"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXXVIII Perjalanan



Suasana di Kota Kandahar masih sangat memprihatinkan, korban-korban masih dicari baik dari sipil, terntara maupun dari pemberontak.


"Hai, Rudi" Panggil Rio kepadaku


Aku segera menoleh kepadanya


"Mari kita segera ke kantor Pertahanan" kata Rio sambil mempersiapkan perlengkapan.


"sebentar lagi mereka akan konfronsi pers" kata Rio.


"Oke" kata ku.


Kamipun segera bergegas untuk menuju ke kantor Kementrian Pertahanan.


Dengan menggunakan taksi kami segera menuju ke kantor tersebut.


Sepanjang jalan terasa mencekam, asap-asap hitam sisa bakaran dari ledakan masih membumbung ke angkasa.


Disertai reruntuhan bangunan yang tersisa.


Tidak berapa lama kamipun sampai dikantor kementrian itu.


Tetapi kami diberhentikan oleh beberapa tentara jauh dari depan pintu gerbang dari pemerintahan itu.


Kamipun turun dari taksi dan segera menunjukkan id card Pers untuk dapat izin masuk kedalam mengikuti konfrensi pers tersebut.


Oleh pihak tentara kami diarahkan menuju pintu penjagaan dan mendaftarkan diri untuk ikut konfrensi pers itu.


Kami segera mengurus izin tersebut, dengan menukar id card pers yang kami miliki dengan sebuah bet yang bertuliskan "PRESS REALESE".


disebuah ruangan yang cukup besar seluruh waratawan baik dalam dan luar negri telah berkumpul dan mengikuti acara tersebut.


Memang saat ini kami sedikit terlambat dalam mengikuti konfrensi pers itu, namun pada intinya kami telah mengetahui informasi terjadinya pertempuran malam tadi yang begitu dahsyat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu telah menjelang malam Rudi dan teman-temannya baru saja sampai dipenginapan.


Mereka langsung memasuki ruangan kamar masing-masing.


Setelah membersihkan tubuh terlihat Rudi mengambil laptopnya.


Tampaknya dia akan langsung bekerja.


Rudi mengirimkan informasi ke Redaksi tempat dia bekerja agar dapat diterbitkan dari peristiwa yang telah terjadi.


Melalui e-mail dia mengirimkan hasil liputan kerjanya, mulai dari tulisan sampai dengan foto-foto peristiwa kejadian.


Waktu hampir menjelang tengah malam barulah Rudi menuju ranjangnya untuk beristirahat.


Sedangkan Rio wartawan asal Belanda itu sudah larut dalam tidurnya.


 


Keesokan harinya merekapun berkumpul di kantin penginapan.


Terlihat Rio, Rudi, Sherly dan Zuridah dalam satu meja makan bersama.


"Hmm..bagaimana keadaan anda nona Zuridah" tanya Rio kepada Zuridah yang sedang melahap sarapan paginya.


"Saya baik saja tuan Rio" jawab Zuridah.


"Ok, semoga kita semua selalu dalam keadaan baik" kata Rio lagi.


Sambil menikmati sarapan yang penuh dalam keadaan kekeluargaan.


Kriing....kringgg....


Tiba-tiba suara telepon Rudi berdering


Rudi sambil tersenyum mengangkat telepon itu.


"Halo sayang.." sapa Rudi dari balik teleponnya.


"Halo...pa, gimana kabarmu?" suara wanita dari seberang telepon.


"Baik, mama gimana?" tanya Rudi kemuadian, yang ternyata menelpon itu adalah istrinya


"Baik juga, anak-anak juga baik pa.." kata Ismiati istri Rudi.


"Oh ya..papa lagi apa? Sibuk nggak?" tanya istrinya kembali.


"Lagi sarapan pagi bersama teman-teman" jawab Rudi, sambil asyik menikmati sarapan paginya.


"Semalam ada terjadi pertempuran kembali, dan sangat hebat" kata Rudi.


"Oh ya, berarti semalam papa meliput dong"


"Benar, tetapi kali ini pertempurannya cukup lama dan panjang" jawab Rudi.


Rio,Sherly dan Zuridah hanya mendengerkan saja pembicaraan mereka sambil masih menikmati makan paginya.


"Ini sudah hampir subuh pa" kata Ismiati.


"Nanti kita sambung lagi ya pa?" ucapnya "Mama mau siap-siap Subuh dan beres-beres persiapan anak-anak sekolah" ujarnya kembali.


"Oh ya sudah, mama hati-hati disana" kata Rudi sambil tersenyum.


