
Suasana masih terlihat ramai karena waktu masih sore hari, terlihat seorang gadis yang sedang berjalan menuju sebuah taman di tepian kota.
Dengan sangat anggun dia terus berjalan menuju sebuah taman air pancuran di taman kota itu, wanita yang berkulit putih seperti seorang gadis eropa yang berada ditengah negri jazirah arab tersebut.
Gadis itu mendekati seorang pria Asia yang sedang duduk di pinggiran kolam air pancuran itu.
Tangan gadis itu memukul pundak pria Asia itu yang tengah memandangi kolam air tersebut.
Pria itu sedikit kaget dan segera menoleh ke arah belakang untuk memastikan siapa yang telah menyentuh bahu nya tersebut.
Ia, pria itu adalah Rudi Budiman sang jurnalis asal Indonesia.
Alangkah terkejutnya dia, ternyata orang yang menepuk pundaknya itu adalah Hellen sang wanita bule asal Prancis yang saat ini tengah menjalin hubungan asmara dengannya.
Gadis itu tersenyum indah padanya, sementara Rudi sendiri masih terbelalak matanya melihat Hellen yang saat itu sudah berada di hadapannya.
Bola mata Rudi kian membesar melihat penampilan Hellen yang saat ini lain dari biasanya, dia memakai baju panjang berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan menutup kepalanya dengan sebuah kain panjang hitam.
Penampilan Hellen saat ini bak wanita Muslimah pada umumnya.
Hellen mengerutkan dahinya saat melihat Rudi yang menatapnya sebegitu aneh.
Hai.., "Apa yang kau perhatikan dariku" tanya Hellen dengan penuh kepastian.
Rudi terlihat gugup seketiaka, "Ah...aah, tidak..tidak ada apa-apa" jawab Rudi.
"Hari ini kau tampak cantik sekali dengan menggunakan pakaian seperti ini!" kata Rudi kemudian.
Hellen terlihat tersenyum sambil kedua tangannya menutupi mulutnya.
"Bukankah aku telah berjanji padamu?" kata Hellen, "Hari ini aku telah siap untuk belajar menjadi Muslimah!" ungkap Hellen dengan kata-kata yang mantab.
"Sekarang, ajarkan dan bimbinglah aku!" ujar Hellen kembali.
Seketika itu Rudi bertambah membesar bola matanya, jantungnya berdegub kencang, dia berdiri bagaikan patung yang tak bernyawa.
"Hei..., apa yang terjadi padamu?" tanya Hellen keheranan.
"Hmmm.. Tidak.. Tidak apa-apa," kata Rudi.
Sesaat suasana hening, mereka saling menatap pandangan.
"Benerkah kau siap untuk belajar?" tanya Rudi.
Hellen tersenyum dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Jika kau telah siap, mari kita menuju sebuah tempat yang tenang" kata Rudi, sambil memegang tangan gadis itu dia berjalan menuntun ke arah tempat yang dia sebutkan itu.
Merekapun berjalan pelan menyusuri trotoar jalan yang diperuntukkan bagi si pejalan kaki.
Kini mereka telah sampai disebuah masjid, disinilah Rudi mengajarkan agama kepada Hellen gadis asal Prancis itu.
Dengan sabar Rudi mengajarkan mamberitau seluk beluk agama islam yang dianutnya,
Sementara Hellen dengan seksama mendengarkan setiap detail hal yang disampaikan oleh Rudi kepadanya.
Suasana saat itu begitu tenang dan damai, sesekali Hellen tersenyum kepada Rudi seolah ia senang menerima ajaran baru itu kepadanya.
"Aku senang mendapatkan pengetahuan seperti ini" kata Hellen dengan tersenyum.
Rudi menatap dalam ke wajah gadis itu, ada keseriusan yang dipancarkan oleh gadis bule itu tentang agama.
"Jika kau telah memahami ini, aku akan membawamu kepada seorang imam di kota ini untuk membimbingmu bersyahadat" kata Rudi.
"Syahadat?" jawab gadis itu kebingungan, "what?" gadis itu menggerutkan dahinya "apa itu syahadat?" tanya Hellen kepada Rudi.
Rudi tersenyum tipis..
"Syahadat itu merupakan syarat masuk islam" kata Rudi, "Jadi, setiap orang yang ingin memeluk agama islam dia harus berjanji dan berikrar peesaksian dirinya kepada Allah sebagai Tuhannya dan Tuhan semesta alam" kata Rudi menjelaskan kepada gadis itu.
