"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - XLIX perjalanaan ke 2



Malam semangkin larut di camp tentara, selesai dari mengobati lukanya Rudi kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Rasa lelah telah menghantui tubuhnya, namun dia masih memegangi luka yang dia alami.


Terasa ngilu luka itu, sementara Rudi sendiri tidak tau mengapa luka itu bisa terjadi, padahal dia tidak merasakan menyentuh apapun.


Malam itu sambil tiduran dan memegangi lukanya di terus berfikir tentang dari mana luka itu dapat terjadi.


Rudi pun terus berfikiran tentang itu.


Sesekali luka itu menimbulkan rasa nyeri yang sangat teramat sakit. "ah...,ini kenapa ya?" tanya Rudi dalam hatinya.


Rasa dingin mulai menyengat kedalam tubuhnya, kini dia merasakan kondisi suhu tubuhnya sidikit berubah.


"Ah..., sepertinya aku akan demam" ucap Rudi dalam hatinya.


Dia merubah posisi tidurnya, dia memiringkannya ke arah kiri sambil sedikit meringis.


Dia mencoba menahan rasa sakit itu dan memejamkan matanya untuk tidur.


Perlahan namun pasti, seiring berjalannya waktu dia mulai terpejam dan terlena dalam peraduan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya Rudi terbangun dalam kondisi demam, dia mulai sakit akibat luka yang dia derita.


Sekujur tubuhnya menggigil akibat naiknya suhu panas tubuhnya.


Tok...tok....tok....


Pintu kamar diketuk dari luar.


"Masuk saja...!" ucap Rudi sambil bergetar.


Seorang prajurit tentara membuka pintu, dia membawakan sarapan pagi untuk Rudi, namun tentara itu sangat terkejut melihat Rudi yang tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Setelah meletakkan makanan itu diatas meja, prajurit itu mendekati Rudi dan duduk di tepi ranjangnya.


"Ya Tuhan, anda demam tinggi taun" kata prajurit itu sambil memeriksa tubuh Rudi.


Tentara itu terlihat panik.


"Sebentar tuan, saya akan pamggilkan dokter" ujar tentara itu, dengan bergegas prajurit itu meninggalkan Rudi dan menuju ke ruangan perawatan.


Sejurus kemudian tentara itu kembali ke kamar Rudi dengan tergesah-gesah sambil membawa seorang dokter dan seorang perawat.


Dokter tersebut kemudian memeriksa Rudi yang sedang terbaring, suhu tubuhnya begitu panas, dia mengalami infeksi pada lukanya.


Dokter itu segera mengambil sebuah jarum suntuk, lalu dia menyuntik kan ke lengan Rudi.


"Itu antibiotik" kata Dokter tersebut.


"Maaf tuan, saya akan periksa luka-luka tuan" kata Dokter itu kembali.


Rudi tidak menjawab, dia terus menggigil, tubuhnya bergetar.


Dengan perlahan dan hati-hati dokter itu membuka satu persatu veban yang melilit di tubuh Rudi untuk menutup luka nya.


Setelah semua verban itu terlepas, dokter tersebut segera melihat dan memeriksa kondisi luka tersebut.


"Benar, ini luka infeksi, sepertinya ini luka sobekan dari sebiluah besi atau sejenisnya yang telah berkarat" ujar sang dokter.


Dengan dibantu sang perawat, dokter itu segera membersihkan luka-luka yang berada di tubuh Rudi.


Auuuuuhhh..., pekik Rudi menahan sakit.


Aduuuhhh "dok pelan-pelan" kata Rudi.


"Anda harus sedikit menahan rasa sakit tuan" kata dokter itu.


Setelah semua luka itu diberikan obat dan dibersihkan, kemudian perawat membalutkan verban di luka-luka itu agar tidak terkena debu atau pun kotoran lain untuk kembali menebar virus pada luka nya.


"Maaf, apakah tuan mau dipasangkan infus?" tanya dokter itu.


"Silahkan dok" jawab Rudi.


Lalu sang perawat pun memasang infus di tubuh Rudi.


"Ini obatnya segera diminum ya tuan" kata dokter itu sambil meletakkan obat di meja.


"Saya tinggal ya tuan, biar perawat nanti yang mengurua anda" kata dokter itu lagi.


"Semoga tuan cepat sembuh" ujar dokter itu sambil tersenyum dan berlalu dari ruangan itu.


"terima kasih dokter" kata Rudi.


