"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXX Meniti keluarga



  Pagi telah menjelang, Matahari telah menyinari Kota Kandahar yang tampak begutu menyengat, namun dihari itu Kota Kandahar masih diselimuti sisa-sisa peetempuran kemarin.


Hellen baru saja terbangun dari tidurnya ketika mendengar tangisan Arzetta yang pagi itu ingin menyusu pada ibunya.


Seketika Hellen mengambil bayi kecil yang bernama Arzetta dan kemudian dia menyusui bayi perempuan yang imut tersebut.


Rudi masih terlelap dalam tidurnya, dia tampak begitu keletihan setelah melakukan pertempuran dua ronde bersama istrinya malam tadi.


Hellen hanya tersenyum melihat suaminya, sambil menyusui bayi yang di pangkuannya, dia mengelus-elus kecil rambut Rudi yang ketika itu terkejut dan lantas terbangun dari tidurnya.


"Pukul berapa sekarang?" tanya Rudi yang terbangun akibat merasa rambutnya dibelai oleh sang istri.


"Pukul 06.15 pagi" jawab Hellen sambil tersenyum, "pukul berapa kembali ke Kabul?" tanya Hellen kembali.


"Secepatnya, karena aku akan mengirim berita kemarin yang belum sempat aku terbitkan" jawab Rudi sambil bergegas ke kamar mandi.


Hellen hanya melihat suaminya dengan senyuman manis, hatinya memang belum ingin membiarkan Rudi untuk berangkat ke Kota Kabul, karena dia baru dua malam bjsa tidur dengan suaminya itu setelah kembali dari Indonesia.


Akan tetapi dia sadar, bahwa pekerjaan dan tugas suaminya sebagai seorang Jurnalis Senior, pekerjaan yang tidak mudah, dan harus siap kemanapun dia ditugaskan demi mengejar sebuah berita dan menuliskannya di sebuah Media Masa.


Seorang Kuli tinta harus bisa menempatkan posisi dimanapun dia berada, harus bisa membangun relasi yang baik dan bisa memberikan Informasi yang tepat dan akurat.


Itulah sebabnya dia harus siap dengan hidup seperti ini, layaknya dirinya sebagai seorang Perawat Senior yang juga terkadang harus mementingkan Pasien dari pada keluarganya sendiri.


Tidak berapa lama Rudi telah keluar dari kamar mandi dan dia segera menuju ke ruang makan.


Zuridah yang sudah menyiapkan sarapan pagi menyambutnya dengan hangat.


"Selamat pagi tuan Rudi" sapa Zuridah sembari membereskan meja makan dan menghidangkan makanan kepada Rudi.


"Ya pagi" jawab Rudi sambil menarik sebuah kursi disamping meja makan dan kemudian dia duduk, sebuah piring kaca di raihnya dan tangannya segera mengambil nasi beserta lauknya yang telah dipersiapkan oleh Zuridah.


Hellen keluar dari kamar dengan menggendong Arzetta, "Zuridah, tolong kamu bisa pegang Arzetta sebentar" kata Hellen kepada Zuridah.


Zuridah lantas mendekat dan mengambil Arzetta dari gendongan Hellen, "saya mau mandi bentar ya" ucap Hellen sambil memberikan Arzetta padanya.


"Iya Nyonya" jawab Zuridah yang kemudian mengajak main Arzetta di ruang tamu.


Rudi telah menyelesaikan sarapan paginya, lantas dia menyiapkan segala keperluannya untuk kembali ke Kota Kabul pagi itu juga.


"Sudah mau berangkat Tuan?" tanya Zuridah yang melihat Rudi tengah memberes-bereskan barangnya.


"Iya, hari ini saya akan kembali ke Kabul, mungkin setiap akhir pekan saya baru bisa kemari" jawab Rudi sambil terus merapikan barang bawaannya.


Hellen keluar dari kamarnya, dan sudah berdandan ala seorang petugas medis yang merupakan Profesinya sehari-hari.


Dia melangkah ke ruang makan untuk melakukan sarapan pagi nya.


"Zuridah, kalau bisa Arzetta mandikan dulu, udah siang ini" kata Hellen sambil mengambil nasi dan lauknya diatas meja.


