"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XVI. Kehidupan didalam perang



Rumah sakit-rumah sakit hari ini kelihatan penuh sesak oleh para korban peperangan,baik dari pihak tentara atau masyarakat.


Tampak kesibukan-kesibukan terjadi di kota Kandahar karena perang yang baru saja berakhir.


Aku dan Rio beserta Sherly sama-sama menuju ke rumah sakit-rumah sakit untuk melihat korban peperangan.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit terlihat beberapa bangunan yang rubuh serta beberapa kendaraan lapis bajayang hancur dan terbakar akibat dari terkena nuklir yang dilontarkan oleh para gerilyawan.


Sementara itu ada juga beberapa potongan tubuh dari para korban yang terkena ledakan,oleh karena itu tubuhnya pecah menjadi beberapa bagian.


Kisah pilu dari para korban menjadi gambaran suasana pada hari ini di Kandahar.


Aku bersama teman-teman terus berjalan menuju rumah sakit-rumah sakit, entah berapa korban yang terkena serangan ini.


Kamera-kamera milikku terus merekam setiap detik yang terjadi, moment-momet mengerihkan dari perang ini harus tetap aku abadikan sebagai sumber berita utama hari ini.


Disebuah bangunan yang roboh, Rio dan Sherly menghentikan perjalanannya.


"Kita berhenti sebentar, kita buat live report dulu" ucap Rio.


Akupun segera berhenti ditempat itu, terlihat banyak sekali orang diseputar bangunan itu mungkin banyak korban disana.


Rio dan Sherly segera melakukan rekaman reportasenya dengan Rio sebagai kameramen.


Ada seorang warga yang berhasil mereka wawancarai, terlihat seorang wanita itu yang menjadi narasumber menangis menceritakan kejadian yang dia alami.


Rumahnya kini telah roboh dan rata menjadi tanah, suaminya tewas dalam musibah ini akibat tertimla reruntuhan bersama dua anaknya.


Pada saat kejadian wanita itu sedang kepasar bersama anak gadisnya yang paling tua, karena itu dia dan anak gadisnya tidak menjadi korban.


Kini anak dan suaminya sudah ditemukan oleh para petugas, dan kini telah dibawa kerumah sakit, kata wanita itu sambil menangis sedih.


Usai melakukan live report kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit-rumah sakit tempat para korban dirawat.


Sesampainya kami dirumah sakit kami langsung melihat kondisi para korban.


Disini kami saling berpencar untuk mencari berita.


Aku menemukan seorang pria yang sedang menangis didepan pintu rumah sakit, aku mencoba mendekatinya dan berusaha untuk mewawancarainya.


Pria tersebut setuju untuk diwawancarai.


"Anda hari ini kehilangan berapa anggota keluarga?" kataku memulai wawancara dengannya.


"Anak saya dua orang tewas terkena reruntuhan dari bangunan yang roboh" jawab pri tersebut.


"Bisakah anda menceritakan suasana yang terjadi pada saat itu?" tanyaku.


"Kami tidak tau kalau hari ini terjadi pertempuran" jawab pria tersebut.


"Saya sedang berada dikantor, dan tiba-tiba istri saya menelpon kalau hari ini telah terjadi pertempuran dekat dari tempat tinggal" katanya kembali.


"Kemudian ada suara-suara untuk segera meninggalkan rumah, sebelum keluar tiba-tiba sebuah nuklir menghantam rumah di depan kami dan rumah tersebut roboh" ucapnya


"Lantas istri saya panik dan berlari terus keluar, sementara kedua anak saya pada saat itu belum meninggalkan rumah" katanya kembali.


"Pada saat anak-anakku akan keluar, tiba-tiba sebuah nuklir kembali menghantam rumah yang ada disamping rumah kami, sontak bangunan-bangunan disamping-sampingnya juga roboh"


"Dan anak kami terjebak di dalam" jawabnya sambil meneteskan air mata.


"Baik, terimakasih atas konfirmasi anda kepada kami pihak media" kata Rudi.


