
Tragedi perang di Afganistan banyak menjadi sorotan dunia dan tak lepas pula di negaraku Indonesia.
Wajar saja kalau saat ini Afganistan banyak didatangi oleh orang-orang asing, mereka bukan bertujuan untuk berwisata akan tetapi kedatangan mereka untuk berbagai kegiatan sesuai profesi mereka.
Ada yang seperti aku sebagai jurnalis, adapula sebagai tim medis yang terdiri dari paramedis dan dokter serta para relawan-relawan guna membantu penduduk yang menjadi korban.
Sore hari diujung jalan raya aku sedikit santai duduk sambil minum sebuah just buah di caffe milik pengusaha keturunan Palestina yang ada dikota ini.
Sambil membawa sebuah catatan kecil, aku menulis beberara catatan untuk mempersiapkan program kerjaku disini.
Beberapa hari lalu aku mendengar dari seorang jurnalis setempat bahwa selain di ibukota Kabul dan kota Herat, pertempuran juga terjadi di Kota Kandahar.
Sampai saat ini memang ada beberapa tempat di Afganistan yang menjadi pusat pertempuran.
Selain ibukota Kabul, kota Herat, adapula Kandahar dan Jalalabat yang menjadi pusat-pusat perang.
Aku mencoba untuk berangkat ke Kandahar besok bersama seorang reporter tv dari Belanda.
Hari ini aku berjanji dengannya untuk bertemu dengan wartawan dari Negri Kincir Angin itu, tetapi sampai saat ini dia belum juga muncul.
Sambil aku meminum segelas just akupun menyalakan sebatang rokok, kuhisap rokok itu sambil memandangi jalan raya yang berada tepat dihadapanku.
Lima belas menit kemudian Rio Vander Bott sang reporter tersebut datang.
"Hello freand....." sapanya kepadaku sambil menepuk bahuku.
"Hello," balasku, dengan tersenyum ramah, aku langsung berdiri dan menyalaminya dengan salam komando, "ayo mari duduk," ucapku padanya dengan bahasa Inggris.
Setelah ku mempersilahkannya duduk aku memesankan segelas kopi untuknya kepada sang pelayan, Pelayan! Pelayan! Seorang pelayan datang, "pesan apa tuan?" tanya pelayan itu, "kopi hitam satu," jawabku, kemudian pelayan itupun pergi dan segera datang membawakan segelas kopi.
Kamipun terlibat pembicaraan yang serius sore itu.
Rio Vander Bott adalah pria berkebangsaan Belanda yang berusia 43 tahun dengan tubuh yang sedikit tambun berkulit putih dan berambut coklat layaknya orang-orang Eropa umumnya,dia berprofesi sebagai reporter tv.
dan dia sudah delapan bulan berada di Afganistan.
"Bagaimana jadwal kita besok?" tanyaku memastikan, "besok kita berangkat pagi-pagi agar tidak kemalaman dijalan," kata Rio.
"Kandahar merupakan salah satu kota yang penting" kata Rio kepadaku, aku memperhatikan setiap ucapannya.
"Aku belum pernah ke kota itu, seumur-umur baru kali ini aku keluar negri," kataku pada Rio, Hahahahha..! "itu bukan masalah, kita dapat belajar dalam setiap kesempatan," ucapnya padaku.
Aku hanya tersenyum dan sedikit minder bertemu wartawan Internasional seperti dia, tapi aku banyak mendapatkan pelajaran, "lalu bagaimana dengan tempat tinggal kita?" tanyaku padanya.
"Kita ambil Motel saja, harganya lebih murah dan kita harus hemat," ucap Rio.
Setelah lama kami mengobrol dan berbagi informasi lalu menyepakati jadwal untuk keberangkatan kami besok pagi sekitar pukul 08.00 waktu Herat.
karena waktu sudah mulai sore aku dan Rio bergegas untuk kembali ke penginapan, "baiklah, kita bertemu besok," kataku.
"Ok!" jawab Rio.
Namun sebelum aku menuju camp, aku menyempatkan diri menuju kerumah sakit dimana tempat Hellen bekerja, tujuanku kesana untuk mengabarinya bahwa besok aku akan berangkat ke Kandahar.
Sesampainya aku di rumah sakit itu akupun langsung menuju ruangan tempat Hellen bekerja, aku melihat dia dan beberapa temannya serta seorang dokter masih menangani seorang pasien laki-laki yang sedang dirawat.
"Ah, lebih baik aku menunggunya disini saja," ucapku dalam hati.
Akupun duduk didepan pintu ruangan tersebut sambil menunggu dia selesai bekerja.
Kurang lebih satu jam, kulihat dia beserta teman-temannyapun telah keluar dari ruangan itu.
Ketika ia melihatku, dia segera menghampiriku.
"hai baby,i miss you," ungkapnya sambil tersenyum sumringah dan dia memegang ke dua tanganku.
terlihat dia begitu merinduiku saat ini!
Memang sudah hampir seminggu kami tak jumpa sejak peristiwa di pantai waktu itu.
"I miss you too dear," jawabku.
Lalu kamipun duduk di kursi panjang didepan ruangan rumah sakit itu.
Aku menceritakan kedatanganku untuk memohon ijin pergi ke kota Kandahar.
"Sayang, besok pagi aku akan ke Kandahar," ucapku sambil menatap wajahnya.
