
Setelah semua ruangan dan kamar hotel itu diperiksa, maka pasukan Militer itupun segera keluar dan berlalu pergi.
Tidak ada satupun para penghuni hotel yang dicurigai.
Sejak pemerintah mengumumkan perang yang berlanjut, pihak pemerintah sering mengadakan razia dimana-mana untuk mempersempit gerak laju para pemberontak itu.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Rio kepada Sherly dan Zuridah yang juga terkena sasaran pemeriksaan oleh aparat Militer itu.
"Kami baik saja, dan semua terlihat aman" kata Sherly menjawab pertannyaan Rio dengan sambil menggerutkan wajahnya.
"Baguslah kalau begitu" ujar Rio.
"Ini masih sangat pagi, silahkan jika kalian ingin melanjutkan istirahat" ungkap pria tambun itu.
Sherly menganggukkan kepalanya sambil melangkah bersama Zuridah menuju kamarnya.
Rio pun berjalan masuk kedalam kamarnya.
Terlihat Rudi yang masih berada di kamar dengan posisi duduk dipinggir ranjangnya.
"Bagaimana? Apa mereka telah pergi?" tanya Rudi kepada Rio.
"Ya..., mereka telah pergi dan disini terlihat baik saja" jawab Rio sambil berjalan dihadapan Rudi menuju kearah sebuah wadah air.
Sambil menuangkan air minum kedalam gelasnya, kemudian Rio segera meneguk air itu lalu berjalan menuju ranjang tidurnya.
"Ini masih sangat pagi, aku masih ingin beristirahat" kata Rio sambil naik keatas ranjangnya dan menarik selimut putih kemudian dia berbaring ditempat tidur itu.
Rudi hanya menganggukkan kepalannya sambil mengambil sebuah arlojinya dan melihat jam yang ada disana.
Memang waktu masih sangat pagi, diarlojinya menunjukkan pukul 04.15 pagi.
Diapun segera kembali menarik selimutnga dan berbaring ditempat tidur untuk melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda tadi oleh kedatangan para pasukan Militer itu.
...----------------...
...----------------...
Matahari telah terbit dengan sangat terik di pagi yang begitu cerah.
Terlihat Rudi yang begitu tergesah-gesah bangun dari tempat tidurnya, karena suadah meresa kesiangan dia buru-buru menuju kamar mandi.
Sejurus kemudian dia telah selesai membersihkan tubuhnya keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usapkan rambutnya agar kering dengan handuk putih yang menggantung dilehernya.
Dia segera mengenakan pakaiannya sambil melirik ke sebuah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 10.23 pagi.
Dia mengenakan celana jeans hitam dan kaos putih dengan sedikit ketat yang menunjukkan tubuhnya yang atletis meski dia sudah tak muda lagi.
Setelah mengenakan sepatu sport merah milik nya, diapun segera menyambar tas rangsel lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut.
Sementara Rio sang jurnalis Belanda itu masih terlihat tertidur dengan pulasnya.
Rudi terus berjalan menuju keluar hotel dengan tampak tergesah-gesah.
Sesampai diluar dia segara menyetop sebuah taksi dan berlalu meninggalkan hotel dengan taksi itu.
Suasana kota masih terlihat lengang, karena masih banyak warga yang belum berani keluar rumah ataupun mereka masih mengungsi kerumah kerabatnya diluar kota.
Karena pemerintah masih melancarkan aksi untuk menyerang para pemberintak.
Taksi itupun masuk kedalam sebuah barak Militer dan berhenti tepat didepan pos penjagaan.
Rudi pun segera turun dan membayar ongkos taksi tersebut.
Setelah turun dari taksi Rudi segera mendekati pos penjagaan itu.
Terlihat berkibar bendera warna merah putih dan disebelah bendera itu terdapat pula bendera biru milik persatuan dunia
Benar, Rudi berada dibarak tentara perdamaian milik Republik Indonesia yang ada di sana.
"Selamat pagi" sambut ramah seorang Tentara yang terlihat tanda dilengannya berpangkat Kopral Kepala.
"Pagi juga pak" jawab Rudi sambil tersenyum ramah.
"Maaf pak, saya mau wartawan dari Indonesia" Rudi memperkenalkan dirinya.
