
Hellen tampak membakawan sebuah air hangat di dalam baskom dengan handuk kecil.
"Sayang, aku bersihkan tubuhmu dulu ya?" kata Hellen sambil tersenyum.
Rudi menganggukkan kepalanya.
Hellen dengan perlahan membuka seluruh pakaian Rudi hingga tidak tersisa, kemudian dia membersihkan tubuh itu dengan membasuh nya dengan handuk basah
Sekujur tubuh Rudi semua di bersihkan oleh Hellen, tak ada satupun ruang yang tersisa.
Rudi tampak bahagia diperlakukan seperti itu.
"Sayang, sepanjang hidupku, aku belum pernah diperlakukan seperti ini" kata Rudi dengan suara yang lembut.
"Oh ya, benarkah?" ucap Hellen sambil terus membersihkan tubuh Rudi.
"Bener, istriku pun belum pernah melakukan hal ini" kata Rudi.
Hmmmm Hellen tersenyum.
Setelah seluruh tubuh Rudi dibersihkan gadis itu segera mengeringkannya dengan handuk, kemudian dia memakaian pakaian Rudi.
Benar-benar seorang wanita yang secara tulus merawat seorang pria.
Kemudian Hellen keluar dari kamar, dan tak lama kemudian dia pun masuk kembali kemar itu sambil mendekatkan diri nya pada Rudi.
"Sekarang, giliran saya yang akan mandi" kata Hellen, "setelah ini kamu tidur lah" lanjut gadis itu kembali sambil berlalu dari kamar itu.
Tidak berselang berapa lama, tiba-tiba pintu kamar itu dibuka.
Cekreeek...
Terlihat seorang perwira tentara dan ajudan nya masuk kedalam kamar itu.
"Selamat pagi tuan Rudi" ucap perwira itu.
"Oh, pagi taun Letnan Anderson" kata Rudi, yang menyambut kedatangan Letnan Anderson.
Letnan itu kemudian duduk di dekat ranjang Rudi.
"Bagaimana dengan kondisi kesehatanmu saat ini?" tanya Lentan.
"Aku sudah mulai baikan" jawab Rudi sambil tersenyum.
"Aku terkejut mendengar kau sakit" kata Letnan tersebut, "oh ya, sebelum nya saya mohon maaf, karena sudah berapa hari anda disini saya baru bisa menjenguk" ujar sang Letnan.
"Ah tidak masalah tuan" jawab Rudi sambil tersenyum.
"Saya tau kalau anda masih banyak tugas" ujar Rudi kembali.
Kemudian terlihat Hellen masuk kedalam ruangan setelah selesai mandi.
"Eh, nona Hellen" kata Letnan, "bagai mana kabar anda?" ucap Letnan kembali menyapa.
"Saya baik-baik saja pak Letnan" jawab Hellen sambil tersenyum
"Bagaimana kondisi tuan Rudi ini nona?" tanya Letnan kembali.
Sambil menarik sebuah kursi kayu, Hellen duduk di samping sang Letnan.
"Kondisinya cukup stabil" kata Hellen, "tuan Rudi hanya tinggal masa pemulihan saja" sambung Hellen.
"Terima kasih, anda telah menjaga nya dengan baik" ujar sang Letnan.
"Oh ya, bagaimana anda bisa mengenal tuan Rudi ini" tanya sang Letnan sedikit menyelidiki dengan tersenyum.
Hellen hanya tersenyum sambil menunjukkan wajahnya, dia sedikit malu kelihatan nya.
"Kami sudah lama berteman" jawab Hellen, "tuan Rudi adalah orang yang baik yang pernah saya kenal" sambung nya.
"Dia adalah teman kencan yang baik bagi saya" lanjut Hellen.
Letnan Andreas pun hanya tersenyum-senyum saja mendengar ucapan Hellen.
Tiba-tiba masuk seorang prajurit tentara.
"Lapor komandan, ada perintah penting buat komandan dari Kolonel" ucap prajurit itu.
"Baik, saya akan segera kesana" ucap Letnan Andreas.
"Baiklah tuan Rudi, saya permisi dulu" kata Letnan, "semoga anda cepat sembuh" sambung nya lagi.
"Dan anda nona Hellen, terima kasih, lain waktu kita sambubg obrolan ini" kata si Letnan sambil tersenyum dan dia pun segera berlalu dari tempat itu.
