"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXVI. Hari demi hari



Seperti yang di jadwal kan oleh Rio tentang undangan acara Party Dance di dumah kediaman Kepala Dinas Kesehatan.


Selepas Sholat Isya' kami pun segera berangkat dengan menggunakan dua mobil taksi yang telah dipesan oleh Rio.


Taksi segera melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat lokasi tujuan kami.


Setengah jam kemudian kami pun telah sampai ditempat tersebut, kami segera turun dari taksi dan masuk melalui pintu depan.


Tampak para pengaman berseragam lengkap berada di pintu masuk itu, semua tamu undangan diperiksa setiap bawaannya dan dimintai surat undangan nya.


Kini giliran kami yang diperiksa, Rio segera mengeluarkan surat undangan dan kami segera masuk ke dalam rumah itu.


Acara akan di langsung kan di lantai dua rumah itu, ada tiga lantai rumah mewah tempat kediaman salah satu pejabat disini yang membidangi tentang dunia kesehatan.


Rumah dengan ornamen timur tengah dan di dinding nya banyak ditemui figura-figuran dari si pemilik rumah ini.


Aku memperhatikan setiap ditail bangunan ini, sambil menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.


Lantai mar-mar khas eropa terpajang disini, suara dentuman musik sudah mulai terdengar dari kisi-kisi pintu rumah ini.


Sesampainya di lantai dua, suasana agak sedikit gelap dengan hiasan lampu disco yang berkelip-kelip.


Tamu-tamu undangan juga sudah pada ramai dan telah turun berjoget happy.


Baik orang-orang dari dalam maupun luar negri yang menjadi tamu, mulai dari orang asia hingga eropa.


Kulirik Rio dan Sherly yang sudah tampak asik berjoget, sementara si Zuridah hanya terdiam disudut ruangan.


Aku mencoba untuk mendekatinya.


"Kamu mau minum?" kataku.


"Ok, sebentar akan aku ambil," sambil berlalu aku segera menuju meja hidangan dan mengambil segelas air putih.


Lalu aku memberikan air putih tersebut kepada Zuridah.


Suasana pesta mangkin malam dan semangkin meriah.


"Apa kegiatan seperti ini sering dilakukan disini?" tanyaku pada Zuridah.


"Tidak juga, mungkin bagi mereka yang berduit!" jawab Zuridah.


Suara dentuman dan hingar bingar musik house malam ini benar-benar telah mngalahkan suara senjata mesin di tengah gurun padang pasir ketika peperangan berlangsung.


Aku mengajak Zuridah untuk sedikit menepi.


"Apa kamu suka dengan hal seperti ini?" tanyaku pada Zuridah.


"Tidak! Aku sangat tidak menyukainanya"


"Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu menyukainya?" tanya Zudirah.


"Oh tidak! Aku juga tidak menyukai hal seperti ini" jawabku.


Sesaat kami hanya terdiam dan melihat ke arah pesta.


Suasananya semangkin ramai, aku juga sudah tidak begitu jelas melihat ke arah pusat mereka berkerumun dan berjoget dengan musik disco yang keras dan lampu yang sudah padam hanya sunar lampu disco yang kelap-kelip.


"Kamu sudah lapar?" tanyaku pada Zurudah.


"Sedikit."


"Hmmm .... bagaimana jika kita makan saja, aku juga sudah lapar," ajak ku pada Zuridah.


Dia hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui ajakan ku.


Kami pun segera berjalan untuk turun ke lantai satu menuju meja hidangan.


Perut ku memang sedari tadi sudah keroncongan, sedari sore memang aku belum makan jadi wajar saja jika aku sudah mulai lapar.


Kami mengantri untuk mengambil hidangan di meja.


Setelah mengambil makanan aku dan Zuridah langsung mencari tempat untuk makan bersama.


Malam ini suasana sangat romantis, Rio dan Sherly tampaknya sedang menikmati suasana happy malam ini, sedangkan aku dan Zuridah menikmati makan malam berdua.


"Apa ada kabar dari anakmu?" tanya ku kepada Zuridah.


"Aku belum menghubungi orang tuaku dalam seminggu ini!" jawabnya.


"Mengapa?"


"Entahlah, aku merasa sedang tidak enak saja," jawabnya.


