"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXXI Pekerjaan



   Sore itu Rudi langsung bekerja usai pulang ari rumah istri keduanya yang ada di Kota Kandahar.


Rudi segera mengirim berita-berita tersebut ke kantor pusat agar segera di terbutkan untuk di konsumsi oleh para bembaca.


Tidak ada batas waktu pekerjaan baginya, sebagai seorang Jurnalis harus siap dua puluh empat jam bekerja dengan tekanan.


"Permisi pak" kata seorang wanita yang merupakan sebagai Sekretaris Redaksi.


"Iya silahkan masuk" sambut Rudi kepada Rita Wahyuni sang Sekretaris Redaksi itu.


"Ini pak, ada undangan dari Walikota Kabul" sambil memberikan sebuah undangan jamuan bagi wartawan seluruh media yang ada di kota tersebut.


"Oh ya, terimakasih ya" ucap Rudi kepada Sekretaris itu, Rita setelah memberikan undangan itu kepada Rudi langsung beranjak keluar meninggalkan Rudi.


Undangan itu diambil dan dia segera membaca isi dari undangan tersebut, "Oh cuma jamuan makan malam saja?" gumam Rudi dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


     Sementara itu Ismiati istri Rudi yang pagi itu tengah sibuk mempersiapkan bekal bagi anaknya yang akan berangkat ke sekolah.


Segala keperluannya telah dia sediakan, bersama dengan putra kecilnya yang juga telah diurusinya.


"Bi, kita berangkat sama aja ya? Sekalian ntar jagakan Ilhambdi kantor" kata Ismiati kepada pembantu sekaligus Baby Sister nya.


"Iya bu, kalau semua sudah beres, kita bisa berangkat sekarang" ujar si Pembantunya, "lagian, ini sudah siang, takutnya Non Salsa telat lagi masuk sekolahnya" lanjut si pembantunya itu.


"Oh iya ya bik, yaudah yuk kita berangkat sekarang" ajak Ismiati sembari membawa anak-anaknya dan juga bekalnya menuju mobil miliknya.


Setelah semua beres, mobil segera melaju meninggalkan rumah untuk mengantar Salsabila ke Sekolahnya.


Tidak berapa lama, mereka sampailah di sekolah Salsabila, "Ma, Salsa sekolahya.." ucap gadis kecil itu dengan seragam putih birunya.


"Iya sayang, hati-hati ya, rajin-rajin belajar" ujar Ismiati sambil memcium pipi kanan dan kiri putrinya tersebut.


Setelah Salsabila masuk kedalam sekolahnya, Ismiati hanya menghantarnya sampai di gerbang sekolah, setelah itu, Ismiati segera melajukan mobilnya menuju tempat kerja.


Didalam Mobil sang Baby Sister tengah asyik bermain bersama Ilham di barisan jok belakang tempat kemudi mobil.


Melalui sebuah cermin kecil, Ismiati meliahat anaknya yang sedang bermain dengan si pembantu itu, dia tersenyum tipis.


Setengah jam dia mengendarain mobilnya, barulah dia sampai di tempat kerjanya.


Setelah turun dari mobil, Ismiati bersama Baby Systernya yang menggendong Ilham segera masuk kedalam ruangannya.


Tidak berapa lama, seorang pegawai datang menghampirinya, "bu maaf, ada yang ingin bertemu dengan ibu" kata si pegawai tersebut.


"Suruh aja masuk?" kata Ismiati.


Tidak berapa lama dua orang pria berpakaian seragam berwarna coklat datang menghampirinya.


"Selamat pagi bu?" ucap dua pria itu sambil tersenyum di depan pintunya


"Iya pagi, silahkan pak" Ismiati menawarkan kedua tamunya itu untuk duduk.


"Begini bu, kami dari pihak kelurahan, ingin bertanya tentang izin usaha ibu?" tanya si pria itu yang ternyata adalah seorang Kepala Urusan Perizinan usaha Tingkat Kelurahan.


"Oh begitu ya pak, tapi saya belum mengurus izin usahanya, karena inikan masih baru juga pak?" ujar Ismiati.


"Mengapa belum ibu urus? Kalau bisa secepatnya lah bu, karena inikan sudah termasuk usaha besar?" kata si pegawai tersebut.


"Oh begitu? Baiklah pak, beri saya waktu satu minggu kedepan untuk dapat mengurus perizinannya" jawab Ismiati.


