"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXXVI Kehidupan jurnalistik



Pagi kini telah tiba, dimana matahari mulai menyinari bumi dengan sangat indah. Kicauan burung bernyanyi menghiasi angkasa raya yang saat itu sangat bersahabat.


Di pagi itu terlihat Rudi yang baru terbangun dari tidurnya, dengan wajah yang sedikit kusut akibat kelelahan yang dia rasakan dalam dirinya.


Rasa lelah yang bukan hanya dari pekerjaan yang dia lakukan, akan tetapi lelah dalam kehidupan yang juga diarasakan, hal utamanya adalah asmara yang dia jalani bersama Hellen.


Kejadian semalam membuat dia terus berfikiran keras, Hellen gadis yang selama ini telah membuatnya menjadi gila.


Rudi sebenarnya tidak ingin melepaskan Hellen dari hidupnya, sebab kini dia benar-benar telah merasakan cinta yang sangat hebat dari gadis bule asal Prancis itu.


Dia kini berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.


Dengan langkah sedikit gontai dia ambil handuk yang tergantung disudut pintu dekat kamar mandi itu.


Dia segara masuk ke kamar mandi dan segera mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit kemudian terlihat Rudi keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tas rangselnya untuk mengambil baju.


Setelah ia berpakaian dia duduk di meja kerjanya dan segera membuka laptopnya dengan sedikit bermalas-malasan dia masih mengingat peristiwa semalam yang begitu sedikit mengganggu perasaannya.


Kreeekk....bunyi suara pintu terbuka, terlihat Rio datang dan langsung menghampiri Rudi.


"Halo sobat" ujar Rio kepada Rudi, seketika Rudi menoleh ke arahnya.


"Hari ini kita akan meliput sebuah berita besar", kata Rio, "Pemerintah akan mengumumkan perang terbuka terhadap para pemberontak.


Rudi hanya diam dan sedikit tersenyum dari sudut bibirnya.


"Bagaimana teman? Apa kau mau ikut?" ajak Rio kepada Rudi.


Sedikit menarik nafas "Baiklah kita akan pergi" jawab Rudi dengan santai.


Bergegas mereka setelah itu mempersiapkan alat kerja dan lalu keluar kamar menuju kenderaan yang telah menunggu.


Setelah mereka berada didalam taksi, kendaraan roda ampat itu yang telah dipesan sebelumnya oleh Rio mulai melaju menuju kantor Pemerintahan di Kandahar.


Duduk di jok depan wartawati cantik asal belanda Sherly yang juga turut dalam perjalanan tersebut, sementara Rio dan Rudi berada di barisan jok belakang.


Perjalanan itu melintasi setiap sudut kota yang saat itu sangat begitu menyengat dari panas Matahari.


Setelah beberara menit mereka dalam perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.


Merekapun turun dari taksi, setelah membayar biaya taksi tersebut mereka langsung masuk menuju Kantor Pemerintahan tersebut.


Mereka berjalan menuju ruang Konfrensi pers.


Tampak disana para wartawan telah berkumpul, para pencari berita itu telah menunggu di aula yang cukup luas.


Para kulitinta dan Fotografer dari berbagai media baik luar maupun dalam negri tengah bersiap-siap menunggu datangnya pejabat negara yang akan melakukan siaran persnya.


Petugas keamanan juga terlihat sibuk mengatur para jurnalis tersebut agar mengikuti protokol yang ada.


Setengah jam kemudian terlihat beberapa peabat Militer keluar dari salah satu ruangan dan diikuti oleh Petinggi dari Kota Kandahar yang juga terlihat ada perwakilan dari Amerika, Inggris dan Italia yang ikut bersama Pajabat tersebut.


Mereka langsung menuju mimbar utama dan langsung memberikan keterangan persnya.


Dimulai dari pejabat pemerintah setempat dan kemudian dilanjutkan oleh perwakilan Amerika, Inggris dan Italia.


Terlihat seluruh insan pers yang melitlput sangat serius mendengarkan pidato tersebut.


Aku pun tak meninggalkan sedikitpun setiap kaliamat yang terlontor dari para pejabat itu.


