
Cahaya matahari pagi ini cukup menyengat tubuh, dan suasana di kota Herat sepertinya hari ini cukup tenang. Hari ini aku duduk di sebuah kursi panjang di depan tenda camp. Letih terasa menerpa tubuhku,karena aku harus terus berjuang memburu berita sepanjang hari. Hampir setiap hari dan setiap jam kota Herat selalu diwarnai peperangan. Sambil ditemani secangkir kopi dan rokok yang baru tersulut menemani suasana santaiku hari ini. Semoga saja hari ini tidak terjadi pertempuran, biar para prajurit-prajurit itu dapat beristirahat dengan tenang seperti aku, ungkapku dalam hati sambil tersenyum kecil.
Sudah lima hari aku disini, dalam setiap hari selalu aja ada dua bahkan empat kali pertempuran. Srruuupp.......Achhh.....seteguk kopi hangat membasahi kerongkonganku, sungguh nikmat rasanya, tak luput pula kepulan asap putih yang keluar melalui lubang hidung dan mulutku, tatkala sebatang rokok terbakar dan aku menarik nya dari sudut bibirku.
Dengan menggunakan kaus hitam tak berlengan, serta kaca mata hitam yang ku pakai agar tak terkena matahari langsung saat mataku mengadah ke langit. Entah berapa jam aku bersantai dengan duduk manis. Tiba-tiba dari arah belakang ada suara wanita yang memanggilku. "Hello,Rudi",suara itu menggema di telingaku. Ya, aku tau, suara ini tak asing. Suara yang sering aku dengar, "Hellen," jawabku sambil membalikan tubuhku ke arahnya.
"why did you come here?" tanyaku keheranan.
"i misss you, and last night i couldn't sleep," jawabnya. Ya Tuhan,ternyata dia merindukanku sehingga dia tidak dapat tidur, jawabku dalam hati. Alangkah senang hatiku dengan sikapnya seperti itu. Akupun mempersilahkannya untuk duduk disampingku.
Kemudian aku membuatkan dia segelas kopi untuk sama-sama kami menikmati suasana hati. "Aku senang kamu berada disini," kataku, dengan menggunakan bahasa Inggris "benarkah itu?" Ucapnya, "nona Hellen, kamu sangat baik dan ramah," kataku, sambil tersenyum dan mataku memperlihatkan kekaguman kepadanya, "dan nona juga mempunya wajah yang cantik serta tubuh yang indah," aku sedikit menyanjungnya, kulihat dia tersenyum, "tuan terlalu banyak memujiku," ucapnya lagi, sambil memberikan senyuman manis, "Aku tidak pernah memuji, tapi aku bicara seadanya," kataku lagi. "Aku hanya seorang gadis biasa," jawabnya sambil membuang pandangannya ke lantai, "aku hanya tau belajar dan bekerja," sambungnya dengan menundukkan wajahnya, "aku juga gadis yang tidak tau tentang cinta, sudah duapuluh lima tahun aku hidup, aku belum pernah mengenal asmara," tuturnya kemudian dia lontarkan pandangannya kesisi kiri tubuhnya. Sejenak suasana menjadi hening dan tenang, aku mengambil cangkir yang berisi kopi dan meminumnya. "Jadi nona belum pernah sekalipun punya pacar?" tanyaku, "Tidak! Aku tidak pernah punya kekasih," jawabnya, "mengapa? Apakah nona sendiri yang tidak ingin menjalin asmara atau....tidak ada pria yang mau mendekat dengan nona?" tanyaku sedikit ingin tau. Dia hanya diam dan tak menjawab, kemudian kulihat di tersenyum, "waktu itu aku belum ingin punya pacar, tapi saat ini aku telah berfikir, aku tidak ingin hidup sendiri, aku juga ingin bercinta," jawabnya, "kalau begitu mengapa anda tidak mencarinya sekarang?" tanyaku, gadis itu hanya tersenyum, "cinta itu ada didepan mataku," jawabnya, aku tidak mengerti apa maksudnya, aku hanya diam. Sambil menggerutkan dahi dan gadis itupun sedikit tersenyum.
