"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XIII. Tragedi Kota Kandahar



Setiap menit kota ini selalu saja ramai oleh aktivitas masyarakat, namun sayangnya sejak terjadinya kemelut peperangan kota ini sedikit redup. Pagi yang cukup cerah aku mencoba untuk berjalan sendiri menelusuri sisi kota Kandahar, banyak yang sekali orang hingga kendaraan yang berlalu lalang disini, apalagi warga asing yang berdatangan ke kota Kandahar.


Disebuah warung kecil tepatnya di tepi jalan raya, aku duduk dengan memesan segelas kopi panas. "Pesan apa tuan?" tanya seorang pelayan pria kepadaku, "saya pesan segelas kopi aja," jawabku. Kemudian pelayan itupun berlalu untuk mempersiapkan pesananku. Suasana saat ini cukup ramai meski baru saja terjadi pertempuran kemarin pagi, warga sangat disibukan oleh aktifitas mereka berupa jual beli barang, sementara aku sendiri membuka ponselku dan browsing internet untuk mencari-cari sesuatu berita Mancanegara. Tidak berapa lama pelayan tadipun datang dengan membawakan segelas kopi pesananku, "ini tuan kopinya," kata si pelayan itu sambil meletakkan segelas kopi diatas meja, "ok, terimakasih!" kataku. Kemudian sipelayan itupun berlalu. Aku masih asyik dengan laptopku, sambil menyerutup kopi panas aku memanjakan diri dengan aktifitasku hari ini.


Sesaat kemudian aku mendengar teriakan seorang wanita di ujung jalan sana, Tolongggg! Tolongg! Teriak si wanita itu, "hei, ada apa itu?" tanyaku dalam hati, lalu aku segera mengamati wanita itu yang kelihatannya sedang di kerumuni oleh tiga orang lelaki arab yang bertubuh tinggi besar.


Namun ada sesuatu yang menggelitik fikiranku, sepertinya wanita itu sedang dalam masalah. "Kenapa dia? Sepertinya dia sedang terancam!" gumamku dalam hati. Dari kejauhan aku melihat salah seorang dari lelaki itu menodongkan pisau ke wajah wanita itu. Kelihatannya wanita itu adalah wanita asli pribumi afganistan. Aku mencoba untuk mendekati mereka, "ah, coba aku lihat kesana, siapa tau wanita itu membutuhkan pertolongan," kataku dalam hati, kemudian aku menutup laptapku dan menyimpanya kedalam tas rangselku, aku memanggil si pelayan tadi dan berpesan agar minumaku jangan diambil dulu karena aku akan kembali lagi.


Kemudian sambil berjalan Perlahan-lahan aku mendekati lokasi tersebut, tiba-tiba salah seorang dari mereka melihatku yang datang menuju arah mereka. Benar, seorang dari mereka membawa pisau kecil seukuran bayonet yang di todongkan ke wanita tersebut. "hai, mau kalian apakan dia!" terikanku sambil berjalan lebih cepat menghampiri mereka, wajah-wajah sangar pria arab itu semua menatap padaku, seorang diantaranya seperti membisikan sesuatu ketelinga pria yang sedang mengacungkan senjata tajamnya ke arah wanita itu. Saat aku mulai mendekat, mereka pun segera pergi meninggalkan wanita Afganistan tersebut.


Aku segera menghampiri wanita itu yang sedang menangis tersedu-sedu. "hai, ada apa dengan kamu?" aku mencoba bertanya kepada wanita itu. "tolong aku tuan, mereka orang jahat" ucap wanita itu sambil memperlihatkan mimik wajah yang ketakutan, "apa yang mereka perbuat terhadap nona?" tanyaku kembali, namun wanita itu tak menjawab, dia hanya terus menangis. Melihat keadan itu sedikit merasa panik, lantas akupun mencoba mengajaknya untuk duduk di warung tempat aku minum tadi, "bagaimana kalau kita kewarung itu saja," kataku, sambil menunjuk warung tempatku duduk tadi, diapun menuruti ajakanku, kemudian aku segera membawanya ke warung tersebut.