"Apa kamu punya masalah?" tanya ku menyelidiki.


Sesaat Zuridah masih terdiam.


"Sudah sebulan aku belum mengirim uang buat anakku"


Mendengar ucapannya aku sedikit terdiam.


"Apa kamu tidak memberi tau bahwa kamu sudah tidak bekerja lagi?"


"Mengapa?"


"Aku takut ibu ku menjadi khawatir padaku!" jawab Zuridah.


Aku hanya terdiam sambil berfikir.


"Saat ini apa yang akan kamu kerjakan untuk mengatasi masalahmu?" tanya ku.


"Aku tidak tau, aku hanya tinggal menuruti kemana kaki akan melangkah!" jawabnya.


Sepertinya gadis ini sudah sangat frustasi menghadapi masalah hidup ini.


Memang ku akui dia merupakan seorang wanita yang rajin dan pekerja keras.


Tapi aku belum bisa membantunya untuk mengembalikannya kepada keluarganya.


Kriiiinggg .... Kriiingg ....


Tiba-tiba ponsel ku berdering.


Oh Tuhan, ternyata yang menelponku adalah Hellen.


"Sebentar, aku menerima telpon dulu" kata ku pada Zuridah sambil berlalu meninggalkannya.


"Haloo ..." sapa ku.


"Haloo sayang, bagai mana dengan kabarmu?" tanya Hellen padaku.


"Aku baik-baik saja," jawabku.


"Bagai mana dengan pekerjaanmu?" tanya dia lagi padaku.


"Ya, biasa saja seperti mana hari-hari sebelumnya"


"Apa kamu masih lama di sana?" tanya dia pada ku kembali.


"Ya kemungkinan, kenapa?"


"Besok aku akan berangkat ke Kandahar,"


"Ada sedikit urusan disana, mungkin dua atau tiga hari saja," kata Hellen sambil tersenyum.


Aku pun merasa bahagia dan senang mendengar kabar itu.


"Benerkah itu?" tanya ku memastikan.


"Benar! Aku merindukanmu, nanti kita akan bertemu disana!" ucap gadis itu.


"Baiklah sayang, aku sangat senang mendengarnya!" kata ku.


"Aku lagi banyak pekerjaan, sengaja aku mengabari kamu, agar kamu tidak terkejut," kata gadis itu.


"Baiklah, aku tunggu kamu besok!" jawabku.


"Ok sayang, sampai jumpa ..." kata Hellen sambil mengakhiri pembicaraan.


Setelah telepon ditutup aku tersenyum-senyum sendiri, sambil menarik nafas panjang, "Ah besok aku akan bertemu dengannya," kata ku dalam hati.


Aku pun segera berjalan untuk kembali ke meja diamana Zuridah sedang menungguku.


Namun sebelum menemui Zuridah aku naik ke lantai dua untuk ke kamar mandi, sebab kamar mandi di lantai satu banyak tamu yang mengantri menunggu giliran.


Dari seorang satpam yang memberitau bahwa ada kamar mandi di lantai dua maka aku segera kesana.


Setelah selesai dari kamar mandi akupun segera menuju ke kantai saru kembalai.


Namun di sudut ruangan mau ke arah kamar mandi, aku melihat seperti ada dua orang disana.


"Ah, seperti nya itu Rio," ucapku, dengan perlahan aku pun menghampirinya.


Namun ketika aku sudah mendekat, aku tersentak karena itu memang Rio dan Sherly.


Mereka sedang bercumbu, tampak Rio sedang ganas-ganasnya mencumbui Sherly.


Pria tambun itu sedang mencium bibir Sherly dan tangannyapun sedang menekan bagian dada Sherly yang sudah tampak terbuka.


Situasi memang sedikit gelap sehingga aku tidak begitu jelas untuk melihat pemandangan itu.


Aku hanya tersenyum saja melihat sepintas adegan itu, dan kemudian aku berlalu meninggalkan mereka berdua.


Aku segera turun ke lantai satu dan kembali duduk bersama Zuridah.


"Apa istri anda menelpon?" tanya Zuridah.


"Hmmm ... Tidak?" kata ku.


"Tampaknya kamu begitu serius," kata Zuridah kembali.


Aku tidak menjawab nya dan aku hanya memilih diam serta tersenyum.