
Bom bunuh diri tersebut ternyata memakan korban enam orang yang terdiri dari tiga orang anggota polisi, seorang anggota keamanan dan seorang warga sipil serta seorang lagi yang diduga pelaku peledakan yang tubuhnya telah hancur berpencar.
Dari sebuah informasi yang didapat bahwa kelompok sayap kiri yang merupakan kelompok pemberintak yang bertanggung jawab atas kejadian itu.
Mereka telah mengumumkan hal tersebut di media masa, aksi mereka merupakan balas dendam terhadap pemerintah yang telah menangkap beberapa anggota mereka.
Jurnal Indonesia pagi yang memberitakan hal tersebut telah dirilis oleh Rudi guna memberikan informasi kepada Masyarakat tentang peristiwa mancanegara ini.
Krinnnggg...kringgg....
Suara telepon berdering dari saku Rudi yang tengah bekerja mencari informasi di hari itu.
"Halo....selamat pagi pak!" ujar Rudi.
"Pagi kembali dan selamat petang!" jawab lelaki yang menelpon Rudi.
Lelaki itu adalah sang Pemimpin Redaksi dikantornya bekerja.
"Ia pak" Sambung Rudi kembali.
"Bagaimana keadaan disana sekarang?" tanya si Pemred itu.
""Baik pak, tapi saat ini keadaan di kota masih kacau" jawab Rudi.
"Iya, saya sudah mendengar apa yang telah anda sampaikan melalui berita yang anda kirim" ucap Pemred itu.
"Untuk perkembangan selanjutnya, saya akan melaporkan nanti" kata Rudi.
"Baiklah, teruslah anda bekerja dengan semangat!" kata Pemred itu.
"Terimakasih pak" ucap Rudi.
Telepon pun berakhir, Rudi kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
...****************...
...****************...
Sementara iru ditempat terpisah terlihat Rio dan Sherly sedang meliput situasi di dekat rumah sakit tempat dimana para korban ditempatkan.
Ambulanpun saling berseliweran berjalan kesana kemari membawa para korban tersebut.
Namun tidak berapa lama kemudian kembali terdengar suara ledakan yang terjadi di sebelah timur.
Disusul dengan rentetan senjata mesin yang sepertinya sedang terjadi pertempuran senjata.
Duaaarrrr....duaaaar....
Bummmmm....bummmmm.....
Suara ledakan yang diikuti dengan asap yang membumbung tinggi.
Treeeertttt.....treeerttt...treeetrrrttt...
Bummmmm.....bummmmm......
Suara-suara ledakan terus terjadi dan mangkin menggema.
Rudi yang saat itu tidak jauh dari lokasi pertempuran segera mencari tempat perlindungan.
Dari balik sebuah mobil yang terpakir di sudut kota, Rudi dapat melihat dengan jelas peristiwa perang itu yang terjadi di tengah kota.
Perang terbuka yang membuat suasana kota menjadi mencekam.
Buuuummmm.....bummmm....
Suara ledakan terjadi, sebuah bom yang dilontarkan entah dari mana yang membuat suara ledakan yang begitu dahsyat.
Tidak berapa lama terlihat beberapa orang yang membawa senjata berat berlari mendekati pertengahan pertempuran.
Para lelaki yang menggunakan pakaian hitam dan memakai sebo teruh mengarahkan senjatanya menuju arah musuh.
Ssssssttttt.....buuummmm....bummm...
Sebuah peluru besar dilontarkan ke arah lawan sehingga terjadi ledakan yang dahsyat.
Terdengar pula suara teriakan orang yang terkena lontaran peluru itu.
Sejumlah potongan tubuh terlihat terlempar ke udara yang disusul dengan suara ledakan dan asap yang membumbung tinggi.
Hari itu suasana sangat mencekam, diwaktu siang menjelang sore hari pertempuran sangan dahsyat.
Rentetan suara senjata terus terdengar.
Treeeerttt....trerrrttt....
Dari arah lain tampak mobil-mobil tank lapis baja mulai mendekat ke arah lokasi pertempuran.
Dari moncong-moncong tank-tank itu telah memuntahkan peluru-peluru bagaikan kembang api yang sedang mempertunjukkan penampilan yang indah.