"Nona mau makan atau minum,?" kataku, "saya minum air hangat saja," jawab wanita itu, akupun segera memanggil pelayan disana, pelayan! Pelayan! Seorang pelayan datang menghampiri, "saya lesan air putih hangat satu!" kataku, pelayan itupun berlalu. "anda kenapa nona? Dan siapa mereka?" tanyaku, namun wanita itu tidak menjawab, dia hanha menangis terisak-isak dengan air muka yang sedikit tegang. Tidak berapa lama air putih hangat telah tiba, pelayan itupun meletakkannya diatas meja, "nona minumlah dulu," kataku, kemudian dia segera meminum air itu. "Kelihatannya wanita ini sangat ketakutan," gumamku dalam hati, sambil menangis ia hanya menunduk, aku terus memperhatikannya, aku mencoba bertanya kembali kepadanya, "hai, mengapa nona menangis terus?" tanyaku yang masih panik melihat keadaannya, "anda janganbtakut, aku bukan orang jahat! Aku mau menolongmu!" ucapku, kemudian ia mulai berbicara, "mereka orang jahat," jawab gadis itu, "apa yang mereka perbuat kepadamu?" Tanyaku kembali, kini wanita itu terdiam lagi. Tak lama kemudian iapun bercerita, "mereka adalah tukang pukul sang mucikari," katanya, "aku dari desa yang jauh, dan aku ditawarkan sebuah pekerjaan oleh seorang wanita," ungkapnya, aku mendengarkan keluhnya sambil menatap dalam-dalam kepadanya, "tapi sampai disini aku dan teman-temanku di jual kepada pria hidung belang!" Jawab gadis itu. Aku hanya tetap diam mendengarkan ceritanya itu, "aku sudah tiga hari di kota ini," ucapnya meneruskan ceritanya. "Selama tiga hari aku dipaksa melayani lelaki asing!" suaranya sedikit parau akibat menahan tangisnya. "Sudah enam lelaki yang meniduri aku, namun aku hanya diberi upah yang sangat sedikit, semua diambil oleh sang mucikari," keluh wanita itu. "Karena aku sudah tidak tahan, aku mencoba lari dan penjaga itu mengejar ku kemudian memukuliku, memaksa untuk aku kembali ke tempat itu," kata gadis itu. Sesaat suasana hening, wanita itu masih terisak-isak sambil tertunduk.


"Mengapa nona tidak melapor ke pihak Poice?" tanyaku, "aku takut!" jawabnya, "hmmm....siapa nama nona dan berapa usiamu?" tanyaku, "namaku zuridah, usiaku duapuluh satu tahun," jawabnya, "lalu apa yang bisa ku bantu untukmu?" Tanyaku, "saat ini aku hanya butuh tempat tinggal dan kembali ke desa ku," jawabnya sambil menagis.


Akupun memanggil pelayan dan membayar semua pesanan, lalu aku mengajak Zuridah untuk segera berangkat. Taksi! Taksi! Aku memesan sebuah taksi untuk menghantarku dan Zuridah ke tempat penginapanku.


Sesampai di penginapan, aku langsung membawa Zuridah ke kamar untuk segera membersihkan tubuhnya, "ini ada handuk dan sabun, bersihkanlah dulu tubuhmu," kataku sambil memberikan sabun danbhanduk kepadanya, "terima kasih tuan," jawabnya, kemudian ia segera menuju kamar mandi.


Seusai mandi gadis itupun duduk dibangku panjang di kamar ku, lalu akupun memesankan makanan untuk aku dan dia agar kami bisa makan malam bersama. Tak berapa lama pesanan pun datang dan aku bersama zuridah makan malam bersama. Rio telah kembali dan masuk kedalam kamar, sedikit terkejut melihat keberadaan Zuridah Rio segera bertanya kepada ku tentang gadis itu, "hei, siapa wanita ini?" kata Rio, Zuridah agak panik melihat Rio datang, aku lantas menjelaskan tentang jati diri gadis tersebut, "begini, tadi nona ini dalam bahaya, ada tiga orang pria yang menodongkan pisau kepadanya," ucapku menjelaskan kronologi kejadian, "lalu aku menolongnya," kataku lagi, Rio hanya menyimak pembicaraanku, "ternyata dia adalah korban perdagangan manusia," aku diam sejenak, "dia berhasil melarikan diri dari rumah bordir itu," aku menarik nafas panjang, "tetapi sang pengawal mucikari mengejarnya lalu iapun disiksa dan dipukul hingga pengancaman dengan pisau," sambungku, "nah disana aku menyelamatkannya, lalu membawanya kemari untuk sementara," ucapku, "kenapa tidak lapor ke Police?" kata Rio, "dia takut! Dia hanya ingin kembali kekampungnya," kataku, "lalu aki akan mencoba menghantarkannya pulang!" kataku, Rio menarik nafas dan hanya menganggukkan kepala.


