
Hari itu Hellen dan Rudi memadu tali kasih di kota Kandahar yang penuh kebahagiaan bagi mereka berdua.
"Jika engkau bersedia membimbingku ke arah kepercayaanmu, aku akan ikut," ucap Hellen
"Sebenarnya aku telah lama tertarik kepada Muslim" sambung Hellen
"Mengapa? Bukankah orang-orang di negara mu sangat anti tentang itu?" tanya Rudi menyelidiki.
"Muslim bagiku sangat indah, namun sayang aku tidak mengenalnya secara pasti," jaeab Hellen.
"Satu pertanyaanku, jika engkau menikah denganku, apakah kau ikut ke agama ku?" tanyaku sekali lagi meyakinkan.
"Jika itu menurutmu baik, aku pasti!" jawab Hellen dengan mantap sambil menatap Rudi dan tersenyum manis.
Suasan tampak hangat, Rudi hanya diam mendengar ucapan itu sambil menatap mata Hellen dia kembali membelai wajah gadis itu dengan tangannya.
"Tapi, apakah karena akan menikah kau baru masuk ke agama ku?" kata Rudi.
"Tidak! Sekali lagi tidak!" kata Hellen, "Sejak kuliah aku telah banyak meriset tentang agama Muslim, orang-orang Muslim itu damai dan indah, namun aku tidak berani untuk masuk kesana sebab pasti mereka tidak percaya padaku!" ujar Hellen.
"Sejak aku di Afganistan, aku punya kesemoatan besar untuk belajar agama di negara ini, aku tau Afganistan merupakan salah satu negara pemeluk agama Muslim, itu yang membuatku semangat bereda disini meski perang melanda wilayah ini!" ujar Hellen.
"Namun sampai detik ini aku belum berkesempatan untuk belajar!" kata Hellen kembali.
"Dan aku beruntung mengenalmu! Aku berharap kau bisa memberitaukan banyak hal tentang Muslim padaku!"
"Jika hatimu lurus, berarti Tuhan telah merestui niatmu untuk bertemu denganku," ujar Rudi.
"Apakah kau mengenal banyak hal tentang Islam?" tanya Hellen.
"Pasti! Aku dulu pernah belajar dipusat pendidikan Islam," sebut Rudi, "jika di negaraku Indonesia tempat pendidikan agama iti disebut Pesantren," ujar Rudi.
"Oh ya, jika begitu kamu pasti lebih faham tentang itu!" jawab Hellen.
Suasana sesaat sepi mereka hanya diam tanpa kata.
"Sayang, sekali lagi! Mengapa engkau tertarik pada Muslim? Bukankah orang-orang saat ini menyebut tentang Radikalisme ataupun terorisme seperti saat ini yang terjadi di negri ini?" kata Rudi dengan mimik wajah yang serius.
"Jahat! Bukan suatu kelompok agama yang jahat, bagiku siapa saja bisa punya potensi membuat kejahatan, namun semua itu hanya melibatkan!" kata Hellen.
"Kita tidak perlu mengait-ngaitkan tentang semua itu!" kata Hellen dengan nada tegas.
Rudi hanya terdiam sambil mengerutkan dahinya.
"Gadis ini begitu tegas dan pintar, dia sangat jenius menanggapi semua hal yang terjadi," kata Rudi dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan membimbingmu sebelumbkita menikah, setelah engkau menjadi Muslimah baru aku akan menikahimu!" kata Rudi dengan penuh kemantapan.
Hellen menatap Rudi dengan bola mata yang membesar seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Rudi barusan.
Sambil sedikit akan tersenyum matanya berkaca-kaca, tampak wajahnya sangat bahagia dan terharu.
Seketika itu Hellen pun memeluk Rudi dengan erat sambil menitiskan air mata.
"Sasasayang.... Aku bahagia dan terharu mendengar ucapanmu!" kata Hellen sambil memeluk tubuh Rudi dengan erat.
Rudi pun seketika itu memeluk tubuh gadis itu dengan erat pula.
Dihati Rudi ia sangat bahagia mengenal gadis itu.
Sesaat kemudian Hellen melepaskan pelukannya, gadis itu mengusap-usap air matanya dengan tangannya.
Gadis bule itu terlihat sangat cantik jika menangis, Rudi terus menatap lembut wajah kekasih bule nya itu.
"Tapi masih ada suatu hal yang mengganjal dihatiku!" kata Rudi kembali.
Hellen terdiam sambil menatap serius wajah Rudi.
