"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XX. Kota Kandahar



Diterik matahari siang itu aku bersama Rio dan Sherly sedang duduk di warung dekat motel tempat biasa kami nongkrong, akupun hanya memesan secangkir kopi hitam, siang ini memang tidak ada kegiatan apapun diantara kami, "bagaimana dengan Zuridah gadis Afganistan itu," ucap Rio, "sampai saat ini belum ada titik terang untuk membawanya kembali ke kampung halamannya," kataku. "ia, sebagai seorang wanita aku merasa sangat iba kepadanya," ujar Sherly, "setiap malam ia selalu bercerita tentang hidupnya kepadaku," ucap Sherly lagi, "dan yang paling menyedihkan dia sangat merindui anaknya," kata Sherly, "anakanya?" Rio merasa kaget mendengarnya. "apa dia sudah punya anak?" kata Rio meyakinkan!, "ia, dia sudah memiliki anak dari seorang perwira tentara Amerika," kataku. "Oh my good....! Dia sudah menikah?" ujar Rio, "tidak, dia tidak menikah!" ketus Sherly, "dia hanyalah korban dari pria-pria bejat saja," lanjut Sherly. Suasana sejenak hening, Rio merasa tidak yakin dengan semua ini, dia berfikir Zuridah masih seorang gadis yang dijual dan menjadi korban perdagangan manusia.


Aku meneguk kopi yang ada dimeja, suasana terik matahari membuat kepalaku sedikit pusing, "lalu, bagaimana denganmu?" tanya Rio kepadaku, "aku akan tetap mencari cara buat mengantarkannya!" jawabku. Rio terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, "aku akan turut membantunya, kasihan gadis itu," ucap Sherly. saat kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Zuridah datang menghampiri kami, "aku bosan dikamar aja," katanya, sambil menarik sebuah kursi dan diapun duduk bersama kami, kami sedikit kaget melihat kehadirannya, "kenapa?" kata Zuridah yang sedang menyaksikan kami terbengong. "e...tidak..ti..tidak apa-apa, jawabku sambil mataku melirik Rio. "apa aku mengganggu kalian?" tanya Zuridah kembali, "oh no..tidak kami tidak terganggu," kilah Sherly sambil tersenyum kepadanya. Aku menarik nafas yang dalam, "kamu mau makan apa minum?" tanya Sherly, "terima kasih, aku pesan minum yang dingin aja," jawab Zuridah. "kami masih berusaha mencari cara untuk membantumu pulang ke kampung halaman," kataku kepadanya, "namun situasi saat ini semangkin sulit," aku diam sejenak, "apalagi perang yang kemarin terjadi, banyak peristiwa pengeboman yang dilakukan dengan cara bunuh diri yang terjadi", kataku.


Kini suasan tampak tenang, waktupun cepat berlalu, "aku sangat berterima kasih kepada kalian," ucap Zuridah, "kalian adalah orang-orang yang baik," katanya lagi. "Oh ya, gimana dengan kamu? Apa badan kamu sudah enakan?" tanya Zuridah kepadaku dengan semangat, "e...ia aku sudah agak enakan," jawabku, "gimana, dengan pijatanku?" katanya lagi, "aduh ngapain gadis ini cerita itu?" ucapku dalam hati "wah ini gawat kalau sempat mereka tau tentang peristiwa kemarin saat aku bercinta dengannya," aku terus berperang dengan hatiku, apalagi saat aku melihat tatapan Rio dan Sherly kepadaku. "kamu pintar mijitin ya?" tanya Rio, "ia, tapi tidak begitu pintar juga," jawabnya. "Aduh mengapa ini diceritakan olehnya?" tanyaku dalam hati.


Sambil tersenyum Rio menatap gadis itu, "kalau begitu, tentu kamu mau memberikan pijitan kepadaku?" tanya Rio, "boleh, kapan kamu ada waktu, aku selalu siap," jawab gadis itu. Aku hanya menggerutkan dahiku, mendengar perkataan mereka, hari ini kami hanya bercerita-cerita saja sambil berguyon di warung itu hingga menjelang malam.


