"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
Episode - LXXIV Pertempuran yang panjang



   Keesokan harinya Rudi seperti biasa sedang melakukan aktivitasnya, pagi itu dia beserta tim Redaksi baru selesai melaksanakan rapat harian.


Dengan membuka Laptop miliknya Rudi berselancar browsing ke internet guna melihat hasil berita-berita yang telah terbit.


Pagi itu suasana masih terasa hangat, seluruh masyarakat melaksanakan kegiatan mereka seperti biasanya, namun tiba-tiba terdengar suar sirene dari sudut-sudut kota, hal ini biasanya telah terjadi pertempuran antara kelompok Pemerintah dan Pemberontak.


Rudi yang mengetahui hal itu segera memberikan informasi kepada karyawannya yang saat itu sedang bingung tentang makna sirene yang sedang berbunyi hingga memekakkan telinga mereka.


"Kalian jangan panik, suara ini sudah biasa terdengar jika ada terjadinya gencatan senjata" kata Rudi kepada Karyawannya.


"Tanda ini agar kita berhati-hati dan tetap waspada, cari tempat aman, atau berlindung untuk menjaga diri dan kalau bisa jangan keluar rumah!" ujar Rudi.


"Jadi bagaimana dengan kita pak?" tanya Pemimpin Redaksi Pak Junius Hermanto.


"Iya, kita tetap tenang, bagi wartawan tolong segera keluar mencari tau berita ini, dimana telah terjadinya pertempuran hari ini!" kata Rudi, "dan ingat! Harap jaga keamanan diri, pelindung diri, agar dapat sampai ke lokasi peetempuran, tetap berkomunikasi kepada pihak keamanan" Sambung Rudi yang memerintahkan langsung peliputan.


"Untuk Koordinator liputan, awaai terus anggotanya yang bertugas" perintah Rudi.


Setelah mendapat oeruntah langsung dari sang atasan, seluruh personil Jurnalisnya segera bergerak menuju lokasi, meskipun ada beberapa diantara mereka ada yang merasa ketakutan dengan situasi yang berlangsung, tetapi mereka mencoba tenang dan memberanikan diri.


Boooommm..... Booooommmm.....


Tidak berapa lama, suara ledakan terjadi, dan membuat bumi sedikit bergetar, tidak terkecuali kantor yang dihuni oleh Rudi dan rekan-rekannya itu.


Suara teriakan terdengar dari karyawati perempuan karena merasa terkejut dengan datanya ledakan tersebut.


"Tenang! Nggak apa-apa, tetap berdoa!" kata Rudi kembali menenangkan karyawannya.


Disusul kemudian suara rentetan senjata yang membabibuta


Treeettt...treeeeert......


Dor.... Dor......


"Pak bagaimana ini!" tanya seorang karyawatinya yang bertugas sebagai editor tersebut.


"Gak apa-apa tetap tenang aja ya!" jawab Rudi kembali.


"Sepertinya perangnya dekat banget pak!" teriak seorang lagi diantara mereka.


Rudi yang sudah cukup pengalaman tentang hal ini, mencoba menenangkan semua karyawannya.


"Ingat! Kita adalah perusahaan Pers, kita sudah dilindungi dengan Undang-undang dan juga Piagam PBB, jadi kita nggak perlu khawatir, mereka tak akan melukai kita" kata Rudi yang mencoba menenangkan karyawannya.


"Udah, kita tunggu aja hal apa selanjutnya yang terjadi, kalau bisa kita abadikan dengan kamera-kamera kita" sambung Rudi.


"Saya akan mencoba untuk naik ke atas, agar dapat melihat situasi dari atas sana" sebut Eudi kembali sembali berjalan menaiki anak tangga.


Satu demi satu anak tangga dilalui olehnya untuk menuju keatas rumah agar dapat melihat situasi yang ada.


Dor... Dor.... Dorr.....


Treeerttttt.... Treerrttt...


Suara gencatan senjata kembali terdengar dengan jelas, saat ini suara itu mangkin sering terjadi.


Boooommm...... Boooommmm.....