"Baik Nyonya" kata Zuridah dengan membawa Arzetta untuk dimandikannya, agar gadis kecil itu terlihat cantik dan bersih.


Tidak berapa lama, Hellen telah menyelesaikan sarapan paginya, dia mendekati Rudi yang tengah sibuk dengan barang-barangnya.


"Iya, ini semua sudah beres" jawab Rudi tanpa melihat kearah Hellen yang sedang duduk disampingnya.


Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Hellen sambil kedua tangannya memegang pipi istrinya, "Setiap akhir pekan aku akan kembali kemari" kata Rudi dengan memberikan ciuman ke bibir Hellen yang tipis.


"Ok, hati-hati kamu disana ya?" kata Hellen yang tampak terlihat sedih.


Rudi kembali mengecup dahi istrinya, lantas dia segera berdiri dengan membawa tas rangsel miliknya dan berjalan kearah Zuridah yang sedang mendandani putri kecilnya.


Kemudian Rudi mengambil Arzetta dan menggendongnya sesaat sambil mencium gadis kecilnya itu, "Papa pergi ya sayang, jangan nakal-nakal, dan jaga mama baik-baik" ucao Rudi kepada anak perempuannya itu.


Dia segera mengembalikan Arzetta kepada Zuridah untuk dilanjuti dandanannya, "Saya berangkat ya Zuridah, jaga rumah baik-baik dan jaga Nyonya dan anak saya" pesan Rudi kepada Zuridah.


Zuridah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Rudi segera melangkah keluar rumah dengan diiringi oleh Hellen dari belakang, sebuah lambaian tangan Hellen disambut Rudi dengan lambaian tangan juga.


Satu persatu Rudi menuruni anak tangga yang ada tiga lantai tersebut, sebelum dia benar-benar sampai dilantai dasarnya.


Setelah tiba dilantai dasar dia menuju pinggir jalan kota untuk menunggu sebuah taksi yang lewat.


Rudi segera melambaikan tangannya ketika sebuah taksi melintas dihadapannya, setelah mengatakan arah tujuan, Rudi segera berangkat ke Kota Kabul dengan menumpangi taksi tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore telah menjelang, barulah Rudi sampai di Kota Kabul, memang jarak antara Kota Kabul dengan Kota Kandahar lumayan jauh, kurabg lebih memakan waktu hampir setengah hari.


"Baru sampai pak?" tanya seorang temannya di kantornya itu.


Rudi hanya tersenyum, "iya, bagaimana keadaan, aman?" tanya Rudi kepada temanya yang merupakan Redaktur di tempat tersbut.


"Aman pak" jawab Sang Redaktur itu, "Ok baik, bagaimana berita perang kemarin?" tanya Rudi sambil berjalan menuju ruangannya.


"Sudah terbit pak, tapi masih kurang lengkap sepertinya" jawab si Redaktur sambil mengikuti langkah Rudi menuju ruangannya.


"Saya dapat berita A1 nya, kamu bisa mengeceknya nanti setelah saya kirim" kata Rudi, "setelah itu kamu jadikan berita, lalu kirim ke Media kita" ucap Rudi kembali kepada Redakturnya.


"Baik pak, saya tunggu beritanya" kata Redaktur itu sambil keluar dari ruangan Rudi dan segera menuju ke ruangannya.


Rudi segera meembuka laptopnya dan kemudian mencari berita yang telah dia buat kemarin dengan diaisipkan foto-foto serta video hasil rekaman dan wawancara ekslusif nya dengan seorang Brigjen yang bertanggung jawab atas pertempuran kemarin di Kota Kandahar.


Setelah mendapat berita tersebut di laptopnya, dia segera mengirimkan berita itu melalui E-mail nya kepada sang Redaktur itu.


Berita Rudi memang sudah dapat dipastikan sebagai berita terbaik, sebab dia mampu mewawancarai bahkan bertemu langsung dengan orang-orang penting di Negara Afganistan tersebut.


Walaupun terkadang dia bisa saja bwrselisih faham dengan orang-orang tersebut, lantaran Rudi ingin mencari informasi yang benar dan akurat.


Namun semua itu dapat dia kendalikan sebagai seorang Jurnalis Senior yang telah banyak memakan asam garam selama meliput di luar negri.