"Jaga Sholatnya dan anak-anak" sambung Rudi.


"Aku selalu merindui kalian" kat Rudi kembali.


Sambil tersenyum dan memberikan kecupan Rudi pun segera mematikan sambungan telepon itu.


Gleeeekkk....glekkk....


Rudi meneguk air putih yang ada di hadapannya.


"Bagaimana kabar istri tuan?" tiba-tiba Zuridah bertannya kepada Rudi.


Zuridah hanya tersenyum mendengar jawaban itu.


"Lalu bagaimana kabar kekasih tuan itu?" Zuridah kembali bertanya pelan.


sambil menarik nafas agak panjang "Sudah dua hari saya tidak mendapat kabar darinya" kata Rudi.


"Ya...saya berharap dia baik-baik saja" ujar Rudi kembali.


Zuridah hanya menganggukkan kepalanya saja.


Sesaat suasana hening.


Terlihat Rio memasang rokok kreteknya dan kemudian menarik rokok itu dengan penuh kenikmatan.


Segumpalan asap putih keluar dari mulut lelaki Eropa itu.


Sedangkan Sherly hanya asyik bermain dengan ponselnya.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Rudi pada Zuridah.


"Aku baik saja tuan" jawab Zuridah sambil tersenyum sedikit manis.


"Hai nona Zuridah" sambar Rio.


Dengan terbelalak Zuridah menatap Rio yang memanggilnya.


"Anda pintar malakukan repleksi" kata Rio.


"Bagaimana kalau hari ini anda melakukan itu kepada saya?"


"Hari ini saya butuh pijatan, tubuh saya sangat letih" ucap Rio.


Zuridah menatap Rio.


"Emmm, baik lah jika tuan ingin dipijat, saya siap" jawab Zuridah.


"Ok, mungkin setelah makan siang nanti" kata Rio kembali.


Suasana kembali tenang.


Mereka hanya sibuk dengan gatgetnya, sedang Zuridah hanya duduk memandang sekelilingnya.


Tidak berapa lama Rio bangkit dari kursinya.


"Saya istirahat dulu" kata Rio sambil berlalu.


Sedangkan Rudi,Sherly dan Zuridah masih duduk denang tenang.


Pelayan!


Sherly memanggil seorang pelayan.


"Saya minta caffeiin ya" kata Sherly kepada pelayan wanita.


"Saya juga minta Kopi" Rudi juga memasan minuman.


"Anda mau minum nona Zuridah?" tanya Rudi.


"Oh tidak, sepertinya saya akan istirahat saja" kata Zuridah sambil berlalu meninggalkan Rudi dan Sherly dengan tersenyum.


Sesaat kemudian pelayan itupun datang membawakan kopi dan caffein.


"Bagaimana dengan kabar keluargamu taun Rudi" kata Sherly.


"Mereka baik saja dan semoga tetap baik" jawab Rudi sambil tersenyum.


"Kalau kekasih tuan? Bagaimana kabarnya?" tanya Sherly sambil tersenyum.


Sedikit tersenyum Rudi menarik nafas.


"Sudah dua hari aku belum mendapat kabar darinya" jawab Rudi.


"Semoga dia baik saja dan segera melupan peristiwa waktu itu" kata Sherly.


"Ya...begitulah asmara itu" ucap Sherly.


Suasana hening sesaat.


"Oh ya, apakah nona pernah punya kekasih?" tanya Rudi.


Dengan sedikit senyum dan menarik nafas Sehrly kemudian meneguk cafeiinnya.


"Aku dulu pernah punya kekasih" jawab Sherly.


"Saya pernah dua kali memiliki seorang teman pria dalam hidup saya" ujar Sherly.


"Pertama pada waktu saya masih duduk dibangku kuliah" sambungnya.


"Aku berpacaran dengannya hingga selesai kuliah"


"Kami berpisah, karena sudah tidak ada kecocokan diantara kami" sambungnya.


Suasana kembali hening.


"Setelah aku bekerja di sebuah perusahaan media" ucapnya "aku kembali mengenal seorang pria asal Rumania" sambung Sherly.


"Dia pria dewasa yang sudah berusia 52 tahun waktu itu" Sherly kembali mengisahkan perjalanan cintanya.


"Sedang aku masih berusia 22 tahun" Sherly tersenyum.


"Pria itu seorang pengusaha, dan kami hidup bersama selama lima tahun" sambungnya.


"Aku dengannya tinggal disebuah apartemen di Amsterdam" ucap Sherly kembali.


Suasana kembali hening.


Sherly pun hanya menatap kedepan sambil sedikit tersenyum.