Dua ledakan dahsyat kembali terjadi, dan Kantor media Rudi berkali-kali bergetar dibuatnya.


Darisini Rudi melihat jelas pertempuran yang sedang berlangsung, ya..., lokasinya tidak terlalu jauh dari kantornya, itu yang membuat suara-suara itu terdengar dengan jelas sekali.


Beberapa mobil tank tengah melontarkan peluru-pelurunya ke arah musuh, disusul barisan-barisan tentara yang ikut menembakkan senjatanya kerah musuh.


Ssssttt...... Sssstttt.......


Beberapa peluru kendali meluncur ke arah musuh, garis pertanan musuh tampak sedikit kocar-kacir, ledakkan terus terjadi.


Rudi mengabadikan peristiwa itu dari atas atap kantornya, dia terus mengamati jalannya pertempuran, sementara itu para karyawannya yang berada di dalam kantor masih merasa ketakutan, wajar saja mereka belum pernah mengalami peristiwa seperti ini.


Dorrr... Dorr.....


Ssssssttt.... Sssstttt... Boooom.....


Ledakan kembali terjadi, kini serangan balasan sepertinya dilancarkan oleh pihak pemberontak, terlihat beberapa peluru kendali mengarah ke wilayah pertahanan Militer.


Pertempuran semangkin sengit dengan berkali-kali serangan balasan terjadi, perlawanan pihak Pemberontak belum berakhir, sehingga di wilayah Utara kota Kabul tampak sudah porak poranda.


Asap-asap hitam mengepul ke udara bersama api-api yang membakar daerah sekitar, entah berapa korban yang jatuh disana.


Sudah berlangsung satu jam lebih, belum ada tanda-tanda perang akan berakhir.


Dari pihak Militer, mengirim kekuatan kembali, itu ditandai dengan mobil-mobil lapis baja serta tank-tank yang kembali merapat ke arena pertempuran.


Truk-truk pengangkut tentara berdatangan menambah kekuatan pihak Militer.


Trrrreetttttt.... Treeeeetttt....


Suara tembakan dari senapan-senapan mesin otomatis kembali terdengar nyaring bagaikan suara burung-burung yang berkicau di langit angkasa luas.


Booommm... Booommm...


Dua bom berkekuatan besar kembali meledak di area pasukan Militer, pasukan pemerintah itu tampak kocar-kacir, sebuah tank milik Militer hangus terbakar akibat dari lontaran bom tersebut.


Rudi belum bergeming dari atap rumah itu, dia terus menyaksikan peristiwa pertempuran tersebut dengan seksama, tidak ada sedikitpun yang dia takuti dari pertempuran yang masih berlangsung.


Rudi seketika mengambil ponselnya dan segera menelpon pemimpin Redaksi pak Junius Hermanto yang masih berada dibawah, tidak berapa lama pak Junius tiba dengan membawa kamera mendekati posisi Rudi yang saat ini sedang berada.


"Bagaimana dibawah? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Rudi.


"Baik pak, mereka cuma sedikit trauma saja" jawab pak Junius.


"Lihat, disanalah pusat pertempuran itu" kata Rudi sambil menunjukkan lokasi pertempuran itu terjadi kepada Pak Junius sang Pemrednya.


"Wah! Ngeri sekali ya pak" kata Pak Junius sambil melihat kondisi lapangan.


"Bagaimana dengan wartawan kita? Apa mereka sudah ada yang berhasil menembus kesana?" tanya Rudi kembali.


"Belum tau pak, tapi sebentar, saya akan mencoba menghubungi mereka" kata Pemred tersebut.


Setelah mendapatkan informasi, pak Junius segera melaporkannya, "maaf pak, menurut salah seorang dari reporter kita, mereka tertahan di ring tiga" kata Pak Junius.


"Oh begitu? Ya sudah, kita amati saja dari sini" kata Rudi kepada pak Junius.


Hingga menjelang malam hari, barulah pertempuran itu berakhir, entah berapa korbang yang jatuh, yang jelas saat ini mobil-mobil ambulan tengah menuju ke kota untuk menjemput korban yang luka atau tewas.