
Di pagi yang masi begitu cerah Rudi melanjutkan tugas nya dihari itu sebagai seorang Jurnalis.
Dia sedang melakukan pencarian informasi di pusat Kemiliteran Negara.
Bertemu dengan banyak orang adalah hal biasa bagi Rudi dan apalagi kali ini dia bertemu dengan orang-orang asing.
"Selamat pagi tuan," ucap Rudi kepada seorang perwira Militer Inggris Mayor Herry dengan bahasa inggris.
Mayor tersebut pun tersenyum saat disapa oleh Rudi "Oh ya, selamat pagi kembali tuan korespinden" sambil menjabat tangan Rudi.
Rudi pun menyalami Mayor Herry dengan oenuh semangat, "saya ingin mengambil sedikit berita dari camp anda tuan" kata Rudi.
"Oh, silahkan tuan ... Silahkan!" jawab Mayor tersebut.
Sambil tersenyum Rudi pun langsung mewawancarai Mayor tersebut untuk menggali informasi tentang perang yang terjadi.
Pasukan Inggris sendiri datang ke Afganistan untuk membantu para Militer Afganistan guna mengatasi kemelut yang terjadi.
Mayor Herry sendiri sangat senang dengan kedatangan Rudi ke barak mereka sebagai Reporter asing yang mencari tau tentang peristiwa yang terjadi di Negara Timur Tengah itu.
"Saya sangat senang berkenalan dengan tuan Mayor," ucap Rudi dengan senyumannya.
Hahaha ... "tuan bisa aja," jawab Mayor Herry, "sudah sepantasnya kami memberikan informasi kepada tuan."
"Anda merupakan mitra kami," sambung Mayor itu.
Rudi hanya tersenyum saja mendengar ucapan Mayor Herry.
...****************...
Hampir seharian Rudi mencari berita di barak nya tentara Inggris dia pun kemudian segera kembali menuju penginapannya.
Banyak hal yang dia temui di barak itu, dan si Mayor Herry itu ternyata sangat bersahabat.
Hari menjelang sore ketika Rudi telah sampai di penginapannya.
Teelihat Zuridah sedang duduk sendiri di warung tempat biasa Rudi dan teman-teman Belanda nya itu nongkrong.
Kemudian Rudi segera menghampiri gadis itu.
"Apa kamu sedang makan?" tanya Rudi
Akhhh ... Sedikit kaget Zuridah saat mendengar suara Rudi yang tiba-tiba datang menghampirinya, "ti ... ti ... tidak!"
Melihat itu Rudi pun langsung duduk disamping Zuridah.
Pelayan!
Pelayan!
Seorang pelayan wanita datang setelah dipanggil oleh Rudi.
"Saya pesan nasi dan lauk," kata Rudi, "Kamu mau makan apa?" tanya Rudi.
Zuridah tersenyum kecut, "aku sudah makan!" jawab nya.
Mmmm ... "tapi aku oesan satu minum aja, moccacino!" sambung Zuridah.
Setelah mendapatkan pesanan itu lantas oelayan itu segera berangkat untuk mempersiapkan pesanan mereka.
Lima belas menit kemudian pelayan itu pun telah kembali dengan membawa segala pesanan yang mereka pesan.
"Ini tuan dan nona, silahkan!" kata pelayan itu sambil meletakan segala hidangan di meja makan itu.
Tanpa basa-basi Rudi pun segera melahap makanan yang ada.
Zuridah menyaksikan Rudi makan dengan lahap "mungkin dia sangat lapar!"
Memang hari itu Rudi sudah sangat lapar sebab sedari pagi dia belum makan.
Setelah selesai makan Rudi hanha duduk diam saja sambil memperhatikan Zuridah.
"Apa Rio dan Sherly ada?" tanya Rudi.
Zuridah sedikit kaget, "ti ... tidak, mereka belum kembali,"
Dengan meneguk air putih Rudi masih memperhatikan gadis itu, "lalu mengapa kamu duduk sendiri?" tanya Rudi yang sedikit menyelidiki.
Zuridah hanya tersenyum.
"Aku rindu pada anak dan kedua orang tua ku," kata Zuridah.
Rudi menarik nafas panjang.
Terlihat setetes air keluar dari ujung mata Zuridah, dan dia segera mengapusnya.
"Hei mengapa engkau menangis?" tanya Rudi dengan penuh pertannyaan.
