
Zuridah yang masih duduk bersama Rudi masih terus berharap akan adanya sebuah kecupan-kecupan hangat di bibirnya.
Selama beberapa hari ini Rudi sedikit menjauh karena tidak ingin membuat sebuah perasaan bersama Zuridah.
Kriiiingg ... Kringgg ... Tiba-tiba ponsel Rudi berdering.
Ternyata yang menelpon adalah istrinya Ismiati.
"Halo ... Assalammu'alaikum" suara Ismiati saat menyapa suaminya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Rudi.
"Bagaimana kabar kamu mas? Kok nggak pernah menelpon?" tanya Ismiati dari baik telepon.
"Ya, mas baik saja," kata Rudi, "tapi beberapa hari ini mas banyak kesibukan" sambung Rudi.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Rudi sedikit mengalihkan pertanyaan-perranyaan selanjutnya dari Ismiati.
"Mereka baik-baik saja," jawab Ismiati, "Salsabila sering nanyain kamu mas?" kata Ismiati kembali, "dia bilang papa kok nggak telpon-telpon!"
Zuridah yang masih duduk di dekat Rudi menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Sekarang lagi dimana Salsabila?" tanya Rudi sambil matanya melihat Zuridah.
"Anak-anak lagi tidur!" jawab istrinya kembali, "apa kamu tidak kangen sama aku mas?" tanya Ismiati.
"Pastiah!" jawab Rudi tegas, "tapi aku banyak pekerjaan, jika ada waktu luang aku pasti akan menelponmu," kata Rudi.
Sesaat pembicaraan pun terhenti.
"Halo ...."
"Ya mas," jawab Ismiati.
"Nanti kita sambung lagi ya sayang? Titip salam buat anak-anak" kata Rudi.
"Ya udah, hati-hati kamu disana ya mas!" ucap Ismiati.
Sebenarnya Ismiati sendiri masih ingin berlama-lama mendengarkan suara suaminya itu, namun dia tau mungkin suaminya sedang sibuk bekerja.
Ismiati sendiri sudah merasa sangat rindu kepada suaminya yang sudah enam bulan bertugas di Afganistan.
Rasa kesunyian lahir dan batin dia rasakan sejak jauh dari suaminya itu.
...****************...
Hari telah menjelang siang, Rudi masih duduk bersama Zuridah usai menelpon istrinya.
"Apakah yang menelpon tadi istrimu?" tanya Zuridah kepada Rudi.
Dengan sesikit senyum Rudi menganggukkan kepalanya "benar! Itu tadi istriku" jawab Rudi.
Zuridah tampak diam "apakah kamu tidak merinduinya?" sesaat kemudian Zuridah bertanya kepada Rudi sambil menatap wajah Rudi penuh arti.
Rudi menarik nafas sambil melemparkan pandangannya ke sudut ruangan di warung itu, "pasti! Aku sangat merindukan mereka!" jawab Rudi, "merindukan istri dan anak-anakku."
"Tetapi tugasku ini merupakan tanggung jawab besar, baik kepada keluarga maupun tempat aku bekerja" sambung Rudi.
Sesaat suasana kembali sepi, Zuridah menundukkan kepalanya dan Rudi masih menatap kosong ke sudut ruangan disana.
Parlahan Zuridah memmegang tangan Rudi, seketika itu Rudi pun kaget meneruma perlakuan seperti itu, "tuan adalah pria yang penuh tanggung jawab serta penyayang!" ujar Zuridah.
"Alangkah bahagia wanita yang bersama tuan pastinya," Zuridah diam sesaat dan masih memegang tangan Rudi, "tidak seperti aku wanita yang malang, yang selalu dimanfaatkan oleh lelaki bejat!" Zuridah menitiskan air mata dan bibirnya sedikit bergetar.
Rudi manarik nafas dan ia meremas tangan Zuridah.
Ada rasa sedih dihati Rudi melihat kejadian itu.
Gadis ini memang sangat cantik dengan tubuh seksi serta ideal, namun sayang dia memiliki nasib yang kurang beruntung dalam percintaan, "Tuhan tidak tidur! Yakinlah, pasti akan ada pria baik menjadi kekasihmu nanti!" kata Rudi sambil membelai rambut Zuridah dengan mesra.
Suasana terasa sangat haru dan tidak seperti biasanya.