Kini tinggal lah mereka berdua kembali di dalam kamar itu.
Setelah sang Letnan pergi, Hellen segera berjalan menutup pintu kamar.
Hari itu Rudi merasa cukup senang hatinya, dia pun mulai memajamkan matanya untuk beristirahat.
...****************...
...****************...
...****************...
Sore telah menjelang, tampak Rudi pun telah bangun dari tidur nya, dia melihat Hellen yang sedang tidur di kusri dengan meletakkan kepalanya di pinggir kasur Rudi.
Rudi dengan perlahan membelai-belai rambut coklat gadis tersebut.
Gadis itu pun terbangun dari tidur nya, dia tampak kaget dengan rambut nya yang di belai.
Gadis itu pun mengusap-usapkan mata nya.
"Mengapa kamu tidur seperti itu?" tanya Rudi.
"Tidak masalah" ujar gadis tersebut sambil tersenyum, "Aku sudah terbiasa seperti ini" sambung Hellen kembali.
Dia pun bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan menuju sebuah meja dan menuang segelas air sambil meminum nya.
"Apa kamu mau makan" ucap gadis itu sambil mengikat rambut nya dengan kedua tangannya.
Rudi melihat tubuh gadis itu yang hanya menggunakan kaos berwarna putih tipis tanpa lengan, sehingga ketia dia mengangkat kedua tangan nya, kelihatan lah lengan tangan dan ketiak gadis itu yang bersih dan putih.
Dipadukan dengan celana jens selutut membaut tubuh nha begitu indah.
Rudi menelan ludah nya melihat pemandangan itu.
"Hei sayanggg..." kata gadis itu keheranan melihat Rudi yang dengan serius menatapi nya.
Sontak seketika Rudi pun kaget mendengar panggilan gadis itu, dimana dia sedang menikmati tubuh gadis bule itu dengan mata nya.
"Ehh.., iya sayang" jawab Rudi, "ti..ti..tidak apa-apa" sambung Rudi dengan gugup.
"Apakah kamu mau makan?" tanya gadis itu.
"Iiii..iya...iya..., saya sudah lapar" kata Rudi yang tergagap.
Hellen segera menyiapkan bubur untuk makanan Rudi.
Setalah itu dia segera menyuapi Rudi dengan penuh kemesraan.
"Siapa yang buat bubur ini?" tanya Rudi.
"Saya.." jawab Hellen sambil tersenyum.
"Bubur apa ini nama nya?" tanya Hellen.
"Ini hanya gandum yang saya tumbuk untuk menjadi tepung" kata Hellen, "lalu saya olah dengan beberapa bumbu" lanjut nya.
"Kamu tenang aja, makanan ini baik untuk agama mu juga" kata Hellen.
"Aku tau" jawab Rudi.
"Bubur ini sangat baik untuk memulihkan kesehatanmu" sambung Hellen kembali.
Rudi tersenyum.
Usai memakan bubur itu, Hellen mentiapkan obat untuk diminum.
"Ini sudah sore, waktu minum obat kamu sebenar nya sudah lewat" ujar Hellen, "tapi tidak apa, agar kau lebih cepat sembuh" sambung nya.
Rudi pun menuruti apa yang diminta oleh Hellen, dia meminum obat dengan rutin dan itu memang membuat kondisi tubuh Rudi mulai membaik.
Hellen pun dengan segera membuka verban yang ada di tubuh Rudi, dan luka-luka nya sudah mulai menngering.
Gadis itu membersihkan luka-luka nya, dan memberikan obat atas luka nya.
"ini tidak perlu di verban lagi" kata Hellen, "biar dia mengering dan mendapatkan udara" sebut Hellen kembali.
Dia melirik ke arah infus, "jika infus ini habis, kau tak perlu di infus lagi" kata gadis tersebut.
"Biarkan satu botol ini habis" lanjut nya, "karena kamu sudah bisa makan dengan baik" lanjut nya kembali.
Rudi hanya memanggutkan kepala nya.
"Memang Hellen benar-benar seorang perawat profesional" ujar Rudi dalam hatinya.
"Aku akan tensi kamu dulu" kata Hellen sambil memeriksa tensi tekanan darah Rudi.
"Kamu sudah normal, sekarang banyak-banyak istirahat ya" kata Hellen dengan mengecup bibir Rudi.