"Oh ya tidak masalah bu, kami tunggu secepatnya ya bu?" kata pegawai itu kembali.


"Oh ya pak, saya janji secepatnya saya akan mengurusnya" jawab Ismiati.


"Baik bu, kami tunggu segera ya bu? Kalau begitu kami mohon pamit" kata salah satu dari dua pegawai itu yang menyambanginya di pagi itu.


Kemudian Ismiati memanggil Sekretarisnya untuk masuk kedalam ruangannya.


"Saya mau tanya, bagaimana cara mengurus perizinan usaha ya?" tanya Ismiati kepada Sekretarisnya yang berpendidikan lebih tinggi darinya.


"Begini aja bu, bagaimana jika ibu pakai pengacara untuk membuat surat-surat perizinan usaha ini?" tanya Sekretarisnya.


"Tapi saya tidak ada satu pun pengacara yang saya kenal lo?" ucap Ismiati


Sekretaris tersebut diam sesaat.


"Saya punya teman seorang Pengacara bu, dia dahulu senior saya waktu kuliah" jawab Sekretarisnya.


"Oh gitu, ya sudah, besok kamu bisa menyuruhnya kemari untuk jumpai saya" kata Ismiati kembali.


"Baik bu!" kata si Sekretaris.


"Ok, kalau begitu kamu boleh kembali bekeeja, oh ya, barang yang saya tanya kemarin apa sudah dikirim?" Tanya Ismiati tiba-tiba kepada Sekretarisnya ketika dia ingat pesanan orang yang kemarin.


"Sudah bu" jawab Sekretaris itu dengan menoleh kembali padanya.


"Terimakasih ya" ucap Ismiati.


Hari ini pekerjaan sangat padat, banyak sekali pesanan orang yang harus dia kirim, ponselnya juga berkali-kali berdering menerima orderan dari para pelanggannya.


Tepat pukul dua belas siang, Ismiati dan Baby Systernya beserta Ilham peegi menggunakan mobilnya untuk membeli makan siang dan sekaligus menjemput Salsabila dari sekolahnya.


Ismiati memang sering membawa anaknya ke kantornya, selain dapat langsung memantau anaknya, rumah tersebut juga pernah menjadi tempat tinggal mereka, jadi anak-anaknya sudah tidak canggung untuk disana, meski rumah itu telah beralih fungsi menjadi kantor serta tempat produksi usahanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Ismiati telah dihubungi oleh Sekretarisnya.


"Hallo bu, pengacara yang saya janjikan sudah ada dikantor" kata si Sekretaris melalui sambungan telpon.


"Oh ya? Tolong suruh tunggu sebentar ya, saya masih dijalan" kata Ismiati sambil menyetir mobilnya.


Tidak berapa lama dia telah sampai dikantor tersebut dan langsung masuk ke ruangannya.


Seorang pria tampan dan kelihatannya masih muda dengan pakaian yang rapi dan potongan rambut yang pendek tengah duduk di pojok ruangan.


"Bu, itu pengacara yang saya janjikan" kata Sekretarisnya sambil berjalan mendekat.


"Oh, ya" jawab Ismiati sembari masuk ke ruangannya, "Selamat pagi" sapa Ismiati kepada tamunya dengan melontarkan senyum yang ramah.


"Iya pagi bu" jawab pria itu, dan langsung berdiri menyambut kedatangan Ismiati.


"Ini bang, bos saya" kata si Sekretaris itu sambil tersenyum-senyum penuh arti.


"David.." ujar pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kepada Ismiati dengan senyuman yang menawan.


"Saya Ismiati, atau biasa orang memanggil saya Yati" kata Ismiati yang menerima uluran tangan si pria tersebut sambil tersenyum.


Lama si pria tersebut yang bernama lengkap David Taufan Sembiring itu memegang tangan Ismiati.


Dia terus senyenyum menatap wajah Ismiati dengan penuh arti.


Hem...hem...,


"Maaf saya tinggal dulu" kata Sekretarisnya sambil berlalu keluar ruangan yang membuat David sedikit terhentak dari pandangannya kepada Ismiati.


"Oh ya, terimakasih ya Rin" kata David kepada Sekretaris Ismiati.


"Mari duduk" pinta Ismiati kepada tamunya itu.


Saat ini Ismiati tengah menjelaskan maksud dan tujuannya memakai jasa pengacara, selain sebagai minta tolong untuk pembuatan akta pendirian menjadi sebuah Perseroan, dan juga pembuatan izin usaha.