
Matahari pagi sudah bersinar sangat tinggi, aku dan Rio baru saja terbangun dari tidur.
Rasa lelah masih menyelimutiku akan tetapi aku mencoba untuk bangkit dari pembaringan.
Dengan berjalan gontai aku mengambil sebuah handuk yang tergantung di dinding kamar, lalu aku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Seusai aku mandi lantas aku mengganti pakaianku yang sudah berbau tak sedap, karena dari kemarin aku belum mandi.
Kulihat kini Rio mengambil handuknya dan segera menuju kamar mandi.
Setelah berpakaian akupun menuju keluar kamar untuk mencari makan.
Namun saat aku didepan pintu kulihat Zulidah keluar dari kamarnya, kemudian akupun menyapanya.
"Bagai mana kabar nona hari ini?" tanyaku.
Sambil tersenyum diapun menjawab pertanyaanku.
"Aku baik saja, bagaimana dengan tuan juga?" tanya Zulidah kepadaku.
"Baguslah, kalau aku baik saja" jawabku.
"Oh ya, apa nona sudah makan?" tanyaku
"Aku belum makan" jawabnya.
"Kalau begitu mari kita makan sama" ajakku kepadanya.
Dengan senyum manisnya iapun berjalan menghampiri ku dan kemudian kami pun berjalan menuju restautan yang ada di depan losmen.
Kami pun makan bersama di pagi itu, dan kami juga bercerita bersama tentang keadaan kami dihari kemarin.
Sambil menyerutup kopi hitam, aku dan Zulidah saling berbagi cerita dan keakraban sudah terjadi.
Tiba-tiba Rio dan Sherly datang dan segera bergabung bersama kami.
Mereka memesan sarapan pagi untuk mengisi perut mereka.
kemudian setelah makan kami pun bercerita dan mengobrol bersama hingga tengah hari.
Rio dan Sherly kemudian meminta ijin untuk pergi karena ada sesuatu yang ingin mereka kerjakan.
Aku hanya duduk saja bersama Zulidah.
"Apa tuan tidak bekerja hari ini?" tanya Zulidah
"Tidak, aku ingin istirahat hari ini" jawabku
"Aku sangat letih, dan sepertinya aku butuh Massage" jawabku kembali
Zulidah hanya diam.
"Hmmmm ... Jika tuan ingin massage aku bisa" jawabnya sambil tersenyum.
Aku menatap wajahnya dalam-dalam.
"Apa nina bisa massage?" tanya ku sambil tersenyum.
"Aku pernah massage orang dikampung" jawabnya kembali
"Kalau memang tuan membutuhkannya aku bisa" katanya kembali
Sejenak aku berfikir.
"Dari pada aku sakit, lebih baik aku suruh aja gadis ini untuk memijatku" ucapku dalam hati.
"Baiiklah kalau begitu, mari kita kembali ke kamar" ajakku.
kemudian kami pun berjalan menuju kamar losmen.
Sesampainya di dalam kamar Zuridah menyruh aku untuk melepas seluruh pakaianku dan hanya mempergunakan handuk saja.
Setelah aku melepas seluruh pakaian di kamar mandi aku langsung menggunakan sebuah handuk saja yang melilit ditubuh ku.
Kemudian aku berjalan menuju tempat tidur.
"Berbaringlah" perintah gadis itu.
dan aku pun segera membaringkan tubuhku dalam posisi tertelungkup.
Kemudian gadis itu kulihat sedang sibuk dengan minyak urut yang akan dia gunakan untuk memijatku.
Dia lalu mendekat dan naik ketempat tidur.
Kini jari-jari lembutnya telah menempel di punggungku, dia mulai memainkan jari-jari lentiknya memujat seputaran bahaku.
"Oh betapa lembutnya jari gadis ini" ucapku dalam hati.
Tubuhku telah di olesi minyak olehnya, mulai dari atas sampai ke pinggangku, dia memijat-mijatnya dengan lembut dan berirama.
Akupun sangat menikmati sentuhan jari-jarinya yang lentik.
Aku pun terus menikmati setiap sentuhan-sentuhan tangannya.
Gadis itu terus melakukan pijatannya ditubuhku hingga ke bokongku, kemudian dia mengangkat kaki kananku dan memijat-mijatnya mulai dari paha, betis hingga telapak kaki, begitu dia lakukan dengan kedua kakiku.