Memang saat-saat ini sangat sulit bagi Rudi, dimana tuntutan pekerjaan yang terus memburunya ditambah lagi dengan adanya wanita-wanita yang hadir di dalam kehidupannya membuat suasana penuh adegan yang sangat menantang.
Dengan melemparkan pandangan Zuridah menghapus air matanya dengan kedua tangannya "aku ingin tetap berjuang untuk hidup dan juga anakku!" kata Zuridah.
Rudi hanya memperhatikan gadis itu saja.
"Anda adalah pejuang tuan!" kata Zuridah dengan mambuang pandangannya ke arah lantai.
Kemudian dia menatap Rudi "anda adalah pejuang keluarga dan cinta!" lanjut Zuridah dengan sedikit senyuman manis dan pelopak mata berwarna merah tanda dia baru saja menangis menambah kecantikan padanya.
Rudi hanya menatap gadis itu saja.
"Jika aku bisa jujur, aku sangat senang dengan tuan," kata Zuridah, "aku bahagia menganal anda tuan!" dengan bibir yang bergetar dan senyum kecut di wajah nya.
"Saya merasa sangat aman disisi tuan," lanjut Zuridah dengan membuang kembali pandangannya ke arah kiri tubuhnya, "dan saya merasa tenang di samping tuan!" dengan menolehkan pandangannya ke arah Rudi.
Ya, Rudi tau maksud gadis itu, sebagai pria dewasa dia sangat pengalaman dengan hal seperti ini, sebenarnya gadis ini mencintainya namun dia malu untuk mengucapkannya.
Rudi hanya tersenyum dan mengelus-elus pipi Zuridah.
Zuridah pun membiarkan saja perlakuan Rudi itu dan dia merasa sangat senang dengan apa yang diperbuat Rudi kepadanya.
"Kamu boleh saja bersandar denganku kapanpun," kata Rudi.
"Baik itu tubuhmu dan juga hatimu," kini Rudi mencoba memancing reaksi dari Zuridah.
Ohh .... Alangkah senangnya Zuridah mendengarkan hal itu, diapun tersenyum manis sambil memegang tangan Rudi yang berada dipipinya dengan memejamkan matanya.
"Apa kamu mau memesan makan atau minum lagi?" ucap Rudi memecah suasana itu.
Perlahan Zuridah tersentak.
Emmmm .. "Ya, boleh" kata Zuridah, "aku pesan Roti bakar saja dan just jeruk" ucap Zuridah.
"Ya, hari sudah siang, kita harus makan siang dulu," kata Rudi "aku sudah lapar!"
Pelayan! Pelayan!
Rudi memanggil seorang pelayan yang ada disana.
Sesaat pelayan wanita datang, kemudian Rudi memesan menu yang dia inginkan sebagai hidangan makan siang.
Setelah mencatat semua pesanan pelayan itupun pergi untuk mempersiapkan pesanannya.
Rudi dan Zuridah terlihat masih mengobrol di meja tersebut sambil menunggu hidangan.
Tidak berapa lama kemudian seorang pelayan wanita tadi pun datang dengan membawakan menu pesanan.
Pelayan tersebut meletakkan semua pesanan di meja mereka, setelah mempersilahkan mereka untuk menyantabnya pelayan tersebut pun pergi meninggalkan mereka.
Kini Zuridah dan Rudi menyantap makanan tersebut sebagai menu makan siang mereka.
Suasana di hari itu cukup cerah, matahari menyinar cukup menyengat di tengah hari tersebut.
"Apakah tuan suka makanan Afganistan?" tanya Zuridah.
Hmmm ... "tidak semua .... Ada beberapa yang menjadi menu paforit," kata Rudi.
Sambil memakan roti bakarnya Zuridah pun tersenyum dengan jawaban Rudi.
"apakah banyak yang cocok dengan perut anda?" kata Zuridah kembali.
Rudi menaikkan sedikit alis matanya, "saya rasa sangat cocok," kata Rudi, "pedas! Saya suka pedas!" ucap Rudi kembali.
"Tapi aku lebih suka Naan dan Challow" ungkap Rudi sambil tersenyum.
Mendengar itu Zuridah tersenyum, "berarti sudah ada makanan paforit tuan disini!" ujar Zuridah.
Rudi hanya menganggukkan kepala sambil terus menikmati makan siang yang terasa begitu hangat suasana saat ini.