
Arfa mengecek uang tunai di dalam dompetnya. Setidaknya ini cukup untuk membawanya sekolah dengan memesan taksi online. Benar-benar kakak sialan. Bisa-bisanya memberikan saran padanya untuk menumpang bersama Min Ho. Sorry. Ia menolak dengan keras.
"Atas nama nona Arfalia?" tanya sang sopir taksi yang tiba-tiba berhenti di hadapannya.
"Ah. Ya," gadis itu langsung masuk saat sadar itu mobil yang ia pesan. Belum juga selesai menutup pintu ia sudah dikejutkan dengan sebuah tangan mungil yang mencegahnya.
"Permisi. Apa boleh aku bergabung Eonni?" seorang gadis 7 tahun muncul dihadapannya. Dan belum sempat Arfa menjawab, gadis itu sudah masuk dan duduk rapi di sebelahnya. "Gomawo,"
"Yak! Aku bahkan belum bilang iya,"
"Kita bisa patungan untuk membayar ongkos. Eonni ini akan ke blackfire high school kan? Kita satu tujuan,"
Arfa mengerling malas. Anak jaman sekarang tidak ada sopan santun sama sekali. "Ke tujuan awal nona?" tanya sang sopir.
"Iya pak,"
Gadis kecil itu sempat menoleh ke belakang saat mobil mulai melaju. Lalu berbalik ke depan sambil menghela napas lega. "Kau nampak seperti buronan," cetus Arfa spontan.
"Aku memang sedang dikejar hantu," gadis berseragam blackfire itu terkekeh pelan. Entah apa yang lucu. "Eonni murid baru ya di blackfire?"
"Kalau aku murid lama ada masalah?"
"Tidak juga. Kau seperti tidak mengenaliku,"
"Tidak penting,"
Arfa beralih menatap jalan dari jendela di sampingnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat suasana negara ini. Huff... Apa mungkin ia juga akan melanjutkan kuliah disini?
"Arfalia. Ah. Aku tau. Eonni murid kelas seni kan? Eomma banyak membicarakanmu. Katanya kau mengambil kelas daring dari semester awal. Kenapa sekarang pergi ke blackfire," ujar gadis kecil itu yang baru selesai membaca nametag Arfa.
"Apa aku wajib menjawab?"
"Tidak juga sih," gadis kecil itu mulai paham kalau Arfa tidak suka diusik.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam handphonenya. Dari Angel yang mengirimkan alamat ruangan milik Kevin, kakak ipar Arfa. Ahhh Ya Tuhan. Bagaimana bisa dia menemukannya?
"Aku tau dimana itu. Apa kau perlu bantuan?" Arfa langsung saja menoleh kaget.
"Tidak sopan mengintip handphone orang lain. Apalagi yang lebih tua,"
"Aku tidak mengintip. Itu terlihat jelas Eonni," gadis itu mulai agak kesal. "Aku sungguh bisa mengantarmu. Ruangan Pak Kevin kan? Blackfire sangat luas dan Arfa Eonni bisa saja tersesat,"
Taksi sudah sampai ditujuan dan gadis kecil itu langsung membauar tagihan dengan kartu kreditnya bahkan sebelum Arfa sadar kalau mereka akan berhenti. "Kau bilang kita patungan?" ucap Arfa saat keduanya keluar dari taksi.
Gadia itu sempat tercengang melihat sekolahnya sekarang. Sungguh. Ini sangat indah dengan bangunan arsitektur eropa yang kental dipadukan dengan budaya khas korea. Taman bagian depan juga terlihat begitu luas dan jarak bangunan terdekatnya bisa sekitar 100 meter. Ya. Ini sungguh lebar.
"Eonni bisa mentraktir makan lain kali. Ayo kutunjukkan ruangan Pak Kevin,"
Gadis kecil itu menggeret Arfa ke sebelah gerbang yang menyediakan mobil tata surya untuk bepergian. Aksesnya hanya menggunakan kartu pelajar Blackfire. Dipegang sang sopir sebagai jaminan dan akan dikembalikan saat sampai tujuan. Gadis kecil disampingnya itu juga mengeluarkan kartu hitam yang sama. Bedanya ia adalah murid Blackfire Elementary School.
Mobil dengan logo khas blackfire–yang memang dibuat oleh para anak fisika sekolah ini– itu mulai melaju sedang. Ada beberapa kendaraan lagi yang sama terlihat melintas. Beberapa siswa ada juga yang memilih untuk jalan kaki.
"Keurondae(ngomong-ngomong) siapa namamu?" tanya Arfa akhirnya. Ya... mungkin sebagai formalitas atau bisa jadi memang ia sudah mulai bisa beradaptasi.
"Myung Hae," gadis kecil itu menjawab dengan imutnya. "Ah. Itu gedung seni. Mungkin Eonni tidak tau," tunjuknya pada gedung putih tingkat tiga dengan arsitektur memukai bersama ukiran-ukiran timbul yang nampak dari mata Arfa sejauh 50 meter di posisinya.
