"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXIX Rumah tangga



  Melihat Rudi masuk ke kamarnya Hellen menyusulnya masuk ke kamar tidur.


"Nanti kamu masak aja dulu ya?" kata Hellen kepada Zuridah sebelum masuk kedalam kamar.


"Iya nyona" jawab Zuridah yang sedang merapikan belanjaan yang baru dia beli tadi.


Kreeekk...., pintu kamar di buka dan Hellen segera masuk, terlihat Rudi yang tengah berbaring tanpa menggunakan pakaiannya dan hanya memakai celana jens panjang.


Hellen meletakkan Arzetta disisi Rudi dan diapun ikut berbaring disampinya.


Muuuaacchh...., Rudi mencium Arzetta yang ada disampingnya.


Hellen tersenyum dan berbaring miring menghadap Arzetta dan Rudi, kemudian dia membuka kaos yang dia gunakan hendak mengeluarkan susu buat Arzetta.


Sesat Arzetta pun menyusu kepada ibunya, Hellen menepuk-nepuk kecil tubuh putri kecilnya itu.


Rudi tersenyum melihat Arzetta yang sedang menyusu kepada ibunya, tangan Rudi membelai halus rambut Hellen sambil sesekali mengecup dahi dan bibir Hellen.


Muuacch...., satu ciuman kembali mendarat di pipi Arzetta yang sedang menyusu dengan asyiknya.


Lambat laun Arzetta mulai terpejam, anak bayi itu seperrinya telah Asyik dan kenyang setelah menyusu kepada ibunya.


Hellen melepaskan susunya dari mulut putrinya itu ketika Arzzeta telah terlelap, Hellen segera mengangkat tubuh putrinya untuk dilletak kan di tempat tidur Arzetta yang ada di samping ranjang mereka.


Kemudian Hellen kembali mendekati Rudi dan mencium suaminya itu.


"Kapan kamu kembali ke Kabul" tanya Hellen dengan tersenyum kepada Rudi yang sedang tidur terlentang.


"Besok siang aku akan kembali ke Kabul" jawab Rudi, "tapi aku kan selalu pulang beberapa hari sekali, untuk melihat kalian, sebab aku tidak mungkin membawa kalian kesana, disana banyak teman-temanku" kata Rudi.


"Nanti pada waktunya aku pun akan membawa kalian ke Indonesia, jika sudah tepat masanya" ujar Rudi kembali.


Hellen menganggukkan kepalanya, memang dia tau posisinya saat ini.


Muuuaacchh..., sebuah kecupan mendarat di bibir Rudi, seketika itu Rudi membalas kecupan dari Hellen.


Kini mereka saling memagut dan memadu cinta, satu persatu pakaian mereka telah terlepas, entah siapa yang memulai dahulu yang jelas masing-masing nafas mereka telah memburu.


Rudi begitu semangat menunggangi Hellen yang memang setelah dia berada di Indonesia dan kembali lagi ke Afganistan, dia belum pernah menyentuh wanita bule itu, baru hari inilah dia menikmati kesempatan tersebut.


Dia rampas dua bukit kembar yang sudah membesar itu dan dia memainkan ujung bukit tersebut yang sudah mulai berwarna kecoklatan akibat dari menyusui putrinya, dan memiliki ujung yang sudah berbentuk bulat meski tak besar namun sudah seperti kacang tanah.


Dia memainkan ujung tersebut dengan ujung tangannya dan lidah seta sesekali dia menyusu disana.


Sampai pada akhirnya mereka sama -sama terkulai lemas diatas kasur tersebut.


Rudi yang sangat letih dan tubuhnya telah dibasahi oleh keringat, pada saat itu matanya pun terpejam, begitu juga dengan Hellen dia menatap sayu pada suaminya, terasa puas.


Akhirnya mereka tertidur dengan saling berdekapan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


    Sementar Itu Ismiati yang sore itu akan kembali dari kantornya, dia telah bersiap-siap membereskan barang-barangnya.


"Rin, besok siapkan pesanan untuk ke Palembang ya" pinta Ismiati kepada Skretarisnya itu.


"Ia bu, udah saya siapkan, tapi belum semua mungkin tinggal beberapa pak lagi aja" jawab si Sekretaris itu.