Setelah mendengarkan kisah gadis itu Rio sedikit tenang dan diapun ikut memikirkan bagaimana caranya buat menyelamatkan gadis ini dan mengantarkannya pulang kembali ke kampung halamannya. Malam itu kami bertiga saling berfikir untuk menyelamatkan gadis tersebut, karena malam sudah mangkin larut, aku menyarankan kepada gadis itu untuk tidur satu kamar dengan Sherly Mathias reporter wanita asal Belanda teman itu. "bagaimana kalau malam ini kamu tidur di kamar sebelah" kataku, "disana ada teman kami yang juga seorang wanita, dia adalah seorang wartawati dari Belanda" kataku, sesaat Zuridah menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujuinya. Dengan segera Akupun segera menghantarkan gadis itu ke kamar Sherly, tok....tok..tok.....! Suara pinta aku ketuk, sesaat kemudian terlihat Sherly keluar dari kamarnya. Setelah didepan pintu aku menjelaskan tentang Zuridah kepada Sherly, aku meminga tolong keladanya untuk memberi tempat unyuk Zuridah malam ini. Usai mendengar kisahku tentang Zuridah terlihat Sherly sedikit sedih dan memeluknya. Tak lama kemudian Sherly pun mengajak Zuridah untuk masuk ke kamarnya, lalu pintupun ditutup oleh Sherly. Akupun masih berdiri didepan pintu, aku merasa sedikit lega bisa membantu gadis itu, kemudian Akupun segera beranjak menuju kamarku.


Didalam kamar aku melihat Rio masih sibuk dengan Komputer jinjingnya. "Mungkin dia sedang banyak pekerjaan," ungkapku dalam hati. Akupun kemudian berjalan menuju sebuah sofa disamping meja tempat Rio bekerja, sambil meneguk segelas air mineral aku rebahkan sejenak tubuhku di sofa itu. Begitu banyak masalah yang ku hadapi mungkin ini adalah sebagian dari tantangan pekerjaanku, sambil memejamkan mata aku terus berfikir mengenai semua peristiwa yang terjadi hari ini, "heloooo boy.... ! Apa yang kamu fikirkan" tanya Rio, "ah tidak ada,aku cuma merasa sedikit letih saja" jawabku sambil tersenyum tipis, "kalau kamu letih istirahatlah dulu" kata Rio, atau kamu mau spagethi? Kata Rio kembali sambil membawakan sepiring Spagethi. "Makanlah, ini aku beli buat kamu tadi," ucap Rio.Aku hanya tersenyum, "terimakasih kawan!" Ucapku, "kamu tidak usah terlalu banyak fikir tentang wanita itu, nanti kita cari jalan keluarnya bersama untuk menyelamatkannya dari perdagangan manusia," ucap Rio, Aku hanya menganggukkan kepala sambil melahap spagheti.


Malam ini kami terus mengobrol dengan Rio, mulai tentang Zuridah hingga pekerjaan kami, akhirnya hingga malam beranjak larut dalam kesunyian, setelah sama-sama kami terasa letih malam ini, aku dan Rio segera menuju ke pembaringan, selanjutnya aku dan Rio segera merebahkan tubuh kami dalam ke kasur dimalam yang gelap ini.


Malam ini terasa udara sangat dingin, diluar telah turun hujan dengan derasnya, baru kali ini selama aku di Afganistan turun hujan, semoga hujan ini membawa berkah untuk kehidupanku.