
Sore hari setelah melakukan liputan kami kembali menuju tempat penginapa.
Sepanjang jalan yang masih sangat ramai dengan aktifitas warga kota masih terasa begitu tenang dan damai.
Taksi masih melaju dengan kecepatan sedang dengan membawa kami terus menatap kearah jalan yang kami lintasi.
Tidak berapa lama kami sampai di penginapan, langsung kami bergegas menuju kamar setelah membayar ongkos taksi tersebut.
Aku dan Rio segera masuk ke kamar sementara Sherly masih mengetuk pintu dan tak lama terlihat Zuridah keluar membukakan pinta kamar tersebut.
Didalam kamar aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur, begitu juga dengan Rio, pria bule yang bertubuh sedikit tambun itupun ikut serta merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
Suasana hening menyelimuti kamar saat itu, tidak ada satupun ucapan yang terlontar, hanya dentingan jarum jam yang terdengar.
Tanpa disadari akhirnya mataku mulai terpejam dan sejurus kemudian kamipun terlelap dalam peraduan.
...****************...
...****************...
Menjelang malam tiba-tiba suara ledakan terdengar begitu keras Duaaaarrr... Duaarrrr.....
Seketika aku dan Rio tersentak dari tidur, ruangan yang gelap membuat kami kesulitan untuk melihat.
"Rio...dimana kamu?" tanyaku sambil memanggil nama Rio berulang kali.
"Aku disini" jawab Rio, "dibawah tempat tidur, ayo kamu tiarap" ujarnya kembali.
Karena waktu telah malam kami lupa untuk menyalakan lampu kamar sore tadi saat kami pulang dan hanya langsung tertidur membuat ruangan menjadi begitu gelap.
Duaaaarr....tereeteettett.....bummmmm....bummmm...
Suara-suara tembakan kembali terdengar.
Aku segera merayap kelantai kamar mendekatkan diri kepada Rio.
"Sepertinya perang kembali terjadi" ujar ku.
"Mungkin ini adalah serangan dari pemerintah" ucap Rio.
Suasana terlihat begitu tegang, desingan peluru-peuru seperti menyambar kesana dan kemari.
Bummm.....Bummmm.....
Kembali dua ledakan besar terjadi.
"Sepertinya pertempuran ini jauh diri sini" kata Rio.
"Bagaimana kalau kita keluar melihat situasi tempat ini" kataku.
"Baik, mari kita keluar" jawab Rio.
Sambil merangkak kami berjalan menjalan mencari arah pintu kamar.
Bummmm...Bummm.... Teretetetett.....
Suara-suara desingan itu masih terjadi.
Perlahan namun pasti kami menemui pintu kamar itu dan segera kami membukanya.
Setelah berhasik keluar kamar hotel itu kamipun segera menuju keluar melalui loby depan.
Terlihat disana sudah ada Sherly dengan kameranya dua mengabadikan moment yang terjadi.
Sebuah pesawat tempur milik tentara inggris melayang diatas udara.
Bummmmm....Bummmm....
Pesawat tersebut menjatuhkan beberapa ton bom dari sayap-sayap pesawat itu.
Langit kota Kandahar kini berubah kemerahan.
Beberapa rudal beterbangan silih berganti bagaikan sebuah kembang api yang menghiasi langit kamar.
Suara sirine ambulanpun mulai terdengar meraung-raung.
Sekilas dan samar-samar terdengar suara-suara orang seperti gaduh dan menangis terdengar begitu menyayat perasaan.
Malam ini kota Kandahar kembali menyala bagaikan pesta kembang api di malam hari.
"Oh my god" ucap Sherly saat melihat sebuah rudal menembus kegelapan dan berakhir pada sebuah ledakan besar.
Bummmm....Bummm.....
Ledakan itu telah menggetarkan bumi Afganistan di Kota Kandahar, aku sedikit panik merasakan getaran bami dari ledakan itu.
Entah berapa ton nuklir itu memecah ke bumi sehingga getaran itu terasa sampai ditempat kami saat ini berada.
Rio dan Sherly mulai melaksanakan tugasnya sebagai seorang wartawan dan wartawati televisi, dengan kamera video ditangan Ri sebagai sang kameramen dan Sherly sebagai seorang reporter mulai melakukan siaran dengan berlatar belakang peetempuran itu.
