"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XXI. Camp Amerika



Setelah sampai di depan pagar barak dari tentara Amerika, aku dan Rio mencoba untuk masuk kedalam, namun kami dihadang oleh seorang Prajurit militer berpangkat Kopral Satu, "mau kemana kalian?" kata Kopral itu kepada kami dengan menggunakan bahasa Inggris, "kami hendak bertemu pimpinan kalian," jawab Rio kepada Kopral itu, "darimana asal kalian? Apa kalian mempunyai surat ijin untuk bertemu?" jawab Kopral itu, "tidak! Kami tidak memiliki ijin," jawab Rio, Kopral itu kelihatan sedikit emosi, matanya membesar dengan mimik wajah yang ketat, "hei, berani kali kalian bertemu pemimpin kami tanpa surat ijin?" kata si Kopral tadi, tampak dua orang Prajurit Militer Amerika teman si Kopral itu datang mendekat, yang satu berpangkat Prajurit Kepala dan seorang lagi berpangkat Kopral Dua, "mau apa kalian kemari!" bentak mereka, "mereka mau bertemu dengan pimpinan kita, tapi mereka tidak mengantongi surat ijin," kata si Kopral Satu itu kepada temannya, "berani sekali kalian!" ucap si Prajurit Kepala, suasana sedikit tegang, "apa kalian mau membuat kerusuhan disini!" kata si Kopral Dua, tiba-tiba mereka membalikkan tubuhku dan Rio, mereka menyandarkanku ke dinding tembok pembatas, si Kopral Dua itu sedikit menekan belakang leherku dengan siku tangannya yang besar, mereka menyita segala isi tas yang kami bawa, leherku terasa sangat sakit saat diperlakukan seperti itu, "hei, mengapa anda begitu kasar kepadaku?" ucapku, "diam kamu!" bentak si Kopral Dua itu, kulihat Rio tubuhnya sedang dijatuhkan ketanah oleh si Prajurit Kepala itu, posisinya tertelungkup ditanah dengan kedua tangannya diletakkan dibelakang, lutut si Prajurit Kepala itu menekan pinggul si Rio, sementara si Kopral Satu itu sedang sibuk menggeledah isi tas bawaan kami.


Dor..dor..dor...dor...dor...dor... Terdengar suara tembakan di udara, para tentara itu kemudian melepaskan kami, seorang pria berpangkat Mayor mendekat "hei, itukan si tuan Mayor Leonard?" kataku dalam hati, Mayor itu terlihat mengibrol dengan tiga anak buahnya yang menangkap kami, kulihat Rio sudah bangkit dan dia mengibas-ngibaskan debu yang ada di tubuhnya.


Mayor itupun berjalan mendekatiku, aku masih memegang dan memijit-mijit leherku yang masih terasa sakit akibat tekanan siku tangan si prajurit keparat itu.


"Hei, anda rupanya tuan Rudi?" kata si Mayor itu kepadaku, Rio tampak kebingungan melihat Mayor itu mengenalku, "wah rupanya ingatan tuan masih kuat," kataku, "ya..ya..bagaimana kabar anda," tanya dia sambil menyalami tanganku, "mari masuklah ke kantorku," ajak Mayor Leonard kepadaku, kemudian aku dan Rio berjalan dibelakang Mayor itu ke ruangannya. Seorang Perwira pertama berpangkat Letnan Dua membukakan pintu Mayor tersebut ketika kami akan masuk kedalam ruangannya, "mari, silahkan duduk," kata Mayor Leonard.


"Ada perlu apa anda kemari?" kata Mayor itu, "saya kemari hanya untuk mencari informasi tentang pasukan Amerika," kataku, "oh, anda benar-benar seorang Koresponden yang pintar rupanya," kata si Mayor itu, "apa yang kau perlukan dari kami?" kata si Mayor itu lagi, "aku hanya mau tau tentang data-data perang yang ada," kataku, "oh ya, ini temanku, dia seorang Reporter Tv Belanda, namanya Rio," kataku sambil memperkenalkan Rio kepada Mayor itu. "oh ya, senang bertemu anda," ucap Mayor itu.


