
Usai makan Hellen mendekati Zuridah yang sedang menidurkan Arzetta.
"Kalau dia sudah tidur, nanti kamu letakin dia dikamar ya?" kata Hellen kepada Zuridah.
"Baiklah" jawab Zuridah.
Karena hari sudah larut, waktu telah menunjukkan pukul 21.00 maka Hellen beegegas menuju ke kamar tidurnya.
Setelah didalam kamar dia segera mengambil posisi disamping Rudi yang tengah tertidur pulas.
Hellen sengaja tidak mengunci pintu kamar karena anaknya Arzetta masih bersama Zuridah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari baru saja menyingsing di ufuk timur Kota Kandahar yang merupakan salah satu kota besar di Afganistan.
Udara seperti biasanya diwilayah timur tenangah terasa sangat panas dan menyengat, padahal waktu masih pukul 6.20 menit.
Rudi baru saja terbangun dari tidurnya, terasa sangat berat tubuhnya setelah seharian dia tidur.
Matanya membelalak kesana kemari, terlihat suasana dipagi itu sangat begitu damai.
Terdengar suara berisik dari luar kamar.
Lantas dia segera menju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar terlihat lebih segar.
Tidak berapa lama, Rudi telah selesai dari kamar mandi dan dia mengenakan celana pendek serta baju kaos.
Selanjutnya dia segera keluar dari kamar tidurnya.
Tampak diluar Hellen bersama Arzetta sedang bermain dengan sangat ceria.
Rudi lantas menghampiri ibu dan anak itu.
"Hai..., kamu sudah bangun sayang?" kata Hellen.
"Yes..." jawab Rudi sambil mencium pipi iatrinya itu.
Arzetta tampak melihat asing kepada Rudi.
Ya, gadis kecil itu memang tidak begitu tanda dengan ayahnya tersebut.
Wajar saja karena dia maaih sangat kecil sehingga sangat mudah lupa kepada orang lain, apalagi jika jarang dia melihatnya.
Rudi teeus mengajak Arzetta bermain meski anak itu hanya sekedar melihatnya.
Bak orang asing, Arzetta menangis saat akan di gendong oleh Rudi.
Dia meronta ingin ikut dengan mamanya, namun Rudi tetap saja menggendongnya agar Arzetta mengenali dirinya adalah Papanya.
"Hello Arzetta, ini papa lo, kok nangis..." kata Rudi kepada anaknya.
Namun Arzetta terus meronta seperti ketakutan.
Namun Rudi tidak menyerah, dia terua menunjukkan beberapa mainan kepada anaknya.
Seperti biasa, namanya anak kecil jika dilihati mainan dia akan lupa akan ketakutannya.
Arzetta tertawa saat melihat mainan kesayangannya.
Hellen yang melihat hal itu sayangat senang, dia tersenyum pada Rudi.
Memang Rudi sudah sangat berpengalaman menjadi seorang ayah.
Dia sangat mudah membujuk anaknya untuk tenang dan segera mengajak putrinya bermain.
Tawa riang diwajah Rudi tersembul saat putrinya sudah sedikit akrab padanya.
"Nyonya Hellen dan Tuan Rudi, maaf..., sarapannya sudah siap" kata Zuridah yang tiba-tiba muncul sehingga memecah suasana saat itu.
"Oh, ya kami akan segera kesana" ucap Hellen kepada Zuridah sambil tersenyum.
"Sayang, mari kita makan dulu" ajak Hellen kepada Rudi.
Rudi menganggukkan kepalanya.
Sambil menggendong Arzetta Rudi dan Hellen berjalan beriringan menuju ruang makan.
Hidangan telah tersaji di meja makan tersebut.
Rudi dan Hellen segera mengambil tempat duduk mereka yang saling berhadapan.
"Mari tuan, biar Arzetta saya yang jaga" pinta Zuridah kepada Rudi yang masih menggendong putrinya itu.
Rudi segera memberikan Arzetta kepada Zuridah.
Pagi itu suasana begitu sangat hangat.
Sebernarnya Rudipun sangat mencintai Hellen dan juga Ismiati istri pertamanya.
