
Rio yang hari ini berjalan menelusuri sisa-sisa peperangan terus mengambil potret-potret bekas jejak peperangan.
Disaan yang sama juga terlihat para palang merah ikut membantu mencarai korban jiwa yang diperkirakan masih tersisa.
Suasana sangat terik panas mentari membakar telapak kaki dan kulit-kulit tubuh.
Polisi-polisi berlalu lalang kesana kemari dan para tentara masih terlihat berjaga-jaga diseputaran kawasan tersebut.
Asap-asap hitam masih terus membumbung tinggi ke udara yang menampakkan seperti kota angker.
Tidak berapa lama suara sirine berbunyi dengan deras dan meraung-raung.
"Ah suara sirine lagi" kata Rudi dalam hati, "berarti akan ada pertempuran lagi" gumamnya dalam hati.
Benar, tidak berapa lama kemudian sebuah peluru kendali meledak menghantam sebuah mobil lapis baja milik tentara yang berada tak jauh dari posisi Rudi berdiri.
Buuuuummmm.....buuuummmm...
Suara ledakkan dahsyat berbunyi seiring hancurnya mobil lapis baja tersebut.
Rudi yang berdiri disitu terlihat kaget dan segera dia tiarap ke lantai tanah.
Semua yang ada disana juga pada tiarap untuk menghindari peluru-peluru nyasar.
Treeeerttt...treeettt...
Suara rentetan senjata api mulai terdengar asap dan api besar menghanguskan mobil lapis baja.
Para tentara berlarian menuju suara serangan musuh.
Treeeerrrttr.....trrreeeeettt....
dor...doooorrr......
Suara pelururu-peluru yang dikeluarkan dari senjata api saling silih berganti.
Keadaan pun kian mencekam tatkala sebuah pesawat perang milik pemberontak meraung diatas kepala.
Hmmmm...buuuumm...buuummm...
Dua buah bom dijatuhkan dari udara, dan sintak saja ledakan dahsyat terjadi.
Potongan-potongan tubuh tentara terlempar ke udara, dan bua buah bangunan milik warga rubuh.
Seketika asap dan abu berterbangan, suasana menjadi gelap namun suara-suara tembakan terus terjadi.
Trrreerrrtt....trrreeerttt....
Dor...dorrr...
Tampaknya tentara pemerintah yang didukung sekutu itupun dipukul mundur.
Ada suara perintah Munduurrr!!
Semua tentara pemerintah mencoba mundur perlahan dengan sedikit memberikan perlawaanan.
Duaaaarrr...duaaarrr..kembali suara ledakan terjadi yang merusak beberapa bangunan yang ada.
"Ya Allah....selamatkan lah aku!" doa Rudi yang sedang dalam posisi tertelungkup ditanah.
beberapa tentara terlihat berlari mendekati posisi Rudi yang sedang tiarap, tentara-tentara tersebut segera mengangkat beberapa anak-anak dan menggendongnya untuk pergi menjauh dari lokasi itu.
Suasana semangkin mencekam, ketika tentara mulai terdesak dengan serangan-serangan para pemberontak.
Dilanjutkan dengan beberapa tentara yang datang kembali mendekat berteriak menyuruh para warga yang ada disana untuk segera lari sejauh mungkin dari lokasi tersebut.
Ada wanita-wanita yang segera di tuntun untuk menyelamatkan diri oleh para tentara tersebut.
Seperti situasi mulai terdesak tatkala pesawat musuh kembali datang dan menjatuhkan beberapa bom dari udara.
Bummmm....bummmm...
Ledakan kembali terjadi, dan beberapa tentara tampak menjerit kemudian potongan tubuh pun beterbangan ke udara bersama partikel-partikel dari kendaraan dan bangunan yang ada.
"ayooo...bangit...!" ucap seorang tentara kepada Rudi dengan bahasa inggris.
Tentara tersebut sepertinya dari negara Inggris dengan simbul dilengan bajunya yang dia gunakan.
Mendengar perintah itu Rudi segara bangkit dan berlari menjauh dari tempat itu.
Rudi terus berlari bersama warga lainnya dan para tentara yang membawa mereka.
