"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXXIX Perjalanan Cinta sang Sahabat



Rudi hanya menatap kearah Sherly sambil mangaduk-aduk kopi digelasnya secara perlahan.


Terlihat Sherly pun tersenyum tipis menatap Rudi.


"Masa-masa aku bersamanya memang sangat bahagia" lanjut Sherly dengan kisah cintanya.


"Tetapi itulah namanya cinta, kita tidak bisa memastikan" ujar Sherly sambil tersenyum.


Suasana kembali hening.


"Lalu kenapa kamu tidak menikah dengannya?" tanya Rudi


Sherly tersenyum sambil menggelng-gelengkan kepalanya.


Dia diam sesaat, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam penuh arti.


"Semua itu pasti ada sebab!" ujar Sherly sambil mengangkat bahunya sedikit.


"Ya.. Orang ketiga yang membuat cinta kami hancur" lanjut Sherly kembali.


Suasana sesaat sepi dan hening.


Rudi terlihat hanya senyum tipis saja.


"Lalu mengapa kamu tidak mencari pengganti lagi?" tanya Rudi


Sherly hanya terlihat diam sambil menyerutup caffeiin nya.


"Entahlah...aku masih ragu" jawab gadis bule itu.


Suasana kembali hening.


"Kamu tidak tertarik pada Rio?" tanya Rudi sambil tersenyum


"Tidak!" jawab Sherly, "Kami hanya teman kerja saja" lanjutnya.


"Terkadang kami hanya "Have fun" saja," kata Sherly sambil mengangkat bahunya.


Rudi kembali menyerutup kopinya.


Suasana kembali hening.


Mereka hanya saling diam.


"Oh ya...apa kegiatan kita hari ini?" tanya Rudi memecah suasana.


"Aku tidak tau" jawab Sherly


"Tetapi kita bisa membuat jadwal untuk itu" lanjutnya.


Rudi hanya terlihat senyum sambil menarik nafasnya


"Jika anda? Bagaimana dengan hari ini?" tanya Sherly lagi.


"Aku tidak ada pekerjaan" jawab Rudi.


Suasana kembali tenang.


"Bagaimana jika kita jalan keluar" ajak Sherly.


"Kita bisa melihat-lihat situasi kota" sambungnya.


"Siapa tau ada yang bisa kita jadikan bahan berita" ucap Sherly kembali.


"Aku setuju!" jawab Rudi dengan tegas.


"Jika begitu, mari kita bersiap-siap" ajak Sherly.


Tanpa basa-basi lagi, Rudi segera menghabiskan kopinya dan Sherly pun menyerutup Caffeinnya.


Setelah membayar semua makan dan minum, mereka bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat.


...----------------...


...----------------...


Siang itu suasana sangat hening di penginapan tempat Rudi dan para sahabatnya.


Sekitar pukul 14.23 siang, terlihat Rio baru saja terbangun dari tidurnya.


Sepertinya memang dia terlihat begitu letih.


Pria bule bertubuh tambun itu segera membersihkan tubuhnya ke kamar mandi.


Usai dari kamar mandi dia segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Sherly yang ada di sebelahnya.


Ternyata kamar itu di kunci dari dalam.


Sherly dan Rudi berada diluar, mereka berdua sedang mencari bahan berita.


Tok..tok...tok.


Pintu diketuk oleh Rio.


Tidak lama kemudian pintu kamar itupun dibuka oleh Zuridah.


Zuridah memang selalu berada di kamar ketika Sherly dan teman-temannya pergi.


"Hello nona Zuridah" sapa Rio


"Ya tuan Rio" jawab Zuridah, "Ada perlu apa tuan?" tanya Zuridah kembali.


Rio yang masih berdiri didepan pintu tersenyum.


"Apakah anda lupa jika saya meminta nona untuk memijat?" ujar Rio sambil bertanya pada Zuridah.


Sesaat Zuridah berfikir.


"Oh iya tuan, maaf saya lupa" kata Zuridah sambil tersenyum


"Lalu, apa tuan mau dipijat sekarang?" tanya Zuridah.


"Mmmm, boleh jika anda tidak keberatan" ucap Rio.


"Kalau begitu masuklah"kata Zuridah sambil mempersilahkan Rio untuk masuk kedalam kamarnya.


"Silahkan tuan berbaring, saya akan mempersiapkan minyak untuk memijat" ucap Zuridah.


Rio segera membuka seluruh pakaiannya dan hanya menggunakan handuk.


Kemudian Rio berbaring di tempat tidur dengan posisi tertelungkup.


Zuridah yang sudah menyiapkan minyak segera naik ke tempat tidur untuk memijat Rio.


Dalam hitungan detik Zuridah segera memijat Rio.