"Ada liputan pers yang harus aku kejar kesana," ucapku kepadanya.
Sesaat terlihat dari matanya berkaca-kaca dan kesedihan tampak jelas dari wajahnya.
Aku tau pasti dia akan sedih karena jauh dariku.
Tapi aku berjanji tak akan lama aku di Kandahar mungkin satu atau dua minggu saja.
"Aku mengerti pekerjaanmu," tapi rasa rinduku pasti akan meledak," ungkap hadis itu sambil membuang oandangannha ke sudut ruangan.
"Ia, aku janji, aku akan secepatnya kembali untukmu," kataku sambil meyakinkan dia.
Dan dia juga memang memaklumi atas pekerjaanku, begitu juga aku yang sangat memahami profesi dia sebagai seorang perawat.
"I will miss and look forward to your return"
kemudian ia mencium bibirku.
Kamipun saling berpangutan bibir, berciuma hangat.
aku dan dia saling berpelukan dengan berciuman dibibir.
Sesuatu hal yang memang sangat aku inginkan darinya.
"Come back to me as soon as possible,and we'll make love again," ucapnya kepadaku.
Aku sangat senang mendengar ucapannya itu.
Sesaat kemudian akupun mohon undur diri sebab waktu sudah sangat senja.
"Sayang, aku tidak bisa berlama-lama disini, banyak yang harus aku kerjakan, terutama untuk esok," kataku sambil membelai rambutnya.
"Aku mohon ijin untuk pulang, nanti setelah disana, aku akan menelponmu," ucapku, kemudian dia hanya menganggukkan kepala saja sambil menutup matanya dan terlihat sebutir air jatuh dipipinya, air mata kerinduan.
Sebelum berlalu sekali lagi aku mencium bibir manisnya, dan tak lupa pula aku mengecup dahinya.
"I love you baby" ucapku
"i love you to" ucapnya
"bye...." kata ku
Sambil melambaikan tanganku dan dia juga melembaikan tangangnnya kepadaku.
Lantas akupun bergegas keluar dari rumah sakit itu untuk kembali ke camp.
...----------------...
Keesokan harinya akupun bersiap menuju kota Kandahar, setelah seluruh perbekalan terpenuhi aku keluar dari camp menuju jalan raya untuk menunggu kedatangan Rio.
Tak lama kemudian sebuah mobil kuno Volkswagen safari berwarna hijau menghampiriku.
"Inilah mobil Rombongan reporter Belanda itu rupanya," ucap dalam hatiku.
Aku segera naik kedalam mobil tersebut dan selanjutnya mobilpun berjalan menuju kota Kandahar.
Didalam mobil ada beberapa orang lainnya yang ikut serta.
sebagai juru kemudi ada Robbin, lalu ada si Rio Vander Bott temanku itu yang bertugas sebagai reporter juru kamera, dan ada pula seorang wanita bernama Sherly Mathias seorang wanita Belanda yang nantinya bertugas sebagai reporternya.
Kami saling berkenalan satu sama lain di dalam mobil itu.
Perjalanan ke Kota Kandahar sendiri kami tempuh dengan jalur darat, memang jarak cukup jauh.
Aku sendiri tidak begitu tau berapa lama kami harus melewati waktu didalam perjalanan untuk menuju kesana.
Namun yang pasti sebagai semangat juang pencari berita, kamipun menempuh jalan-jalan ini.
Keesokan harinya sekitar pukul delapan pagi kamipun sampai ke kota Kandahar.
Di depan pintu batas masuk kota kami dihadang oleh pasukan blokade dari UN, kami dimintai surat-surat untuk bahan pendataan mereka.
Setelah semuanya beres kamipun diijinkan untuk masuk.
Kami melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat penginapan, sepanjang jalan mataku melihat kesisi kiri dan kanan jalan.
Kota Kandahar ini sebenarnya cukup indah, dan sebagai salah satu kota terpadat di Afganistan selain Kota Kabul sebagai ibukotanya.
Setelah berkeliling cukup lama akhirnya kami menemukan sebuah penginapan.
Dan kami segera memesan 3 kamar untuk tempat istirahat kami.
Kalau dilihat posisi penginapan ini seperti sebuah Motel kecil yang ada dipinggir kota.
Aku bersama Rio berada dalam satu kamar.
Sedangkan sang sopir Robbin dia memilih untuk tidur sendiri, begitu juga dengan Sherly karena dia wanita satu-satunya yang ikut jadi ia berada dalam ruangan yang sendiri juga.
Sesampai dikamar aku langsung merebahkan tubuhku.
Karena perjalanan menempuh waktu satu hari satu malam, badanku terasa letih berada di kendaraan.
Ada dua set tempat tidur dalam ruangan ini.
Rio sendiri sudah naik keranjangnya dan sudah mulai terdengar dengkurannya.
Mungkin dia juga begitu letih dalam perjalanan tadi seperti mana diruku saat ini.
Memang jarak kota Herat ke Kandahar cukup jauh, apalagi kami menempuh jalan darat yang kami sendiri tidak begitu faham jalannya.
Sering kami salah menentukan jalan sehingga membuat perjalanan kami sedikit terhambat dan lama, akan tetapi semua ini adalah sebuah pengalaman berharga bagi diriku.
Setelah sejenak aku rebahkan tubuhku, akupun mulai terlelap dalam tidur.