You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
8. Kontrak



Gadis itu membuka pintu saat ketukannya dijawab dengan kata, silahkan masuk!, yang sangat lembut. Sudah ada beberapa yang berkumpul, dengan seorang wanita yang duduk di kursi utama. Ia yakin itu istri ketua Jang, pemilik yayasan ini. Arfa memberikan tundukan hormat beberapa detik lalu setelahnya ia dipersilahkan duduk bersama yang lain.


"Kau berarti yang bernama Arfa yaa?" tanya Nyonya Jang meyakinkan. Wanita itu nampak menahan napas saat memandangi Arfa dalam-dalam, tapi tak ada satupun yang menyadarinya.


"Yes. Maaf atas ketelatanku,"


"No problem. Kita belum membahas apapun. Hanya pemilihan pasangan," tangannya ia sembunyikan di bawah meja. Ia bergetar. "Karena kau telat, disini kau akan mendapat pasangan dengan anak yang masih belum datang juga. Mungkin akan datang sebentar lagi. Tidak apa kan?"


"Tentu," Arfa memberikan senyuman tulusnya. Sungguh. Mrs. Jang membalas dengan begitu dalam senyuman itu.


Pintu kembali diketuk, lalu terbuka. Seorang lelaki masuk ke dalam, memberi hormat pada Mrs. Jang dengan sopan. "Akhirnya kau datang. Song Eun Jae?"


"Yes, Mrs. Jang. I am,"


"Duduklah!"


Arfa melotot saat lelaki itu memilih duduk tepat di sebelahnya. Kenapa dimana-mana ia bertemu dengannya.


"Jadi, sebelumnya selamat atas keberhasilan kalian mencapai puncak ini. Mungkin beberapa sudah tau apa saja reward dari menjadi duta blackfire. Tapi saya akan membacakannya ulang. Bolehkan?"


"Ne," sahut semua


"Jadi yang pertama, seperti yang kalian tau, kalian akan mendapat tiket gratis ke Universitas National Seoul, tapi masih satu linier yaaa dengan jurusan kalian saat ini. Jika kalian ingin melanjutkan ke universitas luar korea seperti harvard, cambride, oxford, dan yang bergengsi lain. Hal ini masih bisa dibicarakan. Kita akan membantu,


"Lalu yang kedua, kalian dibebaskan atas pelajaran akhir semester ini. Seperti yang kalian tau, semester ini kelas kalian hanya berisi pengulangan materi untuk mempersiapkan Suneung. Sementara kalian tidak membutuhkannya, maka akan kami bebaskan. Boleh tidak datang ke sekolah, boleh juga datang tanpa masuk kelas, boleh juga jika sangat ingin belajar, kalian masuk kelas. Yang pasti disini, kalian memiliki kebebasan yang hakiki,


"Yang ketiga, yang paling penting, kalian akan menjadi ambassador dari produk fashion saya. Yes. Pearl. Perusahaan fashion eropa. Tenang. Kalian tidak perlu insecure, cukup percaya pada stafku, maka semua akan bagus diluar ekspektasi.Untuk kontraknya, dan rincian gaji akan ada di kertas ini. Minta tolong dibagikan,"


Wanita itu memerintahkan anak buahnya untuk mulai menyebar naskah kontrak yang dilakukan dengan cepat. Mereka mulai membaca dan beberapa sudah tercengang melihat beberapa digit nol dengan satuan dollar sebagai gajinya.


"Untuk tahun ini karena jumlah laki-laki dan perempuan sama banyak, jadi aku ingin membuat konsep berpasangan seperti yang sudah dibagikan tadi. Ee... Tuan Song berpasangan dengan nona Arfa yaa," lelaki itu melirik sekilas ke arah Arfa yang entah kenapa membuat gadis ini jadi salah tingkah di tempatnya.


