"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXVIII. Cinta dan Kerinduan



Pagi itu matahari telah menunjukkan sinar terangnya di Kota Kandahar.


Mata ku juga baru terbuka dari tidur yang indah sepanjang malam.


Tiba-tiba sebuah SMS masuk di ponsel ku, dan aku segera membukanya yang bertuliskan nama Hellen.


"Oh dia mengirimkan pesan kepadaku,"


"Sayang, apakah kamu sudah bangun dari tidurmu? Aku berharap agar kau selalu sehat. Bisakah sore nanti kita bertemu? Aku mrnunggumu di taman kota"


Demikian isi pesan SMS dari Hellen.


"Baiklah sayang, pukul lima sore nanti aku akan menemuimu"


Balas pesan dariku.


Aku merasa bahagia dan cukup senang, hari ini aku akan bertemu dengannya, aku sudah sangat merinduinya.


Tiba-tiba Rio menepuk pundak ku, "Hei ... ada apa denganmu?" kata Rio yang memperhatikan ku tersensum sendiri.


"Ah tidak ....!" kata ku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Rio hanya memperhatikanku saja.


Seusai mandi aku segera ke kantin motel tempat biasa aku mangkal.


"Aku mau sarapan, gimana, apakah kamu mau ikut?" kataku.


"Hmm ... Nanti aku akan menyusulmu," jawab Rio


"Baiklah, aku kesana duluan," ucapku kemudian.


Rudi segera berlalu keluar dari kamar dan dia segera menuju kantin untuk sarapan pagi.


Pelayan!


Segera seorang pelayan menghampiri.


"Mau pesan apa tuan?"


"Aku pesan Roti bakar dan segelas Cappucino"


Pelayan itu segera berlalu dan kembali sambil membawakan pesananku.


Aku segera menyantap roti bakar tersebut sebagai sarapan pagi ku.


"Pagi tuan?"


Sherly menghampiri ku bersama Zuridah.


Terlihat Sherly tersenyum menyapaku, krmudian dia duduk didepanku dan memesan makanan untuk nya dan Zuridah.


Aku hanya diam dan terus me ikmati sarapan pagi ku.


Sherly dan zuridah tampak berbincang-bincang dengan hangat sambil sesekali tertawa kecil.


"Bagaimana keadaanmu kemarin?" tanya ku sedikit mengorek keterangan darinya tentang kebersamaan nya dengan Rio.


"Aku baik saja," jawab Sherly sambil menggerutkan sedikit dahinya.


"Hari ini kau tampak begitu ceriah," tanya ku kembali.


"Pasti kamu mendapatkan kencan yang indah kemarin bersama Rio," lanjutku.


Gadis itu tersenyum penuh arti.


"Benar, kemarin adalah kencan terbaik ku," katanya.


"Are you guys making love?" tanya ku.


"That's right, we made love so perfectly" kata Sherly.


Aku tersenyum mendengarnya.


"Do you guys have *** too?" tanya Sherly kepadaku.


"Tidak! Aku dan Zuridah tidak melakukan itu" jawabku.


Mengapa ....


"Kami hanya tertidur karena sudah letih" jawab Zuridah.


"Mengapa kalian tidak mengambil kesempatan itu?" tanya Sherly kembali.


Aku dan Zuridah hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.


"Oh maaf ...!" kata Sherly.


Pagi itu seperti biasa kami hanya bercerita tentang pengalaman dan keadaan yang terjadi kemarin.


Beberapa hari ini memang keadaan perang sedikit mereda hingga kami bisa saling istirahat memanfaatkan waktu dalam mencari berita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang sore aku bersiap-siap untuk menuju ke taman kota, dengan membersihkan tubuhku dan menggunakan pakaian yang bagus serta tak lupa pula dengan parfum sebagai pengharum tubuhku.


Waktu telah menunjukkan pukul 16.30 sore, aku segera menuju jalan raya untuk menunggu taksi.


Sebuah taksi berhenti, kemudian aku segera menaiki taksi itu dan menuju taman kota.


Sesampai di taman itu Rudi lantas menuju ke sebuah tempat duduk yang terbuat dari batu alam.


Setengah jam kemudian Hellen tiba di lokasi itu dengan mengendarai sebuah taksi.


"Hai, apa kabar mu sayang?" tanya Hellen kepada Rudi sambil duduk di dekat nya.


"Kabar ku sangat baik,"


"Aku sangat merindui mu, bagaimana keadaan mu?" tanya Rudi sambil mengusap-usap pipi Hellen.