Zuridah hanya diam tak menjawab pertannyaan Rudi.
Rudi yang melihat kondisi itu sangat memahami apa yang ada di dalam hati Zuridah.
Dia sangat kasihan melihat gadis itu, tanpa dia sadari ditariknya bahu Zuridah dan dengan demikian tubuh Zuridah pun merapat di tubuh Rudi.
Rudi sangat begitu memahami perasaan Zuridah yang pada saat ini sedang risau karena merindui anak dan kedua orang tuanya.
Namun tanpa di sadari oleh Rudi saat itu Hellen sedang berada di dekatnya.
"Hallo tuan Rudi!"
Tiba-tiba Rudi yang mendengar suara itu terkejut lantas dia menoleh ke arah belakangnya.
"Hellen!" kata Rudi yang sedikit gemetar.
Dengan wajah sedikit tegang Hellen berusaha tersenyum.
Namun Zuridah yang melihat kejadian itu sedikit bingung, sabab dia tidak mengenal Hellen.
Saat itu juga Hellen segera berlalu dari warung itu.
Rudi mencoba mengejarnya "Hellen ... Sayang,"
Rudi tau Hellen pasti cemburu dengan peristiwa itu, namun Rudi terus mengejarnya hingga sampai di depan pintu warung itu, "Hellen tunggu ... tunggu aku, dengarkan aku dulu please,"
Rudi segera memegang tangan Hellen untuk menghentikan langkahnya.
Plakkkk ....
Satu tamparan di wajah Rudi dari Hellen yang tampak menangis akibat kesedihan nya melihat Rudi yang sedang bermesraan dengan Zuridah.
"Dengarkan aku dulu!" kata Rudi.
"Apa yang harus aku dengar?" Hellen mulai marah.
"Dia bukan kekasihku, aku ingin menolongnya dia korban perdagangan orang," lanjut Rudi.
Hellen hanya memandang wajah Rudi dengan penuh ketidak percayaan.
"Dia benar!" tiba-tiba Zuridah datang dan memegang tangan Hellen.
Zuridah yang mengerti pertengkaran diantafa Rudi dan Hellen adalah api cemburu yang membakar Hellen saat melihat Rudi sedang membelainya tadi.
"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan tuan teman nona ini!" kata Zuridah.
Hellen memandang sinis wajah Zuridah.
"Tolonglah dengarkan dulu!" lanjut Zuridah.
"Apa yang harus didengar?" kata Hellen dengan nada tinggi, "bukankah anda bermesraan tadi dengan tuan Rudi ini!"
"Tidak!" ujar Zuridah.
"Tuan Rudi adalah orang baik yang akan menolong saya!" ujar Zuridah.
"Menolong!"
Dengan sedikit kesal Hellen mencoba berdebat dengan mereka, "apa yang harus di tolong dari anda?"
"Haruskah dengan cara-cara seperri itu?" kata hellen.
Zuridah sesaat terdiam.
"Sayang dengarkan aku dulu!" kata Rudi yang mencoba menenangkan Hellen, "aku memang salah!"
Hellen menatap Rudi dengan ujung matanya, "aku tidak memberitahukanmu tentang hal ini semua!" kata Rudi.
"Aku mohon dengarlah penjelasanku!" kata Rudi.
"Ia nona, kami tidak ada apa-apa!" lanjut Zuridah.
Hellen terus menangis dengan sedikit kencang kali ini.
Rudi mencoba terus menenangkannya.
Rudi lantas memeluk tubuh Hellen.
"Dengar ... Dengarkan aku dulu!" lanjut Rudi.
"Kamu telah mengkhianatiku!" kata Hellen dengan terus menangis dengan penuh kekecewaan.
"Kamu harus mengenali nona ini, dia adalah korban yang aku tolong!" kata Rudi.
Hellen hanya menggelang-gelengkan kepalanya masuh belum percaya apa yang dikatan oleh Rudi.
Pada saat itu Rio dan Sherly pun tiba di tempat itu.
Saat melihat kedatangan Sherly, Zuridah langsung memeluknya dan menangis.
Sementara Rio menghampiri Rudi, "Ada apa ini?" kata Rio.
Hellen pun melihat kedatangan Rio dan Sherly tersebut, "mereka teman-temanku!" kata Rudi.
Hellen mencoba menghapus air matanya.
Rudi masih memeluknya dan meyakinkan Hellen yang saat itu masih di landa api cemburu.