"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
Episode - XXV. Teror Bom Kandahar II



Kebersamaan diantara kami sudah bagaikan keluarga sendiri, aku dan Rio maupun Sherly sering berbagi tawa dan canda serta suka maupun duka baik dalam hal pekerjaan sebagai Jurnalis maupun sebagai sahabat.


Sedangkan Zuridah sendiri sudah merasa nyaman bersama kami, sehingga dia sudah tidak canggung lagi untuk duduk bersama kami.


"Gimana kabar di ibu kota sekarang?" tanyaku kepada Rio.


"Aku belum tau yang pasti di Kabul saat ini sudah sedikit tenang!" jawab Rio kepadaku sambil melirik jam tangannya.


"Tapi di Kandahar ini masih cukup rawan," kata Rio melanjutkan pembicaraan.


"Kali ini pihak pengacau sudah jarang melancarkan serangan," ucap Sherly.


Aku hanya menganggukkan kepala memahami keadaan.


Namun saat kami sedang asyik ngobrol dan menikmati kopi tiba-tiba sebuah mobil meledak di dekat warung tempat kami nyantai.


Bummmm! suara ledakan di mobil tersebut.


Sontak kami melihat keadaan sekitar, setelah mengetahui adanya ledakan itu kami lantas mendekati tempat kejadian.


Reflek sebagai seorang jurnalis memang melekat dalam jiwa kami, kamera dan alat rekam telah tersedia dan langsung kami melakukan liputan.


Mobil itu menabrakkan diri di tengah kerumunan aktifitas masyarakat disana.


Kami belum mengetaui motif sebenaranya yang terjadi, dan kami juga tidak tau berapa korban yang jatuh dalam peristiwa itu.


Tidak berapa lama suara sirine ambulan dan mobil Polisi pun berdatangan mengawal kejadian tersebut.


potongan tubuh korban-korban pun mulai diangkat dan blokade garis polisi juga sudah terpasang.


Tampak api dan asap hitam masih mengepul ke udara, dan beberapa suara mobil pemadam juga berdatangan.


Tampak para wartawan berkumpul di tempat kejadian tersebut.


aku mencoba mencarai orang-orang yang dapat ku wawancarai, namun belum ada satupun para pejabat yang datang.


"Bagaimana? apa udah ada info?" tanya ku kelada Rio.


"Entahlah, aku juga belum tau!" jawab Rio


Terlihat Sherly begutu sibuk mencari informasi.


Tampak ambulan-ambulan sudah mulai membawa para korban.


Suasana hari ini tampak mulai mencekam lagi, serangan teror mulai terjadi di kota Kandahar.


"Aku baru dapat info, bahwa kejadian ini merupakan teror bom bunuh diri yang dilakukan oleh pihak pengacau," ucap Sherly yang tergesah-gesah menghampiri kami.


"Lalu bagaimana denganbkorban?" tanya Rio kepada Sherly.


"Sebentar lagi Kepala Kepolisian akan datang, kita tunggu saja sejenak" kata Sherly kembai.


Kini kami sudah tidak dapat lagi mendekat ke lokasi, sebab kondisi saat ini sudah dapat dikuasai oleh pihak kepolisian.


Tempat kejadianpun sudah dipasang pita kuning garis Polisi.


Sementara itu dari kejauan terdengar suara sirine meraung-raung.


Sekilas tampak disana rombongan Kepala Kepolisian datang dengan pengwalan ketat.


Sesampainya ditempat kejadian, orang nomor satu dikepolisian kota Kandahar itupun turun dari mobilnya dan langsung dikawal ketat oleh pasukan kepolisian.


Kedatangan orang tersebut untuk langsung melihat kejadian yang ada.


Para wartawan kini mulai mengerumuni orang tersebut.


Aku dan Rio mendekati Kepala Polisi tersebut dengan saling himpitan dengan para wartawan lainnya.


Kami meminta informasi dari puhak yang berwajib atas peristiwa yang baru terjadi ini.


Dalam pengawalan ketat tampaknya akan ada Konfrensi Pers oleh Kepala Kepolisian tersebut.


Aku dan Rio bersiap mengambil posisi ditempat itu.