Jantung terasa terus berdenyut dengan kencang melihat situasi yang mangkin memanas.
Semua jalan ke arah kota telah ditutup dan di blokade oleh pihak pemerintahan.
...****************...
...****************...
Siang yang sangat terik di kota Kandahar yang saat ini masih sangat mencekam dan masih terjadi gencatan senjata silih berganti.
Terlihat Rio berjalan menyusuri kota sambil sesekali mengambil gambar bekas-bekas pertempuran.
"Hallo tuan Rudi?" tiba-tiba suara seorang pria menyapanya dalam bahasa Inggris.
Sontak seketika Rudi pun menoleh kearah suara lelaki tersebut.
"Hai...hello juga Letnan!" sambut Rudi ketika dia telah mengetahui orang yang menyapanya.
Iya, Letnan Andreas Binson, dia adalah seirang perwira Militer dari Negara Prancis.
Letnan Andreas tersebut masuk dalam barisan pasukan perdamaian dibawah bendera PBB, meski Negara nya juga masuk dalam anggota sekutu yang ikut terlibat dalam pertempuran yang saat ini terjadi.
Letnan Andreas Binson yang berusia sekitar 45 tahun dengan perawakan tinggi besar, dia memilki postur tubuh setinggi 189 CM dengan kepala plontos dan terdapat jambang di area wajahnya.
Letnan tersebut juga berkulit hitam gelap, sebab dia juga termasuk warga turunan dari daerah Afrika.
Rudi mengenal Letnan Andreas saat dia masih berada di kota Kabul saat digedung kedutaan besar Indonesia.
"Sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabar anda tuan?" tanya Letnan Andreas sambil mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman yang bersahabat dengan Rudi.
"Benar...benar Letnan, saya sehat dan baik selalu!" ujar Rudi dengan tegas sambil menyambut tangan Letnan itu dengan senyuman yang ramah.
"Saya tidak menyangka bisa bertemu anda disini!" kata Letnan Anderson.
"Anda adalah seorang jurnalis Asia yang hebat!" puji Letnan itu.
Sambil tertawa Rudi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah anda terlalu memujiku tuan!" jawab Rudi.
"Benar! Anda adalah seirang Jurnalis yang baik, saya telah banyak membaca berita-berita anda tentang perang ini di situs media online anda!" kata Letnan Anderson dengan mimik wajah yang seeius.
"Oh berarti Media Online kami telah menembus manca negara, ini adalah hal yang baik" ucap Rudi di dalam hatinya.
"Ah itu juga pasti ada besutan dari Redaksi!" ucap Rudi merendah.
"Hmmmm, baik lah, jika begitu apa yang anda lakukan saat ini?" tanya sang Letnan.
"Seperti biasa, aku sedang menjalankan tugas seperti anda" jawab Rudi.
"Hanya saja, anda memiliki pangkat di pundak, saya tidak memiliki itu" ujar Rudi, "Dan anda memiliki senjata untuk bertugas, dan senjada saya hanyalah pena dan kamera" sambung Rudi kembali.
Mereka pun tertawa bersama.
"Baiklah tuan, apa yang bisa saya bantu?" ujar si Letnan.
"Siapa tau saya bisa membantu memberikan informasi kepada tuan" sambungnya dambil tersenyum.
"Ah tidak, saya hanya ingin mendokumentasikan saja apa yang ada saat ini" kata Rudi.
"Oh, ok, jika begitu silahkan tuan" Jawab Letnan tersebut.
"Jika ada perlu sesuatu saya siap membantu" ujar Letnan itu.
"Terimakasih Letnan, terimakasih banyak atas waktunya" kata Rio.
"Jika begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya, senang sudah bertemu dengan anda lagi disini" ucap Rudi lagi.
Letnan itu hanya tersenyum sambil memberikan hormat kepada Rudi.
Rudi kemudian melanjutkan perjalanannya, dia terus menyusuri jalanan itu.
Terdengar sesekali suara ambulan yang bergantian wara-wiri membawa korban-korban perang.
Dibeberapa sudut kota masih terlihat asap-asap bekas pembakaran senjata mesin masih membumbung ke udara.
Jalanan pun masih terlihat agak gelap akibat asap pembakaran tersebut.