"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB-VI. Kebersamaanku dengan Hellen



Siang yang sangat terik dan sungguh membakar telapak kaki di gurun pasir timur tengah. Pertunjukan mortir-mortir dari basis-basis militer Afganistan ke camp-camp musuh terus berlanjut, kini gurun pasir Herat sebagai saksi bisu pertempuran sengit di siang hari ini. Berbagai peluru kendalipun silih berganti terbang bagaikan bola badmindton yang sedang dipukul oleh pemainnya.


Duaaaaaarrrr......Duarrrrrrr.....!! Ledakan dahsyat menghantam sebuah pos tentara, tubuh-tubuh manusiapun berterbangan ke udara yang disusul debu-debu pekat menutupi sekelilingnya. Seketika itu beberapa orang lari keluar menyelamatkan diri. Treeeetetettt.....duaaaarrrrr..!! Bummm!! Sebuah serangan balasan dari pihak tentara menghantam sebuah mobil tank milik kelompok pengacau, kepulan asap menutupi mobil lapis baja itu, terlihat mobil itupun terbakar. Dari kejauhan, para pasukan Arteleri milik Inggris kelihatannya sibuk menyusun senjata lontar seperti mariam hingga rudal balistik. Tak berapa lama kemudian delapan susun meriam dengan laras panjang mulai melontarkan peluru-pelurunya. Ssssseeeeettt.....duaaaaarrrr....!! Bummmm!! Rudal itupun menghantam sebuah tenda prajurit milik kelompok pengacau tersebut, seketika tampak beberapa orang keluar dari tenda itu, dan adapula beberapa tubuh terlihat terlontar keangkasa bersama ledakan yang terjadi. Kemudain terdengar suara rintihan dan tangisan dari koban.


duaaaaarrr....!! Bummm!! Bummmm!! Lagi-lagi hantaman peluru raksasa milik tentara meluluh lantakkan pertahanan pengacau tersebut.


Beberapa kali ledakan terus terjadi, dengan berbagai cara mereka terus berusaha memukul mundur kelompok pengacau itu. Tretettttt.....tretettttt.....tretettttt....tretetttt.....tretetttt.......!! Suara senjata api pun terus bergantian memecah suasana.


Aku menyaksikan sendiri peristiwa pertempuran terbuka ini dari kejauhan, sambil aku terus mengabadikan moment-moment dari setiap detik dengan kameraku. Semua ini akan menjadi dokumen yang akan aku kirim ke meja Redaksi.


Duaaaaar.....!! Bummmm!! Ledakan terus saja berlanjut, entah sudah berapa lama pertempempuran itu terjadi. Hingga akhirnya pasukan Militer Afganistan dan Sekutupun berhasil memukul mundur para pasukan pengacau itu sejauh mungkin mereka berlari karena terasa terdesak oleh pasukan Pemerintahan.


Sesaat suasana heningpun menyelimuti.


Asap-asap hitam membumbung tinggi di angkasa akibat pembakaran dari bahan peledak yang digunakan oleh kedua bela pihak untuk bertempur. Tidak berapa lama terlihat para relawan dan palang merah sibuk mengangkat tandu membawa korban-korban hasil perang yang baru saja terjadi. Mereka ada yang masih hidup dengan luka-luka di beberapa tubuhnya, dan adapula yang sudah tidak bernyawa lagi. Para korban dibawa menggunakan Ambulan-ambulan menuju rumah sakit, tak khayal raungan ambulan itupun melagukan suasana dihari itu. Sungguh suasana yang sangat memilukan dari sebuah peperangan.


Para korbanpun dibawa kebeberapa titik rumah sakit yang ada di kota Herat. Memang, di kota Herat ini paling sering terjadi peperangan,tak khayal banyak warga yang telah mengungsi ke beberapa daerah di sekitar mereka yang dianggap aman dari peperangan.


Akupun segera menuju rumah-rumah sakit yang merawat para korban itu Satu persatu rumah sakit itu aku datangi,dan mewawancarai beberapa korban serta warga yang selamat. Akupun mewawancarai pihak dokter serta pihak pemerintahan untuk mendapatkan,serta melengkapi dokumen-dokumen jurnalistikku untuk aku jadikan sumber beritaku hari ini. Setelah aku mendapatkan semua apa yang kurasa lengkap, barulah aku duduk di salah satu ruangan rumah sakit untuk membuat bahan berita. Segala sumber informasi serta foto-foto perang beserta para korban telah menguatkan isi beritaku. Akupun segera mengirimkan e-mail ke redaksi. Usai semua e-mailku diterima dan dibaca oleh Redaktur, barulah aku merasa tubuhku sudah sangat letih dan ingin beristirahat. Akupun berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah ruangan yang kurasa aman untuk ku beristirahat. Kulihat ada beberapa wartawan asing juga yang istirahat disitu, kufikir tempat ini lebih aman. Akupun bergegas duduk kelantai sambil kusandarkan tubuhku ketembok yang ada di ruangan itu, serta ku luruskan kedua kakiku. "Ah...., ini terasa enak sekali bila kakiku kuluruskan," ucapku dalam hati. Akupun mencoba memejamkan mataku untuk beristirahat. Perlahan matakupun mulai terpejam..Rrrrrrrgrrrggg.....reghhhhhrgggg....