"Oh, sudah buat janji ya?" kata Kopral itu, "Jika begitu mari ikut saya ke ruangan Mayor Sugeng" ucap Kopral itu kembali sambil mengajak Rudi berjalan ke sebuah ruangan Mayor Sugeng.
Rudi berjelan dibelakang Kopral tersebut dengan perlahan, Pria berpakngkat Kopral itu yang sekiranya berusia lima puluhan tahun itu terus berjalan membawa Rudi menuju ruangan sang Mayor.
"Permisi pak" ujar Kopral itu kepada seorang lelaki yang tengah berada dimeja kerjanya.
"Ia silahkan" Jawab sang pria itu.
"Saya membawa seorang wartawan dari Indonesia yang katanya ingin bertemu bapak" ujar Kopral itu kembali.
Setelah melihat ke arah Rudi sang Mayor itu langsung tersenyum.
"Oh bung Rudi, silahkan duduk" kata Mayor itu sambil berdiri menyambut Rudi.
Tak lama kemudian sang Kopral itupun pamit dan pergi meninggalkan Rudi dengan Mayor itu.
"Bagaimana kabarnya?" kata Mayor tersebut sambil menyalami Rudi.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja" kata rudi sambil tersenyum.
"Eeemm...maaf saya sedikit terlambat, karena tadi malam menjelang pagi tempat penginapan saya di periksa oleh Tentara Afganistan" kata Rudi.
"Biasa mungkin suatu hal pengamanan, karena mereka saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan penyerangan" sambung Rudi kembali.
"Oh tidah masalah, yang penting anda baik-bajk saja" ujar Mayor itu sambil menuju sebuah sofa.
Mayor Sugeng Tri Ananda, adalah seorang Perwira Militer yang bertugas sebagai komandan regu di misi perdamaian dari Indonesia yang berada dibawah bendera PBB.
Sugeng adalah teman SMA Rudi yang kebetulan bertugas ditempat itu.
Mayor Sugeng yang baru ditugaskan sekitar sebulan dilokasi itu mengetahui bahwa teman sekolahnya dahulu yang juga bertugas ditempat itu sebagai seorang jurnalis segera meminta untuk datang ke tempat kerjanya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya" ujar Sugeng kepada Rudi.
"Sudah cukup lama" jawab Rudi sambil tertawa.
"Bagaimana dengan keluargamu di Indonesia?" Kembali tanya sugeng.
"Mereka baik-baik saja" sambung Rudi.
"Oh ya, sudah berapa lama kamu berada ditempat ini?" tanya Sugeng.
"Sudah hampir setahun, emmm... Kira-kira sebulan lagi genap setahun" jawab Rudi.
"Lumayan juga ya?" ujar Mayor Sugeng.
Mayor Sugeng yang begitu ramah dan murah senyum ini memiliki postur tubuh yang baik dengan tinggi 177 cm dan berkulit putih dengan kumis tipis di atas bibirnya merupakan teman sekelas semasa sekolah dengan Rudi.
"Seperti yang kamu ketahui, aku baru sebulan ditugaskan kemari" kata Sugeng.
"Jadi, karena kau seorang jurnalis aku ingin meminta kerja sama denganmu" sambung Mayor itu.
"Tentu kau banyak informasi yang akurat tentang keadaan disini" ungkap Mayor itu kembali.
"Kebetulan aku bertugas dibadan intelejensi, jadi aku sangat membutuhkan teman dan dekan kerja yang handal sepeetimu yang sudah banyak makan asam garam" kata Sugeng itu kembali sambil tersenyum.
"Ah, kau terlalu memuji sob, seharusnya aku lebih bangga padamu yang bisa menggunakan atribut negara ditubuhmu" kata Rudi.
"Tidak sperti aku, yang setiap hari berjibaku dengan panas mentari dan tak jarang harus beradu argumen dengan orang-orang yang berkompeten" sambung Rudi.
"Pekerjaanku lebih penuh resiko dari kau" sambung Rudi.
Hahahaha....
Merekapun tertawa bersama.
"Ya akau tau itu, tapi semoga kau bisa menjadi mitra ku" kata Sugeng kembali.
"Kita sama-sama menjalankan tugas negara, aku bertugas dengan negara dan kau bertugas dengan swasta untuk negara" sambung Sugeng kembali.
Hari itu suasana keakraban sangat tampak sekali di ruang kerja sang Mayor itu.