Terlihat Rio memejamkan matanya menikmati setiap jengkal jari-jari letik Zuridah.


"Hmmmm...ini enak sekali" kata Rio.


Zuridah hanya tersenyum.


"Tuan terlalu letih bekerja" kata Zuridah.


"Seluruh urat-urat tuan terlihat tegang dan kaku" ujat Zuridah melanjutkan pijatannya.


"Benar, kamu sangat pintar Zuridah" ucap Rio


Zuridah hanya tersenyum mendengar pujian itu.


Seluruh urat-urat saraf itu di buat lentur oleh gadis tersebut.


Zuridah terus memijat seluruh tubuh bagian belakang Rio.


Mulai dari ujung kepala hingga kakinya.


Rio pun sangat menikmati suasana itu.


Setengah jam kemudian Zuridah meminta Rio untuk membalikkan tubuhnya.


"Balikkan tubuhnya tuan" kata Zuridah.


Rio segera membalikkan tubuhnya


Kini pria Belanda itu dalam posisi telentang.


Terlihat bulu-bulu berwarna coklat merimbun di bagian dadanya.


Zuridah mulai memijat bagian tubuhnya.


Jari-jari letiknya terus bermain di dada pria tambun itu.


Kini Zuridah mulai memijat-mijat di sekitaran ************ pria bule itu.


Mendapat pijatan seperti itu membuat Rio mulai merasakan sesuatu ditubuhnya.


Zuraidah terus turun memijat-mijat paha dan kaki lelaki itu.


Rio tampaknya sudah mulai naik kelelakiannya, dia hanya memejamkan matanya menikmati rangsangan itu.


Zuridah sepertinya mengetahui apa yang dirasakan oleh Rio.


Dia hanya tersenyum sambil kembali melakukan pijatan di seputaran ************ lelaki itu.


Perlahan namun pasti, Zuridah membuka handuk yang melekat di tubuh Rio.


Mendapat perlakuan seperti itu, Rio pun mulai memegang bagian tubuh Zuridah.


Dia membuka baju gadis itu dan memegang dua gunung kembarnya.


Zuridah kembali membuka ****** ***** lelaki itu dan mulai memainkan burung milik Rio.


Keras dan besar itu yang terlihat.


Rio menarik tubuh Zuridah dan mencumbuinya.


Merekapun akhirnya melakukan permainan yang cukup lama.


Setelah puas dengan dua ronde, mereka tidur bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Rudi dan sherly sedang melakukan peliputan di sebuah bangunan yang hancur terkena serangan pertempuran kemarin.


Bangunan itu adalah milik warga sipil dan beberapa anggota keluarganya tewas serta luka-luka.


Pemerintah memang telah menjamin semua pengibatan bagi warga yang terkena sasaran serangan.


Bantuan juga datang dari luar negri dan tak khayal datang dari Indonesia du bawah bendera Palang Merah dan Mercy.


Rudi dan Sherly siang itu begitu sangat bersahabat.


Hingga menjelang sore hari mereka terus mencari informasi berita.


"Bagaimana denganmu?" tanya Rudi pada Sherly.


"Apakah kau sudah lapar?" sambung Rudi kembali.


"Sedikit" jawab Sherly sambil tersenyum.


"Apa kita mau makan dulu, atau mencari tempat untuk istirahat sejenak?" ungkap Rudi.


"Baiklah, mari kita cari tempat istirahat" Sambut Sherly.


Wanita wartawati Belanda itu tersenyum manis pada Rudi sambil berjalan mencari warung atau Cafe sebagai tempat istirahat.


Mereka berdua berjalan perlahan sambil melihat kearah kanan dan kiri.


Setiap ada bangunan yang rubuh Sherly segera mengabadikannya dengan kameranya.


Setelah berjalan setengah jam, akhirnya Sherly dan Rudi menemui sebuah warung dengan lokasi cukup baik.


Merekapun segera masuk kedalam warung tersebut dan segera memesan makanan.


Pelayan! Pelayan!


Panggil Rudi kepada seorang pelayan.


Tidak berapa lama, seorang pelayan wanita datang.


"Pesan apa tuan?" tanya pelayan itu.


"Saya pesan nasi dan lauk dua, serta air putih" jawab Rudi.


Kemudian Pelayan itupun pergi untuk mengambilkan pesanan.


Rudi dan Sherly masih asik dengan gatget mereka sambil menunggu pesanan datang.


Tidak berapa lama, pelayan tadipun datang dengan membawakan pesanan.


"Silahkan tuan, nona" kata pelayan itu dengan senyum ramah.


"Terimakasih" jawab Rudi.


Rudi dan Sherly segera menyantap hidangan itu.


Memang mereka telah merasakan perut yang lapar, setelah hampir setengah hari mereka bekerja dan belum makan.