
Seperti yang telah di janjikan, sore itu Rudi telah tiba di taman kota dan duduk di dekat pohon yang sangat besar.
Dia menunggu kedatangan Hellen di tempat tersebut.
Setengah jam kemudian Hellen tiba di tempat itu dan langsung menghampiri Rudi yang tengah duduk santai di bawah pohon besar.
"Hai sayang ..." sapa Hellen.
Dengan tersenyum Rudi pun membalasa sapaan tersebut.
"Bagaimana dengan kabarmu hari ini?" tanya Rudi, saat itu Hellen mengambil duduk tepat disamping Rudi.
Dengan tersenyum Hellen matap Rudi "aku baik saja hari ini."
"Ok, aku sangat senang mendengarnya," kata Rudi
"Apa kamu sudah lama berada disini?" tanya Hellen sambil menatap wajah Rudi.
"Kurang lebih setengaj jam!" sambut Rudi, "apa kamu sudah makan?" tanya Rudi kembali.
"Aku sudah makan," jawab Hellen, "lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Hellen masih tetap memandang Rudi.
"Ya, aku tadi sudah makan roti bakar," jawab Rudi.
"Kamu hari ini tampak lebih cantik," kata Rudi.
Hellen tersipu malu "Ah kamu pintar menggoda wanita!" kata Hellen.
"Tapi kenyataan nya memang begitu bukan?" kata Rudi, "itu bukan sekedar pujian .... Hmmm tetapi lebih dari pada itu!" ujar Rudi.
Mendengar itu Hellen tampak begitu bahagia.
"Pria Asia sangat romantis!" kata Hellen sambil tersenyum lepas.
"Lalu bagaimana? Apakah kamu akan mengajarkan ku tentang Muslim?" kata Hellen.
"Hmmm ... Ia, aku akan tetap mengajarkanmu," jawab Rudi.
"Aku akan mengajarkanmu dasar dari Muslim itu dan juga sebagai kunci utama nya!"
"Oh ya .... Apa itu dasar dari pada Muslim?" tanya Hellen.
"Muslim itu adalah dua kalimat ucapan syahadat," kata Rudi, "Apa itu Syahadat?" tanya Hellen kembali dengan keseriusan.
"Syahadat itu adalah sebuah ikrar persaksian diri kita kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam, Tuhan ku dan Tuhan mu serta Tuhan nya seluruh penjuru dunia!" kata Rudi.
Hellen tampak serius mendengarkannya.
"Jika ingin menjadi Muslim maka syarat utama nha adalah mengucapkan dua kalimat tersebut," ujar Rudi, "jika telah mengucapkannya maka dia sudah berada du dalam jalan agama Islam," sambung Rudi.
"Apa saja kalimat itu?" tanya Hellen serius.
"Ashadu'laillaha'illaulah - Waashadu'annamuhammdarasulullah" ujar Rudi.
"Kalimat pertama adalah ke Tauhid an, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah," kata Rudi lagi, "dan kalimat kedua adalah mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi dan utusan Allah," sambung Rudi.
Hellen hanya diam dan meresapi apa yang disampaikan oleh Rudi.
"Jika kau mencintaiku, dan aku pun mencintaimu, maka jalan kita harus berada dalam dua kalimat syahadat itu, untuk membangun istana cinta kita di dunia dan di surga!" ujar Rudi.
"Kita harus satu kepercayaan, satu keyakinan, satu akidah, satu cinta, aku kau dan Allah," sambung Rudi kembali.
Sambil memegang bahu Hellen "kita akan berada dalam satu Agama ....!" ujar Rudi.
"Kalimat itu sangat indah, baru sekarang aku mendengarnya," kata Hellen.
"Apakah aku juga harus mengucapkan dua kalimat itu?" sambung Hellen.
"Jika kau ingin menjadi Muslim, itu pasti dan wajib, sebab dua kalimat itu adalah syarat utamanya," kata Rudi.
"Aku tidak bisa menyebutkannya!" kata Hellen.
"Aku akan membimbingmu jika kau serius!" ujar Rudi.
"Jika kau telah mengucapkannya, maka peganglah kalimat itu sampai kau mati seperti mana kau mencintaiku sampai ajal datang!" kata Rudi.
Sesaat Hellen termenung dan meresapi semua kata-kata Rudi.
