"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB- XIV. Peristiwa satu malam



Hari ini aku akan mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Zuridah dan mengembalikannya kepada keluarganya di kampung halamannya di Arghandab.


Aku mencoba bertanya kepada beberapa pihak agar dapat cara menuju kampung gadis tersebut.


Seharian aku mencari informasi akhirnya menjelang sore hari aku bertemu dengan salah satu kepala dinas sosial di Kandahar, beliau bersedia membantu kepulangan Gadis itu dengan jalur darat esok pagi.


Setelah mendapatkan info tersebut akhirnya akupun kembali ke penginapan untuk memberitahukan tentang hal tersebut kepada Zuridah.


Sore itu sebelum sampai di penginapan aku mampir ke sebuah warung untuk membeli makan malam buat aku dan zuridah.


Sesampai aku di penginapan aku langsung masuk ke dalam kamar.


Gadis itu terlihat sedang tidur di dalam kamar.


Memang tadi pagi waktu aku tinggalkan dia berada dikamar ini,aku berpesan kepadanya agar jangan meninggalkan kamar ini.


Aku pun segera membangunkan gadis tersebut.


Setelah dia bangun dari tidur dan sedikit mengusap-usap matanya dengan tangannya.


"Aku membawakan makanan untukmu," kataku .


"Bangunlah dan makanlah dulu!" ucapku lagi.


Gadis itu hanya tersenyum


"Atau kamu mau mandi dulu?" kataku kembali.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis


Lalu dia mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Aku kemudian duduk di sofa sambil membuka Laptop ku.


Tak lama berselang gadis itupun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur tanpa lengan berwana putih susu dengan rambut yang panjang dan dibiarkannya terjuntai karena basah.


Gadis Afganistan ini memang sangat cantik, dia mempunyai kulit yang bersih dan berhidung mancung dengan lesung pipi yang indah di pipinya.


"Makanlah dulu!" kataku kembali sambil menawarkan sebungkus nasi.


Gadis itupun duduk disampingku dengan mengambil sebungkus nasi yang aku belikan tadi untuk dia.


"Aku dapat bantuan dari pemerintah untuk mengantarkan kamu pulang esok," kataku.


dengan mata yang berbinar gadis itupun sangat senang mendengarnya


"Tuan begitu baik,sebelumnya aku ucapkan terimakasih," kata gadis itu.


Sambil melahap makanan nya aku terus bekerja dengan laptopku.


Tetapi sebagai seorang lelaki aku tidak memunafikkan diriku melihat gadis ini.


Sambil mencuri-curi pandang aku melihat gadis ini dengan lahapnya makan.


Dengan gunung kembarnya yang lumayan besar sedikit terguncang.


Dan baju yang putih seperti itu aku bisa leluasa melihatnya.


Bajunya yang hanya sebatas pahanya yang mana aku juga dapat menikmati pahanya yang besar dan mulus itu.


"Tuan asli dari Indonesia?" tanya gadis itu kepadaku sambil membuyarkan otak ku tentang tubuh indahnya.


"Benar, aku dari Indonesia!" jawabku.


"Apa nona pernah ke Indonesia? Atau apa kamu mengenal daerah di Indonesia?" tanyaku kepadanya.


"Aku tidak tau Indonesia, tapi aku pernah mendengar Negri itu," jawabnya.


"Apa tuan sudah ada keluarga?" tanya gadis itu kembali


"Aku punya seorang istri dan dua orang anak," jawabku.


"Pasti istri tuan cantik dan mempunyai putra putri yang tampan dan cantik," ucapnya.


"Ah ... Istriku hanya seorang ibu rumah tangga biasa." jawabku kemudian.


"Apa nona sendiri sudah punya pacar atau sudah menikah?" tanyaku.


"Aku pernah pacaran dulu waktu aku berusia 19 tahun?" katanya.


"Oh ya ... lalu bagai mana sekarang tentang kabar pacar nona itu?" tanya ku.


Gadis itu terdiam.


Zuridah menarik nafas sedikit panjang.


"Pacarku sudah kembali ke negaranya!" jawabnya.


"dia seorang perwira tentara Amerika," lanjutnya.


"Wah hebat dong nona bisa punya pacar orang Amerika" kataku.


"Terus bagai mana apa dia tidak pernah kembali lagi kemari untuk bertemu dengan nona?" tanyaku menyelidiki.


"Waktu itu aku masih sangat muda dan lugu," ungkapnya memulai kisah hidupnya.


"Aku hanya seorang gadis kampung yang bodoh," ujarnya sambil melemparkan pandangan ke langit kamar.


sesaat aku terdiam mendengar ceritanya..


"Pacarku mungkin seusia dengan tuan! usianya pada waktu itu sudah 43 tahun," ucap gadis itu.


"Dia kembali ke negaranya dan kini telah berkumpul kembali dengan anak dan istrinya" Zuridah bercerita tentang dirinya.


"Maksud nona dia sudah berkeluarga?" tanyaku sambil menggerutkan dahiku.