Bunyi dengkuran yang silih berganti. Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku sendiripun tidak tau pasti yang jelas saat itu aku seperti ada yang membangunkan.


"Hey......." suara seorang wanita sambil menepuk bahuku pelan. Dengan perlahan-lahan kubuka mataku yang terasa berat akibat kantuk. Sekilas kulihat dihadapanku,seorang wanita bule yang sedang menatapku. "Hay.. Hellen," tanyaku kaget! Benar, dia adalah Hellen gadis prancis yang aku kenal beberapa hari lalu di rumah sakit kota Kabul.


"What are you doing here?" tanyanya padaku.


"I just coveret the war that just happened," jawabku.


"then why are you in our Herat?" kembali aku bertanya padanya.


"i was assigned to help here, because there is a shortage of nurses," ucapnya kembali.


"i'm pleased to hear it," jawabku.


Sambil tersenyum malu gadis itupun mengajak aku mengobrol santai.


Sore itu aku bersamanya menghabiskan waktu untuk mengobrol, dengan sesekali ia harus pergi untuk melihat pasien yang dia rawat, namun setelah itu ia kembali lagi duduk dan ngobrol denganku hingga waktu menjelang senja. Aku pun memohon ijin kepadanya untuk kembali ke camp karena waktu sudah hampir gelap dan aku sudah letih ingin segera beristirahat.


************************************************


Pagi telah datang, sekilas suara-suara adzan subuh berkumandang di kota Herat. Akupun segera bangun lalu mandi dan berwudu serta turut melaksanakan sholat subuh bersama tim relawan dari kedutaan di camp tempat kami berkumpul. Seusai sholat subuh, kami melakukan sarapan pagi sebelum memulai aktivitas dipagi ini.


Bersama tim relawan selain aku juga ada beberapa wartawan-wartawan Indonesia yang ikut untuk mencari berita, mulai dari jurnalis tv, radio hingga cetak. Suasana keakraban sangat baik, apalagi kami sesama warga Indonesia. Menjelang pukul sembilan pagi, akupun berangkat ke beberapa tempat yang terkena dampak serangan kemarin. Banyak hal ku temui disini, dan akan aku jadikan bahan baritaku nanti. Sejam setelahnya, aku pindah ke rumah sakit tempat aku bertemu dengan Hellen kemarin. Ya...., tujuanku selain melihat kondisi para korban, aku juga ingin bertemu wanita bule itu.


Sesampainya aku di rumah sakit, dan aku langsung melihat kondisi para korban yang sedang dirawat. Sambil berjalan pelan matakupun melihat kanan dan kiri di sisi-sisi ruangan rumah sakit itu. Matakupun tertuju di sebuah kamar aku melihat Hellen si gadis bule itu yang sedang merawat pasien dengan beberapa temannya. "Ah, aku duduk didepan pintu ruangan ini saja," fikirku. Sambil perlahan akupun duduk di sebuah kursi panjang tepat di depan ruangan itu. Ada tiga orang pria Afganistan yang duduk bersamaku disitu. Sambil melihat keadaan, aku mengambil sebuah kotak rakok yang ada di sakuku. Kemudian aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Suasana ramai dirumah sakit itu membuat kebisingan di beberapa ruangan. Tak lama berselang, ku lihat Hellen keluar dari ruangan itu. Aku berharap dia bisa melihatku. Benar, dia tersenyum, hatiku terasa gembira. Sambil memberikan beberapa kode dgn tangannya, yang ditandakan aku disuruhnya untuk menunggu. "wahhh, akhirnya hari ini aku bisa kembali bertemu dan ngobrol dengannya!" fikirku.


Tidak berapa lama kulihat Hellen pun berjalan menghampiriku, dengan senyuman manisnya yang dibalut dengan pakaian serba putih khas seorang perawat.


"Hey, how are you," katanya kepadaku. Lantas sambil aku membuang rokokku kelantai akupun menjawab dengan senyuman


"i'm fine", kataku.


"what are you doing here" tanyanya padaku.


"i was deliberately waiting for you," jawabku. Gadis itupun tersipu malu.


"oh my god, is that true," jawabnya dengan senyum yang sumringah. akhirnya kamipun duduk dan bercerita panjang lebar. Sungguh suasana indah yang kurasakan dengannya. Meski beberapa kali seperti biasa ia pergi untuk meralihat orang yang dia rawat. Kami bercerita hingga menjelang sore hari, rasanya aku enggan untuk melepaskan hari bersamanya.