Suara dering telepon terdengar dan Mrs. Jang meminta ijin untuk mengangkatnya. Ia keluar dari ruangan besar itu sebentar. Suasana tiba-tiba penuh dengan bisik-bisik. Mereka saling berbicara dengan teman di sampingnya, ataupun yang menjadi pendampingnya nanti. Sial untuk Arfa karena Eun Jae sama sekali tak berniat angkat mulut.


Namun suasana itu tak bertahan lama karena Mrs Jang kembali masuk dan duduk di tempatnya semula.


"Bagaimana? Apa ada keluhan atas kontraknya? Disitu sudah ada nomor yang bisa kalian hubungi nanti jika ada pertanyaan. Maaf karena hanya bisa menemani sampai sini. Ada urusan mendesak. Sampai jumpa,"


Semua yang ada di ruangan berdiri, memberi tundukan hormat pada Mrs. Jang sampai wanita itu berdiri. Beberapa yang lain mulai ikut melenggang, tapi Arfa terlihat terlalu asik dengan kontraknya. Yang tanpa sadar membuatnya berada di ruangan itu seorang diri.


***


Dia memang tipe orang yang suka menyelesaikan masalah dengan sekali duduk. Bukan berarti ia terburu-buru. Ini malah membuatnya terkadang lupa waktu saking asiknya mendalami peran.


Ia mengedarkan pandangan setelahnya. Dia ada di ruangan ini sendirian. Semua telah menghilang. Dan saat ia melirik jam di pergelangan tangan, matanya melotot. Gila! Ini bahkan sudah lewat jam pulang sekolah. Entahlah. Kenapa Arfa sampai begitu asiknya disini?


Gadis itu membereskan dokumen-dokumennya lalu bangkit berdiri. Saat ia akan kekuar dari ruangan, langkah seseorang terdengar di baliknya. Tunggu. Bukankah ia sendirian disini?


Arfa berbalik dan tak menemukan apapun. Jangan bilang gedung ini angker. Ia langsung berbalik tapi saat tangannya akan memutar handle pintu, terkunci.


Apa maksudnya ini?!


"Tolong! AKU TERKUNCI DISINI!!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu, berharap ada yang mendengar.


"Percuma! Gedung ini kosong," sebuah suara menyahut dari balik punggungnya.


Arfa langsung berbalik dan menemukan seorang wanita dengan seragam sama persis sepertinya. Rambut dengan modelan sama dan mata yang seolah itu miliknya kini. Tapi wajahnya terlihat lebih tua sedikit dengan senyum smirknya yang menakutkan.


"Siapa kau?!!"


"Pembunuhmu,"


"Mwo?!! Jangan mendekat!" teriak Arfa saat wanita itu melangkah satu pijakan ke depan.


"Dari sini juga aku bisa," ia mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya. Itu pistol.


"A-aa-apa yang akan kau lakukan?"


Wanita itu hanya menunjukkan senyumnya sambil menekan pelatuk. "Kau tidak pantas hidup lebih lama," ia mengarahkan moncongnya ke arah Arfa. Sejajar dengan kepalanya.


"Si-siapa kau?! Jangan berani-berani mengancamku!"


"Good bye, Arfalia!"


^^^💥DHUAR....💥^^^


***


Eun Jae melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ada satu hal yang tertinggal di tempat persinggahan terakhirnya. Ia kini sudah sampai di parkiran blackfire, lalu buru-buru menaiki mobil surya menuju gedung paling belakang.


Sialnya. Lift macet. Listrik di sekolah mati padahal mereka punya generator puluhan. Kali ini ia tak terlalu memedulikan itu. Langkahnya menuju tangga darurat. Naik ke atas dan langsung menuju aula tempat berkumpulnya tadi.


Tangannya mendorong pintu dan ruangan yang sangat gelap dan pengap menyambutnya. Lelaki ini berjalan menuju gorden dan menyibaknya cepat. Saat berbalik, ia baru sadar. Matanya langsung menatap horor pemandangan di depannya.