Setelah selesai memasang infus, perawat itu memberikan obat-obat itu kepada Rudi, perawat itu membantu Rudi untuk meminum obatnya.


Setelah segala sesuatu nya selesai, sang perawar pun segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Terima kasih nona" jawab Rudi.


Setelah dokter dan perawat itu pergi, tentara tadi pun mendekat kepada Rudi yang sedari tadi dia berada di ruangan itu juga guna melihat proses pengobatan Rudi.


"Maaf tuan Rudi, saya tinggal dulu, jika ada yang dibutuhkan segera beri tau saya" kata sang tentara.


"Terima kasih" kata Rudi


"Oh ya tuan, nanti saya akan beritaukan kondisi tuan kepada Letnan Andreas" ujar sang tentara itu.


Kemudian tentara itu pun berlalu meninggalkan Rudi.


Setelah semua pergi, Rudi yang terlihat sudah sedikit tenang mulai memejamkan mata nya.


Dengan cepat Rudi pun telah terlelap dari tidur nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi telah menjelang, terlihat para prajurit tentara sedang melakukan apel di tempat itu.


Kriiiiiinngggg....kriiiiiinggggg....


Bunyi suara ponsel Rudi.


Dia pun terbangun dari tidurnya mendengar deringan ponselnya.


"Hallo....," kata Rudi.


"Bagaimana kondisimu hari ini sayang?" tanya sang penelpon yang ternyata adalah Hellen.


"Aku sedang dirawat, aku mengalami infeksi dari luka ku" kata Rudi menjawab pertanyaan wanita itu.


"Ya Tuhan..., aku sungguh mengkhawatirkan mu" kata Hellen dengan penuh rasa khawatir.


"Lalu bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan perawatan?" sambung gadis tersebut.


"Sudah! Aku sudah dapat perawatan, sekarang aku sedang di infus" jawab Rudi.


"Ya Tuhan..., aku belum bisa menjengukmu, aku masih banyak pekerjaan disini" ujar Hellen.


"Tidak apa-apa, kamu bekerja saja, aku sudah ada yang merawat disini" kata Rudi.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku" sambung nya lagi.


"Iya, tapi aku sungguh peduli padamu" ujar gadis itu dengan penuh kesedihan.


"Sudah, aku pastikan, aku tidak apa-apa" jawab Rudi, "kamu tenang saja ya sayang" lanjut Rudi kembalai, "kamu bekerja saja dengan tenang" kata Rudi kembali.


"Nanti kita sambung lagi, biarkan aku istirahat dulu" kata Rudi.


"Baiklah! Kamu harus jaga kesehatanmu" jawab gadis itu, "jika aki ada waktu, aku akan segera kesana untuk mengurusi mu" lanjut gadis itu.


"Jaga dirimu dan juga kesehatanmu" sambungnya.


"I Love you" kata Hellen sambil mengakhiri percakapan mereka.


Telepon pun tertutup.


Rudi masih sedikit menahan rasa ngilu pada bagian lengan tangan kiri tangan nya, yang memang pada bagian itulah lukanya yang parah.


Sambil sesekali dia meeingis menahan sakit, dan juga demam yang melanda tubuhnya.


Dia terus berkonsentrasi untuk penyembuhan pada tubuhnya.


Saat ini dia tidak ingin memikirkan apa pun, sekalipun penyebab luka yang dia tidak ketahui darimana sumbernya.


Dia hanya ingin istirahat dan membuang semua fikiran yang ada di otaknya.


Dia melihat jam yang tergantung didinding kamar, saat ini waktu telah menunjukkan pukul 9.12 pagi.


Tiba-tiba seorang tentara masuk kedalam kamarnya.


"Selamat pagi tuan" kata tentara itu sambil membawakan makanan buat Rudi.


"Anda makan dulu tuan, setelah itu minum obatnya" lanjut tentara itu.


Dengan perlahan, tentara itu menyupi Rudi untuk makan.


Dengan rasa yang pahit didalam rongga mulutnya, yang membuat dia tidak selera makan, namun Rudi mencoba untuk tetap memakan makanan itu meski hanya beberaoa suapan.


Setelah itu, tentara itupun memberikan obat kepada Rudi dan membimbingnya meminum obat tersebut.


Setelah semua beres, tentara itu berlalu dari kamar Rudi.


Rudi pun setelah itu terasa matanya mengantuk dan kemudian diapun tertidur.