"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXII Keluarga Bahagia



Seharian Rudi dan Keluarganya mengadakan pesta syukuran dihari yang penuh kebahagian dalam proses kehidupannya.


akhirnya sesuatu yang tanpa di duga dan direncanakan keluarga itu mendapatkan sebuah hadiah terindah oleh Allah.


Hingga malam hari ketika tamu dari keluarga dan juga tetangga serta teman dekat mereka telah pulang, kini Rudi dan keluarganya kumpul di ruang tengah.


Ilham yang tampak begitu letih seharian mengikuti acara orang tuanya sudah tampak tidur di sofa.


Rudi pun segera menghampiri putra kecilnya itu, dia mencium dahi Ilham dan membelai rambutnya.


Kemudian dia memapah tubuh kecil pitranya untuk dibawa masuk kedalam kamar nya.


"Kakak belum tidur?" tanya Rudi kepada Salsabila putri sulungnha yang lagi asyik nonton tv.


"Belum, sebentar lagi yah" jawab putri nya.


"Jangan malam-malam tidur, ini sudah malam, dan besok kakak sekolah" ujar Rudi kepada anak nya.


"Iya yah, nanggung" ucap gadis kecil itu kembali


Rudi berjalan masuk kekamarnya untuk mengganti pakaian.


Ismiati yang baru selesai mandi tampak keluar dari kamar mandi dan segera menuju kamar tidurnya untuk menukar pakaian.


Tidak berapa lama Rudi pun segera keluar dan duduk disamping Putrinya yang sedang menonton tv.


Rudi tersenyum melihat putrinya yang sudah menjadi gadis remaja itu.


"Bilah mau tidur ya yah, sudah malam" kata Salsabilah sambil berlalu dari tempat itu dengan tersenyum kepada ayah nya.


Rudi tampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum pula bagi anaknya.


Ismiati yang pada saat bersamaan keluar dari kamarnya dan kemudian langsung duduk di samping Rudi dengan menggunakan gaun tidur tanpa lengan.


"Mas, apa selanjutnya rencana kita?" tanya Ismiati.


"Ya, kita akan pindah kerumah baru itu pasti, sayangkan rumah itu tidak ditempati?" ujar Rudi.


"Lagian rumah kita ini sudah terlalu sempit" sambung Rudi.


"Apa kita tidak sayang dengan rumah ini?" ucap Ismiati.


"Lagian bagaimana dengan usaha saya? Kan tidak mungkin karyawan saya ikut pindah?" sambung Ismiati.


Rudi terlihat menarik nafas perlahan.


"Rumah ini tetap kita pakai, kita jadikan temapat usaha kamu" ucap Rudi.


"Jadi disini kamu bisa lebih leluasa membesarkan bisnis kamu, sekalian jadikan kantor untuk usaha" sambung Rudi.


Ismiati terdiam dan berfikir sejenak.


Dia mencermati kata-kata suaminya, "benar juga ya, lebih baik rumah ini dijadikan tempat usaha dan kantor, sebab bisnis ku lagi naik-naik nya, dan siapa tau mas Rudi mau membantu menambah modal dan memperbaiki rumah ini untuk dijadikan kantor" bisik Ismiati didalam hatinya.


"Mas, usaha buah ini kan sudah lumayan besar, dan hasilnya juga sudah cukup lumayan, disisi lain permintaan juga sudah sangat meningkat, apa mas mau menambahkan modal untuk usaha saya?" tanya Ismiati.


Rudi kemudian tersenyum sambil merangkul istrinya.


"Mas akan menambah modal yang kamu butuhkan, jika perlu rumah ini kita rehab dan dijadikan kantor disini" kata Rudi.


"Kemungkinan juga, mas akan membuat kantor mas di rumah ini selain di luar negri nantinya, agar mas bisa sering kembali ke Indonesia" sambung Rudi.


Mendengar ucapan suaminya Ismiati tersenyum sumringah sambil meletakkan kepalanha di bahu suaminya.


"Besok, kita siap-siap untuk memindahkan barang-barang kita ke rumah baru" kata Rudi.


"Sekarang yuk kita tidur, hari sudah larut" sambung Rudi.


Ismiati menganggukkan kepalanya.


Rudi segera mematikan televisi dan juga lampu-lampu ruangan yang ada, dan hanya menyisakan lampu kecil yang dibiarkan tetap nyala di beranda rumahnya.


