hari itu merasa sangat bahagia karena bertemu dengan teman lamanya.
"Iya, itu pasti tuan Rio!" jawab Rudi kembali.
"Oh ya, perkenalkan tuan, ini kekasih ku" sambil menunjukkan seorang wanita keturunan Afganistan kepada Rudi.
"Woow, luar biasa" sebut Rudi sambari bersalaman dengan wanita kekasih sahabatnya itu.
Rio menceritakan kepada kekasihnya tentang jatidiri Rudi yang merupakan sahabat karibnya.
"Apakah belum kembali ke Belanda?" tanya Rudi memecah suasana saat itu.
"Saya sudah kembali, dan berakhir tugas saya disini, namun tiga bulan yang lalu, aku dikirim kembali kemari, karena perang masih ada, dan kami butuh itu untuk informasi berita" jawab Rio panjang lebar.
Rudi memanggutkan kepalanya.
"Kamu bagaimana? Apakah sudah kembali ke Indonesia?" tanya Rio sembari menepuk kecil lengan Rudi.
"Sudah, aku sudah kembali beberapa bulan yang lalu, namun setelah tiga bulan aku di Indonesia, kantorku membuka perwakilan kantor berita disini, dan aku diminta kembali kemari sebagai pejabat kepala perwakilan itu" sebut Rudi.
"Wah, itu benar-benar hebat!" kata Rio sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan ketakjubannya melihat prestasi Rudi.
"Jika begitu, mainlah ke kantorku jika kau ada waktu" ujar Rudi sembari memberikan kartu namanya kepada Rio.
Rio mengambil kartu nama itu dan mempeehatikan kartu tersebut dengan mengangguk kecil.
"Lalu bagaimana kabar Sherly?" tanya Rudi kemudian.
"Oh, saat ini dia masih di Belanda, namun dia mendapat posisi yang baik seperti kamu setelah kembali dari sini" jawab Rio.
"Saat ini, dia sebagai Redaktur berita mancanegara, itu lumayan bagus posisi baginya" kata Rio kembali.
"Oh ya! Sungguh luar biasa" kata Rudi dengan mimim wajah yang sangat bahagia mendengar prestasi temannya itu.
"Mungkin..., dalam waktu tidak lama lagi, dia akan berkunjung kemari juga, itu yang ku dengar" lanjut Rio dengan mencibirkan bibirnya.
"Jika begitu, kita bisa Reuni kembali!" ucap Rudi.
Mereka tertawa beesama dan kemudian meneguk minuman masing-masing.
"Aku tidak menyangka, kita dapat bertemu lagi disini" kata Rio.
"Ya, akupun demikian, tetapi, inilah yang dinamakan persahabatan" sebut Rudi dengan tertawa kecil yang diikuti Rio dengan tawa khasnya pula.