"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LIX. Rumah tangga



Setelah pulang dari kantor Rudi segera langsung kerumah untuk bertemu dengan istrinya guna membicarakan hasil oertemuannya kepada Ismiati istrinya.


Begitu sampai dirumahnya Ismiati terlihat masih sibuk dengan urusan usaha yang sedang dia tekuni.


Rudi mencoba untuk menghampiri sang Istri.


"Sepertinya hari ini kamu terlihat sibuk" tanya Rudi kepada Ismiati yang sedang menghitung diatas meja.


Ismiati pun tersenyum pada suaminya.


"Eh, kamu udah pulang mas?" tanya Ismiati.


"Iya, hari ini mau ada pengiriman barang ke luar kota, aku sedang mengecek lokasi tujuan" kata Ismiati menjawab pertanyaan suaminya.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Ismiati kembali.


"Belum, biar nanti mas ambil aja sendiri makannya, kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu" kata Rudi sambil tersenyum dan memegang pundak istrinya.


Rudi pun segera berlalu dari ruangan kerja istrinya yang ada di garasi mobil nya sebagai tempat usahanya.


Rudi langsung menuju ke dapur untuk mengambil nasi.


Kebetulan dia sufah sangat lapar sekali sejak dari kantor tadi.


Keinginannya untuk makan siang bersama istrinya kandas, setelah dia melihat istrinya sedang sibuk dengan usaha yang saat ini ditekuni istrinya itu.


Rudi sebenarnya merasa bangga kepada istrinya yang mampu mandiri dan membangun usaha sendiri tanpa bantuan dari Rudi.


Meski Rudi yang memberikan modal usaha untuk sang istri.


Sambil menikmati makan siang Rudi mengambil ponselnya, dia pun iseng untuk mengirim Chat wa ke Istrinya yang ada di Afganistan.


"Assalammu'alaikum" ucap Rudi dalam isi pesan Chat nya.


"Saya sudah tiba di Indonesia dengan selamat kemarin, maaf saya baru bisa memberi kabar sekarang, sebab istri saya selalu berada disisi saya" ujar Rudi dalam pesan Chat nya.


Tanda centang satu masih tergambar di layar ponsel nya.


Rudi tidak begitu cemas, sebab dia tau mungkin saat ini Hellen sedang tidur, karena disana masih akan menjelang pagi.


Akan tetapi Rudi menghapus Chat tersebut agar tidak diketahui Ismiati, walaupun istri Rudi sangat jarang sekali memegang ponsel milik suaminya itu.


Rudi masih terus menikmati makan siang nya, dengan sangat lahap.


Usai makan Rudi segera menuju ruang keluarga untuk menonton tv.


Duduk disofa yang empuk, dia menyalakan tv dengan menekan remot yang telah dia pegang.


Sambil menonton fikirannya terus mengingat kepada Hellen.


Jika benar nantinya Rudi akan diangkat menjadi Kepala Biro Luar Negri maka ada kemungkinan dia akan terus bersama Hellen.


Meski baru beberapa hari kembali ke Indonesia, tapi Rudi masih sangat merindukan Hellen.


Sampai-sampai ada dibenak Rudi untuk membawa Hellen ke Indonesia.


Matanya masih tertuju pada tayangan tv, akan tetapi fikiran dan jiwanya melayang berandai-andai untuk dapat menyatuan kedua Istrinya.


Waktu terus berjalan, derik demi detik dan menit demi menit telah menghantarkan dua matanya terpejam.


Rasa lelah dan letih menghampiri Rudi.


Dia merebahkan tubuhnya diatas sofa dan tertidur dengan sangat nyenyak, sementara layar tv masih tetap menyala.


......................


......................


......................


Tanpa terasa waktu telah menjelang sore hari, tatkala seluruh karyawan Ismiati yang sebanyak lima orang telah kembali pulang.


Dengan usahanya itu Ismiati mampu mempekerjakan tetangganya untuk membantunya dan meningkatkan perekonomian bersama.


Ismiati melihat suaminya yang tengah teridur di sofa dengan tv yang masih menyala.


Dengan segera Ismiati mematikan tv tersebut dan membangunkan Rudi untuk segera pindah ke dalam kamar tidur.


"Mas...., bangun mas" kata Ismiati sambil mengguncang-guncang tubuh Rudi.


Tidak berapa lama Rudi pun terbangun.