"Apa itu!" tanya Hellen.
"Sebelumnya aku sudah jujur padamu dahulu tentang diriku yang telah beristri!" kata Rudi.
"Aku tidak mau menjadi Bumerang dalam hidupmu nanti setelah menikah!" kata Rudi kembali.
"Aku ingin meyakinkan itu!" ujar Rudi kembali.
Hellen tampak terdiam.
"Sebelumnya aku juga pernah mengatakan hal yang sama, bahwa aku tidak masalah tentang itu!" kata Hellen.
"Aku tau jika aku salah mencintaimu!" kata Hellen kembali, "namun cinta dihatiku padamu tidak dapat aku dustai!" ujar Hellen kembali.
"Jika memang begitu, baiklah!" kata Rudi kepada Hellen sambil memegang kedua tangan gadir itu, "aku berjanji padamu, aku akan menikahimu, dan menjagamu serta tidak akan menyia-nyiakanmu di kehiduoan mendatang!" ucap Rudi sambil mencium tangan Hellen.
Gadis itu kembali menitiskan air mata dan menatap kelangit angkasa tinggi.
Seakan-akan mereka bagaikan Ratu dan Raja yang sedang memadu cinta dan mengikat janji suci.
Dibawah kaki langit Afganistan cinta mereka telah mengakar laksana pihon kaptus yang tumbuh ditengah padang pasir.
Cinta yang putih bagaikan awan-awan yang bergerak beriringan membawa air-air penyejuk hati dan penumbuh jiwa.
...----------------...
Hari telah mulai gelap, langit Afganistan sudah diselimuti awan malam yang bergerak beriringan.
Hellen pun terlihat tersenyum.
"Aku juga, apa kita akan makan malam bersama?" tanya Gadis itu.
Rudi menaganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka segera berjalan untuk menuju warung yang ada di sebarang jalan.
Malam itu mereka makan malam bersama dengan lenuh kemesraan dan suasana yang sangat Romantis.
Tanpa terasa waktupun telah larut.
"Sayang .... Hari sudah larut, dan aku tidak ingin kau pulang terlalu malam," ujar Rudi.
"Baiklah," kata Hellen.
"Belle Fille ....
Kau adalah pesonaku,
tatapanmu laksana air yang mengalir
senyummu adalah kebahagiaanku
nafas mu adalah tali-tali kehidupanku
Suaramu adalah nyanyian langkahku,
kau umpama burung terbang membawa rindu
kakimu adalah akar yang mengikat
terhanyut aku dalam gairah senyummu
Belle Fille ....
cahaya matamu memancar hati, Padma!
kau tumbuh dalam belukar hidupku
menghanyutkan jiwaku dalam kebahagiaan
Belle Fille ....
Sutra putih cintaku,
pembawa hidup penuh cahya
dibawah kaki langit padang pasir
cintaku mengakar padamu
menuai rumputan penuh ilalang dipadang pasir.
Dalam tuntunan Ilahi ...
jadilah bidadari duniaku
Belle fille ... Kau anugarah hidupku"
Demikian sebait puisi yang diberikan oleh Rudi kepada Hellen sebelum ia melangkah pergi untuk kembali ke barak tempat gadis itu menginap.
Sekali lagi Rudi mencium tangan wanita Prancis itu dengan penuh kemesraan.
"Apakah kamu mau jika aku menghantarmu pulang?" tanya Rudi.
"Tidak usah, mungkin kamu sangat letih hari ini," kata Hellen, "aku bisa pulang sendiri!" ucap Hellen sambil tersenyum.
"Sekali lagi ....! Terima kasih untuk cintamu, untuk hatimu dan untuk puisimu," ucap Hellen sambil mencium bibir Rudi.
Dan mereka oun saling berciuman bibir dengan penuh kehangatan.
"Mari kita pulang!" kata Rudi.
Hellen tersenyum dan menganggukkan kepala.
Mereka segera meninggalkan warung itu dan menuju ke halte.
Taksi! Taksi!
Rudi menghentikan sebuah taksi.
"Kamu yakin aku tidak mengantarkanmu?" tanya Rudi kembali.
Hellen menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rudi mencium dahi Hellen dengan lembut.
Hellen hanya memejamkan matanya dan dia segera nai ke taksi untuk kembali kebarknya.
sambil melambaikan tangan, taksi itu telah membawanya pergi menuju tempat penginapan gadis itu.
Rudi memperhatikan kepergian Hellen sambil tersenyum hingga taksi itupun hilang dari pandangan matanya.