
Selesai sarapan pagi Rudi dan Rio akan melakukan peliputan ke daerah utara kota Kandahar.
Sudah berapa hari ini mereka tidak ada liputan pemberitaan.
Mereka pun segera bersiap-siap dengan alat-alat Jurnalistik nya masing-masing.
"Bagaimana kita menuju kesana?" ucap Rudi, "dengan berjalan kaki atau naik taksi?" tanya Rudi.
Rio terdiam sesaat sambil berfikir.
"Sepertinya kita lebih baik naik taksi aja!" kata Rio, "lokasinya cukup jauh bila kita tempuh dengan berjalan kaki," ujar Rio kembali.
"Jika begitu, mari kita pesan taksi!" ujar Rudi.
Mereka segera keluar meninggalkan warung tersebut, dengan perlahan mereka menuju trotoar untuk menunggu sebuah taksi.
Lima belas menit kemudian sebuah taksi pun lewat.
Taksi!
Panggil Rio kepada sebuah taksi.
Selanjutnya mereka pun segera menumpangi taksi menuju temapat tujuan ke utara Kota Kandahar.
Roda taksi berjalan dengan pelan menelusuri jalanan inti kota.
Namun tiba-tiba terlihat beberapa orang di tengah jalan dengan membawa alat tempur lengkap memblokade jalan.
"Hai siapa mereka?" tanya Rio.
"Sepertinya nereka bukan tentara," kata Rudi.
"Mereka kelompok pengacau tuan!" kata supir taksi itu, "bagaimana kita berbalik arah saja?" tanya supir taksi itu.
"Tidak, tidak perlu! Kami turun disini saja" ujar Rudi.
Setelah membayar ongkos taksi itu mereka segera turun dan mencari suatu tempat yang aman.
Pasukan pengacau itu telah memblokade jalan raya, mereka menghadang setiap kendaraan yang melintasi.
Tak ada satu pun yang boleh melewati jalan-jalan itu.
Tiba-tiba para pengacau itu menembaki semua yang ada di dekat mereka.
Namun seketika itu sebuah nuklir melintas dan menghantam blokade itu.
Bummm! Bummm!
Seluruh kendaraan bokade hancur oleh ledakan nuklir itu, dan seketika itu tubuh-tubuh para pengacau itu beterbangan ke udara dan ada yang pecah hingga potongan tubuhnya berserakan.
Teretettete... Tetettttt ...
Suara rentetan senjata mesin pun telah terdengar, bertanda pertwmpuran jalanan kembali terjadi.
Entah dari mana asal serangan itu namun yang jelas milik para pengacau telah hancur.
Oh ya ... rupanya itu serangan dari tentara Afganistan yang dibantu oleh sekutu, serangan itu terlihat jelas dari atas ketinggian ini.
Peluru-peluru milik tentara Afganistan menggempur pertahanan blokade tersebut.
Namun satu rudal berhasil di lepaskan oleh pasukan pemberontak ke arah serangan tentara tersebut.
Buuummmm! Buummm!
Dua ledakan terjadi di basis pertahanan tentara.
Terlihat jelas dari sini, api-api telah membumbung ke udara, kini Kota Kandahar kembali diselimuti asap gelap dari pembakaran.
Tubuh-tubuh manusia saling beterbangan tatkala rudal tersebut menghantam basis perlawanan.
Suara-suara senjata apai mesin masih terus berbunyi bagaikan irama musik padang pasir.
Mereka kedua belah pihak yang bertikai masih tetap memberikan perlawanan yang sengit.
Dengan kamera jurnalistik ku, aku terus memantau situasi yang ada bersama Rio di atas sebuah bangunan rumah.
Buummm! Buummm! Kembali lagi kedakan terjadi ke arah pertahanan tentara.
Oh aku sudah tidak tau lagi sudah berapa lama perang ini berlangsung.
Dari bawah aku melihat segerombolan pasukan militer republik berjalan mendekat arah blikade dengan membawa alat tempur lengkap.
Tank Scorpion dan beberapa senjata dan mobil alat berat melaju pelan sambil diiringi oleh para parajurit militer.
Dar...dar...daarrr...
Suara tembakan terus berlangsung.
Kini pasukan yang berjalan dibawah itu telah melancarkan serangannya.
zzeeepp! Buummm!
Tank scorpion itu telah melesatkan pelurunya hingga menghancurkan pertahanan musuh.
Buum! Buummm! Lagi-lagi ledakan terjadi dan meluluh lantakkan pertahanan lawan.
Kini pasukan pemberontak itu mulai terdesak, perlahan namun pasti mereka mundur.
Setelah berhasil memukul mundur pasukan pemberontak itu, kini pasukan pemerintahan melakukan bersih-bersih.