Keesokan harinya tepat pada hari sabtu pagi aku baru saja bangun dari tidur, tiba-tiba ponselku berdering. Kriiingg..kriingg..bunyi ponselku, kulihat istriku menelponku dengan melakukan videocall, "halo....," dengan mata yang sedikit terpejam karena aku baru saja bangun dari tidur. "Bagaimana keadaanmu mas?" tanya istriku, "Alhamdulillah, aku baik-baik saja," jawabku sambil berusaha duduk di tempat tidur, "aku kangen mas, kamu baru bangun tidur ya?" tanya istriku lagi, sambil tertawa kecil aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saja, "papa....kapan papa pulang," tanya Salsabila anak gadis kecilku itu. "belum tau nak, Salsa kangen sama papa nggak?" tanyaku, "kangen dong, cepat pulang ya papa, ntar antar Salsa lagi ke sekolah seperti kemarin," jawab anakku, hatiku berasa sangat sedih saat mendengar ucapannya itu, "gimana keadaan disana mas? Masih perang ya?" tanya istriku, "ia masih, hampir setiap kota selalu ada perang," jawabku. "aku tidak melihat Ilham, kemana dia?" tanyaku, sesaat kamera ponselpun mengarak ke anak laki-laki ku yang paling kecil itu, dia sedang tidur dengan nyeyaknya, betapa rindunya aku dengan keluargaku ini, entah harus berapa lama aku disini. "lagi bobok dia," kata istriku, "sekarang dia udah mulai sangat aktif mas, kadang aku kewalahan juga menjaganya," kata istriku sambil berkeluh, "ya sabar ajalah dulu, namanya juga anak kecil, diakan masih masa pertumbuhan," kataku menyemangati istriku, "ya udahlah mas, kamu mandi dulu bersih-bersih, siapa tau hari ini kamu ada kerja," kata istriku. "oh ya, makasih ya sayang, mas mandi dulu," ketika aku akan nematikan telponnya tiba-tiba istriku menyeletuk, "ntar dong mas, ada yang kurang," katanya. Aku berfikir sejenak "apa yang kurang?" tanyaku kepadanya. "sun nya...!" kata istriku sambil tersenyum, "oh, ya udah sini, muuuaacch," kataku, "aku kok nggak disun la?" tanya anak gadisku, sambil tertawa akupun memberikan ciuman pada mereka, kemudain akupun mematikan telpon itu.


Setelah nelepon aku segera bangun dari peraduan, kemudian segera menuju kamar mandi untuk mandi. Selepas mandi aku melihat Rio sudah duduk di ruangan, "gimana kamu hari ini?" kata Rio, "aku berencana akan kebarak tentara dari Amerika, aku ingin mendapatkan informasi tentang keberadaan Sekutu disini," kataku kepada Rio, "oh ya? Bagus juga ide kamu, gimana kalau aku ikut?" kata Rio, "oh silahkan, aku senang, berarti aku punya teman untuk kesana," kataku. Sambil mempersiapkan segala keperluan akupun segera berangkat bersama Rio. Kamipun berjalan menyusuri jalanan kota Kandahar, tempat markas barak tentara Amerika memang cukup jauh dari sini, sejak aksi teror yang di gencarkan oleh para ******* di Afganistan, banyak tentara-tentara Sekutu yang turut membantu kekuatan Militer Afganistan, mereka yang datang bersama Sekutu diantaranya Amerika, Inggris, Italia dan Prancis. Para tentara-tentar Sekutu ini bertugas untuk menghancurkan ******* yang ada di Afganistan saat ini, serta menangkap pimpinannya Umar Mahmud, ******* pimpinan Umar Mahmud ini memang yang paling ditakuti oleh dunia, sebab mereka tak segan-segan menghancurkan basis-basis Pemerintahan.


Hari ini udara tidak terlalu panas, aku terus berjalan bersama Rio menyusuri tepi jalan raya, untuk dapat masuk ke barak markas Tentara Sekutu Amerika, "apa kamu tau bagaimana caranya untuk dapat masuk kesana?" kataku, "aku tau, nanti aku akan urus ijin masuknya," kata Rio, "ia aku ini memang seorang wartawan, tetapi aku belum pernah tau bagaimana cara untuk dapat masuk ke tempat-tempat seperti itu," kataku, "sebab baru kali ini aku ditugaskan untuk meliput aksi perang di luar negri seperti ini," kataku kembali, "ah, itu bukan masalah, nanti kamu juga akan terbiasa," kata Rio. Kami terus berjalan dan mungkin beberapa meter lagi kami akan sampai di Barak tersebut.