
Pagi yang masih sangat sejuk di kota Kandahar suasana romantispun masih menyelimuti dua hati manusia.
Dikamar hotel penginapan masih terlihat Rio sadang tidur dengan pulas sambil memeluk tubuh polos Zuridah
Pagi itu masih sekitar pukul 06.00 pagi, Matahari masih keluar dangan merayap, dua anak manusia masih tertidur dengan pulasnya.
Sepertinya mereka berdua sangat letih habis seharian bertempur diatas ranjang.
Tiba-tiba alaram jam berbunyi.
kriiingggggg...kriiinggggh....
Sontak saja Rio terbangun dari tidurnya, pria Belanda itu mencium dahi Zuridah dengan sangan lembut.
Menerima ciuaman itu Zuridah terbangun dan tersenyum manis sambil masih menutupkan kedua matanya.
Zuridah memeluk tubuh Pria tambun asal Belanda itu.
tampa sehelai benangpun yang melekat ditubuh mereka berdua, hanya kain selumut tebal yang menutupinya.
Zuridah merapatkan tubuhnya ke tubuh Rio dan menempelkan kedua bukit kembarnya yang menggantung besar itu di dada Rio.
Beberapa menit kemudian Rio bangkit dari pembaringan dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian Zuridah pun menyusul Rio ke kamar mandi, dia langsung masuk ke kamar mandi yang memang pintunya tidak ditutup oleh Rio.
Mereka berdua sama-sama membersihkan tubuhnya.
Sambil sedikit guyonan Rio mencium leher gadis itu yang telah basah oleh siraman air.
kontan saja Zuridah mendesis menikmati ciuman itu.
Rio kembali bangkit keperkasaannya, dia kembali menyerang tubuh gadis itu.
Tangannya *******-***** dua bukit kembar yang cukup lumayan besar itu.
"Ah..,apakah tuan belum puas?" tanya Zuridah.
"Oh...kamu benar-benar luar biasa" jawab Rio.
Zuridah tersenyum kecil.
"Tapi kita sudah tujuh kali melakukannya ssemalaman" ucap Zuridah.
Rio hanya diam sambil menyerang Zuridah.
Zuridah pun kembali gairahnya memuncak, merekapun kembali melakukan pergumulan itu dikamar mandi.
Hampir satu jam permainan itu usai, Zuridah dan Rio mulai membersihkan tubuhnya dengan mandi bersama.
suasana dipagi itu cukup romantis bagi mereka berdua.
...****************...
...****************...
Sementara itu disebuah bangunan tua yang telah sebagian menjadi puing akibat serangan mortir.
Terlihat disebuah kamar Rudi dan Sherly yang masih tertidur pulas.
Rudi terbangun dari tidurnya, dan dia segera bergegas memakai pakaiannya.
Rudi segera membangunkan Sherly, takut tiba-tiba ada orang yang akan datang ke tempat itu.
Usai mengenakan seluruh pakaiannya merekapun segera pergi meninggalkan bangunan itu yang penuh kenangan cinta satu malam diantara mereka berdua.
Dengan menumpangi sebuah taksi mereka kembali menuju penginapan.
"Rudi..." panggil Sherly.
"Kau sungguh hebat dan perkasa" kata Sherly.
Rudi hanya tersenyum.
"Aku belum pernah melakukan hubungan ini dengan pria Asia" ujar Sherly kembali.
Suasana hening sesaat.
"Dalam semalam, kamu mampu melakukan sampai empat kali" ujar Sherly dengan penuh ketakjuban.
"Apa kamu pernah melakukakan sebnayak itu?" tanya Rudi.
"Tidak" jawab Sherly.
"Aku fikir hanya satu atau dua kali saja dalam semalam" sambungnya.
Dengan senyuman manisnya dan wajah yang sedikit kusut karena keletiahan.
"Mungkin lain kali kita bisa mencobanya lagi" kata Sherly.
Rudi menatap wajah Sherly lama, dan kemudian iapun tersenyum pada gadis itu.
Tidak berapa lama kemudian, merekapun sampai di penginapan.
setelah membayar ongkos taksi, mereka langsung menuju kamar mereka masing-masing.
namun mereka sampat berpapasan dengan Rio dan Zuridah yang sedang makan pagi di kantin.
