"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB-XII. Pertempuran di kota Kandahar



Pagi menjelang subuh disaat lagi terlenanya tidur tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara rentetan senjata api, tereeetetetett....tretertetettttt....! Duarrrr...Duaaarr...! Ledakan terjadi dimana-mana, suasana panik kembali menggilas kehidupan Negri Afganistan diwaktu fajar.


Ya! pagi ini pasukan-pasukan pada bertempur kembali, lokasinya sekitar 1 kilo dari tempat penginapan kami.


Buummmm! Bummm! Ledakan besar menggetarkan bumi, sesaat kamipun terbangun dan bergegas ke kamar mandi lalu mempersiapkan alat jurnalistik kami.


Rio segera membangunkan rekan-rekannya yang tidur dikamar sebelah, kami segera menuju kendaraan dan bergerak ke lokasi pertempuran.


Susana yang sedikit gelap membuat perjalanan kami agak tersendat, namun suara-suara senjata api itu masih sangat jelas terdengar.


Terlihat pula dibeberapa jalan para warga sudah berkemas untuk meninggalkan rumah mereka siapa tau serangan itu menyasar ke wilayah pemukiman penduduk.


Kini mobil kami terus melaju mendekati loksi pertempuran itu, diujung jalan terlihat beberapa orang tentara pemerintahan dengan wajah yang ditutupi oleh sebo menghenterikan laju kendaraan kami, mereka memeriksa segala surat-surat dan alat kelengkapan kami kemudian kami hanya disuruh turun dan segera memarkirkan mobil kami.


Kali ini kami digiring ketempat yang aman untuk memantau situasi perang.


Terlihat dilokasi itu ratusan wartawan baik dari dalam maupun luar negri dan dari media cetak hingga elektronik sudah berada ditempat itu.


Di arena padang pasir yang cukup luas, segala persenjataaan Arteleri saling silih berganti jual beli mortir, duaaaarr!! treeerteteett...tretetetett...! Bummmm! Bum!! Ledakan dari peluru kendali itu mengantam pertahanan masing-masing.


Terlihat beberapa kerusakan menerjang tempat-tempat pertempuran itu, tubuh-tubuh manusia beterbangan ke angkasa akibat ledakan dari bom-bom yang meledak.


Langit di pagi itu berubah menjadi kemerahan yang disertai suara-suara ledakan yang dahsyat.


Disusul suara-suara sirine terus meraung-raung memecah keadanan saat ini, beberapa tentra juga terlihat sibuk kesana kemari untuk melontarkan bom-bomnya.


Entah berapa ribuan kilo selongsongan dari nuklir-nuklir itu berserakan. Asap-asap hitam dan pekat membumbung disana dan disini, aku terus mengamati suasana saat itu dengan merekam seluruh kejadian melalui kamera ku.


Entah berapa jam situasi perang ini terjadi, yang pasti sudah cukup lama, api-api terus membakar bagian-bagian yang terkena serangangan.


Sesaat berselang suara dan gemuruh senjata pun telah berhenti, para tentara sudah menarik seluruh senjata Artelerinya ke bagian-bagian yang aman.


"Mungkin, perang telah usai," ungkapku dalam hati.


Namun kami tetap diam diposisi semula sambil terus mengawasi keadaan.


Setengah jam kemudian, terdapat informasi bahwa pertempuran telah berakhir.


Kamipun diarahkan menuju kantor perwakilan Mentri Pertahanan, segera aku dan Rio beserta tim menuju kantor tersebut untuk mendapatkan informasi dari situasi ini.


Beberapa menit kemudian kamipun sampai dikantor tersebut.


Kini para petugas telah bersiap-siap menjaga keamananan dalam Konfrensi Pers yang akan dimulai oleh kepala Kemiliteran tinggi perwakilan kota Kandahar.


Tampak para pejabat tinggi militer itu keluar dari ruangan menuju lokasi konfrensi pers, para awak mediapun telah berkumpul disana, dengan pengawalan ketat pejabat itu mulai memberikan keterangannya.


"Tadi pagi pasukan gerilyawan telah menyerang wilayah perbatasan,mereka merusak pos-pos penjagaan dalam serangan itu,kami mencoba menghadang laju mereka,dan akhirnya pertempuran terjadi." Ungkap dari isi pidato tersebut.