Mereka berjalan memasuki kamar tidurnya.


Rudi segera merebahkan tubuhnya ditempat tidur tersebut, begitu pula dengan Ismiati yang berada disampingnya.


"Mas capek ya?" tanya Ismiati.


Rudi tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa udah ngantuk juga?" tanya Ismiati kembali.


"Apa mas nggak ingin bercinta malam ini?" tanya Ismiati dengan malu-malu dan senyum kecil.


Rudi tersenyum tipis, "Kamu pingin?" tanya Rudi perlahan.


Ismiati tidak menjawab dia hanya tersenyum.


Rudi tau apa maksud istrinya itu.


Kemudian dia segera memeluk tubuh Ismiati dan mencium bibir wanita itu.


Ismiati mulai menikmati permainan yang dilakukan oleh Rudi tatkala satu demi satu pakiannya telah telah terbuka.


Rudi memahami betul keinginan sang istrinya, sebab sudah begitu lama juga wanita ini tidak disentuh.


Rasa beda sangat dirasakan oleh Rudi saat menyentuh pertama kali istrinya kemarin malam setelah tiga tahun dia tidak menyentuhnya.


Ismiati begitu pandai merawat tubuhnya, dia bagaikan seirang gadis kembali setelah lama tidak tersentuk.


Rasa nikmat luar biasa didapatkan Rudi dari istrinya itu.


Meski sudah melahirkan, tetapi cengkraman kenikmatannya masih begitu terasa.


Rudi terus mencumbui istrinya dengan sangat bergairah.


Dia menyesep bibir istrinya dangan sangat rakus.


Begitu pula dengan Ismiati yang membalas dengan lebih rakus nya.


Kini Rudi memainkan dua bukit kembar milik Ismiati.


Bukit itu seperti bentuk buah Pepaya panjang yang matang.


Dia segera meraup buah itu dengan tangan kekarnya.


Diremas dan diaminin puttiing nya dengan tangan kekarnya.


Rudi pun memainkan buah itu dengan mulutnya juga hingga sampai pada puncaknya.


Rudi segera memasukkan rudal miliknya kedalam liang Ismiati.


Bunyi decak yang berirama dari dua kulit yang bersentuhan terdengar begitu khas.


Akkkhhh..sssatpp...


Suara ******* keluar dari bibir Ismiati, dia begitu menikmati permainan yang disuguhkan oleh suaminya tersebut.


Sesekali Ismiati mengambil posisi diatas dengan penuh semangat.


Dia bagaikan seorang penunggang kuda yang sangat lincah dan penuh pengalaman.


Terkadang pula dia bagaikan seorang penari yang begitu lincah memainkan pinggulnya.


Rudi sangat menikmati kelincahan istrinya tersebut.


Hingga akhirnya hampir satu jam Rudi sudah tidak tahan untuk berlama-lama, dia merasa ada sesuatu lahar panas yang akan memuncrat.


Semua sudah terkumpul di kepala nuklir miliknya.


Rudi dengan segera membalikkan tubuh istrinya kebawah dan kini dia dalam posisi diatas yang seperti sorang pemacu yang sedang memengendalikan pelana kuda.


Nafas mereka saling memburu siring dengan kecepatan mereka terus meningkat memacu kuda yang berlari sekencang-kencangnya.


Hingga akhirnya Rudi sudah tidak mampu lagi bertahan dan segera melepaskan lahar panasnya dengan semburan yang sangat jauh kedalam liang Ismiati berkali-kali.


Dengan bersamaan Ismiatipun menyemburkan lahar panas miliknha juga hingga bertemulah kedua lahar tersebut.


Masssss.....aaaaaaakkkkghhhh.....


Suara gerengan Ismiati ketila lahar itu memuntahkan seluruhnya.


Dengan menarik tubuh Rudi dan mencengkramnya dengan erat, bola mata Ismiatipun membesar dan membulat dengan sempurna.


Dia begitu puas dengan permainan itu, hingga seluruh urat tubuhnya menegang.


Lama mereka berpelukan hingga mengendur dengan sendirinya urat-urat syaraf milik mereka.


Peluh keringat membasahi tubuh suami istri tersebut, dengan kemudian Rudi merebahkan tubuhnya disamping istrinya.


Ismiati yang masih terlihat tersengal-sengal nafas nya dan memejamkan matanya dengan merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara hingga akhirnya mereka berdua benar-benar terlelap dalam peraduan cinta.