"Semoga anda dan istri dapat tabah" ucapku kembali sambil menyalami nya.


Akupun segera berjalan kembali untuk melihat kondisi selanjutnya.


Memang hari ini perang yang berlangsung sangat hebat, wajar saja kalau rumah-rumah warga banyak yang hancur bahkan korban sipil juga berjatuhan.


Beberapa tentara terlihat dalam perawatan karena luka-luka dari amunisi-amunisi perang yang baru saja usai.


Para korban yang sudah meninggal dan sudah di otopsi mereka meletakkan jenazah-jenazah tersebut di halaman belakang rumah sakit tersebut.


Akupun mengabadikan jenazah-jenazah itu yang sudah ditutupi oleh kain panjang.


Masyarakatpun dengan segera berdatangan dan melihat jenazah tersebut untuk mencari anggota keluarganya yang masih hilang.


Ada yang menangis histeris ketika telah menemukan anggota keluarganya yang tewas dan adapula yang terlihat kebingungan karena belum menemukan anggota keluarga mereka.


Aku beserta Rio dan sherly masih terus memantau keadaan terkini dirumah sakit tersebut,sambil sesekali aku menulis bahan-bahn berita.


Hal serupa juga terjadi dibeberapa rumah sakit yang menampung para korban.


Kami mencoba menghubungi beberapa pejabat namun mereka semua belum bisa kami konfirmasi.


Hingga menjelang sore rumah sakitpun masih disibukan oleh para korban perang, ada yang sudah terlihat dibawa pulang oleh pihak keluarga dan adapula yang dibawa pulang sudah menjadi jenazah.


Dari pihak militer juga demikian, ada prajurit yang sudah bisa kembali kekesatuan dengan luka ringan dan adapula yang telah tewas yang sudah diambil oleh pihak keluarga dan militer.


Kelihatan memang hari ini begitu banyak korban, namun kami belum mendapatkan informasi satupun tentang jumlah pasti dari para korban.


Akupun bersama Rio dan Sherly duduk dilantai tepatnya diujung dari rumah sakit tersebut.


Peluh telah menetes ditubuh kami, rasa lelah teramat sangat kami rasakan hari ini.


Aku mengambil botol mineral yang ada didalam tas rangselku, kemudian aku meneguk air itu untuk membasahi kerongkonganku yang telah kering.


Keringat telah membasahi baju yang aku kenakan sehingga basah bagai tersiram air hujan.


Suasana pengap begitu terasa dikarenakan begitu ramainya orang-orang yang berdatangan kerumah sakit guna mencari keberadaan keluarganya.


Para tentara dengan senjata lengkap juga terlihat berjaga yang dibantu oleh kesatuan polisi negara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang begitu melelahkan, perang yang teramat dahsyat hari ini telah terjadi, dan dimana para korban-korbanpun berguguran.


Hingga malam hari kerumunan orang masih berdatangan kerumah sakit tersebut.


Namun sampai saat ini belum ada informasi yang kami dapat dari pihak pemerintahan.


Satu persatu aku mencoba menyusun berita guna pengiriman ke redaksi di Indonesia.


Hingga memasuki tengah malam belum ada juga konfirmasi tentang peristiwa ini.


Namun aku masih juga menunggu sampai adanya konfirmasi berita dari pihak Pemerintahan.


Peliputan perang seperti ini memang memakan waktu yang panjang dan lama, karena tidak mudah mereka harus memberikan konfirmasi yang benar.


Meski saat ini banyak informasi yang aku terima, akan tetapi semua masih simpang siur.


Sebagai seorang Jurnalis kali ini menambah wawasanku tentang dunia dan peliputan berita Internasional.


Memang sangat letih dalam mengarungi pekerjaan yang aku lalui, terkadang nyawapun bisa menjadi taruhannya.


Namun ketika berita-berita yang telah terbit cetak dan dibaca oleh banyak orang membuat hati kita menjadi senang dan puas.


Ada suatu kebanggaan sendiri di hati.