Karena hari ini dia mendapat cuti bekerja, diapun meluangkan waktu untuk datang kepadaku dan bercerita banyak hal dari mulai pekerjaan hingga percintaan. Hellen sosok gadis yang rajin, dan pintar, ia adalah Mahasiswi terbaik dikampusnya dalam bidang studi keprawatan yang ia tempuh di Universitas Lens Prancis. Selepas kuliah dia bekerja disalah satu klinik di Kota kelahirannya, setahun bekerja di klinik tersebut dia lalu dikirim ke Afganistan dalam misi kemanusiaan bersama beberapa orang teman-temannya. Sudah dua tahun dia berada di Afganistan, hidupnya selalu kesepian dan jauh dari orang tua. Hellen adalah seorang gadis manja, dia sangat dekat dengan ayahnya, dan dia bilang juga bahwa dia adalah bungsu dari tiga bersaudara. Ya.....Aku hanya diam mendengarkan semua kisahnya dengan seksama, mungkin di usiaku yang lebih tua jauh darinya, aku dapat sabar untuk mendengarkan semua kisah hidupnya
"Bagaimana dengan istri dan anak tuan? Apa ada kabar darinya?" tanya Hellen, "ia, kami sering komunikasi lewat telpon, dan mereka baik-baik saja," kataku, "tuan adalah lelaki yang baik dan bertangging jawab," katanya sedikit memujiku, "aku suka pria seperti tuan, dewasa dan tenang," ucapnya, "oh ya? Saat ini nona bukan sedang memujiku kan?" kataku dangan tatap mata yang serius. "Tidak! Aku berkata apa adanya," jawabnya padaku, "apakah ucapan ku salah tuan?" Tanya Hellen padaku, "tidak juga, tapi itu suatu sanjungan bagiku, yang membuat aku bagaikan seorang Malaikat yang turun dari langit," kataku sambil tersenyum, mendengar ucapanku itu Hellen tertawa lepas. Setelah berkenalan denganku dia merasa lebih nyaman dan tenang. Ya...,fikirku akupun demi kian, bahkan jauh dari pada itu. "Jujur aku suka denganmu Hellen," kataku dalam hati. Sejenak suasana hening, "tuan adalah pria yang baik dan penuh kasih sayang," ucapnya kembali, "terkadang aku selalu berfikiran dengan tuan, ada rasa rindu bila tidak bertemu dengan tuan, ini serius!!" ucapnya dengan tegas sambil menatap wajahku. Aku hanya diam dan memandang matanya penuh harap serta tak berkomentar. Ya..., "pria Asia", dia menyebutku demikian."Asian Man," ungkapnya.
Sesaat dia diam dan menatap wajahku kembali dalam-dalam, dia memperhatikan seluruh tubuhku. Katanya dia suka pada tubuhku yang bagus, wajahku serta kumisku yang tipis.
Benar.... Rudi Budiman memang pria yang memiliki tubuh setinggi 175 cm dangan postur dada bidangnya dan berkulit kuning langsat seperti mana kulit orang Asia. Rudi juga memiliki wajah yang oval dan tampan, dengan bola matanya berwarna hitam, dan berhidung mancung. Dia juga pria berambut pendek dan lurus berwarna hitam, meski dibeberapa ruas rambutnya ada yang sudah berwarna putih menandakan usianya sudah hampir setengah abad. Tetapi Rudi sendiri masih terlihat muda dan segar, sebab dia rajin berolah raga di tengah-tengah kesibukannya, diatas bibirnya juga ditumbuhi kumis tipis.
Sesaat suasana hening....
Rudi Budiman masih menatap gadis itu dengan seksama. Diapun memuji kecantikan dari gadis itu. Ya...kemudia. aku menyebutnya "Belle Fille," gadis itu pun tersenyum manis saat aku memberikan pujian itu kepadanya.
