"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXVII. Kisah kehidupan



Malam itu suasana pesta di rumah dinas kesehatan tampak begitu ramai hingga larut malam.


Rudi dan Zuridah hanya duduk di meja makan sambil mengobrol bersama.


Tidak berapa lama Rio dan Sherly tampak datang mendekat.


"Hay .... Bagaimana dengan kalian?" tanya Rio. "Mengapa kaluan disini dan tidak ikut berpesta?" sambungnya lagi.


Aku dan Zuridah hanya tersenyum, kelihatannya Rio dan Sherly sudah terpengaruh oleh alkohol.


Tampak dari bau mulut mereka dan jalan mereka yang sedikit sempoyongan.


"Bagaimana jika kita pulang saja?" ajak ku kepada mereka, "hari juga sudah larut," sambungku.


Rio dan Sherly menyetujui usul ku itu.


Kami pun kemudian berjalan keluar dan memanggil dua taksi untuk mengantarkan kami pulang ke motel.


Aku bersama Zuridah dalam satu taksi dan Rio bersama Sherly dalam satu taksi pula.


Taksi itu pun melaju mengantarkan kami sampai ke tujuan dengan menembus jalanan malam di kota Kandahar itu.


Sesampainya di motel kami segera turun dari taksi dan aku membayar ongkos kedua taksi itu.


Sherly dan Rio yang sudah di pengaruhi oleh alkohol terlihat berjalan sambil berangkulan dan sesekali mereka terlihat berciuman.


Aku dan Zuridah hanya menyaksikan mereka sambil berjalan dibelakang mereka.


Sebelum masuk ke dalam kamar Rio mimantaku untuk tidur di kamar Sherly saja bersama Zuridah.


"Hai sobat, malam ini kamu tidur di kamar sebelah saja, aku dan Sherly memakai kamar ini." kata Rio.


Aku hanya tersenyum dan dengan segera Rio menutup pintu kamar itu.


Aku dan Zuridah hanya bertatapan dan kemudian kami pun masuk ke dalam kamar.


"Aku akan membersihkan tubuh dulu," kata ku pada Zuridah.


Kemudian aku masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhku.


Setelah itu aku pun keluar dan menuju sofa.


Terlihat Zuridah juga masuk ke kamar mandi dan keluar dengan menggunakan baju tidur.


"Kamu tidur di kasur saja, dan aku tidur di sifa ini," kata ku pada Zuridah.


Zuridah hanya menganggukkan kepalanya


Malam semangkin larut dan aku pun segera terlelap dalam suasana malam itu.


...****************...


Sekitar pukul setengah tiga pagi aku terbangun, aku merasa hendak membuang air kecil.


Namun saat aku terbangun ku lihat Zuridah masih duduk di sebuah kursi kayu di deoan meja kerja Sherly.


Aku tidak menyapanya, aku langsung saja masuk ke kamar mandi untuk mrmbuang air kecil.


Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku segera menghampiri Zuridah.


"Mengapa kamu tidak tidur?" tanya Rudi.


"Aku belum bisa tidur?" jawabnya.


Aku hanya terdiam.


"Apa ada sesuatu yang kamu fikirkan?" tanya Rudi.


Gadis itu hanya tersenyum, dan menatapku.


"Jika kamu tidak ada masalah, aku akan segera tidur," kata Rudi, "Aku letih, besok aku ada pekerjaan," ucap Rudi kembali sambil berjalan menuju sofa panjang dan segera dia merebahkan tubuhnya di sofa itu.


Hingga pagi menjelang Rudi terbangun dari tidurnya, waktu sudah pukul setengah tujuh pagi, dia melihat Zuridah yang masih tertidur di ranjangnya.


kemudian Rudi beranjak dari sofa dan keluar kamar hendak mengambil pakaian nya.


Namun dia takut kamar itu terkunci, dia segera mengetuk kamar.


Tukkk .. Tukk ... Tukkk ....


Suara ketukan.


Beberapa kali diketuk pintu belum juga terbuka.


Lantas dia mencoba membuka pintu, ah ternyata pintu tidak di kunci.


"Barang kali Rio dan Sherly sudah keluar," kata Rudi dalam hatinya.


Rudi segera masuk dalam kamar, namun alangkah terkejutnya ketiaka dia melihat Rio dan Sherly yang masih tertidur tanpa busana dalam kondisi berpelukan.