"Kok tidur disini sih mas?" tanya Istrinya.


"Iya, mas kecapekan sehingga tidak ingat apa-apa lagi" ujar Rudi sambil tersenyum.


"Jam lima sore" jawab Ismiati sambil bergegas meninggalkan ruangan itu.


Rudi duduk sejenak di sofa tersebut, untuk meregangkan tubuhnya yang baru saja terbangun dari tidur.


Beberapa menit kemudian, di segera bangkit dan kemudian menuju kamar mandi.


"Mas mau mandi?" tanya Ismiati yang sedang berada di dapur.


"Iya, udah sore" jawab Rudi.


"Mau pakai air hangat? Biar saya buatkan?" tanya Ismiati kembali.


"Tidak perlu, mas mandi pakai air biasa saja" jawab Rudi sambil berlalu masuk ke kamar mandi.


Melihat suaminya yang sudah masuk ke kamar mandi, Ismiati segera ke kamar tidur dan menyiapkan pakaian untuk suami nya.


Tidak berapa lama, Rudi pun selesai dari mandi dan segera keluar dari kamar mandi untuk langsung menuju ke kamar tidur.


"Mas mau sholat maghrib di mesjid aja" kata Rudi.


"Oh Mas mau ke masjid? Ya udah, ini kain dan baju koko nya, terus itu pecinya dekat buffet" kata Ismiati.


"Iya, sudah lama Mas tidak ke masjid untuk bisa silaturahmi juga dengan tetangga" kata Rudi


Setelah berpakaian, Rudi memanggil anak lelaki nya Ilham untuk diajak ikut sholat ke masjid.


Ismiati pun memberikan pakaian terbaik untuk putra nya itu.


Dengn menggendong Ilham Rudi pamit dan segera keluar menuju Masjid yang ada di dekat rumahnya.


Para tetangga yang melihat Rudi pada senang dan saling mendekat serta menyalami Rudi.


Begitu juga Kepala Lingkungan disana yang merasa senang jika Rudi telah kembali dari luar negri.


Selama ini memang Rudi terkenal bermasyarakat, bahkan dia juga sering menjadi imam sholat di masjid tersebut.


Sifatnya yang mudah bergaul dan suka membantu menjadikan para jiran tetangganya pun sangat menghormatinya.


"Sudah lama kamu tidak menjadi imam, sekarang kamu harus menjadi imam di hari ini" kata Kepala Lingkungan di daerah tempat dia tinggal.


Rudi pun tersenyum dan dia segera mengambil tempat untuk menjadi imama.


Muadzin sudah mengumandangkan komat tanda akan dimulainya sholat berjemaah.


Rudi langsung memimpin Sholat maghrib di Masjid itu.


Usah Sholat Kepala Lingkungan dan Beberapa warga mengajak Rudi untuk duduk bersama untuk melepas kangen.


Mereka ingin bertanya tentang keadaan Rudi selama di Afganistan.


Sebab mereka tau di Negara itu tengah menjadi konflik serta menjadi sorotan dunia saat ini.


Dengan senang hati sambil memangku anak nya Ilham, Rudi pun menceritakan segala pengalamannya selama di Afganistan.


Dari yang paling membahayakan hingga kejadian unik yang dia alami.


Warga mendengarkan segala apa yang disampaikan Rudi tentang pengalamannya.


Dia bagaikan seorang pendongeng pada saat itu.


Cerita tentang makanan hingga bom yang meledak di depan mata.


Hingga menjelang Isya mereka masih sangat menikmati cerita pengalaman Rudi.


Hingga suara Adzan telah berkumandang barulah mereka mengakhiri pembicaraan tersebut.


Kembali warga dan para jemaah Masjid meminta Rudi untuk menjadi Imam.


Rudi tidak pernah menolak jika ia diminta untuk menjadi imam, bahkan dia juga sering menjadi pendakwah di Masjid itu.


Dia mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dan juga bisa berpidato dan berdakwah.


Dari berbekal pesantren yang pernah dia ikuti, pendidikan agamanya pun terbilang lumayan bagus.


💗💗💗💗💗💗💓💓💗


Hello pembaca setiaku...


Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang udah membaca novel karya ku ini.


Aku ingin terus dukungan kalian agar aku dapat terus berkarya dengan semangat.


Ayo..., beri like, subcribe dan komen kalian ya.