"Ok, yang pasti besok sudah harua berangkat pengirimannya, saya sudah ditelpon dari sana" lanjut Ismiati.


Ismiati dan Sekretarisnya tampak berjalan keluar dan menuju ke mobilnya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


sore hari suasana dijalanan terasa sangat macat dan merayap, rumah Ismiati yang baru saat ini terbilang cukup jauh juga dari tempat usahanya yang kemarin merupakan rumah tinggalnya.


Hampir satu jam perjalanannya barulah dia sampai ke rumah dengan memasukkan langsung mobilnya ke halaman rumah.


Dimana saat itu hari telah mulai senja dan benar-benar hampir gelap.


"Assalam'ualaikum" ucap Ismiati ketika membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam" sambut bi Asih yang saat ini telah menjadi pembantu rumah tangganya sekaligus sebagai penjaga anak-anaknya yang masih kecil-kecil.


"Mama......" putra kecilnya berlari dan langsung memeluknya bagaikan anak dan ibu yang terpisah lama.


Memang selama Ismiati memiliki usaha baru dia jarang bisa berkumpul dengan anaknya, terkadang rasa rindu seharian diluar kepada anaknya tidak terbendung.


Dia memeluk tubuh kecil Ilham Jayadi, putra bungsunya yang sudah berusia tiga tahun, terkadang Ismiati sering juga membawa Ilham ke kantornya guna menemani dia bekerja bersama sang Baby Sister.


Sedangkan putri pertamananya Salsabila tidak pernah dia membawanya bekerja lantaran Salsa sudah dewasa dan sudah duduk dibangku kelas dua SMP saat ini.


"Duhh..., mama kangen banget nak" kata Ismiati sambil memeluk Ilham dan lalu dia menggendong putranya itu.


"Mama...mama.." kata Ilham sambil memeluk mamanya.


"Ilham udah mamam nak?" tanya Ismiati, sebuah ciuman kembali mendarat diwajah Ilham.


Anak itu hanya menganggukkan kepalanya saat ditanya ibunya.


Tingkah lucu dari Ilham membuat Ismiati tertawa, dia terus berjalan melangkah masuk kedalam rumahnya.


"Udah dikasih makan Ilham sore ini bi?" tanya Ismiati kepada pembantunya.


"Tadi udah bu, tapi sore ini belum" jawab pembantu tersebut.


"Kenapa? Kasihlah, inikan sudah mulai malam?" pinta Ismiati kepada si pembantu.


"Iya bu, sebentar lagi nasi nya baru saya masak" jawab pembantunya kembali.


"Salsabila kemana bi?" tanya Ismiati lagi yang menanyakan anak perempuannya.


"Tadi pergi sama temannya, katanya mau Sholat Maghrib ke masjid" jawab si pembantu.


"Ya sudah, saya mau mandi dulu, tolong jagakan Ilham ya?" sambil memberikan Ilh kepada si pembantu itu.


"Ilham sama bibi dulu ya? Mama mau mandi, ntar kita main lagi" kata Ismiati.


Setelah memberikan Ilham kepada pembantunya, dia segera naik ke lantai dua untuk ke kamar tidurnya.


Perlahan pintu kamar dibuka, tanganya mencari saklar lampu yang ada didinding, sesaat lampu pun menyala, Ismiati segera meletakkan tas yang dia bawa sambil msnggeleng-gelengkan kepalanya dan tangannyapun memijat-mijat lehernya yang begitu terasa pegal.


Dia rebahkan tubuhnya sesaat ditempat tidur untuk menghilangkan rasa penatnya.


Sesaat kemudian diapun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Waktu terus berjalan dengan sempurna, Ismiati trus melakukan kegiatan sehari-harinya dirumah dengan tetap bermain dan memberikan perhatian kepada kedua anaknya.


Sebagai seorang ibu dan sekaligus saat ini dia telah menjadi wanita pengusaha yang sudah bisa disematkan dibenaknya lantaran usahanya saat ini berjalan lancar dan sudah meningkat pendapatannya.


Namun dia tetap bisa membagi waktu untuk kedua anak-anaknya.