Mereka tak banyak bicara dan langsung berjalan memasukin ruangan untuk beristirahat.
sesampai dikamar Rio langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya.
tanpa dia menyadari matanya mulai terpejam, meski terkadang fikirannya masih terganggu akan peristiwa yang baru dia alami bersama Sherly.
"Ah...aku tidak menyangka bisa menikmati tubuh Sherly" ucap Rio didalam hatinya.
perlahan matanya terbuka kembali, dia menerawang setiap langit-langit kamarnya.
"Ternyata Sherly adalah gadis yang begitu hot" ucapnya kembali dalam hati, dan diapun mulai tersenyum sendiri.
"Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagiku" katanya kembali di dalam hatinya.
"Aku tidak pernah menyangka akan hal ini dapat terjadi"
"Dibalik pekerjaanku yang keras dan dituntut tanggung jawab, disaat bersamaan pula aku menemukan banyak kenikmatan"
"Seperti batang pihon kaptus ditengah padang pasir, tapi mampu menikmati keadaan" begitu lamunan Rudi.
Matanya masuh menerawang kelangut kamar.
sambil bibirnya sesikit tersenyum.
"Disini aku tidak merasakan kesepian" ujar Rudi kembali.
Perlahan-lahan kini dia mulai diserang kantuk.
matanyapun terpejam dan nyaris tak bersuara.
kini Rudi benar-benar telah terlelap dalam tidurnya.
Pagi itu telah menjadikan warna baru baginya dalam perjalanannya menjadi seorang jurnalistik.
...****************...
...****************...
Sementara itu Rio dan Zuridah masih asyik menikmati makan paginya.
"Bagaimana perasaan tuan saat ini?" tanya Zuridah sambil tersenyum tipis.
Rio tersenyum sambil menarik rokoknya dari bibirnya.
"Kau wanita luar biasa" kata Rio sambil menatap dalam wajah Zuridah.
Sesaat suasana hening.
"Ah...tuan, maaf" kata Zuridah memecah suasana.
"Maksud saya bagaimana kondisi tubuh tuan setelah dipijat?" ucapnya lagi.
"Setelah dipijat, bagaimana keadaan tuan?" ucap Zuridah kembali.
"Hancur...hancur..." jawab Rudi memotong pembicaraan.
"Kau telah menghancurkan tubuhku" kata Rio sambil menatap dalam wajah gadis itu.
"Aku merasa hancur dalam kenikmatan" ucap pria tambun itu kembali.
Suasana kembali sepi.
Zuridah hanya menatap wajah-wajah penuh nafsu yang dikeluarkan oleh Rio.
"Tapi......" kata Zuridah,
"Tapi apa?" sambar Rio.
"Kau sempurna" ucap Rio sambil tertawa pelan.
Zuridah hanya bisa diam saja.
"Lalu bagaimana tuan?" kata Zuridah
"Apakah saya bisa kembali ke kampung halaman saya?" Zuridah kembali memutuskan perkataan dari persoalan tadi.
Rio hanya diam dan mencibirkan bibirnya.
"Sampai saat ini belum ada akses mau kesana" ucap Rio sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apalagi saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya menyerang mereka" lanjut Rio.
Sambil menarik nafas panjang, kemudian Rio menyerutup kopi yang ada didepannya.
Zuridah matanya menatap nanar kedepan, seolah-olah tiada harapan baginya.
"Aku rindu pada anakku" tutur Zuridah.
Suasana kembali hening.
Rio hanya menatap wajah Zuridah saja.
"Aku juga rindu pada ibu ku" lanjut Zuridah.
"Ia...aku tau" sambung Rio
"Aku dapat merasakan apa yang kau rasa" kata Rio meyakini.
"Tapi, percayalah, kau pasti akan kembali"
"Mengapa semua ini terjadi padaku" kata Zuridah, seakan dia menyesali keadaan.
"Setiap manusia punya perjalanan hidup" ujar Rio.
"Kau tak perlu menyesali keadaan" sambung Rio.
"Kamu harus yakin, bahwa kau akan kembali berjumpa keluargamu" kata Rio kembali.
Suasana kembali hening.
Pagi itu suasana sangat tenang, dan membuat mereka terus berlarut dalam suasana hati.
Rio terus menghisap rokoknya.
Asap putih keluar dari sudut bibirnya.
Sementara Zuridah masih menatap nanar kedepan dengan penuh harapan.
Dia tidak tahu kapan dia akan kembali bertemu dengan keluarganya.