"Hari ini telah terjadi serangan teror bom bunuh diri yang dilakukan oleh pihak pengacau, pelaku bkm bunuh diri ini tewas dilokasi kejadian, teror ini dilakukan dengan cara menabrakkan mobil pelaku ke salah satu mobil milik masyarakat di pusat keramaian, adapun korban jiwa sebanyak empat orang dari pihak masyarakat dan satu orang lelaku bom. Sedangkan korban luka ada delapan orang." Demikian laporan Pers yang diberikan oleh pihak Kepolisian.


Setelah memberikan informasi tersebut, Kepala Kepolisian itupun segera berlalu meninggalkan tempat kejadian.


...----------------...


Keesokan harinya aku mencoba menelusuri tempat kejadian ledakan bom semalam, aku akan mengambil beberapa gambar untuk ku rangkum menjadikan bahan berita.


Kemudian aku membuka laptop dan segera membuat bahan berita.


Tak berapa lama aku duduk datang seorang pelayan pria.


"Mau pesan apa tuan?" tanya pelayan itu.


"Saya pesan roti bakar saja dan segelas kopi yang biasa saya minum," jawabku kepadanya.


Pelayan itupun segera berlalu dan tidak berapa lama dia kembali dengan membawakan pesananku tersebut.


"Ini tuan silahkan!" kata si Pelayan tersebut.


"Ok, terima kasih," ucapku kembali.


Aku segera melahap roti bakar yang aku pesan tadi.


Seusai makan aku segera melanjutkan pekerjaanku untuk membuat pesan berita ke e-mail Redaksi.


"Serius sekali!" suara wanita menghampiriku.


Ya, Sherly dan zuridah menghampiriku.


"Ah, biasa saja cumablaporan pemberitaan saja," jawabku sambil menoleh ke arah mereka dengan sedikit rasa terkejut.


Zuridah dan Sherly segera mengambil posisi duduk di dekat ku.


"Bagaimana keadaan kalian hari ini?" tanyaku.


"Biasa saja, kami baik-baik saja," jawab Sherly sambil tersenyum dengn menatap ke arah Zuridah.


Pelayan! tampak Sherly memanggil seirang palayan dan segera memesan makanan dan minuman.


Aku masih sibuk dengan laptopku, dan tampak Sherly mengobrol dengan Zuridah tanpa memperdulikan aku.


setelah aku selesai dengan tugasku aku segera bergabung dengan mereka.


"Apa kamu ada informasi tentang perkembangan kejadian semalam?" tanyaku pada Sherly.


"Aku belum ada info, tapi media ku hari ini sudah menyiarkan kejadian kemarin." Jawab Sherly.


Aku hanya menganggukkan kepala saja.


"Bagaimana dengan acara malam nanti?" tanya Sherly.


"Ya lihat nanti malam," jawabku sambil menaikkan bahuku sedikit.


"Kamu harus ikut, biar kita bisa happy bersama!" kata Sherly.


Aku hanya diam dan menganggukkan kepala sambil membuang pandangan kearah luar.


Sesaat suasana sepi dan aku sedang menyerutup kopi ku.


"Bagaimana dengan dirimu? apakah kamu tidak rindu kepada anakmu?" tanyaku kepada Zuridah.


"sebagai seorang ibu aku pasti merindukan anakku," jawab Zuridah.


"Hmmm, ya ... aku juga belum dapat mengantarkanmu pulang!" kataku sambil menatap jauh kedepan.


"Jika situasi sudah sedikit normal, kita akan sama-sama mengantarkannya kembali," kata Sherly menyambung ucapanku.


Aku hanya menarik nafas dalam, banyak hal yang aku fikirkan tentang gadis ini.


"Kamu tidak perlu khawatir! bukankah kita telah menjaganya bersama?" kata Sherly.


Aku hanya diam sambil menyandarkan tubuhku di kursi.


"Jika situasi aman, yakinlah aku pasti akan kembali!" kata Zuridah dengan tatapan serius menatapku.


Ia, memang selama ini Zuridah menjadi tanggung jawabku, aku merasa sangat khawatir tentang dirinya.


"Sudah! yang pasti nanti malam kita happy!" kata Sherly sambil tersenyum.


Akupun tersenyum dan mengambil sebatang rokok di saku bajuku, kemedia aku membakarnha dan menarik rokok itu.


Perlahan asap putih keluar dari sudut bibir dan hidungku, sambil aku menikmati setiap tarikan rokok itu.


Suasana saat ini terasa sedikit beda, dikarenakan terjadinya teror bom yang terjadi semalam di kota Kandahar ini.