Di ujung jalan terlihat segerombolan tentara dengan mobil-mobil lapis baja telah berjejer bersiap menghadapi musuh.
Sebuah pesawat milik tentara melewati diatas mereka.
Tak lama kemudian gilitan pesawat pemerintah itu yang menjatuhkan bom ke arah musuh.
Buuuuuummm....buummmm
Ledakan pun terjadi dengan begitu hebat dan terdengar suara-suara jeritan disana.
Rudi terus berlari menuju barisan tentara yang sudah menunggu diujug tempat tersebut.
Tidak berapa lama Rudi pun telah sampai di tempat para tentara itu berbaris.
Dia segera dirangkul oleh seorang prajurit militer untu diberikan keselamatan.
"Hello tuan Rudi!" teriak seorang perwira militer.
Dengan sigap perwira itu segera merangkul tangan Rudi dan membawanya menjauh dari tempat itu.
"Terimakasih Letnan" ucap Rudi kepada perwira tersebut yang ternyata Letnan Andreas Binson.
"Ayo tuan Rudi anda harus segera pergi dari tampat ini" ucap sang Letnan sambil berlari menuntun Rudi ke arah sebuah mobil jeep Militer.
Letnan Andreas segera menyuruh Rudi untuk naik kedalam mobil itu.
Dengan ceketan Rudi pun masuk kedalam mobil jeep tersebut.
Seorang prajurit Militer diperintahkan Letnan. Andreas untuk membawa Rudi menjauh dari tempat itu.
Setelah mendapatkan perintah sang Prajurit itu segera melajukan mobilnya.
"Mau kemana kita?" tanya Rudi.
"Kita akan ke camp tentara tuan Rudi" jawab Prajurit tersebut yang diketahui bernama Mickle dan berpangkat Prajurit satu dari kesatuan Militer Raiders milik tentara Prancis.
Mobil itupun melaju menjauhi lokasi pertempuran, jalanan terlihat sepi dan tak ada seorangpun atau kendaraaan apapun yang melintas.
Hanya saja ada beberapa tentara dan polisi yang telah bersiap siaga dengan alat perangnya.
Mobil Jeep melaju dengan kecepatan tinggi dan tak berapa lama mobil itupun masuk ke area camp Militer milik Prancis.
Mobil jeep itu berhenti di parkiran, lalu Rudi dan Prajurit itu segera turun dari mobil.
Terlihat banyak warga yang mengungsi di camp tersebut, Rudi berjalan mengikuti Prajurit tersebut.
"Tuan, anda bisa istirahat disini" ujar Prajurit tersebut sambil membukakan sebuah kamar untuk Rudi.
"Disini anda aman tuan, Letnan memerintahkan saya untuk selalu menjaga tuan" ujar Prajurit itu.
Rudi tersenyum tipis.
"Terimakasih, dan sampaikan pula salam terimakasih saya kepada Letnan" ujar Rudi.
"Baik tuan" jawab sang Prajurit sambil menganggukkan kepalanya.
Rudi segera masuk kedalam kamar tersebut dan menutup puntunya.
Setelah memastikan kamar Rudi telah tertutup dan posisi Rudi dalam keadaan aman, sang Prajurit itupun berlalu dari kamar itu dan berjaga di depan lorong ruangan.
Didalam kamar yang berukuran 2x3 itu dengan sebuah tempat tidur kecil yang lengakap dengan bantal dan guling serta sebuah lemari kecil.
Rudipun segera meletakkan barang-barangnya di dalam lemari tersebut dan dia memegang kameranya lalu duduk di tepi ranjang.
Dia memastikan kameranya tidak rusak agar gambar-gambar dan rekaman video yang dia ambil tersimpan aman.
Setelah itu tubuhnya mulai diserang letih dan dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tersebut.
Rudi merasa sedikit aman di tempat itu karena dijaga oleh ratusan prajurit Militer serta ada larangan perang untuk tidak boleh menyerang barak militer.
Oleh karena itu dia merasa jiwanya telah terselamatkan dari arena pertempuran.
Rudi mencoba memejamkan matanya dan melupakan bayangan yang mengerikan dari peristiwa perang yang baru saja dia alami langsung di tengah-tengah medan pertempuran.
Ini merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan seoanjang hidupnya.