"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LVI. Kenikmatan



Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Hellen tersentak dari tidurnya, ia segera kekamar mandi karena ia berasa ingin membuang air kecil.


Sedangkan Rudi yang melihat Hellen terbangun, dia juga terbangun dan segera mengikuti Hellen ke kamar mandi sebab Rudi juga ingin membuang air kecil.


Selapas dari kamar mandi Rudi menarik Hellen ke tempat tidur, pagi itu Rudi kembali mengajak gadis Eropa itu berpetualang.


Mereka saling bercumbu dengan penuh semangat yang dibarengi dengan nafas yang tersengal.


Rudi menyesep bibir gadis itu dengan penuh gairah, dan Hellen pun membalas hal yang sama yang membuat suasana menjadi hangat.


Dua bukit kembar yang padat dan berisi itu mulai menjadi sasaran kerakusan Rudi, dia memelintir puncak bukit itu yang masih kecil namun sudah mengeras.


Rudi bagaikan seorang pelukis yang handal, dia menguas dua bukit kembar milik Hellen dengan lidahnya yang berpengalaman hingga membuat gadis itu melenguh tidak karuan.


Eeeechhhh...., suara gadis itu.


Akhirnya Rudi tidak sabar untuk melepaskan rudalnya yang sudah keras dan siap meluncur.


Aaaaauuugggh....


Erengan Hellen saat rudal lapis baja itu menerobos masuk kedalam ruang sempit milik Hellen.


Mereka pun memacu dengan penuh irama dan suara-suara yang penuh beraturan.


Dan setelah hampir satu jam lebih mereka memompa kenikmatan, akhirnya Rudi pun melepaskan getah bening milik nya dengan disertai sedikit teriakan.


Hellen yang saat itu sudah tak berdaya dan sudah kehabisan tenaga akhirnya mencengkram tubuh Rudi dengan keras.


Aaaaaaaaaacccchhhh......


Peluh keringat mengucur, seluruh persendian mereka terasa begitu lemas dan tak berdaya lagi untuk bangkit.


Mereka tertidur dengan nafas yang memburu.


Memang, Hellen masih kalah dalam soal permainan dibanding dengan Sherly wartawati Belanda yang pernah main dengan nya.


Namun Hellen masih memiliki ruang yang masih sempit dan padat, sebab dia belum pernah disentuh oleh lelaki manapun.


Rudi sangat mencintai gadis itu, dan dia telah bertekad untuk menikahi nya meski dia sudah memiliki istri dan anak.


...****************...


...****************...


...****************...


Waktupun berjalan dengan cepat, namun pertempuran di Afganistan belum juga berakhir.


Rudi yang akhir-akhir ini menuntun Hellen mengenali agama Islam terus memberikan semangat pada gadis itu.


Hingga akhirnya Hellen pun resmi memeluk agama Islam.


Rudi sangat senang melihat gadis itu yang sudah menjadi seorang Mualaf, dia terus membimbingnya dengan penuh semangat.


Sampai pada bulan berikutnya tanpa disadari Hellen telah mengandung benih cinta Rudi.


"Sayang, aku telah hamil tiga bulan" kata Hellen sambil menunjukkan tes kehamilan kepada Rudi.


Rudi tersenyum bahagia, lantas Rudi memeluk Hellen dengan sangat erat.


Rudi merasa hidupnya telah sempurna, tapi disisi lain dia lupa akan seorang wanita yang telah sah menjadi istrinya sedang menunggu di rumah bersama anak-anak nya.


Rudi mempersiapkan hari untuk segera menikahi Hellen, tak ada seorang pun dari keluarganya di Indonesia yang mengetahui hal tersebut.


Sampai pada saatnya Rudi pun menghadapi ijab kabul disebuah mesjid di pinggir kota Kandahar.


Hari itu Rudi telah resmi mempersunting Hellen sebagai istri kedua nya, mereka menikah secara resmi dan secara agama Islam yang telah dianut oleh Hellen.


Setelah selesai melakukan akad nikah, hari itu juga Rudi dan Hellen mengontrak sebuah apartemen dan tinggal hidup serumah.