"jika anda memerlukan data sebagai bahan berita, mari ikut saya ke ruang informasi," dia mengajak kami keluar menuju ruang informasi, kamipun mengikutinya dari belakang menuju ruangan itu. Setelah sampai dia mengajak kami masuk kedalamnya, "ini ruangan informasi, kalian bisa temukan segala info disini, baik koran, tv dan radio hingga film dokumenter," kata Mayor itu. Aku dan Rio melihat ruangan itu, ruangan itu sangat besar, banyak sekali orang didalamnya, aku tidak tau, apakah mereka wartawan juga atau bukan. "Ok tuan, silahkan anda cari segala informasi yang anda butuhkan," kata Mayor itu, "baik, terima kasih tuan Mayor," kataku.


"aku ambil ini aja," kataku sambil membawa kaset film dokumen itu, "ya mungkin aku memerlukan surat kabar ini aja," katanya kepadaku, "ok, kalau begitu, mari kita pulang?" ajakku, setelah mendaftarkan barang yang akan dibawa dimeja informasi, kami langsung keluar meninggalkan barak tersebut.


Dengan berjalan kaki diatas trotoar-trotoar jalanan, kami menyusuri kota Kandahar, "bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Rio, "apa kamu sudah lapar?" tanyaku, "sedikit lapar!" katanya, aku hanya tersenyum, "kalau begitu mari kita cari warung dekat sini," ajakku, kamipun berjalan mendekati sebuah warung kecil diujung lorong, kamipun mengambil tempat duduk, seorang pelayan pria keluar dan menghampiri kami, "mau pesan apa tuan," tanya orang itu dengan bahasa arab, "saya caffein aja," kataku, "aku minta nasi dengan ayam goreng," kata Rio. Selanjutnya pelayan itu masuk kedalam untuk membuatkan pesana kami.


"aku sangat muak dengan kelakuan si Kopral itu," gumam Rio, "oh rupanya dia masih mengingat kejadian itu," kataku dalam hati, sambil tersenyum aku hanya mendengarkan ocehannya saja. "jika dia bukan tentara, aku kan ajak dia berkelahi," ucapnya lagi, hahahahahahaha, aku tertawa mendengar ocehannya, "eh mengapa kau tertawa?" tanyanya, "tidak, aku hanya kaget aja mendengar ucapanmu," kataku sambil tersenyum, "ternyata kamu punya nyali yang cukup kuat juga," kataku.


Kemudian pelayan yang tadi keluar dengan membawa pesanan kami, setelah pesanan tersedia di meja Rio segera melahap pesanannya, sementara aku hanya meminum caffein yang kupesan, aku melihatnya makan dengan sangat lahap yang membuat tubuhnya bertambah tambun.


Makanan telah habis, kini Rio duduk bersandar di kursi, terlihat dia sudah sangat kenyang, sambil mengelus-ulus perutnya yang buncit, tampaknya dia sudah tidak dapat bicara lagi, aku kemudian meneguk caffein untuk membasahi kerongkonganku, "cuaca disini memang cukup panas," ucap Rio, "jika banyak pantai, aku akan berjemur," katanya lagi, "Rudi, apa kamu suka berjemur?" tanya Rio, "tidak, aku tidak suka panas," kataku, "bagaimana dengan pantai di Bali," tanyanya, "apa kamu pernah ke bali?" tanyaku kepadanya tanpa menjawab pertanyaannya, "pernah, tapi sudah cukup lama," jawabnya, "ya, aku sendiri juga sudah lama tidak kesana, aku kurang tau juga keadaan disana sekarang," kataku. Kamipun mengobrol santai dihari itu hingga menjelang sore.