"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XLII Kenangan kota Kandahar



Waktu telah menunjukkan pukul 13.25 siang, tiba-tiba ponsel Rudi Budiman berdering.


Kriiiiinggg... Kriiingggggg....


Suara dering ponselnya itu membangunkannya dari tidur.


Rasa letih sangat menyerangnya hari itu, setelah semalaman bertempur dengan wanita Belanda sang Wartawati itu.


Ia mengabaikan panggilan ponselnya.


Sampai beberapa kali berdering, barulah ia benar-benar bangun untuk mengangkatnya.


Oh ternya yang menelponnya adalah Pemimpin Redaksi tempat dia bekerja.


"Haloo..." kata Rudi setelah dia mengangkat teleponnya.


"Selamat siang Rudi" kata pak Fery Hariadi sang Pemimpin Redaksinya.


"Saya tau disana saat ini sudah siang" lanjut Pemred tersebut.


"Bagaimana pekerjaan anda disana?" tanya Pak Fery kembali.


"Alhamdulillah pak berjalan dengan baik" jawab Rudi.


"Banyak berita-berita anda yang masuk dan telah naik cetek, saya berharap anda bisa bekerja dengan terus semangat" kata Pak Fery.


Rudi sedikit tersenyum.


"Bagaimana? apakah anda masih betah disana?" tanya Pak Fery.


"Oh insya Allah pak, saya masih betah dan kuat" jawab Rudi.


"hehe..baguslah, itu yang saya harapkan" kata Pak Fery kembali.


"Oh ya, sejak berita-berita perang di Afganistan tersebut, kita bantak mendapatkan kerja sama dari beberapa media dalam dan luar negri" kata pak Fery.


"Hari ini sebuah Media dari Thailand dan Singapura akan menandatangani kerja sama antar media" lanjutnya "Media Online kita menjadi buruan media-media asing" katanya kembali.


"Untuk itu banyak fee yang akan kamu dapatkan nanti" ucap pak Fery kembali.


"Alhamdulillah, terimakasih pak" jawab Rudi sambil tersenyum.


"Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya pak Fery kembali.


"Ee...maaf untuk saat ini belum ada pak!" kata Rudi.


"Ok, kalau begitu saya akan memberikan tugas baru untuk kamu" kata Pak Fery, "Apa kamu sanggup?" lanjutnya.


"Apa itu pak?" tanya Rudi dengan penasaran.


"Kamu akan saya angkat menjadi kepala Kontributor wilayah Timur - Tengah dan Turkey" kata Pak Fery


"Apa kamu sanggup?" tanya Pemred itu.


Rudi terdiam tak banyak kata, seolah dia tidak percaya kalau dia akan mendapatkan jabatan baru.


"Halooo...halooo" suaara Pak Fery.


"I...iiiyaaa pak...siap pak" jawab Rudi dwngan sedikit gugup.


"Baiklah, kalau begitu saya akan mempersiapkannya semua" kata nya lagi.


"Minggu depan saya akan ke Afganistan, saya mencari kantor perwakilan disana untuk kamu dan staf mu nanti" kata pak Fery lagi.


"Siap pak" jawab Rudi.


"Oke, untuk itu nanti saya akan hubungi kamu lagi" kata Pak Fery.


kemudian telepon itu pun ditutup dan berakhirlah pembicaraan mereka.


...****************...


...****************...


Menjelang malam hari suasana di kota Kandahar masih terlihat sepi tidak seperti biasanya yang selalu ramai akibat perang yang baru terjadi kemarin.


Kota itu kini nampak lengang, sebagian penduduknya banyak yang mengungsi entah kemana.


Sementara itu Rudi baru saja terbangun dari tidurnya, hampir seharian ia tidur hari ini.


Rasa letih memang sangat menyengat tubuhnya setelah bekerja lalu menggempur gadis Belanda itu kemarin hingga pagi.


Dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi agar tubuhnya kembali segar.


Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaiannya.


Rudi melihat jam di dinding kamar hotel tersebut.


waktu telah menunjukkan pukul 19.05, dimana kini perutnya terasa mulai lapar.


Diapun segera keluar kamar dan menuju kantin di lobi motel tersebut.


Pelayan..!!


"Mau pesan apa tuan?" tanya pelayan itu.