Rudi terus bekerja sebagai jurnalis dan mengirim berita-berita hasil liputannya ke redaksi.


Namun dari pihak perusahaan tempat dia bekerja tidak ada yang tau jika dia telah menikah lagi.


Setelah menjadi suami resmi Hellen, Rudi tetap terus mengajarkan agama islam kepada Hellen, dan Hellen pun selalu mengikuti bimbingan dari Rudi.


Hellen pun bekerja seperti mana biasanya, namun setelah menikah dia tidak lagi bekerja untuk rumah sakit temapat dia bernaung selama ini di negaranya, tetapi dia bekerja di Rumah Sakit milik pengusaha kesehatan asal Amerika yang ada di Afganistan.


Dengan begitu berakhirlah tugas Hellen sebagai perawat palang merah dibawah naungan organisasi bangsa-bangsa.


Dari honor yang dia terima dia pun gunakan untuk melanjutkan studi kedokteran dan berkuliah di kota Kandahar di salah satu Universitas disana.


Meski perang terus berlanjut dan Hellen juga sering ditinggal sendiri oleh Rudi di rumah karena dia meliput ke kota lain.


Namun Hellen tidak marah, sebab itu adalah pekerjaan suaminya, dan jika Rudi sedang bertugas ke luar kota, maka Zuridah diminta untuk menemani Hellen.


Waktu demi waktu berlalu hingga masa kandungan Hellen telah mencapai sembilan bulan, diman Hellen akan melahirkan anak pertama Rudi.


Rudi sangat sibuk mengurusi istrinya, dia terus menemani istri kedua nya itu melahirkan di rumah sakit.


Dengan selamat anak pertama Rudi pun lahir, betapa bahagia mereka telah mendapatkan seorang bayi perempuan yang mungil.


Tangisannya membuat suasana menjadi haru, rasa bahagia tak dapat di tumpahkan oleh keduanya, hingga air mata hellen tanpa disadari menetes.


Kini Rudi bukan hanya sebagai seorang suami dari Hellen tapi juga bapak dari anaknya.


Anak perempuannya diberinama Arzetta Trisandi, bayi yang imut dan menggemaskan itu pun telah membawa perubahan besar didalam hidup Rudi.


Zuridah diminta untuk bekerja bersama keluarga Rudi yang baru, dan Zuridah sangat senang menerimanya.


Kini Rudi sudah tidak lagi kesepian di negri orang, sebab dia telah mempunyai keluarga bar meski dia juga masih tetap berhubungan dengan istri dan anaknya di Indonesia setiap saat.


Genap tiga tahun Rudi di afganistan, dia telah memiliki istri dan anak, perjalanan hidupnya dicatat dalam sebuah memo dalam hatinya.


Dia memandangi wajah putri kecilnya itu, sambil memeluk Hellen dengan penuh kasih sayang.


"Aku tidak akan meninggalkanmu selamanya" kata Rudi di telinga Hellen.


Hellen tampak tersenyum bahagia.


"Belle fille .....I Love you" sekali lagi kata Rudi ditelinga istrinya.


Dan sebuah ciuman mendarat darurat di pipi Hellen.


Tidak hanya belajar agama Islam, tapi Rudi juga mengajarkan istrinya bahasa Indonesia agar dapat memahami bahasa Rudi.


Dengan cepat Hellen telah hampir menguasai bahasa Indonesia, karena terbilang dia adalah gadis yang pintar.


Suara tangisan Arzeta membuat kamar di apartemen yang mereka kontrak menjadi ramai dan penuh kebahagiaan.


Rudi memang sudah berpengalaman sebagai seorang ayah dan suami, itu yang membuat Hellen merasa tenang hatinya saat Rudi memimpin rumah tangga.


Rasa cinta dihati keduanya pun kian tumbuh seiring berjalannya waktu.


💗💗💗💗💗💗💓💓💗


Hello pembaca setiaku...


Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang udah membaca novel karya ku ini.


Aku ingin terus dukungan kalian agar aku dapat terus berkarya dengan semangat.


Ayo..., beri like, subcribe dan komen kalian