Rasa letih yang ada di kedua kaki ku seketika hilang setelah dipijat oleh gadis itu.
Hampir setengah jam ia memijat tubuh bagian belakangku.
Kemudian dia memintaku untuk aku membalikkan tubuhku.
Aku segera mengikuti perintahnya,kemudian aku membalikkan tubuhku, kini posisiku dalam keadaan telentang.
Gadis itu kemudian memijat bahuku tepat di sekitaran leherku
"Oohh sungguh nikmat sekali" ucapku dalam hati.
Mataku mencoba memandang wajahnya ,dan kemudian kulihat dia tersenyum indah kepadaku.
Senyumnya sangat menggoda.
Tangannya kini mulai turun didadaku, dia mulai memijat-mijat dua dadaku, dan kemudian keperutku.
oh aku sedikit mulai merasakan kelelakianku sedikit bangkit.
Jantungku berdebar-debar seketia, saat aku memandangi wajahnya, dia tersenyum nakal dengan terus memijat daerah dekat area sensitifku.
perlahan Zuridah membuka handuk yang aku gunakan, dan kini aku hanya menggunakan ****** ***** saja.
Dia memijat kaki-kaki ku, dan diseputaran wilayah kelelakianku.
"Oh .... terasa geli dan nikmat" lenguh ku seketia.
Tanpa kusadari kini pajantanku mulai bangkit, kulihat gadis ini terus tersenyum seakan-akan dia memberi isyarat kepadaku.
Mata gadis itu kulihat memandang ke arah kelelakianku, dengan wajahnya sedikit merah dan bibirnya yang sedikit dia gigit.
Aku memperhatikan setiap geraknya, sepertinya dia mulai gelisah.
Perlahan tangannya mulai naik kembali ke pundakku dan memijatnya.
Sebagai seorang pria sejati, aku tidak ingin melewati kesempatan ini, aku tau gadis ini sudah mulai sedikit terangsang.
Aku pegang tangannya yang sedang memijat bahuku, kemudian kutatap wajahnya yang sudah mulai memerah.
Perlahan aku menarik tangannya dan wajahnya kini sudah didepanku.
Aku mencoba mencium bibirnya dan ia membalasnya.
Seketika itu aku peluk dia dan dia pun memberikan perlawanan dengan menciumiku serta menaiki tubuhku.
Kini dia duduk diperutku dan membuka seluruh bajunya.
Zuridah kini sudah polos didepanku,dengan dua buah gunung kembarnya yang begitu besar serta ujungnya sudah berwarna coklat tua.
Dengan lahap gadis itu menciumiku, dia begitu ganasnya seperti seorang penari latar.
Kini dia mulai membuka seluruh pakaianku, dan tanpa di sadari kami telah melakukan adegan dewasa.
Gadis arab ini begitu binal, sehingga membuat aku sedikit kewalahan.
Berkali-kali rudalku menghantam dinding-dinding kenikmatan miliknya.
Dan diapun hanya mendesah dan merintih kenikmatan.
Hingga akhirnya aku mulai merasa sesuatu akan keluar dari rudalku, secepat kilat aku mencabutnya dan menyemprotkan air kenikmatan di perutnya.
"Ahhh nikmat sekali rasanya" ucapku didalam hati.
Kemudian akupun merebahkan tubuhku disampingnya.
Gadis itu memejamkan matanya merasakan sisa-sisa kenikmatan.
...****************...
Hampir satu jam pertempuran itu terjadi, dan akhirnya kami pun tertidur di siang itu.
Hingga menjelang sore kami pun bangun dari tidur dan membersihkan tubuh kami masing-masing.
"Ih betapa indahnya hari ini" ucapku dalam hati.
"Terima kasih, kamu begitu perkasa" ucap gadis itu kepadaku sambil tersenyum.
Gadis itu memang sudah tidak perawan lagi, tetapi dia masih begitu menggigit hingga membuatku terlena.
Aku pun mengajaknya untuk ke warung depan losmen untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan.
Kami segera keluar dari kamar dan berjalan menuju warung itu.
Hari ini adalah sebuah keistimewaan yang kudapat, ternyata gadis ini sangat baik dan begitu dewasa.