"Emmm..saya pesan nasi seperti biasa, dengan air putih dan kopi hitam" kata Rudi.


"Baik, tuan" pelayan itu segera berlalu


Suasana kantin itu malam ini sedikit lebih lebih ramai.


Matanya tertuju ke semua penjuru arah ruangan kantin itu.


Dia tidak melihat Rio, Sherly ataupun Zuridah.


Tidak berapa lama Pelayan itupun datang dan membawakan pesanan Rudi.


"Silahkan tuan" kata pelayan itu sambil tersenyum.


Rudi hanya tersenyum, kemudian ia mengucapakan Terimakasih kepada pelayan itu yang segera berlalu.


Rudi menyantap makan malambitu yang juga sekaligus sebagai makan siang


Memang seharian Dia belum makan apapun, wajar saja jika dia merasa begitu lahap menyantab hidangan.


Tidak berapa lama diapun selesai makanan malam.


Rudi duduk menatap seluruh ruangan, kemudian dia membakar rokok filternya.


Perlahan dan pasti diapun menghisap rokoknya, dan kepulan asap putih keluar dari sudut-sudut bibirnya.


Sambil menyerutup kopinya dia sesaat terbayang akan peristiwa kemarin saat bercinta dengan Sherly.


Tidak pernah ia fikirkan sebelumnya untuk dapat menikmati tubuh wanita Belanda itu.


Dia terlihat tersenyum-senyum sendiri membayangkan adegan itu.


Suatu peristiwa yang sangat tidak akan bisa dia lupakan seperti saat dia meliput berita Manca Negara saat ini.


ting..tung..


bunyi Sms HP nya membuyarkan lamunannya seketika itu.


Diapun segera membuka isi pesan tersebut.


Sesaat Rudi terlihat kaget.


Tertulis si pengirim pesan bernama Hellen.


Iya, itu adalah pesan dari kekasihnya Hellen.


"Hallo sayang, aku sangat merinduimu" demikian isi pesan tersebut.


Rudi seketika tersenyum menerima pesan itu, dan segera dia membalas pesan tersebut.


"Ya...aku juga merinduimu sayang" jawab Rudi pada pesan Sms nya.


Hari itu Rudi dan Hellen saling berkomunikasi lewan pesan singkat yang ada dipinsel mereka.


...----------------...


...----------------...


Sementara itu Rio dan Sherly sedang mengajak Zuridah untuk mencari jalan menghantarkannya kembali ke kampung halamannya.


Mereka menemui beberapa pejabat pemerintahan yang mereka kenal, namun sayang mereka tetap belum dapat izin untuk pergi ke daerah perkamoungan Zuridah.


Kampung Zuridah kini merupakan salah satu basis tempat para pengacau berada.


Kampung tersebut kini menjadi target penyerangan oleh pihak pemerintah


Mendengar hal tersebut, Zuridah merasa sangat sedih dan dia begitu khawatir melihat nasib orang tuanya dan putrinya yang berada ditempat itu.


Zuridah sempat meminta kepada pihak pemerintah untuk mendapatkan izin menghubungi keluarganya.


Namun seluruh jaringan akses ke tempat tersebut kini telah diputis oleh pemerintah.


Rio dan Sherly tak bisa banyak membantu akibat daerah tersebut benar-benar merupakan wilayah zona merah.


Perkampungan itu sangat jauh dari kota, sehingga para pengacau mudah berlindung di tempat itu.


Pemerintah Kota Kandahar dan Pemerinta Negara Afganistan bersama para sekutunya telah merencanakan penyerangan ke tempat itu.


Menurut informasi banyak juga penduduk yang ditawan oleh pihak pengacau itu.


Di Kandahar sendiri ada tiga wilayah yang menjadi basis Zona mereh dan telah ditetapkan menjadi pusat yang akan digempur oleh pihak Militer.


Kesedihan Zuridah tidak dapat dia sembunyikan, air matanya terus berlinang, entah apa yang terjadi dengan keluarganya disana.


Hubungan telpon mmemang telah diputus oleh puhak pemeruntah beberapa hari lalu, setelah ditetapkannya perang terbuka oleh pemerintah beberapa minggu lalu.


Sherly mencoba menenangkan Zuridah, dia memeluk gadis itu dan berusaha membujuknya untuk tetap tenang.