"Kemudian dia juga harus bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah" Sambung Rudi.
Hellen terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu, aku akan mengucapkan perjanjian itu?" tanya Hellen.
"Benar, kamu akan mengucapkan dua kalimat itu nanti!" kata Rudi.
Suasana kembali hening.
"Islam itu mempunyai lima rukun" kata Rudi.
"Lima Rukun?" sambar Hellen.
"Iya, lima rukun atau lima kewajiban bagi pemeluk islam" jawab Rudi.
"Lima rukun itu adalah syahadat, sholat, puasa, zakat, dan pergi ke mekah untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu" tutur Rudi.
"Maka itu rukun pertama adalah syahadat" ujar Rudi kembali.
Hellen kembali menganggukkan kepalanya.
"Hmmm jika begitu kalau kita tidak menjalankan salah satunya berarti kita tidak sempurna islamnya?" ujar Hellen.
"Benar!" sambung Rudi sambil kembali menatap dalam wajah gadis itu.
"Mengapa? Apa kamu telah siap?" tanya Rudi meyakinkan gadis itu.
Hellen tersenyum dengan manis
Kemudian dia menganggukkan kepalanya sambil tetap tersenyum.
"Aku akan tetap berada disini!" ujar Hellen dengan nada yang tegas.
"Alhamdulillah" ucap Rudi sambil tersenyum.
Suasana kembali tampak tenang.
"Jika begitu, besok kita bisa belajar lagi" kata Rudi.
"Hari ini kita akhiri sampai disini saja dulu," "saya masih ada pekerjaan" ujar Rudi.
Hellen menganggukkan kepalanya menandakan dia setuju.
Akhirnya mereka berjalan menuju tempat tinggal mereka masing-masing.
Rudi menghantarkan gadis itu kembali ketempat barak para perawat.
Setelah itu diapun kembali menuju penginapannya.
...----------------...
...----------------...
Keesokan harinya suasana kota masih belum kondusif akibat pertempuran terbuka yang dilakukan oleh pemerintah dan para pemberontak.
Se pasukan militer pemerintah mendatangi penginapan tempat Rudi dan rekan-rekannya menginap.
Pasukan Militer yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Abbas itu memeriksa seluruh penghuni hotel tersebut.
Tok...tok...tok... Pintu kamar Rudi di ketuk dari luar.
Saat itu Rio yang sudah terbangun segera membukakan pintu teesebut.
Seorang pria berpakaian Militer menanyai dokumen dan idientitas Rio.
Setelah itu, Militer itu meminta izin untuk memeriksa seluruh ruangan.
Rudi yang masih tertidur terbangun dengan adanya pemeriksaan tersebut.
"Tenang tuan" ungkap pria Militer itu.
"Ada apa ini?" tanya Rudi.
Setelah memberikan penjelasan, Militer itu meminta idientisas Rudi.
Rudi segera menunjukkan idientitas dan dikumen kerjanya.
"Hello tuan Rudi," Suara dengan nada berat dari aeorang lelaki dari luar kamar.
"Oh, anda rupanya tuan Kolonel Abbas" jawab Rudi.
"Maaf tuan jika kami mengganggu, saya tidak tahu jika anda menginap disini" ujar Kolonel itu.
"Kami hari ini akan menyisir semua pemukiman yang kami curigai ada orang asing untuk menutup ruang gerak dari pemberontak" kata Kolonel itu.
"Oh tidak masalah, silahkan," kata Rudi sambil tersenyum.
"Jika ini perintah, saya mengerti itu" lanjut Rudi kembali.
"Baik, terimakasih tuan" kata Kolonel itu sambil menepuk pundak Rudi.
Rudi memang telah mengenal Kolonel Ahmad Abbas itu dari salah satu Pimpinan Militer Indonesia yang tergabung dalam misi perdamaian PBB.
Sambil berjalan keluar kamar, terlihat Kolonel yang biasa disapa Abbas itu terlihat ngobrol dengan asyik bersama Rudi.
"Baik tuan Rudi dan tuan Rio, selamat melanjutkan istirahatnya" kata Kolonel itu sambil tersenyum.
Lantas se pasukan Militer itupun berlalu dan untuk memeriksa semua pengunjung yang menginap di tempat itu.