Rudi hanya tersenyum melihat pemandangan itu, dia segera mengambil pakaian nya dan segera keluar dari kamar itu.


...****************...


Pagi itu Rudi sudah duduk di warung tempat biasa dua mangkal.


Diapun sedang sarapan pagi dan minum kopi kebiasaannya.


Sampai menjelang siang aku belum juga mendapatkan kabar dari gadis Prancis itu, kemudian aku mencoba menghubungi ponselnya.


Tuuuuttt ... Tuutttt .. Tuuutttt ...


Nada ponselnya berbunyi.


Tidak berapa lama telpon pun diangkat, terdengar suara seorang wanita di sebrang telpon itu.


"Hallo .... sayang" suara dari balik telpon itu.


Itu suara Hellen gadis Prancis yang saat ini aku rindukan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rudi kepada gadis itu.


"Baik, aku baru saja sampai di Kandahar," kata gadis tersebut, "Aku lagi sibuk menyusun barang-barang bawaanku, bisakah nanti aku hubungi kamu?" sambung Hellen.


"Oh baik lah, jika begitu aku akan menunggu kabar darimu," kata Rudi.


Kemudian hubungan telpin itu pun terputus.


Setelah mendapatkan kabar kepastian, Rudi tampak bahagia, wajahnya tersungging senyum manisnya.


Seharian dia menunggu kabar dari kekasihnya itu, barulah menjelang tengah hari dia mendapatkan kabar dari sang kekasihnya itu.


Saat Rudi sedang asik melamun tiba-tiba pundaknya di tepuk.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Zuridah yang datang tiba-tiba.


"Ah tidak, aku hanya memikirkan pekerjaan saja" jawabku sambil tersenyum


"Apa kamu sudah makan?" tanyaku pada Zuridah.


"Makan Pagi sudah," jawab gadis itu.


"Oh kalau begitu, kita makan siang bersama saja!" kata Rudi.


Gadis itu hanya tersenyum dan duduk disamping Rudi.


"Bagaimana dengan anak Eropa itu?" tanya Rudi kepada Zuridah tentang keberadaan Rio dan Sherly.


"Mereka sudah pergi tadi," kata Zuridah.


"Oh ya ...!" jawab Rudi.


Pelayan!


Rudi memanggil seorang pelayan.


"Pesan apa tauan?" kata pelayan wanita itu.


"Saya pesan nasi dan lauk nya dan air putih saja," kata ku.


"Nona pesan apa?" tanya si pelayan itu lagi.


"Saya sama saja seperti tuan itu"


Kemudian pelayan itu segera berlalu.


Tidak berapa lama hidangan pun datang.


Aku dan Zuridah segera menyantap makanan yang sudah ada.


Cuaca cukup panas membuat tenggorokan menjadi kering, aku pun meneguk air putih yang ada.


Hatiku masih terus berdebar, entah apa sebabnya.


Namun fikiranku masih tertuju pada Hellen, aku masih berharap dia menghubungiku untuk melepas rasa rinduku.


"Tuan dari tadi malam saya lihat sering melamun" kata Zuridah yang membuyarkan lamunanku.


"Ah tidak, aku hanya ketih," jawabku.


"Apa tuan mau di pijat lagi?"


Aku terdiam sejenak, gadis itu tersenyum manis padaku.


Gadis Afganistan ini memang sangat cantik, aku menatap wajahnya


Aku pernah menikmati tubuhnya, permainan ranjangnya memang luar biasa, aku sungguh kewalahan.


Memang kenikmatan yang dia beri sangat berbeda dari istri dan Hellen kekasihku.


Disisi lain aku masih ingin melakukan hubungan itu lagi, tapi aku takut terjebak dalam permainan cinta.


Aku harus tetap menjaga dua hati yang sudah ada.


"Ah tiadk! untuk saat ini saya belum ingin di pijat" kataku pada gadis itu.


"Kapan tuan ingin, katakanlah! aku selalu siap untuk tuan?" kata Zuridah.


Aku hanya terdiam mendengar ucapannya itu.


Hari itu aku dan Zuridah hanya ngobrol berdua saja menghabiskan waktu dan hari hingga malam menjemput di Kota Kandahar.