"Benar" jawabnya.


"Ketika dia berpacaran denganku dia sudah punya keluarga," katanya sedikit menitiskan air matanya.


"Entah lah, waktu itu aku memang bodoh, aku merasa senang punya kekasih orang Amerika yang tampan," jawabnya.


"Apa dia tidak cerita kalau dia sudah punya istri?" tanyaku kembali


"Dia bilang jika dia sudah punya istri dan anak," katanya.


"Tapi cinta telah membutakan ku!" jawab gadis itu.


"Dia begitu sayang dan penuh perhatian padaku!" lanjutnya.


Aku hanya terdiam saja mendengarnya.


"Aku sungguh terlena pada waktu itu, hingga melupakan segalanya" katanya.


"Dia sering memberikan aku uang untuk biaya pengobatan ayahku," katanya kembali


"Ayahku lumpuh dan ibuku hanya bekerja sebagai buruh di pabrik." ucapnya melanjutkan.


"Dia selalu mengirim aku uang dan membelikan segala keperluanku," ucap gadis itu kembali


Gadis itupun terus bercerita tentang dirinya.


"Setahun lebih lima bulan kami berpacaran" ucapnya.


"Masa-masa itu sangat indah dan romantis," ujarnya sambil menundukkan wajahnya.


"Dia lelaki romantis yang menghanyutkanku!" ucapnya kembali


Sesaat gadis itu terdiam dan suasana menjadi sunyi.


"Satu minggu sebelum dia kembali ke negaranya, dia mengajakku ke sebuah tempat yang indah," katanya


"Benar ... hari yang tak dapat aku lupakan sampai saat ini dan seumur hidupku!" ucaonya lagi sambil matanya berkaca-kaca.


"Hari itu dia benar-benar romantis dan menyanjungku," melanjutkanbkisahnya dengan mata menerawang.


"Hari itu pula dia mengambil keperawananku!" katanya sambil meneteskan air mata mengenang kisah nya.


"Waktu itu aku tidak tau apa-apa, aku masih sangat muda dan aku hanya tau cinta" ucapnya.


"Seharian kami melakukan itu hingga tengah malam ia mengantarkanku pulang kerumah," katanya kembali.


kemudian gadis itu terisak-isak dalam tangisnya.


Akupun merasa terharu mendengarnya.


Aku matikan laptopku dan aku duduk lebih dekat kepadanya untuk dapat mendengarkan kisahnya.


"Satu minggu tanpa henti kami melakukan hubungan badan, setiap sore hari dia menjemputku dan menjelang tengah malam ia mengantarku pulang," gadis itu melanjutkan kisahnya.


"Hingga sampai suatu hari diapun ditarik kembali ke negaranya." smbungny.


"Dia pamit dan berjanji akan kembali untuk menikahiku!" katanya kembali sambil menangis.


"Tapi sampai saat ini diapun tak pernah kembali dan memberikan kabar kepadaku," sambil disusul tangisnya


"Tiga bulan kepergiannya, tanpa aku sadri akupun hamil dan mengandung anaknya!"


"Aku tidak tau harus bagaiman, ketika ayah dan ibuku memarahi aku!" katanya sambil terus menangis


suasana kembali hening dan hanya terdengar suara tangis kecil gadis ini.


Akupun hanya bisa terdiam dan terharu mendengarnya.


"Akhirnya aku, ayah dan ibuku bisa terima anak yang aku kandung!"


"Hingga aku melahirkan dan membesarkan anakku sendiri saat ini," ceritanya kembali


"Karena putri kecilku inilah yang membuat aku semangat mencari kerja!"


"Dan akhirnya aku mengenal seorang wanita di kampungku,"


"Dia sangat baik, dialah yang membawaku kemari dan menjualku ke pria hidung belang," gadis itu bercerita dengan iringan tangis.


"Oh sangat malang gadis ini," fikirku.


Kasihan sekali nasibnya.


Tak lama suasana hening, dan tiba-tiba ponselku berbunyi.


Kriiiingggg ... Kriingggg ....


Oh dari kantor dinas menelphonku.


Aku segera mengangkat telpon itu.


Setelah kuterima telpon itu ternyata ada kabar tidak baik dari sana.


Mereka belum bisa mengantarkan gadis ini, sebab jalan menuju ke arah kampung gadis ini sedang di blokade.


Pemerintah sedang melakukan pembersihan disana terhadap warga yang dianggap menjadi pemberontak.


Lantas kabar inipun aku sampaikan kepada Zuridah.


Dia hanya terdiam.


"Mungkin dalam beberapa hari kedepan kita berharap agar semua bisa normal kembali dan kamu bisa kembali ke kampungmu!" ucapku.


Tak lama kemudian Rio pun masuk dan menyapa kami.


Benar, dia baru saja pulang dalam tugas peliputannya.


Tak berapa lama kemudian Sherly pun masuk ke kamar dan langsung menemui Zuridah.


Akupun bercerita tentang hal yang baru aku terima dari telepon masalah kepulangan Zuridah yang gagal.