Mereka membersihkan puing-puing sisa-sisa perang dan membawa para korban ke rumah sakit.
Hampir dua jam perang tersebut baru benar-benar reda setelah para relawan dari palang merah telah turun membantu pembersihan.
Aku dan Rio yang sedari tadi menyaksikan semua keadaan tersebut mulai turun ke bawah untuk memcari informasi-informasi penting.
Setelah mendaoatkan informasi kami segera mencari tempat untuk menuliskan berita dan kemudian dikirim ke kantir Redaksi melalui r-mail.
Pagi itu langit tampak sedikit mendung dan aku baru saja terbangun dari tidur.
Setelah membersihkan tubuh aku pun keluar untuk mencari makan pagi.
Udara yang sedikit dingin membuat ku menjadi sedikit bermalas-malasan.
"Mau pesan apa tuan?" tanya seorang pelayan.
"Saya pesan roti bakar saja sama kopi hitam," kata ku.
Kemudian pelayan itu pun berlalu.
Tidak berapa lama, pelayan tersebut datang dengan membawakan pesananku, "ini tuan pesanannya, silahkan!" kata pelayan tersebut.
"Oh ya terima kasih!" jawab Rudi.
Setelah hidangan tersedia Rudi lantas memakan makanan tersebut dengan lahapnya sambil ditemani secangkir kopi hitam.
Seusai makan dia pun mengambil rokok miliknya dari saku bajunya dan kemudian menyalakan rokok itu.
Dengan perlahan dia kemudian menghisap rokok yang ada di tangannya.
Mata Rudi menatal ke jalan raya sambil menerawang banyak hal.
Saat itu dia teringat kepada Hellen kekasihnya itu.
Sambil tersenyum dia segera mengambil ponselnya dan menelpon kekasihnya itu.
Tuuuttt ... Tuuutttt ....
Nada dering ponsel berbunyi.
Tidak berapa lama telpon pun diangkat.
"Hallo sayang," kata Hellen dari teleponnya
"Bagaimana kabarmu," kata Rudi sambil tersenyum.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Hellen.
"Kapan kamu akan mengajarkan ku tentang Muslim?" tanya Hellen.
"Oh ya, kapan kamu ada waktu, aku siap!" jawab Rudi.
"Jika sore nanti bagai mana?" kata Hellen.
"Hmmmm ... Baik! Dimana kita bisa bertemu?" tanya Rudi.
"Bagai mana jika ditempat kemarin?" kata Hellen.
"Baik, nanti sore kita akan bertemu sikitar pukul tiga ya!" kata Rudi sambil tersenyum.
"Baiklah!" jawab Hellen dengan semangat, "oh ya, apa kamu tidak ada kegiatan hari ini?" tanya Hellen.
"Tidak! Hari ini aku sangat letih!" jawab Rudi, "kemarin aku meliput peperangan di wilayah utara!" akat Rudi.
"Aku tau!" kata Hellen.
"Ia aku sangat letih, dan ..."
"Kamu harus beristirahat hari ini!" sambar Hellen.
"Aku tidak ingin kau sakit!" kata Hellen kembali.
"Tapi untukmu aku akan tetap ada!" kata Rudi sambil tersenyum.
"Manis sekali!" ujar Hellen, "tapi kamu jangan lupa istirahat," katanya lagi.
Rudi hanya diam dan tersenyum.
"Oh ya, kamu disitu tinggal dimana?" kata Hellen.
"Di Motel! Tepatnya Motel El-Draba," kata Rudi.
"Dengan siapa kamu disana?" tanya Hellen.
"Aku sekamar dengan seorang wartawan asal Belanda bernama Rio," kata Rudi kepada Hellen.
"Ok, kapan-kapan bolehkah aku berkunjung?" tanya Hellen lagi.
"Sangat boleh!" jawab Rudi.
"Baiklah, nanti kita sambung kembali, aku ada pekerjaan!" kata Hellen, "ok, selamat bekerja!" jawab Rudi.
"I miss you ... Bye!" kata Hellen sambil menutup telponnya.
Seusai menelpon, Rudi terlihat senyum-senyum sendiri.
Dan kemudian dia pun menyerutup habis kopi yang ada di mejanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Putra Al Bantani Author Swara Karya Indonesia...
Terima kasih buat kalian semua yang sampai saat ini telah mendukung Novel karya saya Belle Fille.
Di BAB yang ke 30 ini semoga karya saya dapat terus berkembang dan kalian semua semangat saya untuk tetap berkarya.
Saya tau tidak mudah untuk berkarya, maka itu dukungan yang anda beri kepada saya semua adalah semangat saya untuk tetap berkarya.
Salam dari saya,
Putra Al - Bantani