"Boleh kah aku mencintaimu Rudi?" tanyanya dengan serius dan menatap tegas kepadaku, aku terdiam mendengar ucapannya, lama aku memandang wajah gadis itu, tatapan bola matanya berbinar, aku menekan kedua bahunya, "benarkah kau mencintaiku?" tanyaku penuh mepastian, "ia, aku mencintai anda!" ucapnya, "akupun demikian, aku juga mencintaimu Belle Fille!" kataku, suasanya menjadi sepi kembali, tiba-tiba gadis itu mencium bibirku, "terima kasih," ucapnya.
Pada saat itu pula dia yang mengungkapkan perasaannya.
Aku terdiam sesaat....
"tetapi ada satu hal yang harus kamu ketahui," kataku kembali, "apa itu?" jawabnya.
"Aku tidak ingin mengecewakanmu," ungkapku padanya.
"Kamu harus tau dari segi usia aku jauh lebih tua dan aku sudah berkeluarga mempunyai seorang istri dan dua orang anak!" kataku. "Aku tidak ingin melukai hatimu, aku harus jujur meski di satu sisi hatiku juga mencintai dan menyukaimu," ucapku kembali, aku memang harus mengatakan ini agar dia tidak membenciku.
Hellen terdiam sesaat, "di satu sisi yang tersisa itu dan yang ada itu, aku ingin berada disitu, dan biarkanlah ditempat yang sempit itu aku bahagia," katanya padaku.
Dari satu sisi yang tersisa dan yang ada itu dia ingin masuk kedalam hatiku, meski dia tau aku pria beristri. Karena ketulusannya itu aku pun menerimanya sebagai kekasih.
Hari itu suasana sangat indah berada dan duduk berdua dengannya. Entah mengapa aku seolah-olah seperti seorang perjaka kembali. Akupun memberanikan diri untuk merangkulnya. Dia hanya diam dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Oh Tuhan, suasana yang sungguh tak dapat aku bayangkan.Aku tidak menyangka ditengah perang yang berkecamuk ada gadis bule yang jatuh hati padaku. Awalnya aku sangat ragu dan takut saat pertama akan dikirim dan di tugaskan ke Afganistan. Bayang-bayang kegaduhan dan keseraman sering terdampar di kepalaku. Namun ternyata aku diperlihatkan suasana yang indah dengan perkenalanku kepada Hellen. Kini suasana di Afganistan sudah tidak mencekam lagi bagi ku dan Hellen. Hellen Martinez kini dia telah menjadi kekasihku. Aku merasa sebagai seorang pria yang beruntung saat ini, bisa mencintai seorang gadis bule yang cantik dan baik hati.
Tak terasa waktu telah beranjak senja,aku meminjam sebuah sepede motor milik salah seorang anggota tentara perdamain dari Indonesia untuk menghantarkan Hellen kembali ke barak keperawatan di rumah sakit tempat dia bertugas. Sampai menjelang malam hari, usai makan malam bersama, aku langsung masuk ke dalam tenda untuk beristirahat dengan hati yang berbunga-bunga. Hari ini mungkin mereka menghentikan peperangan karena ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk bersama Hellen, dalam fikiranku tersenyum-senyum sendiri. Memang seharian ini kota Herat tampak tenang akibat tiada satupun pertempuran yang terjadi hari ini. Malam terus semangkin larut,dan aku mencoba memejamkan mataku di sela-sela hatiku yang berbunga-bunga. "Ah,apakah Hellen juga merasakan hal yang sama seperti ku?" Fikirku.
Sungguh segudang pertanyaan berjalan memenuhi ruang otakku malam ini. Suara-suara hewan malampun telah berbunyi yang disertai lolongan anjing, menandakan malam semangkin larut. Rasa letih telah hilang dari seluruh tubuhku, karena saat ini semua berganti kekuatan. Ya... Kekuatan cinta yang menambah semangatku dalam bertugas dan berkarya. "Good night Hellen Martinez Belle fille," capku sambil memejamkan mata.