Mereka mengambil posisi dari sebuah ketinggian diatas menara motel.
Bummmm....Bummmm....
Ledakan kembali terjadi dengan kekuatan yang sama.
Tretrret...treteret.....
Bummm.....
Sepertinya pihak pemerintah yang dibantu oleh pasukan sekutu Amerika membuat benar-benar ingin menghancurgan gerombolan itu.
Terlihat dari serangan yang malam ini mereka lakukan yang begitu dahsyat.
Mungkin du pertiga dari kota ini semua menjadi ladang pertempuran, sebab disana sini aku menyaksikan pertemouran yang maha dahsyat.
Hari ini begitu sangat menakutkan suasana dimalam hari.
Tidak berapa lama terdengar suara sirine dan ambulan silih berganti melewati depan motel tempat kami.
Beberapa menit kemudian di seputaran tempat penginapan kami sudah mulai ramai warga yang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
Kepanikan terus terjadi, warga yang dibantu oleh polisi dan pihak palang merah terus memandu warga.
Terlihat dari jauh sebuah truk besar mengangkut sekelompok tentara melintas dengan bendera merah putih dan bendera UN dari PBB.
"Ah, pasti itu milik tentara perdamaian Indonesia" gumamku demikian.
Benar saja setelah melintasi didepan tempat aku mengambil gambar terlihat tentara perdamaian Indonesia dengan gagah duduk didalam truck tersebut dengan menggunakan baret biru muda berlambang UN.
Suasana di sekitar tempat penginapan kami sekarang sudah diliputi oleh kepanikan.
Pesawat-pesawat tempur silih berganti kini terbang diatas kepala kami bagaikan burung-burung malam yang akan melalap mangsanya.
Seiring dengan itu bom-bom pun dijatuhkan dari serangan udara tersebut.
Bummmm...Bummmm....Bummmm..
Kini dentuman kembali terdengar bertubi-tubi, entah berapa puluhan rumah yang hancur menjadi puing-puing akibat serangan itu.
Entah berapa pula korban yang jatuh dari serangan itu, mungkin puluhan ataupun ratusan.
Namun yang pasti serangan malam ini begitu dahsyat dan sangat mencekam.
Hampir seluruh kota Kandahar menjadi gelap gulita akibat pemutusan aliran listrik dampak dari serangan itu.
Hanya cahaya-cahaya api yang berkobar dari ledakan-ledakan pertempuran.
Aku, Rio dan Sherly masih terus memantau situasi dan mengamati setiap detik peristiwa itu untuk kami catatkan dalam laporan media kami.
Sebuah sejarah besar bagi generasi yang akan datang setiap peristiwa yang terjadi ini.
Treteettet....Tretreetet...
Bummmm...Bummmm....
Puluhan ton bahan peledak telah memberangus wilayah ini dan menjadikan tangisan-tangisan pilu bagi Masyarakatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya aku dan Rio bersama Sherly meninjau lokasi-lokasi yang terdampak dari serangan malam tadi.
Namun sayang, banyak tempat yang diblokade oleh pihak keamanan.
Kami hanya mampu mengambil dokumentasinya dari sedikit kejauhan.
Banyak sekali korban yang luka-luka dibawa dengan tandu untuk diberi pertolongan.
"Mungkin ada ratusan orang yang tewas dalam serangan ini" ujarku dalam hati.
Tangisan pilu terdengar dari sudut-sudut kota, hal ini membuat sangat miris hati melihatnya.
"Bagaimana kita dapat mengirim berita?" tanya Rio kepadaku.
"Sementara jaringan internet hari ini terputus" Sambungnya.
Sambil mengankat kedua bahuku dan menarik nafas panjang "Aku tidak tau!" jawabku.
Akupun menoleh kekanan dan kekiri bagaikan orang yang sedang kebingungan.
Dengan kamera ditanganku, aku terus mengabadikan lokasi-lokasi kejadian.
Aku berjalan menelusuri lorong-lorong mencari warga yang daoat ku ajak berdialog.
Namun sayang, tidak satupun warga yang ingin berkomentar.
Mereka masih sibuk dan berduka dibalik tangisan pilunya.