"Aku memang tidak tau. Terimakasih,"
"You're welcome. Apa eonni benar-benar tidak pernah kemari? Sungguh dari semester awal?"
"Hmmm.... ah tidak. Sekali saat mendaftar,"
Arfa terkekeh pelan. Dan beberapa detik kemudian mereka sudah berhenti di depan terminal kecil yang ada di depan sebuah gedung besar bertingkat 5. Bisa dibilang ini gedung terbesar kedua setelah Gedung utama. Fisika memang jurusan terbaik di sekolah ini.
"Sebesar ini gedungnya? Ada dilantai berapa ruangan guru?"
"Lantai tiga. Yang paling strategis,"
Arfa mengangguk paham. Tak bisa dibayangkan seberapa pusingnya ia jika tadi tak bertemu dan menerima bantuan Myung Hae.
Gadis kecil itu menuntunnya masuk setelah mereka menerima kembali kartu pelajar mereka. Langsung menuju lantai tiga dan berhenti di depan sebuah ruangan dengan tulisan nama Kevin disana.
"Aku pergi dulu ya eonni," ujar gadis itu saat handphone di dalam tasnya berdering panggilan. Kau bisa meneleponku jika bituh bantuan.
"Aku tidak punya nomor teleponmu,"
"Minta saja ke Mr. Kevin. Dia pasti punya,"
Arfa hanya mengangguk pasrah. Siapa sih sebenarnya gadis ini. "Bye Eonni," Arfa ikut melambai saat Myung Hae melambaikan tangan padanya.
Setelahnya, ia langsung memutar gagang pintu ruangan itu tanpa ketuk atau permisi. Dua lelaki di dalam ruangan sana langsung menoleh heran.Satu orang yang duduk di kursi kebesarannya ia tau kalau itu Kevin, kakak iparnya. Satu lagi pria berseragam blackfire yang mungkin saja siswa yang bermasalah di kelas Kak Kevin.
"Apa anda tidak punya sopan santu nona?"
Arfa hanya nyengir ria sambil menutup pintu perlahan lalu berjalan masuk dan duduk di sebelah murid bermasalah itu. Ada dua kursi di depan meja kerja Kevin.
"Aku diajarkan oleh kakakku untuk tidak punya sopan santun padamu," ujar Arfa santai.
Kevin bahkan terkekeh kecil. "Kita urus masalah ini lagi nanti. Kau bisa pergi," ucap lelaki itu pada siswa prianya. Murid itu langsung bangkit dan memberi salam tundukan lalu melangkah pergi dari ruangan ini. Tidak lupa juga untuk menutup pintu.
"Ada apa adik iparku yang jelek tiba-tiba sekolah? Apa ingin mencari pacat baru agar tidak kalah dengan Min Ho?"
"Apaan sih? — Eh. Emang Min Ho punya pacar?"
Kevin langsung tertawa keras. "Dia cukup terkenal playboy di balckfire. Salah satu muridku menjadi korban. Mungkin ia tidak bisa melupakanku,"
"Bulshit. Padahal dia yang mulai berselingkuh,"
Kevin lagi-lagi terkekeh. "Atau kau mau dengan lelaki yang barusan? Dia cukup tampan dan aku cukup baik mengenalnya,"
"Please deh. Bahkan aku tidak melirik wajahnya sama sekali. Aku kesini untuk minta kartu kredit koreaku. Dimana?"
"Wow. Tanpa basa-basi. Kau memang cocok dengan muridku yang tadi,"
"Oppa!!"
Kevin lagi-lagi tertawa sambil membuka lacinya. Merogoh beberapa menit dan menyerahkan sebuah kartu bank untuk adik iparnya. "Jangan terlalu boros!"
"Aku bukan anak kecil," gadis itu merengut kesal. Ia lalu mengeluarkan kotak makan yang tadi pagi sempat ia buat. "Angel Eonni memintaku untuk membuatkan steak daging sapi untuk oppa. Makanlah selagi hangat,"
"Wow. Perhatian sekali! Titipkan salamku padanya. Suruh jangan lama-lama di Swedia,"
"Emang aku tukang pos? Kalian selalu menitipkan salam lewat aku. Sekarang jaman sudah canggih ya," ia bangkit dari duduknya dan merapikan rok setelah berdiri tegak.
"Mau kemana? Bukankah kelas seni mulai jam 9? Ini masih jam 7.30 "
"Aku butuh mencari ruang kelasku. Annyeong!" ujarnya sambil melambai dan melangkah menjauh.
"Sering-sering kemari sambil membawa makanan,"
Arfa malah mengacungkan jari tengahnya tanpa berbalik. Ia membuka pintu dan hampir saja bertabrakan dengan seseorang yang juga masuk bersamaan dengannya yang ingin keluar.