Mereka telah mengumumkan perang terbuka dan akan memberangus para pengacau hingga ke akar-akarnya, itulah yang menjadi pokok inti dari konfrensi pers tersebut.


Pihak negara akan dibantu oleh pasukan sekutu untuk menghancurkan para pemberontak itu serta akan mencari pimpinan dari kelompok itu hingga kemanapun dia pergi.


Begitulah isi dari pertemuan itu, yang kemudian para petinggi itupun pergi menuju ruangan lain meninggalkan aula tersebut.


Terlihat awak media sibuk untuk melakukan pengiriman berita ke media mereka masing-masing.


Aku bersama Rio dan Sherly menuju kesebuah kursi panjang dan kemudian kami duduk disana untuk masing-masing memberikan informasi media tersebut.


Laptop yang selalu kubawa kini telah mulai terisi satu demi satu tulisan berita hasil liputan ku.


Melalui e-mail aku mengirimkan pesn ke Indonesia dengan melalui surat kabar tempatku bekerja.


Satu jam aku menuliskan pokok berita itu untuk ku kirim ke meja redaksi hari ini.


Sebagai seorang jurnalis aku tetap harus memegang teguh konsep kode etik pers sebagai suatu tanda bekerja dengan profesional.


Memang baru kali ini aku melakukan peliputan di luar negri yang akan menjadikan suatu pengalamanku disini.


"Bagaimana teman, apa kau sudah selesai?" tanya Rio, membuyarkan fikiranku saat itu.


"Oh, sudah" jawabku.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rudi.


Sebagai satu tim kerja meskipun berbeda media dan juga negara, namun saat ini merekalah teman setia Rudi saat ini.


"Hmmm, bagaimana jika kita ke kantin untuk makan atau minum sejenak?" ujar Rio.


"Baiklah, aku setuju" jawab Rudi.


Kemudian mereka secara bersama-sama menuju kantin yang ada dibelakang kantor tersebut.


Terlihat banyak jurnalis yang juga sedang istirahat ditempat itu.


Pelayan!


Panggil Rio kepada seorang Pelayan.


Tidak berapa lama seorang pelayan pria datang menghampiri.


"Pesan apa tuan?" tanya pelayan itu.


"Aku pesan jus jeruk dan roti bakar" kata Sherly.


"Saya kopo hitam dan roti bakar juga" ujar Rio.


"Sama, saya juga seperti tuan ini" ungkap Rudi sambil menjulurkan tangannya ke arah Rio.


Setelah mencatat semua pesanan pelayan tersebut bergegas pergi.


Tidak berapa lama kemudian pelayan tersebut datang menghantarkan pesanan tersebut.


"Silahkan tuan dan nona" kata pelayan itu dengan ramah.


Aku segera mengaco kopi tersebut agar tercampur seluruh kopi dan gula.


Sepotong roti bakar mulai aku makan untuk mengisi lambung yang sudah sedikit kroncongan.


Kami menikmati hidangan roti bakar itu dengan ditemani kopi hitam yang begitu nikmat.


Suasana santai meski terlihat ramai dipenuhi beberapa wartawan yang meliput di tempat tersebut.


Kamk menikmati suasana itu dengan sedikit percakapan membahas soal pernyataan dari pemerintah tadi.


"Mungkin tidak lama lagi akan ada perang besar terjadi lagi" kata Rio.


"Jika melihat dari keadaan tadi memang demikian" jawab Rudi.


Suasana hening sejenak.


Terlihat Sherly yang duduk dan sedang asik dengan handpone ditangannya.


"Semua ini adalah politik" ujar Rudi.


"semua peperangan baik antar negara maupun dalam negri, pasti itu sebagai pokok persoalannya" jawab Rio.


"Kita harus banyak belajar tentang itu kawan" sambung Rudi.


Suasana kembali tenang.


Dengan menyeruput kopi aku terus menikmati suasana hari itu.


Ku lihat Rio membakar rokoknya dengan penuh kenikmatan.


Sementara suasana kantin itu masih tetap sama dipenuhi para jurnalis.


Mereka terlihat sibuk namun tetap dalam keadaan tertib dengan suasana yang santai dan nyaman.