
Ditengah keramaian kota Kandahar aku duduk menikmati makan siang bersama Rio di sebuah warung makan.
"Kapan tugas kita akan selesai disisni?" tanyaku pada Rio sambil menyantap makanan yang ada dihadapanku.
"Entahlah, yang pasti disini masih banyak tugas yang harus kita selesaikan," balas Rio. "Ada apa?" tanya Rio padaku kembali sambil melihatku dengan tidak melepaskan makanan yang dia santap.
"Ah tidak!" Jawabku, "aku baru dapat kabar pagi tadi bahwasannya orang-orang Kedutaanku telah kembali ke Kabul," ujarku pada Rio yang juga sambil menikmati makan siang itu.
"Lalu, kau akan langsung ke Kabul setelah dari sini?" tanya Rio.
"Benar! Aku tidak akan singgah lagi ke Herat," jawabku.
Kami masih terus melahap makan siang itu bersama, ditengah kota yang panas membuat tenggirokanpun sering kering, untuk itu air mineral harus sering kami bawa untuk mengisi kekeringan dahaga setiap kali kali melakukan peliputan.
Piring-piring bekas makan kami kini telah dibersihkan satu persatu oleh pelayan, aku menyalakan sebatang rokok untuk menikmati suasana hati selepas makan siang itu.
"Besok aku akan mengantarkan Zuridah kembali ke kampungnya," kataku sambil menyandarkan tubuhku ke kursi dengan melepaskan asap rokok yang kuhisap ke udara.
"Apa kau sudah menepukan bantuan?" tanya Rio kepadaku.
"Belum! Tapi akau akan menghantarkannya saja esok pagi sendiri," ucapku sambil menengadahkan kepala ke langit-langit tempat itu.
"Kamu serius! Disana lagi bahaya kawan...!" Kata Rio, "situasi disana tidak bersahabat, markas pengacau ada disana!" katanya dengan nada agak keras.
"Dia tidak boleh berlama-lama disini?" kataku, "kenapa..?" jawab Rio, "apa kamu takut jatuh cinta padanya?" tanya Rio kembali sambil tersenyum.
"Ah kamu! Aku sedang serius!" ucapku dengan mimik wajah serius dan ku kerutkan kulit dahiku.
Rio tampak tersenyum melihatku, namun sessaat suasana hening.
"Gadis itu terlalu bahaya jika dia berlama-lama disini," kataku kembali, "ya terserah anda saja tuan! Aku tidak ada masalah," jawab Rio.
"Ok, lalu apa yang akan kamu kerjakan sekarang?" tanya Rio. Aku diam dan hanya menarik nafas panjang.
"Rasanya hari ini aku akan istirahat saja," jawabku sambil menarik hisapan rokok yang tinggal separoh itu.
Rio hanya menggerutkan dahinya saja sambil mencibirkan bibirnya.
...****************...
Sepulang aku dari makan bersama Rio aku hanya berada di kamar saja, sambil memainkan laptop milikku dan membuka catatan kecil harianku.
Beberapa catatan kutulis dalam lembar notes kecil itu sebagai bahan kerja maupun perencanaannya, namun entah mengapa aku teringat kepada Hellen, sudah hampir dua minggu sejak aku disini aku tidak memberikan kabar kepadanya.
Iseng aku mengambil ponselku, aku ingin menuliskan sebuah puisi untuknya, lalu kuketik pinsel itu dengan sebait puisi sebagai pesan singkatku.
YOU ARE THE ONE I MISS
Very beautiful your face full of glory, your smile is like a sharp bullet through my heart, oh my juwita, this heart really misses you, he is like a grenade that will explode, like the rubble of a slashed soul, you are the one I miss in my soul, there is no direction in my heart without you, my path is steep like thorns piercing my feet, you are the charm of my soul, your smile has broken my veins, your gaze has torn my soul, and you have made me die in the silence of my longing....."From me".
Kemudian puisi itupun aku kirimkan kepadanya lewat SMS, sambil tersenyum aku melihat ponselku, tertulis dilayar kacanya "pesan terkirim".
Aku menantikan balasan darinya, sambil terus memainkan laptopku.
Kringggg...kringgg..kringgg... Tak berapa lama ponselku berdering, lalu kulihat dilayar tertera nama Hellen.