Suasana menjadi hening hanya semilir angin yang bertiup sore itu di tengah padang pasir yang mengeluarkan udara sedikit panas.
"Kapan kamu akan menuntun ku untuk mengucapkan kalimat itu?" kata Hellen.
"Kapan pun saat kau telah siap untuk masuk agama Islam!" jawab Rudi.
"Dan satu hal, jika kau telah mengucapkan kalimat itu, maka kau secara otomatis sudah masuk dan memeluk agama Islam," kata Rudi, "maka aku mohon fikir kan lah dahulu sampai hatimu telah kokoh!" ucap Rudi.
"Aku tidak memaksa mu untuk masuk ke agamaku, seperti mana aku tidak memaksamu untuk mencintai ku!" kata Rudi kembali.
"Aku tidak terpaksa, dan aku sudah bertekad untuk itu!" jawab Hellen.
Mendengar ucapan itu Rudi terdiam dan menatap serius wajah Hellen.
Dengan lembut Rudi mengelus rambut kekasihnya itu dan kemudian dia memeluk erat tubuh Hellen sambil membisikan kata "i love you belle fille," di telinga Hellen.
Hellen pun membakas pelukan itu dan tersenyum mesra sambil berkata "love you to,"
Cinta mereka kini semangkin erat dan tumbuh ditengah padang pasir Afganistan.
Perjalanan Rudi ke Afganistan telah membawanya kepada percintaan baru kepada seorang gadis bule asal Prancis itu.
Hellen yang ternyata ingin memeluk agama Islam sejak masih duduk di bangku kuliah telah dibukakan jalan oleh Tuhan untuk benar-benar menjalankan agama Islam didalam jiwa nya.
"Apakah hanya itu saja bila sudah menjadi Muslim?" tanya Hellen kembali.
"Islam dibangun atas lima perkara!" kata Rudi.
"Apa itu?" tanya Hellen kembali.
"Dua kalimat syahadat, sholat, puasa, zakat dan berangkat menunaikan ibadah haji jika mampu!" ujar Rudi.
"Sholat! Apa itu?" tanya Hellen.
"Sholat kata lain dari sembahyang, adalah mengabdikan diri kepada Allah Tuhan semesta alam, dalam sehari ada lima waktu kita akan beribadah dan itu yang dilakukan oleh seorang Muslim setiap saat di Mesjid yang pernah kamu lihat!" ujar Rudi.
"Oh sayang, aku sungguh tidak tau bagaimana bisa aku melakukan itu?" kata Hellen.
Rudi tersenyum lepas "sayang, kamu nanti akan aku ajarkan pelan-pelan tentang itu!" kata Rudi.
"Pastilah kamu tidak bisa untuk semua nya, aku faham, sebab kai baru akan menjadi seorang Muslim!" kata Rudi kembali.
"Aku beruntung mengenalmu dan mencintaimu," kata Hellen.
"Kamu pria yang dapat membimbingku," ucap Hellen sambil memeluk pinggang Rudi dan merebahkan kepalanya di dada Rudi.
"Apa kamu suka alkohol?" tanya Rudi.
"Sangat suka!" jawab Hellen.
"Jika nanti kamu sudah menjadi Muslim, kamu harus berhanti minum, karna itu merupakan salah satu barang yang dilarang dan haram!" kata Rudi.
"Apakah aku harus meninggalkannya?" tanya Hellen.
Rudi menganggukkan kepalanya.
Rudi memang sangat menyayangi Hellen, dia juga serius dan penuh kesabaran menuntun Hellen tentang Islam, dan dia juga berharap agar Hellen kelak jika menjadi jodohnya dia akan menjadi seirang Muslimah yang baik.
Namun disisi lain Rudi juga masih bingung dengan status nya yang masih menjadi suami sah Ismiati.
Apakah dia akan berkata jujur nantinya kepada istrinya atau kah dia akan menutupi Hellen dari Ismiati.
Semua ini menjadi kemelut jiwa Rudi.
Dia tampak harus menjadi seorang lelaki yang baik, namun disisi lain dia telah terperosok dalam cinta nya Hellen yang begitu dia sayangi.
Gadis muda itu benar-benar telah merusak hati Rudi sehingga dia tidak mampu menghindar dari yang namanya cinta.