Dia tidak pernah membeda-bedakan cintanya antara satu dengan yang lainnya.
Begitu pula dengan anak-anaknya.
Kasih sayang dan cintanya sepenuh hati dengan dua wanita yang saat ini hidup bersamanya.
Walaupun kehadiran Hellen tidak pernah dia beritahukan kepada Ismiati.
Diapun masih menjaga perasan istrinya yang pertama.
Namun dalam hati kecilnya, dia mempunyai niat untuk memperkenalkan Hellen kepada Ismiati sebagai istrinya yang telah dia nikahi.
Dia berharap Ismiati dapat menerima semua ini dan dapat menerima kenyataan tersebut.
Namun rasa itu entah kapan akan dia sampaikan kepada Ismiati.
Saat ini momentnya memang belum tepat, namun suatu hari nanti dia akan menceritakan semua ini, dan dia yakin bahwa Ismiati akan menerimanya.
"Apa hari ini kamu bekerja?" tanya Rudi kepada Hellen disaat menyantap makanan.
"Benar, hari ini aku bekerja" jawab Hellen.
"Selepas makan aku akan segera berangkat" sambung Hellen sambil melirik jam tangannya.
Rudi hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati hidangan.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" tanya Hellen.
"Hari ini aku libur" jawab Rudi.
"Ya...., mungkin satu dua hari ini aku akan bersama kalian disini" ucap Rudi kembali.
Hellen tersenyum mendengarnya.
Tidak berapa lama mereka telah selesai makan dipagi itu.
Hellen segera meninggalkan Rudi dan menuju kamar tidur untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Rudi pun menuju ke ruang tamu dan melihat televisi.
Sejurus kemudian Hellen keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian gamis Muslimah hijau dengan dipadukan hijab yang berwarna hijau pula.
Sebuah tas dia sandang dipundaknya menambah kesan indah pada gadis bule tersebut.
Rudi yang melihat Hellen dengan busana seperti itu sangat bahagia dan dia tersenyum.
Ternyata Hellen telah menetapi agamanya dengan baik dan benar.
Tidak seperti dulu saat pertama kali dia beejumpa dengan Hellen.
Diamana waktu itu Hellen masih menggunakan busana sepertimana umumnya gadis-gadis Eropa yang serba terbuka dan minim.
"Aku pergi dulu ya sayang" ucap Hellen kepada Rudi sambil menyalami dan mencium tangan Rudi.
Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri milik Rudi.
"Kamu hati-hati ya" ucap Rudi.
Hellen tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkan Apartemen tersebut untuk berangkat ke kantornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di Indonesia Istri Rudi Ismiati yang bersama anak-anaknya sangat bahagia menikmati hasil jerih payah suaminya itu, sekalipun dia dan kedua anaknya tidak mengetahui jika Rudi telah menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan di Afganistan.
Hari itu merupakan hari pertama bagi Ismiati berangkat ke kantornya.
Sekarang Ismiati telah memiliki kantor yang mana dahulu adalah rumah yang dia tempati bersama sang suaminya.
Rumah itu menjadi saksi atas usaha mereka, oleh sebab itulah rumah tersebut tidak akan pernah dijual oleh Rudi dan Ismiati.
Rumah mereka itu yang saat ini menjadi tempat produksi pengemasan makanan ringan yang telah mulai berkembang ditangan Ismiati.
Pengiriman barangpun sudah dilakukan ke luar kota, baik kota-kota yang ada di Sumatera Utara maupun kota-kota di Jawa dan Pulau Sumatera lainnya.
Keluarga Ismiati yang ada di Jawa membantu penjualan untuk wilayah tersebut.
Hal ini yang membuat usaha Ismiati menjadi sangat berkembang dan diminati oleh banyak masyarakat.
Ismiati saat ini hanya duduk di kursi sebagai seorang bos, dia mengatur segala sesuatunya hanya dengan perintah saja.
Karyawannyapun telah banyak, yang semula hanya dari para tetangga dekat saja, namun kini dia sudah mulai membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang diluar dari tempat tinggalnya.