Hellen tersenyum dengan memegang pergelangan tangan Rudi yang kekar sambil menempelkan wajahnya di tangan Rudi yang sedang mengusap-usap pipi nya dengan lembut.


"Aku baik, aku pun merindui mu!" jawab Hellen sambil tersenyum penuh kerinduan.


Rudi seketika itu nencium dahi Hellen dan gadis itu pun memejamkan mata nya menikmati kecupan dari Rudi.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Helen.


"Belum, bagaimana dengan kamu?" kata Rudi.


"Aku juga belum makan," jawab Hellen, "Nanti kita makan malam bersama ya?" lanjut Hellen.


Hari yang sangat indah bagi dua sejoli yang sudah di landa rasa rindu dan cinta.


Langit yang begitu indah dan cerah sore itu sangat bersahabat dengan keadaan dua hati yang saat ini sedang menyatu dalam cinta.


"Hellen, aku sangat mencintaimu dan merindui mu" kata Rudi.


"Aku pun demikian, hari demi hari aku merasa kesepian, aku merasa telah di mabuk cinta, bagaikan meminum ratusan botol wiski membuat kepala pusing akibat api cinta yang melandaku, aku tak ingin jauh dari mu," ucap Hellen sambil memandang dengan sayu wajah Rudi.


"Benerkah yang kau katakan?" ucap Rudi.


Hellen menganggukkan kepalanya, kemudian dengan mata terpejam dia mencium bibir Rudi.


"Hellen, kau gadis yang selalu membuat jantungku berlari kencang, setiap menatap wajahmu, denyut jantungku bagaikan seorang pelari maratoon yang menempuh jarak ratusan kilometer."


"Entah mengapa, aku bisa mencintaimu dengan penuh kasih sayang, aku merasa bangga bisa memiliki mu, disni .... di dalam hati ini," kata Rudi.


"Oh Tuhan, aku pun demikian, tidak ada kata yang bisa aku ucapkan kepadamu, semua bagai membisu, semua telah alpa, dan aku mencintaimu ....." kata Hellen.


Kemudian Hellen memeluk erat tubuh Rudi.


"Sayaaaang .... i love you!" kata Hellen di telinga Rudi.


"Aku juga mencintaimu!" kata Rudi.


Angin yang berhembus sejuk membuat suasana romantis itu semangkin terasa.


"Bagaimana dengan hubungan kita selanjutnya, mau kah kau menikah denganku?" kata Rudi sambil menatap mata Hellen.


Hellen sesaat terdiam, bibirnya bergetar dan matanya menatatap tajam ke arah Rudi.


"Kamu mau menikahiku?" tanya Hellen.


Rudi menganggukkan kepalanya.


Sebutir air mata keluar dari mata Hellen, "Oh Tuhan ...." ucap Hellen, "Aku mau menjadi istrimu!" kata Hellen sambil memeluk Rudi.


Rudi kemudian menatap wajah Hellen dan matanya menatap ke leher Hellen yang menggunakan sebuah kalung lambang salah satu agama yang dia yakini.


Rudi memegang kalung itu.


"Ini membedakan kita!" kata Rudi.


Hellen terdiam dan melihat kalungnya.


"Aku tau, kau seorang Muslim," kata Hellen


"Aku sudah lama ingin belajar tentang Muslim, sebenarnya sejak aku kuliah, aku sudah tertarik kepada Muslim!" kata Hellen.


"Mengapa kau tertarik pada agama yang aku anut?" kata Rudi.


"Damai dan indah!" kata Hellen sambil memandang sebuah masjid yang tak jauh dari lokasi itu.


"Aku melihat keindahan di atas pucuk kubah itu," kata Hellen sambil ujung jari telunjuk nya menunjuk ke arah kubah mesjid.


"Di atas kubah itu melambangkan bulan yang begitu aku kagumi,"


"Bulan sabit dan bintang-bintang...." kata Hellen


"Tidak ada satu agama pun ku temui memakai lambang keindahan langit itu!"


"Bintang yang indah, aku ingin bintang itu menjadi saksi cintaku padamu," kata Hellen sambil menatap Rudi.


"Ajarkan lah aku tentang kubah itu, beri tau aku tentan Muslim yang ada di hatimu," kata Hellen sambil memegang dada Rudi.


"Tintun aku untuk mengenalnya!" ucap Hellen kembali.


Rudi pun terdiam tidak ada satu katapun yang terucap.


Suasana hening dan sepi di tengah keramaian sore itu.