Wooow, betapa senangnya aku, akhirnya dia menelponku, kemudian segera aku mengangkat telpon darinya sambil memperbaiki posisi dudukku.
"Hallo.." Jawabku.
"Puisi yang sangat indah," katanha padaku.
"So sweet," jawab gadis itu di ujung telponnya.
"Aku merindukanmu sayang," ucapku.
"Aku juga sangat rindu kamu," jawabnya.
"Bagaimana keadaanmu disana?" katanya padaku, "mengapa sudah hampir dua minggu tidak mengirim kabar untukku?" ungkapnya dalam kerinduan.
"Oh Tuhan, aku sungguh mengkhawatirkanmu," katanya.
"Aku sangat bingung memikirkan keadaanmu disana," ujarnya padaku.
"Berapa lama lagi kamu akan disana?" Tanya dia kepadaku.
"Aku belum tau, masih benyak pekerjaan yang belum aku selesaikan," kataku padanya.
Sesaat suasana hening.
"Besok aku akan kembali ke Kabul," kata Hellen padaku.
"o ya? Bagaimana dengan tugasmu di Herat? Apa sudah selesai?" Tanyaku padanya.
"Belum, tetapi perang di Kabul kembali memuncak, banyak korban disana," katanya padaku.
"Iya, aku juga akan langsung ke Kabul jika tugasku sudah selesai disini," jawabku.
"sayang....!" Katanya padaku.
"Aku sangat merindukanmu, kapan kita bisa bertemu?" Katanya lagi padaku.
"Akupun demikian, tetapi tugasku belum berakhir," kataku padanya.
"baiklah sayang, nanti kita lanjut kembali, aku ada pekerjaan," katanya padaku.
"I miss you, I love you, and always forever," ucapnya padaku.
"Me too, always love you, hug and kiss for you," balasku.
"Ok, bye...bye..!" ucapnya sambil mengakhiri telpon itu.
Ah betapa senang aku hari ini sudah memberikan kabar padanya, senang sudah mendengarkan suaranya.
Bahagia itu datang dari jiwaku yang paling dalam, meski dua bahagia harus ku berikan, pertama kepada istri dan anakku dan yang kedua dengan Hellen martinez kekasihku.
Cinta memang membuat orang menjadi gila, kadang harus berbohong dalam satu dunia, dan terkadang harus jujur dalam kepahitan.
Tidak bisa kita melepas rasa cinta yang datang, sebab itu adalah anugrah terindah yang Tuhan berukan pada kita, cinta bisa mendamaikan hati dan dunia, namun cinta bisa juga mengadirkan perselisihan dan permusuhan.
......................
Sore itu Rudi menemui Zuridah di kamarnya, tok..tok..tok..! Suara pintu kamar diketuk oleh Rudi, tak berapa lama terlihat Sherly keluar dari kamar.
"Aku ingin bertemu dengan Zuridah," kataku. Kemudian tampak Zuridah keluar dari kamir, mereka bertiga berdiri di depan pintu kamar itu.
"Ada apa?" kata Zuridah sambil menatap wajah Rudi.
"Besok pagi aku akan mengantarmu kembali kekampungmu," kataku sambil menatap wajah Zuridah dan Sherly.
Terlihat Sherly sedikit terbengong, sementara Zuridah hanya menggerutkan dahinya sambil menganggukkan kepalanya.
"Hei! Dengan apa kamu akan mengantarkanya?" Kata Sherly dengan membesarkan bola matanya.
"Aku sendiri yang akan menghantarkannya!" kata Rudi sambil tersenyum kecil.
"Apa kamu yakin!" ucap Sherly kembali dengan mimik wajah yang serius.
Tampak Sherly begitu khawatir, sebab kampung halaman Zuridah adalah tempat dimana banyaknya sarang para pengacau.
"Kamu jangan terlalu yakin!" Kata Sherly memastikan.
Arghabad merupakan kampung halaman dari Zuridah, daerah itu merupakan sarang dari para pengacau, itulah yang sangat ditakuti oleh Sherly, daerah tersebut cukup berbahaya bagi orang asing.
Akan tetapi Rudi sudah begitu yakin dengan keadaan itu, dia tetap akan menghantarkan Zuridah kembali, sehingga Rudi meminta untuk Zuridah berkemas untuk keberangkatan esok pagi