Usai mendapatkan keterangan, aku dan tim segera kembali ke kota untuk membuat laporan pemberitaan kepada kantor media kami.


Mobil kami kemudian mengarah kebagian selatan kota yang merupakan tempat paling aman.


Kami menghentikan mobil disebuah rumah makan, selain untuk membuat bahan berita, kami juga ingin makan siang. Kami segera menuju ke meja kosang yang cukup buat berampat dan sangat luas, berada di sudut ruangan di samping jendela kaca kami duduk dan memesan makanan.


Aku hanya memesan Naan sebagai menu makan siang.


Naan adalah sejenis roti menyerupai roti cane yang ada di Arab atau India,bentuknya bulat dan berisi beberapa kacang-kacangan, di Afganistan sangat jarang penduduknya untuk makan di resrauran atau kafe.


Meski demikian pihak-pihak restauran selalu menyediakan bilik atau kamar-kamar buat warga Afganistan yang ingin makan bersama keluarga.


Tak heran kalau setiap restauran atau kafe di Afganistan kelihatan sepi, karena memang orang Afganistan jarang makan diluar rumah, hanya turis-turis asing atau wisatawan asia saja yang benyak ketempat rumah makan atau restauran dan kafe disini.


Aku segera mengeluarkan laptop kemudian mengisi halaman e-mail untuk menuliskan bahan-bahan berita, tak lama berselang makanan yang kami pesan pun datang.


Segera aku dan teman-teman menghentikan pekerjaan sejenak untuk menyantap hidangan makan siang tersebut.


...***************...


Usai melakukan pekerjaan sebagai jurnalis kamipun segera mengirim berita, aku sendiri baru selesai mengirimkan e-mail ke kantor redaksi yang ada di Indonesia, hingga menjelang sore, kami bergegas untuk pulang kembali ke penginapan.


Dengan laju mobil yang kami kendarain, segera dengan pelan kamipun menuju penginapan.


Setelah sampainya di penginapan aku dan Rio bergegas masuk kedalam kamar, akupun segera merebahkan tubuhku ke kasur ketika sudah didalam kamar.


Hari ini cukup lelah kurasa, pagi-pagi sekali kota ini sudah dihujani oleh nuklir-nuklir pembunuh, dengan adanya penyerangan tadi sejak pagi sekali aku dan teman-teman harus sudah berjibaku mengejar berita peristiwa itu hingga sore hari.


Sesaat aku baru merebahkan tubuhku, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar, seorang pelayan motel memberikan kabar kepada Rio.


"Mungkin itu surat dari keluarganya atau dari kantornya di Belanda," fikirku.


Kemudian aku ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah sangat penat, bau dari keringat yang melekat ditubuhku, terasa sudah tidak mengenakan lagi.


Sesudah mandi akupun segera menukar pakaian dan memakai kain sarung seperti mana kebiasaanku sehari-hari ketika akan tidur, aku biasa menggunakan kain sarung ketika hendak tidur.


Malam telah merambat memasuki kawasan Kandahar, bunyi-bunyi suara hewan malampun telah terdengar.


Suasana sepi dan tenang menyelimuti malam, dan aku berharap malam ini aku bisa tidur dengan tenang hingga pagi datang, semoga saja tidak ada serangan balasan lagi untuk hari ini, serasa capek dan letih diriku hari ini.


Gamabaran peristiwa pagi tadi masih terakam di depan mata ku, disertai suara-suara ledakan pun masih terngiang di telingaku, mencekam dan seram.


Suasananya yang begitu ngeri dengan ledakan-ledakan dahsyat, aku mencoba untuk memejamkan mata, ditengah-tengah suara dan gambaran yang menjadi memory di diriku.


Malam terus merambat, kesunyian dan hening malam cukup menenangkan, semoga esok aku dapat bangun dengan tenang dan membuka mata melihat indahnya negri Afganistan ini, ungkapku dalam hati, perlahan namun pasti akupun hanyut oleh suasana malam, dan tak kurasakan didetik mana aku telah terlelap dalam tidurku malam ini.